
Lona mematung, berdiri di ambang pintu kamar Hanna dan mendengar semua pembicaraan keduanya dengan sangat jelas. Air matanya menetes, menyadari jika dia ternyata sudah dibodohi oleh Bobby dan Liam secara terang-terangan. Sial, sungut Lona. Bisa-bisanya kalian berbohong dan membuatku menerka-nerka semuanya selama ini.
Aku pasti terlihat sangat bodoh di depan kalian, terutama kamu Bobby. Bisa-bisanya semua ini hanyalah akting kalian semata.
Lona menarik nafas dalam. Dia meraih tas kecilnya dan dia masih mengacuhkan Bobby lalu mengetik di handphonenya.
Hanna, aku pikir lebih baik aku memberi ruang pada kalian berdua. Jika kamu membutuhkanku, hubungi aku. Aku akan kembali ke apartemenku.
Lona membereskan barang-barangnya dan dia masih belum mengacuhkan Bobby sedikitpun. Lona merasa seperti lelucon. Setelah semua ketakutannya, rasa sedih dan tangisannya memikirkan Hanna dan juga menyalahkan diri sendiri setiap saat, setelah semua itu berkecamuk dan membuatnya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, dia lalu mengetahui jika itu hanya akting. Apakah dia terlihat terlalu gampangan sehingga mereka membodohinya?
Sial. Aku benar-benar seperti boneka mereka berdua.
“Lona, kamu mau ke mana?”
Bobby terkejut saat Lona menyandang tas dan membuka pintu. Dengan kasar Lona menepis tangan Bobby dan dia masih bungkam menelan rasa kecewanya mentah-mentah.
“Kamu mau ke mana? Biar aku antar.” Bujuk Bobby lembut.
Sebenarnya Bobby tahu Lona marah karena dia sudah beberapa kali membahas hal ini dengan Liam. Dia dan Liam selalu berusaha mempersiapkan diri dengan sikap kecewa dan kemarahan Hanna dan Lona terhadap perbuatan mereka, namun tetap saja Bobby tidak siap.
Lona tidak bergeming. Dia sudah memesan taksi online dan tak lama kemudian taksinya tiba. Tanpa mengacuhkan Bobby, Lona masuk dan taksi yang dikendarainya melesat meninggalkan Bobby yang tergopoh-gopoh masuk ke dalam sedan Liam. Bobby masih memegang kunci mobil Liam dan dia langsung mengikuti taksi yang membawa Lona.
Setelah kurang lebih setengah jam melaju dan jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, Lona terlihat turun di Northernlight. Bobby menepi, dan setelah menunggu beberapa saat akhirnya dia bisa memarkirkan kendaraanya karena parkiran klub sudah dipadati oleh kendaraan pribadi.
Di dalam klub yang sudah dipenuhi oleh lautan manusia, Bobby berusaha mencari keberadaan Lona. Dia mengedarkan pandangannya hingga ke lantai dua bangunan itu, siapa tahu Lona mengambil tempat duduk di atas. Bobby memutar tubuhnya dan mengamati setiap sudut ruangan yang dipadati oleh sebagian besar muda-mudi yang sedang minum-minum.
“Hai, baby..”
Bobby menolak sopan saat seorang wanita berpakaian seksi mendekatinya. Dia tidak tertarik dengan wanita seperti itu dan fokusnya saat ini hanya satu, Lona. Akhirnya, Bobby menemukan Lona sedang minum di sebuah meja yang terletak di sudut klub, dekat dengan pintu keluar. Bobby memutuskan untuk mengawasi Lona dari kejauhan dan saat Lona menenggak alkohol langsung dari botolnya, Bobby mengetahui jika Lona benar-benar sangat sakit hati.
Di atas meja Lona sudah tersedia setidaknya empat botol alkohol dan dia sudah meminum dua diantaranya dalam sekejap. Lona berharap perasaannya membaik, namun semakin dia meminum alkoholnya, semakin dalam rasa sakit hatinya. Lona menunduk, air matanya menghambur di tengah hingar bingar musik yang memenuhi ruangan itu.
“Kalian pasti bersenang-senang menyaksikan aku menyalahkan diriku sendiri karena semua hal yang menimpa Hanna..” Lona tersenyum pahit, namun air matanya terus menetes. “Aku ketakutan saat aku melihat Hanna menggantung di atas bangunan tinggi itu...jantungku serasa terlepas...aku nggak bisa berdiri dengan tegak seolah-olah tubuhku layu..”
Lona menenggak minuman dari botol yang ketiga dan dia memicingkan matanya sejenak. “..dan aku menghadapi Jhon, laki-laki gila itu seorang diri sementara aku masih harus menantikan kapan Hanna akan bangun. Aku ketakutan, aku kalut, aku nggak sekuat yang kamu lihat bajingan..” Lona tersedu-sedu.
