
Hanna terbangun di atas tempat tidur Lona, sedikit kebingungan, namun dia segera sadar jika tadi malam dia ketiduran di apartemen Lona. Dia masih ada di sini, itu artinya Liam tidak datang mencarinya atau menjemputnya. Hanna memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit –mungkin efek menangisnya.
Apa yang dia alami seperti mimpi, namun sayangnya kali ini mimpi itu adalah mimpi buruk. Bohong jika Hanna mengatakan dia tidak sakit hati. Demi apa pun, dia sangat kecewa dengan Liam. Bagaimana mungkin Liam kembali membuatnya sakit hati? Segala keraguan di hati Hanna kembali muncul satu per satu, namun Hanna masih meyakinkan diri jika dia tidak akan meninggalkan Liam.
Semua hal punya alasan masing-masing. Dan dia juga berharap Liam punya alasan untuk memperlakukannya seperti ini.
“Sudah bangun?” Lona menyambut Hanna dengan tersenyum.
Hanna mengangguk, duduk santai di kursi makan. Sabtu pagi, akhir pekan yang sangat menenangkan dan Lona sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Hanna diam-diam menatap Lona, mendapati jika lengkungan hitam tergambar di bawah kelopak matanya. Dugaan Hanna, Lona pasti tidak tidur semalaman.
“Kamu mau jalan-jalan? Hari ini sabtu, jadi kita bisa ke mana pun yang kita mau.”
Hanna menggeleng. Dia ingin kembali ke rumahnya –rumah pribadinya. Dia ingin istirahat, tidur, membaca buku. Dia tidak ingin keluar dan menghabiskan sisa energinya yang harus dihemat, siapa tahu dia masih menghadapi masalah yang membuatnya kembali jatuh. “Nggak Na, aku mau pulang saja.”
“Ke rumah mu dan Liam?”
Hanna kembali menggeleng. Untuk apa dia pulang ke sana? Liam tidak mencarinya, tidak menghubunginya, tidak menjemputnya ke sini –seharusnya dia tahu di mana Hanna berada. Jadi untuk apa dia pulang ke sana? “Nggak, pulang ke rumah ku sendiri. Lagipula aku sudah lama nggak ke sana, mungkin keadaannya sudah sangat kotor.”
Hanna meniup nasi goreng yang masih mengepul. Masakan Lona terbilang lumayan untuk ukuran wanita slengean seperti dia dan Hanna menyukainya. Namun tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan rasa masakan Liam. Dan..astaga, kenapa aku mengingatnya tiba-tiba?
“Baiklah. Aku akan mengantarmu nanti ke sana, sekalian aku menginap di sana malam ini.”
“Thanks baby.” Ucap Hanna tulus. Jika Lona tidak ada, entah mau jadi apa dunianya kini. Lona segalanya baginya. Sahabatnya itu bisa ada di segala setuasi dengan dia, memahami dan mengerti apa yang dia inginkan.
“Anytime.”
Saat Hanna dan Lona turun dari apartemen, mereka menemukan mobil Liam terparkir di parkiran depan apartemen. Keduanya saling berpandangan. Ini masih sangat pagi, kenapa mobil Liam ada di sana?
“Aku akan memeriksa mobilnya.” Ujar Lona.
Dia mencoba mengintip sembari menyipitkan mata, dan cukup terkejut mendapati Liam dan Bobby tidur di dalam. Sepertinya mereka sudah tiba di sini sejak tadi malam, namun mungkin mereka tidak berani untuk mengganggu istirahat Hanna dan Lona. Lona mengetuk kaca, membuat dua orang penumpang di dalam tersentak kaget.
“Mereka ada di dalam.” Seru Lona datar. Hanna mendekat. Bagus juga Liam ada di sini, dia akan menanyakan apa yang harus dia tanyakan. Sepanjang satu hari kemarin dia terus bertanya-tanya apa mau Liam sebenarnya, dan ini waktu yang bagus untuk bertanya.
“Gosh, kalian bau sekali.” Sungut Lona sambil mengipas-ngipas hidungnya. “Kalian mabuk tadi malam?”
“Hanya minum sedikit.” Jawab Bobby sembari tersenyum. “Hai Han..” sapa Bobby.
Hanna hanya mengangguk kecil. Dia memilih menatap Liam yang berdiri tidak terlalu jauh di belakang Bobby. Kenapa dia sembunyi? Apa dia takut? Atau..apa dia sudah menyadari kesalahannya?
“Ada yang ingin ku bicarakan denganmu, Han..” akhirnya Liam bicara.
Bagus juga, dia akhirnya buka mulut. Aku pikir dia sudah bisu.
“Bicara apa?” sahut Hanna datar.
“Sebelumnya aku minta maaf Han, kalau permintaanku mungkin akan membuatmu sedikit..kecewa.”
Degg..
Ada dentuman kecil yang menohok jantung Hanna. Walau Liam belum mengatakan apa pun, entah kenapa perasaan Hanna mulai tidak enak, persis yang dialaminya kemarin.
“Setelah aku berpikir semalaman...aku..aku pikir kita mungkin..berpisah dulu.”
“Apa kamu bilang?” Lona meradang. Tadinya dia berpikir mereka berdua datang untuk minta maaf pada Hanna, namun ternyata dia salah.
“Mungkin ada baiknya kita berpisah untuk sementara waktu ini hingga bayinya lahir. Setelah itu kita bisa mengadakan tes DNA untuk..”
