Way Back To You

Way Back To You
Bukan Mimpi



“Vitamin Hanna..”


Bobby menunjuk pada sebuah bungkusan yang terletak di bangku penumpang. Liam lupa, tadinya dia ingin memberikan Hanna bungkusan berisi vitamin karena dia memperkirakan vitamin Hanna seharusnya sudah habis. Hanna mungkin lupa membeli karena kesibukannya, itu sebabnya dia membelikannya.


Skenarionya, Liam akan menyerahkannya pada Hanna setelah mengungkapkan dialognya tentang tes DNA. Dia tidak menyangka respon Hanna seperti itu dan membuat Liam cukup shock. Tamparan Hanna tidak terlalu keras, namun sakitnya memenuhi tubuhnya hingga ke tulang-tulangnya.


“Kita antar saja ke rumahnya.”


Dia tahu Hanna tidak akan menerimanya, namun dia bisa meletakkannya di depan rumah. Jika Hanna pun akan membuangnya, tidak masalah. Setidaknya tanda kecil ini bisa menyadarkan Hanna jika semua yang dilakukannya ini hanya pura-pura, demi dirinya.


*


Kedua orang tua Hanna –Eliana dan suaminya Narendra yang berusia paruh baya berjalan hilir mudik di depan rumah Hanna. Keduanya sibuk mengotak atik handphone masing-masing seperti sedang menghubungi seseorang. Wanita itu berdiri, mengintip ke dalam rumah Hanna lewat kaca jendela, namun di dalam tampak gelap.


“Kemana anak itu pagi-pagi begini? Apa dia lembur lagi dan lupa pulang?” sungut Eliana.


“Entahlah. Lona juga nggak bisa dihubungi sejak tadi, entah lagi di mana anak-anak ini.” sambung Narendra dengan jengkel.


Sedari tadi dia sudah mencoba menghubungi Hanna dan Lona, namun keduanya tidak mengangkat panggilannya. Aneh sekali. Biasanya Hanna selalu mengangkatnya, atau kalau pun dia tidak mengangkatnya secara langsung, dia akan menghubungi mereka kemudian. Tapi kali ini Hanna tidak merespons satu pun diantara puluhan panggilannya.


“Sudah ku bilang anak itu pasti menyibukkan diri demi bisa melupakan Jhon Jhon nya itu.” balas Eliana lagi.


Narendra mendesah, setuju. Sejak tahu Hanna putus, Eliana sudah mendesak agar mereka mendatangi Hanna untuk memeriksa keadaannya. Namun Narendra menolak karena dia tahu sifat anak perempuannya itu. Hanna butuh waktu untuk sendiri, itu sebabnya dia tidak mau mendatangi Hanna langsung. Namun mendapati rumah Hanna kosong melompong pagi-pagi begini padahal akhir pekan membuatnya menyesal. Hanna pasti sedang lembur untuk membunuh kesepiannya.


Tak lama, sebuah taksi berhenti di depan rumah Hanna. Keduanya menoleh, dan benar saja, Hanna dan Lona turun dari dalam.


Hanna mematung, matanya melotot mendapati kedua orang tuanya kini ada di rumahnya. Dia memutar tubuh, menghapus sisa air mata dan merapikan diri. Kedatangan kedua orang tuanya cukup mendadak dan Hanna sedang dalam keadaan terburuknya.


“Ibu, Yah..” Hanna mencoba memaksakan senyumnya. Lona yang sedari tadi memegangi Hanna juga mencoba tersenyum kaku. Dalam hati, Lona tahu, hari ini mungkin saja akhir dari hidupnya. “Tenangkan hatimu.” Bisik Lona.


Hanna mengangguk. Keduanya berjalan ragu-ragu dan seolah tak ada beban Hanna memeluk keduanya, mencoba menahan air matanya tidak jatuh. “Kenapa kalian mendadak datang? Aku..belum beres-beres.” Rumahnya pasti sangat berantakan, dipenuhi debu dan pasti akan mengundang kecurigaan. Apa ini akhir dari kepura-puraannya? Apa dia harus jujur?


“Ibumu terus memaksa untuk menjengukmu di sini. Kata Ibumu kamu mungkin..sedih karena baru putus dari Jhon.”


Hanna memang sedih, sangat sedih saat ini. Memang Jhon kali ini turut bekerja mendatangkan rasa sakit di dadanya, namun pelaku utamanya saat ini adalah Liam, laki-laki brengsek itu. “Kenapa aku harus sedih? Aku punya kehidupan yang harus dijalani, untuk apa sedih?” Hanna menyadari dia cukup pintar sekarang untuk berbohong.


“Kan, ku bilang juga apa..” sungut Narendra. “..kamu selalu menganggap Hanna sebagai puteri kecilmu padahal dia sudah dewasa seperti ini.”


“Selamanya Hanna itu memang puteri kecilku.” Balas Eliana.


Hanna tertawa kecil, namun raut wajahnya berubah saat dia melihat mobil Liam berhenti di depan rumahnya. Sial, mau apa dia kemari? Hanna mendadak gelisah. Dia dan Lona saling berpandangan dengan penuh khawatir saat keduanya turun dari mobil. Tolong jangan singgung soal kehamilanku, tolong jangan singgung soal kehamilanku, aku mohon.


“Han, aku tahu kamu tidak akan menerimanya..” Liam benar-benar tidak menyadari jika dua orang orang tua di hadapannya adalah orang tua Hanna. “..tapi bayimu membutuhkan ini.”