Lona menunduk, mencurahkan semua kepedihan dan kesusahan hatinya selama ini dalam balutan pengaruh alkohol. Lona sangat sakit hati pada Bobby karena dia pikir Bobby berbeda dari Liam, namun mereka berdua sama saja ternyata. Bisa-bisanya selama ini semua yang mereka lakukan hanyalah akting semata. Kenapa harus menyaksikan Lona bergulat sesusah itu? Tidak bisakah mereka memberitahunya jika semua itu hanya pura-pura? Jika mereka memberitahu Lona, dia pasti bisa mengikuti akting mereka. Kenapa harus menyusahkan Lona seperti ini?
Botol ketiga sudah habis dalam sekejap. Mata Lona mulai berkunang-kunang, kepalanya terasa ringan karena pusing. Alkohol yang diminumnya terlalu banyak bagi tubuhnya, namun masih terlalu sedikit bagi perasaannya.
“Lona cukup..”
Bobby tidak bisa menahan diri lagi. Dia tidak bisa membiarkan Lona membunuh dirinya dengan meminum alkohol sebanyak itu. Dia saja sudah tidak kuat jika sudah menenggak tiga botol alkohol, apalagi wanita seperti Lona.
“Jangan pedulikan aku, brengsek.” Lona menarik tangannya dengan kasar.
Bobby duduk di samping Lona, mengizinkan Lona menenggak botol ke empat. Dia juga pernah ada di posisi Lona yang penuh pikiran yang kalut dan tidak tahu harus melakukan apa. Alkohol baik untuk menghilangkan sementara masalahnya sebelum kembali ke dalam realita hidup.
Wajah Lona sudah memerah pertanda dia sudah mulai mabuk. Bobby memperhatikan semua gerak gerik Lona, dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Wajah Lona sangat teduh dan manis, namun garis tegas juga tergambar di sana. Seketika Bobby ingat bagaimana cara Lona selalu berhasil menenangkannya setiap kali dia punya masalah. Namun sekarang, Bobby lah penyebab masalah Lona.
“Lona..” Bobby menahan tangan Lona dan melepaskan botol alkohol itu dari tangannya. “Cukup, kamu sudah mabuk.”
“Memangnya kamu siapa?” Kedua mata Lona mengerjap, tubuhnya sudah limbung. Bobby bahkan harus memeganginya agar dia bisa duduk dengan baik. “Kamu...sama saja dengan bajingan bernama Bobby..” Dia tertawa seolah-olah hal itu cukup lucu.
“Ayo kita pulang.” Bobby merangkul tubuh Lona dan Lona berusaha melepasnya. “Lepaskan aku..” Lona meringis, kemudian dia kembali menangis.
Setengah sadar, Lona berusaha menyeimbangkan dirinya. Lona menatap Bobby yang berdiri di depannya dengan tubuh yang melayang-layang. Dia menunjuk dada Bobby dengan mata yang nyaris tertutup. “Kamu bajingan!”
“Aku tahu.” Sahut Bobby. Bobby tidak punya pilihan lain. Dia menggendong Lona dan membawanya ke luar dari klub malam walau Lona meronta. “Lepaskan aku..” Lona meringis.
Dengan lembut Bobby mendudukkan Lona di kursi dan memasang sabuk pengamannya. Lona sudah sedikit tenang, dugaan Bobby dia mungkin tertidur. Bobby merapikan rambut yang menutupi wajah Lona dan menghapus sisa air mata di wajahnya. Saat tangannya bersentuhan dengan kulit wajah Lona yang hangat dan halus, jantung Bobby mulai berdetak cepat.
Berada di dekat Lona bahkan nyaris tak berjarak seperti ini menyadarkan Bobby jika Lona terlihat sangat menawan. Mata Bobby mengerjap, perlahan ibu jarinya mengelus wajah Lona dan dia tidak bisa melepaskan dirinya dari teduhnya wajah Lona. Ibu jari Bobby turun dan berhenti di bibir Lona. Tanpa sadar Bobby mengelusnya dan kepalanya semakin menunduk hingga bibir mereka bersentuhan.
Bobby langsung menjauhkan dirinya. Dengan nafas terengah-engah, dia segera menutup pintu mobil. Bobby mengelus bibirnya sendiri. Apa yang ku lakukan barusan? Kenapa aku mencium Lona? Kenapa jantungku berdetak tak karuan saat menatapnya?
Mobil sedan yang dikendarai Bobby membelah jalanan yang lengang dan sepi. Tidak banyak mobil yang melintas karena jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Kemana aku harus membawanya? Tidak mungkin aku kembali ke rumah Hanna, tapi aku juga tidak tahu alamat Lona. Apa aku membawanya ke apartemenku saja?
“Bobby...Kenapa kamu melakukannya padaku? Kenapa berbohong?”
Lona meracau dalam tidurnya. Bobby menoleh, merasa bersalah sekaligus sedih melihat dampak dari yang mereka lakukan.