Hanna memutar tubuhnya sebelum pembicaraan Liam selesai. Dia memaksa kakinya melangkahkan walau terasa ringan seperti tak bertulang hingga membuatnya kesulitan untuk berjalan. Kedua kelopak matanya mulai mengabur, seiring dengan cairan bening yang memenuhinya. Serendah itukah Hanna di mata Liam? Tes DNA? Jadi semua ucapannya selama ini hanya kebohongan semata? Itu hanya pemanis saja?
Hanna pikir Liam akan menjadi pelabuhan terakhirnya –bukan hanya karena dia mengandung anak Liam. Dia berjuang melawan egonya, membujuk dirinya sendiri untuk percaya pada Liam, menggantung semua harapan masa depannya padanya, namun apa yang dia dapatkan ini? Semua rasa kecewa, pengkhianatan, rasa sakit hati. Apa dia memang layak mendapatkan ini semua?
“Hanna..” Liam menarik tangan Hanna, mencoba membujuk Hanna.
“Lepaskan tanganku!” ujar Hanna datar.
“Kita harus bicara Han..”
Apa yang harus dibicarakan Liam? Semua omong kosongmu ini? Permintaan di luar nalarmu ini? Walau aku memang hamil di luar nikah, namun aku juga punya harga diri. Aku tidak serendah itu. “Nggak ada yang harus dibicarakan.”
“Hanna, ini untuk kebaikan kita masing-masing. Maksudku, Jhon itu mantanmu selama tiga tahun dan aku hanya..”
Plak..
Kali ini Hanna tidak bisa menahan diri. Dia menatap Liam tajam saat dia melayangkan sebuah tamparan di wajah Liam. Lona memekik kecil, berlari menuju mereka berdua diikuti Bobby. “Hanna..” dia menjauhkan Hanna dari Liam. Jantung Lona nyaris copot melihat Hanna menampar Liam karena biasanya Hanna adalah sosok yang tenang dan tidak mudah tersulut.
“Aku memang hamil..” Buliran-buliran bening itu berjatuhan, menghambur di wajahnya yang dingin. “..tapi bukan berarti kamu..” dia menunjuk Liam, menekan dadanya dengan intonasi tajam “..kamu bisa meragukanku.”
“Hanna..” Lona memegangi Hanna yang gemetar tak karuan. Tak terasa air matanya turut jatuh mendapati Hanna sangat menderita –setengah karena ulahnya. Dia sangat khawatir pada perkembangan janin Hanna karena sejak semalam –dan beberapa minggu terakhir Hanna sering sekali stress.
“Kamu mau meminta tes DNA setelah anak ku lahir? Tidak akan! Bermimpilah semaumu, tapi anak ini hanya anakku. Dia bukan anakmu. BUKAN ANAKMU, mengerti?” Hanna menatap Liam dengan tatapan berapi-api, perpaduan antara rasa sakit hati, kecewa, sedih, dan marah.
“Hanna..”
“Berhenti menyebut namaku. Kamu tidak layak bahkan hanya dengan menyebutnya. Mulai hari ini...” sekujur tubuh Hanna gemetar, air matanya tak henti-hentinya mengalir. “..jangan muncul di hadapanku. Jangan menyebut namaku, jangan memanggilku, jangan menghubungiku, jangan mencariku. Enyahlah dari hadapanku.”
“Hanna..” Liam masih mencoba meraih Hanna.
“Pergilah ke neraka, bajingan..” Hanna menepisnya dengan kasar.
Hanna berlalu dengan deraian air mata. Sakit, benar-benar sakit. Sial, sungut Hanna dalam hati. Dia terus berjalan walau langkahnya tidak terarah ke mana, sebagian karena dia tidak bisa melihat jalanan dengan jelas karena air matanya, sebagian karena dia kalut sehingga dia tidak bisa berpikir dengan normal.
“Hanna..” Lona memeganginya, menggenggam tangannya sangat sangat erat. Begitu eratnya, hingga Hanna merasa telapaknya nyaris hancur. “Maafkan aku Han..” bisik Lona.
Air mata Hanna semakin mengucur setelah mendengar kata maaf dari Lona. Dia berhenti, menatap sahabatnya itu dengan bibir yang gemetar menahan semua rasa sakit di dadanya. Hanna menyerah. Dia jatuh dengan lunglai di jalanan karena kakinya memang tidak bisa lagi menopang tubuhnya. Hanna meraung, memekik kencang sembari memukul jantungnya. Lona ikut menangis terisak-isak dan dengan sekuat tenaga berusaha menahan tangan Hanna agar dia berhenti menyakiti dirinya sendiri.
“Hanna..... Jangan...”
Dari kejauhan, Liam menyembunyikan dirinya di balik tembok bangunan apartemen Lona. Dia menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata mendengar isak tangis Hanna yang membuatnya hampir lupa dengan rencananya. Kalau bukan karena Bobby menahan tangannya, dia sudah menghambur ke pelukan Hanna, memohon dengan berlutut di depannya dan medekap Hanna erat.
“Kamu sudah memilih jalan ini sejak awal, maka kamu harus menuntaskannya hingga akhir.” Bobby menepuk-nepuk pundaknya.
“Ayo. Mereka bisa curiga jika kita masih di sini.” Ujar Bobby lagi, setengah menyeret tubuh Liam yang kaku dan dingin.
Hanna, anakku, maafkan aku! Tapi aku terpaksa melakukan ini demi kalian berdua. Kelak, segera, kita akan berkumpul bersama kembali.