Way Back To You

Way Back To You
Dia Adalah Tujuanku



“Aku pikir dia hanya mengantar dokter itu pergi, ternyata dia juga ikut.” Gumam Hanna.


Ada segurat kekecewaan di dada Hanna ketika dia keluar dari kamar namun tidak menemukan Liam di mana-mana. Apa dia berubah pikiran lalu pergi meninggalkanku setelah melihat hasil USG itu? Aku pikir dia mungkin malah terharu, ternyata tidak sama sekali.


Setelah menarik nafas panjang untuk melegakan pernafasannya, dia duduk bertopang dagu di meja makan. Dia lapar dan sedih. Kepergian Liam yang tanpa mengucapkan apa pun padanya membuatnya sakit hati. Dugaannya, Liam tidak ingin dibuat repot olehnya setelah melihat dia mual muntah sepanjang malam. Dia pasti tidak mau tidurnya terganggu, lalu dia masih harus menemani Hanna bolak balik kamar mandi, juga masih harus memastikannya bisa kembali berjalan atau malah sudah kehabisan tenaga.


Hanna mengerti kesulitan itu semua, dan dia mengerti jika Liam memilih meninggalkannya. Bunyi keroncongan yang berasal dari perutnya menyadarkan Hanna untuk segera makan. Dokter bilang walau dia mual, tetap saja harus ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.


Saat akan berdiri, Hanna mendengar suara pintu terbuka. Dia menoleh, mendapati Liam masuk ke dalam dan tersenyum padanya. Senyumannya begitu memikat Hanna, sehingga dia tidak bisa bereaksi apa pun –kecuali diam di tempat.


“Aku pikir kamu pulang.” Gumam Hanna, nyaris tidak terdengar namun Liam masih bisa mendengarnya walau samar-samar.


“Kenapa? Kamu sudah merindukanku?” godanya.


“Nggak ada yang merindukanmu. Kamu nggak sehebat itu.” jawab Hanna ketus, pura-pura.


Namun nyatanya Liam memang hebat, mampu membuat Hanna merasa panas dingin, mendamba dan merasa kesepian seketika saat Liam tidak berada di sisinya. Namun walau begitu Hanna tidak mungkin berterus terang pada Liam karena tidak ingin menunjukkan jika dia sudah melunak.


Liam hanya menyengir jahil. Saat Hanna akan mengambil teflon untuk menggoreng telur dadar, Liam langsung berdiri di depannya, menggantikan Hanna untuk mengambil benda itu. Wajah Hanna memerah seketika saat mereka nyaris tidak berjarak, dia menyukai saat hidungnya mencium wangi dari parfum Liam dan anehnya lagi dia tidak mual.


“Kamu duduk saja, biar aku yang memasak untukmu.” Bisiknya di telinga Hanna, dengan nada menggoda.


Sekujur tubuh Hanna langsung merinding. Tarikan nafas Liam terasa sangat nyata di kulit Hanna, hangat dan menimbulkan sensasi aneh itu lagi dalam dirinya.


“Memangnya kamu bisa memasak?” dengan susah payah Hanna berusaha mendorong dirinya untuk menjauhi Liam. Setelah merasa jaraknya aman, Hanna menghela nafasnya dalam dan mendapati Liam masih memperhatikannya nyaris tidak berkedip.


“Hallo..” Hanna menjentikkan jarinya di depan wajah Liam.


“Aku tanya, kamu bisa memasak atau nggak?” ulangnya.


“Menurutmu, apakah ada hal yang nggak bisa ku lakukan?”


Liam lagi-lagi mendekati Hanna, memaksa Hanna mundur hingga tubuhnya menempel ke meja makan. Kedua tangan Liam yang dia letakkan di sisi meja membuat Hanna seperti terkunci, tidak bisa ke mana-mana.


“Han...” Liam mengendus wajah Hanna dan diam-diam tersenyum jahil.


“A...aku lapar.” Hanna mendorong Liam menjauh karena sudah membuat sekujur tubuh Hanna merinding kembali.


Demi menjaga kewarasannya, Hanna meninggalkan Liam sendiri dan memilih duduk di sofa. Kakinya sudah mulai lemas hanya dengan bisikan dan sentuhan seperti itu. Hanya Liam yang bisa membuatnya kehilangan arah, merasa seperti terombang-ambing dan sulit mengambil keputusan. Laki-laki itu sangat berpengaruh besar dalam hidupnya kini.


Wajah Hanna yang memerah menahan malu sangat menggemaskan, membuat Liam kecanduan dan dia akan membuat Hanna tersipu dengan sengaja seperti tadi. Menurutnya itu sisi atraktif Hanna yang lain –selain tubuhnya tentu saja, yang mampu menarik hatinya.


“Lumayan juga.”


Hanna melihat beberapa menu sarapan yang dibuat Liam. Liam membimbing Hanna duduk di meja makan, setelah itu dia duduk di samping Hanna. “Aku pikir kamu nggak bisa masak.”


Siapa bilang? Salah satu keahlian yang wajib dimiliki setiap anak yang dibesarkan di panti asuhan adalah bisa merawat dirinya sendiri dan bisa mengerjakan pekerjaan rumah sejak usia mereka mungkin sekitar empat – lima tahun. Memasak bukan hal yang sulit bagi Liam, namun dia tidak pernah melakukannya lagi setelah dia di adopsi.