“Kamu tahu...aku sangat ketakutan...Aku takut setengah mati...” air mata menetes di tengah-tengah ketidaksadaran Lona. “..aku membutuhkanmu..Bobby...jangan tinggalkan aku...Aku mohon..”
Sial, pekik Bobby. Jika Lona sampai mengigau di bawah alam sadarnya, itu artinya Bobby melukai Lona sangat dalam.
Dengan hati-hati Bobby meletakkan Lona di atas tempat tidurnya. Dia melepas sepatu Lona, menyisipkan tubuh Lona ke dalam selimut dan menyesuaikan suhu pendingin ruangan. Bobby duduk di samping Lona dan kembali mengamatinya lekat-lekat. Dia terkejut, saat tiba-tiba Lona membuka kedua matanya.
“Bobby..”
“Ini aku..” Bobby mengelus rambut Lona.
“Kamu brengsek..” dengan jarinya Lona menunjuk dada Bobby. “..tapi aku menyukaimu.”
Lona tersenyum dan Bobby bersumpah saat ini dia melihat betapa cantiknya Lona. Tiba-tiba Lona menarik tangan Bobby hingga tubuhnya jatuh tepat di atas Lona. Lona masih mengamatinya sesaat, sebelum mengangkat kepalanya untuk mencium bibir Bobby dengan singkat, dan dia kembali merebahkan dirinya di tempat tidur.
Kedua siku tangan Bobby masih menopang dirinya saat dia belum sepenuhnya sadar dengan ciuman hangat Lona. Ciuman itu hanya sebentar, sekedar menempel di bibirnya namun terkesan sangat lembut dan hangat. “Lona, apa kamu sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan pada seorang pria dewasa sepertiku? Apa kamu sadar sudah membangunkanku?” bisik Bobby.
Lona kembali membuka matanya, tersenyum pada Bobby. Tidak. Bobby tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia menunduk, tangannya menangkup wajah Lona dan mencium bibirnya dengan gamang penuh hasrat namun tetap lembut. Satu kaki Bobby menghimpit tubuh Lona agar dia tidak bergerak. Jemari Lona berlari di rambut Bobby, cengkeraman wanita itu erat dan nyaris putus asa.
Sambil mencium mulai dari rahang hingga leher Lona, Bobby berusaha membuka pakaian Lona. Lona melepas pegangannya dari rambut Bobby dan membantu Bobby membuka pakaiannya sendiri dan ketika tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun, Bobby meraihnya hingga tubuh mereka bersentuhan. Lona mendesis, tubuhnya melengkung mendekati tubuh Bobby.
Bobby sudah lama menunggu momen seperti ini dan dia senang dia melakukannya dengan Lona, gadis yang diam-diam bisa menempatkan dirinya dalam dunia Bobby. Bobby bergerak naik ke atas tubuh Lona, menangkap kedua tangan Lona sembari memandangi tubuh wanita itu. Tubuh Lona langsing, perutnya rata, dan Bobby sangat menyukai garis pundak Lona yang menurutnya sangat bagus. “Apa yang kamu lakukan?” Lona memejamkan matanya, merasa malu dengan tatapan Bobby.
“Kamu sangat cantik.” Bobby kembali menciumnya dengan penuh nafsu. Bibir Bobby bergerak menuruni leher Lona hingga ke dadanya dan berhenti di sana untuk beberapa saat untuk mencecapnya. “Bobby..” Lona memekik kecil sambil menarik rambut Bobby.
Bobby tersenyum melihat reaksi Lona. Seluruh tubuh Lona kaku dan dia terus menyebut nama Bobby dari bibirnya. “Geser kakimu.” Bisik Bobby.
Lona menggeser kakinya perlahan, dan Bobby masih terus menciumnya dari dada hingga turun membelai perutnya yang rata dengan bibirnya. Saat Bobby melakukan penyatuan dengan Lona, dia bisa mendengar suara jeritan Lona yang tidak ditahan-tahan, namun tidak dibuat-buat juga. Tak butuh waktu lama keduanya dipenuhi ******* yang sudah lama tertahan dalam tubuh mereka masing-masing. Bobby menatap Lona dengan tubuh bermandikan peluh, dan wanita itu hanya tersenyum padanya. Dengan lembut Bobby mencium bibir Lona sekali lagi dan membaringkan tubuhnya di samping Lona.
Lona segera beringsut ke pelukan Bobby, menempelkan tubuhnya yang masih dipenuhi hawa panas. Tak sanggup menahan diri, Bobby mencium kembali bahu Lona, memeluknya, dan membiarkan tubuh mereka menyatu. Dengan lembut Bobby mengelus rambut Lona sementara wanita itu sudah terlelap di pelukannya.
Bobby baru menyadari jika perasaannya sudah beralih pada Lona entah sejak kapan.