
“Apa maksudmu?” hardik Bobby. “Setelah semua halangan yang sudah kalian lewati, tiba-tiba kamu mengatakan jika kamu tidak pantas untuk Hanna. Kenapa perasaanmu mudah berubah-ubah?”
“Perasaan ku tidak berubah.” Balas Liam. Perasaanku tidak akan berubah. Sekali aku mengatakan jika aku mencintai Hanna, maka aku akan mencintainya selamanya. “Aku membicarakan jika tiba-tiba saja aku menemukan kenyataan kalau aku memang tidak pantas untuknya.”
“Alasannya apa? Karena latar belakangmu?”
Liam tidak tahan melihat ekspresi iba di wajah Bobby. Dia mengangguk pelan. “Steve sudah memberitahumu soal Ibu kandungku, bukan?”
“Memang sudah. Tapi seharusnya hal itu tidak mempengaruhimu.”
“Tetap saja Bob. Selamanya, aku akan menjadi ‘anak yang tak diinginkan’. Aku berbeda dan ditolak. Ayah kandungku tidak jelas siapa karena aku hanya anak penjahat. Dan Ibuku memilih mengakhiri hidupnya karena begitu menderita. Aku lahir dari hasil perbuatan bejat. Laki-laki itu melecehkan Ibuku dan hadirlah aku.”
“Itu bukan salahmu. Jangan terlalu terpengaruh pada hal itu.”
“Aku merusak keturunanku. Aku mencemari kontribusi genku pada anakku. Aku malu dan merasa terhina. Aku...” Liam diam, tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Liam menuang kembali alkohol ke dalam gelas lalu meminumnya. “Aku sempat berpikir untuk meminta Hanna kembali ke rumah awalnya. Dia... dia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih layak dariku. Soal anak, aku nggak akan lari dari tanggung jawab.”
“Bodoh.” Gumam Bobby.
Dia mengambil gelasnya, menuang alkohol dan menemani Liam minum. “Pikirmu semudah itu untuk mengembalikan Hanna ke dalam kehidupannya setelah kamu membolak-balik perasaannya? Lagipula Liam, hal itu hanya masa lalu. Oke. Tindakan pelecehan itu adahal hal lain. Tapi bukankah yang terpenting adalah jati dirimu yang sekarang? Kamu tidak mewarisi gen para laki-laki biadab itu, kan?”
Liam tertawa kecil. “Kamu lupa dengan kebiasaanku sebelum bertemu Hanna?”
“Itu juga hal lain.” ujar Bobby pelan. “Semua orang punya masa lalu, semua pernah melakukan kesalahan. Tapi kamu sudah meninggalkan kebiasaan itu semuanya. Apa lagi sekarang? Jangan bereaksi berlebihan.”
Bereaksi berlebihan? Liam menoleh pada Bobby. “Kenapa kamu mengatakan ini semua reaksi berlebihan? Memangnya ada yang lebih parah dari semua ini?”
“Banyak.” Tandas Bobby tegas. “Yang mereka lakukan memang bejat dan parah. Kenyataan jika kamu sedikit terhubung dengan hal-hal pelecehan semacam itu juga buruk...”
“Sedikit terhubung? Bobby, aku adalah hasil dari tindakan pelecehan itu. Aku nggak sekedar terhubung, tapi aku adalah hasilnya. Hasil Bob..” pekik Liam. “Kamu nggak akan mengerti bagaimana rasanya mengetahui jika kamu bersinggungan dengan tindakan asusila itu.”
“Tapi kamu tidak punya pilihan dalam hal itu Liam. Kamu harus mengerti jika kamu tidak memilih untuk diciptakan ataupun dilahirkan. Kamu adalah..korban. Kamu korban dari nafsu yang tak terkontrol, begitu juga Ibumu. Kalian berdua hanya korban.”
Senyap. Liam tak lagi berdebat dengan Bobby karena lelah. Dia sudah bepergian selama dua hari dan tidak tidur sama sekali. Pikirannya kacau, tubuhnya remuk –dan hatinya sakit.
“Kamu tahu, sepanjang jalan mau pulang, aku sangat ingin muntah.” ujar Liam setelah mereka diam selama beberapa saat. “Aku nggak bisa berhenti memikirkan soal itu.”
“Tapi seharusnya kamu juga memikirkan Hanna.” Bobby menoleh. “Semua yang membuat mu kacau saat ini hanya sebatas masa lalu, namun Hanna dan bayi dalam perutnya adalah masa depanmu.”
“Sudah ku bilang aku merasa tak pantas untuk Hanna. Aku...”
“Hanya aku yang bisa menilai kamu pantas atau tidak untukku.” Hanna berteriak dari anak tangga.
Liam dan Bobby menoleh bersamaan. Tatapan Hanna penuh kasih sayang, tulus tanpa menghakimi. Dia menuruni anak tangga dan berjalan menuju meja tempat Liam dan Bobby tengah minum. Nafasnya memburu, pundaknya naik turun dan kedua kelopak matanya terlihat berkaca-kaca.
“Aku akan meninggalkan kalian berdua. Bicaralah dengan baik.” Bisik Bobby pada Liam.