Sial, pekik Hanna. Jantungnya berderap kencang, tubuhnya dingin dan kaku. Liam, kamu benar-benar mau membunuhku perlahan ternyata ya.


“Apa? Bayi?” Eliana berdiri. Dia memutar tubuh Hanna, dan saat itulah Liam sadar jika dia sudah salah bicara.


“Bayimu? Dia bilang bayimu? Kamu hamil?” Eliana kembali menerornya dengan banyak pertanyaan.


Setelah menarik nafas dalam, Hanna mengangguk. Dengan tatapan bersalah dan penyesalan –juga sakit hati dan kesedihan mendalam, Hanna menatap Eliana. “Aku hamil, Bu.”


Eliana lunglai. Jika saja Narendra tidak sigap menopang tubuhnya, dia pasti terjatuh ke tanah. “Apa maksudmu kamu hamil? Siapa Ayahnya? Kenapa kamu bisa hamil?” Eliana nyaris berteriak.


Hanna menelan ludahnya dengan susah payah. Dia menatap Liam, lalu menggeleng pelan. “Aku nggak tahu siapa Ayahnya karena..”


Plakk..


“Eli..” pekik Narendra. “Apa yang kamu lakukan?”


Hanna menunduk, sebuah sensasi panas menjalar di wajahnya sebelum dia menyadari apa yang sudah terjadi. Lona menopang tubuh Hanna, air matanya kembali menghambur menyadari betapa sulitnya menjadi seorang Hanna. Sementara itu Liam dan Bobby juga sangat terkejut, terutama Liam yang sangat ingin berlari menuju Hanna. Namun lagi-lagi dia harus menahan diri, demi semua kelancaran rencananya.


“Apa kamu gila? Hanna, apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu lakukan?” Eliana menangis mengguncang tubuh Hanna yang kaku. “Apa ini semua mimpi? Apa aku bermimpi?” teriak Eliana.


Hanna menyibak rambutnya. Air matanya terus menghambur dan Hanna menangis sesenggukan. Dia mengangkat wajahnya, menatap Ibunya dengan rasa bersalah. “Apa Ibu bisa menamparku sekali lagi?” suara Hanna terdengar bergetar.


“Apa?” Eliana tercengang melihat reaksi Hanna.


“Tolong tampar aku sekali lagi, Bu.” Isak Hanna.


Eliana menyadari jika anaknya ini sangat berantakan. Air mata Eliana menetes, dia menggeleng menatap puterinya.


“Ibu..aku bertanya..apa...apa Ibu bisa menamparku sekali lagi? karena..aku juga ingin tahu apakah...apakah ini semua adalah mimpi..” suara Hanna tertahan, putus-putus seperti harapannya saat ini.


Keadaan Hanna yang mengenaskan membuat Eliana tidak kuasa untuk terus memarahi Hanna. Dia menarik tangan Hanna, menempatkan puteri satu-satunya itu ke dalam dekapannya. “Puteri Ibu..Maaf Nak, maafkan Ibu..”


Seumur hidupnya, ini kali pertama Eliana mendaratkan telapak tangannya pada kulit wajah Hanna. Sejak Hanna masih dalam kandungan, Neneknya sudah memberinya peringatakan jika hanya kaki dan tangan anak yang bisa dipukul, sedangkan bagian kepala adalah bagian yang paling berharga dan tidak bisa disentuh. Eliana menyesal, seharusnya dia tidak terbawa emosi dan langsung menampar Hanna. Seharusnya dia bertanya dulu, seharusnya dia percaya, seharusnya...


Tapi tangannya sudah terlanjur mengenai wajah Hanna.


“Kita bicara di dalam saja. Ayo, ayo Nak, dan kamu juga Lona, ayo masuk Nak.” Ajak Narendra.


Lona mengangguk. Dia memegangi Hanna, membuka pintu dengan kunci yang ada padanya. Mereka membimbing Hanna ke dalam rumah dan mendudukkan di sofa. Sementara kedua orang tuanya sibuk dengan Hanna, Lona pergi ke luar dan menutup pintu. Masih ada yang harus diurusnya di luar.


“Sudah puas melihat Hanna menderita?”


Liam dan Bobby diam seribu bahasa. Lona menatap bungkusan di tangan Liam. Dia meraihnya lalu melemparnya ke dalam tempat sampah. “Sama seperti bungkusan ini, tempat mu ada di sana.” Dia menunjuk menggunakan dagunya.


“Aku pikir aku sudah melakukan hal yang benar dengan membujuk Hanna untuk menerimamu, tapi ternyata aku salah.” Dia tersenyum, mengejek dirinya sendiri.


“Itu kesalahan terbesar yang kulakukan untuk Hanna. Dan kamu mau tahu kesalahan pertamaku apa?” Lona mendekat selangkah pada Liam. “Kesalahan pertama dan terbesar ku padanya adalah, kenapa aku harus mengajaknya ke club malam itu. Kalau aku mengajaknya ke mall atau perpustakaan seperti kebiasaan normalnya, mungkin dia tidak akan bertemu denganmu dan dia tidak akan menderita seperti ini.”


Lona mendesah. dia menatap langit yang sudah mulai mendung pertanda hujan mungkin akan turun sebentar lagi. “Baru kali ini aku salah menilai seseorang..” gumam Lona.


“Tapi lebih baik menyadarinya sekarang daripada nanti setelah semuanya semakin dalam, dan Hanna semakin tersiksa. Aku harap, ini pertemuan terakhir kita. Jangan pernah muncul di hadapanku, kamu, ataupun sepupumu itu. kalian sama saja, sama-sama bajingan.”