Menurutnya memasak hanya akan membangkitkan ingatan buruknya ketika dirinya berada di panti asuhan. Namun siapa sangka, seorang Hanna mampu membuatnya kembali menyentuh dapur, bukan karena Hanna yang menyuruhnya, namun dia menawarkan dirinya sendiri. Luar biasa, bukan?


“Han, aku mungkin nggak bisa menemanimu hari ini karena aku ada syuting nanti sore sekitar pukul tiga. Kamu...nggak apa-apa sendirian?” wajah Liam terlihat serius.


“Aku baik-baik saja, hari ini juga aku akan ke kantor kok, jadi...”


“Bekerja juga bisa mengistirahatkan diriku.” Sahut Hanna datar.


Bekerja bisa mengistirahatkan diri? Teori macam apa itu? Yang ada bekerja itu menguras tenaga dan waktu, belum lagi emosi yang meluap-luap ketika apa yang kita kerjakan tidak sesuai dengan rencana. Kadang sudah sesuai dengan rencana kita, tapi malah bertentangan dengan rencana atasan. Namun siapa yang bisa menahan jiwa workaholic Hanna? Bahkan Liam tidak berani karena hubungan mereka belum jelas dan mereka baru saja bicara satu dengan yang lain. Liam tidak mau merusak suasana yang dinilainya sudah cukup baik ini.


*


“Ikut aku.”


Liam menyenggol pundak Noah dengan keras setelah dia berhasil menyelesaikan syutingnya. Sepanjang syuting Liam sudah menahan gejolak emosi di dadanya manakala dia melihat Noah, bicara padanya seolah-olah tidak terjadi apa pun. Dia masih memainkan gamenya seperti biasa dan ketika dia tertawa –entah apa yang lucu di layar handphonenya, emosi Liam mendadak tidak bisa ditahannya. Dia sudah nyaris membuat hubungan Liam dan Hanna tidak bisa diperbaiki. Andai saja Lona tidak membantu mereka, maka saat ini Liam mungkin belum bisa meluluhkan hati Hanna sedikit pun.


“Ada ap...”


Noah limbung saat sebuah tinju yang tak diduga-duganya mendarat di wajahnya. Keduanya berada di rooftop gedung yang digunakan sebagai tempat syutingnya tadi. Tubuh Noah terjatuh dan mendarat di tumpukan barang-barang bekas. Noah meringis, dia menatap Liam tajam dan sorot matanya dipenuhi amarah.


“Apa yang kamu lakukan, hah? Kenapa kamu memukulku?” teriak Noah.


“Itu tadi untuk Hanna. Dan yang ini...”


Noah tidak bisa menghindar saat tiba-tiba saja wajahnya yang lain terkena pukulan yang sama kuatnya dari Liam. Noah terjerembab, pasrah menatap langit yang gelap setelah Liam menyebut nama Hanna. Liam sudah tahu, dan Noah sudah pasti akan mengalaminya.


“...itu untuk anak yang ada dalam kandungannya.” Pekik Liam.


“Bukankah sudah ku katakan padamu kalau aku akan bertanggung jawab? Kenapa kamu menemuinya, hah?”


“Karena aku nggak mau kariermu hancur..” Noah berteriak.


Dia berdiri, menyeka darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya.


"Aku hanya ingin membantumu..”


“Tapi kenyataannya kamu nggak membantu sedikit pun..” balas Liam dengan nada suara yang tak kalah tinggi.


“..kamu malah mempersulitku, membuatku dijauhi oleh Hanna.” Teriaknya dengan penuh amarah.


Wajah Liam memerah -dan Noah ketakutan. Belum pernah dia melihat Liam seperti itu. Kemarahannya kali ini benar-benar luar biasa.


“Noah, anak itu anakku. Aku sudah bilang akan bertanggung jawab, kenapa kamu malah menciptakan masalah lain? Dengan begini, Hanna kemungkinan akan mempertimbangkan banyak hal sebelum menerimaku.” Walau saat ini Hanna sudah melunak, tapi bisa saja dia begitu hanya karena bayi dalam perutnya, bukan karena benar-benar menginginkan Liam seutuhnya.


Liam menunduk, tubuhnya lemah, dan dia menatap kepalan tangannya yang dia gunakan untuk memukul Noah. Dia menyesal.


“Aku hanya ingin membantumu karena kamu selalu mengatakan kalau kamu nggak akan membentuk ikatan keluarga. Aku nggak mau wanita itu berharap lebih padamu, itu saja.” Desis Noah.


Bicara soal penyesalan, sebenarnya Noah juga sangat menyesal setelah Hanna meninggalkannya dengan air mata waktu itu. Bayangkan dia dengan angkuhnya bicara pada Ibu hamil, menambah bebannya padahal dia juga tahu seharusnya ibu hamil tidak boleh banyak berpikir yang berat-berat. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur melakukannya.


Keduanya sama-sama duduk dan diam untuk beberapa lama. Liam kemudian berdiri, mengulurkan tangannya pada Noah dan membantunya berdiri.


“Maafkan aku.” Noah menatap Liam sungguh-sungguh. “Aku tahu aku salah dan egois, tapi aku melakukannya murni untuk membantumu. Pekerjaanmu ini adalah mimpimu, dan masa lalu yang buruk juga membuatmu nggak mau membentuk ikatan keluarga. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu dan wanita itu.”


Dulu memang Liam tidak mau terikat pada siapa pun. Namun setelah dia bertemu Hanna dan mendengar detak jantung bayinya itu, dia semakin yakin pada dirinya sendiri, jika bersama Hanna adalah tujuan hidupnya.


“Apa pun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab padanya.”