Setelah Bobby benar-benar pergi, Hanna tak kuasa menahan air matanya. Dia menangis sesenggukan berdiri menatap Liam yang masih duduk dengan alkohol di tangannya. Hanna bisa menilik kesedihan dalam diri Liam lewat garis wajahnya yang sendu, dan dia pun demikian. Kenyataan tentang masa lalu Liam memang menyakitkan. Namun Hanna tidak terpengaruh sedikitpun. Bobby benar. Liam berbeda. Laki-laki yang dicintainya ini jauh berbeda dari mereka.
“Aku minta maaf.” Hanna memeluk Liam dari belakang. Dia membaringkan wajahnya di punggung Liam yang bidang. “Aku berbohong saat aku mengatakan tak ingin menemuimu tadi. Aku hanya marah padamu karena kamu meninggalkanku, itu saja. Maaf kalau aku egois dan lupa jika kamu tengah menghadapi masalah yang rumit.”
Liam menunduk, menatap kedua tangan Hanna yang melingkar di dadanya. Pelukan Hanna sangat menenangkan, apalagi jika dia memeluk Liam dari arah belakang seperti ini. Rasanya semua hal yang membebani Liam menguap begitu saja, hilang ditelan ketulusan Hanna. Liam merenung, kalimat-kalimat Bobby kembali terngiang di telinganya.
“Tapi aku ini anak yang tidak diinginkan, Han. Apa kamu nggak keberatan sama sekali?” gumam Liam.
Hanna menggeleng kuat. “Aku nggak peduli. Aku mencintaimu. Akan ku terima semua hal yang ada dalam dirimu, termasuk masa lalumu.”
“Tapi aku ingin kamu bangga padaku tanpa cacat sedikitpun.”
“Semua hal yang ada padamu sempurna..” Hanna memutar tubuh Liam, hingga mereka berhadap-hadapan. “..aku nggak menemukan cacat apa pun dalam dirimu. Aku bangga padamu apa adanya, jadi nggak perlu menuntut dirimu terlalu berlebihan.” Dia mengusap pipi Liam dengan lembut.
“Aku lebih mencintai ini...” Hanna memegang dada Liam. “Hatimu bersih, tulus, dan baik. Itu sudah lebih dari cukup.” Ucapnya lembut sembari tersenyum di sela-sela tangisnya.
“Han..” Liam turun dari kursi, menangkup kedua wajah Hanna dengan tangannya. “Aku harap aku tidak menyakitimu terlalu dalam.”
Hanna menggeleng, tersenyum kecil. Dia berjinjit untuk memberi ciuman hangat pada bibir Liam. “Kamu nggak pernah menyakitiku.” Bisiknya.
“Jadi kamu yakin padaku?”
Hanna mengangguk. “Sangat yakin.”
Liam menatap kedua bola mata Hanna yang teduh yang menggambarkan ketulusan dan keikhlasan untuk mencintai Liam. Dia mengelus pipi Hanna sekali lagi, lalu menunduk merengkuh bibir Hanna. Dengan lembut Liam mencium bibir Hanna, semakin lama semakin intens dan dalam.
Dia mengangkat tubuh Hanna perlahan menuju sofa dan membaringkan Hanna tanpa melepas bibirnya sedetik pun.
Dengan liar dan penuh kerinduan, Liam membuka kancing baju Hanna satu per satu. Ciuman Liam berpindah dari bibir menuju kening Hanna, menghujani wajahnya dengan ciuman-ciuman lembut dan kemudian turun menuju lehernya.
Liam menegakkan tubuhnya, membuka jaket dan kaos yang menempel pada tubuhnya. Seketika Hanna menahan nafas begitu melihat tubuh atletis Liam yang sebenarnya bukan pertama kalinya lagi dia lihat. Namun walau sudah berkali-kali melihat Liam bertelanjang dada, Hanna merasa tidak pernah cukup dan dia tidak akan bosan.
Tubuh Hanna menlengkung saat Liam mencium perutnya dengan lembut, lalu bergeser menuju dadanya. Dia merintih saat Liam bermain sebentar di sana, sebelum menyatukan tubuh mereka.
Mulut Hanna menyebut nama Liam berkali-kali. Tanpa sadar kuku Hanna meghujam bahu Liam dan bibir nya yang sensual membuka menerima Liam lalu tubuhnya mengejang dihantam gelombang kepuasan. Gelombang kepuasan itu tak pernah berhenti, selalu terasa ingin lebih lagi dan lagi, dan Hanna hanya menginginkan Liam.
Sambil mengatur nafas, Liam menatap wajah Hanna lekat-lekat, lalu mencium keningnya lembut. Mereka masih saling menautkan bibir untuk beberapa saat lamanya sebelum Liam membaringkan tubuhnya di sisi Hanna dan menarik tubuh Hanna mendekat padanya.
“Terimakasih sudah menerimaku Han.” Bisik Liam.
Wanita itu mengangguk. Dia menyandarkan kepalanya di dada Liam dan memeluk tubuh laki-laki itu dengan penuh kerinduan.
“Jangan tinggalkan aku dan bayi kita. Aku benar-benar tidak peduli dengan masa lalumu dan aku harap kamu juga sama. Kelak hanya akan ada aku, kamu dan bayi kita di masa depan. Jadi, berhentilah mengkhawatirkan hal-hal itu, okay.”
Liam mengangguk. dia memeluk Hanna lebih erat sembari mengelus rambutnya. “Aku janji Han.”