Way Back To You

Way Back To You
Sesi Hipnoterapi



Setelah Veronica mengajukan permohonan tentang kesehatan mental Gita, akhirnya pihak kepolisian setuju untuk mendatangkan seorang psikiater yang biasa bekerja untuk pihak kepolisian. Dia juga menunjuk Liz Lorienne sebagai pengacara. Wanita berusia empat puluhan itu sudah menangani beberapa kasus serupa seperti yang terjadi pada Gita, jadi tidak ada yang lebih baik dari dia.


Dokter Rebecca bertugas melakukan hipnoterapi (terapi menggunakan hipnotis untuk memasuki alam bawah sadar seseorang dan memberi sugesti tertentu) pada Gita. Hipnoterapi ini adalah salah satu cara yang biasa dilakukan untuk memanggil alter pada tubuh seseorang yang punya kepribadian ganda.


Dokter Rebecca bersama Liz Lorienne menunggu di ruangan interogasi sesuai petunjuk kepolisian. Nanti Gita akan digiring ke sana. Ruangan itu tidak terlalu luas, hanya sebesar dua kali dua meter. Di dalam terdapat satu buah meja kayu dan tiga buah kursi.


Wajah Gita memelas dan putih pucat saat diantar oleh dua orang petugas ke dalam ruangan itu. Matanya bengkak dan sembab karena selama tiga hari mendekam di dalam jeruji, dia hanya bisa menangis sepanjang hari tanpa berhenti. Dr Rebecca tersenyum manis, dia memahami betapa lelahnya Gita.


“Gita, perkenalkan. Saya Liz Lorienne, pengacara yang ditunjuk oleh Ibumu. Dan ini adalah dokter Rebecca.”


“Hai, Gita. Bagaimana keadaanmu?” sapa Dokter Rebecca.


Gita tidak menyahut. Dia duduk menundukkan kepalanya, menatap kedua tangannya yang masih diborgol. Dokter Rebecca dan Liz saling berpandangan.


“Apa kamu keberatan jika kami menghipnotismu? Ini adalah satu-satunya cara untuk mengetahui kebenaran tentang semua yang terjadi padamu.”


“Kebenaran apa?” Gita mengangkat wajahnya. “Aku tidak melakukan apa pun.”


Dokter Rebecca mengangguk. “Aku tahu kamu tidak melakukannya. Itu sebabnya kita harus mengundang seseorang yang melakukan semua ini, demi dirimu. Apa kamu paham?”


“Anda yakin ini berhasil?”


“Sejauh ini... ya, berhasil. Hanya jika kamu memang mau dihipnotis.”


Gita menghela nafasnya dalam. “Baiklah, aku bersedia.” Ujarnya pada akhirnya.


“Baiklah, kita bisa memulainya.” Ujar dokter Rebecca, diikuti anggukan dari Liz.


Beberapa petugas juga ikut melihat ruangan itu dari luar, dari cermin pembatas satu arah. Mereka ingin mengetahui benarkah Gita memiliki orang lain dalam dirinya seperti yang dikatakan oleh Veronica.


“Baiklah Gita. Aku ingin kamu rileks. Cobalah memikirkan sesuatu yang menyenangkan. Sekarang pejamkan matamu dan dengarkan suaraku baik-baik. Kamu sudah melalui banyak hal dan kamu pasti sangat lelah. Sekarang istirahatlah, tidur dan rasakan tubuhmu mulai ringan...”


Waktu berlalu sangat cepat, dokter Rebecca melihat jam tangannya lalu mengangguk pada Liz. “Gita, apa kamu ingat nama lengkapmu?”


“Ya..” suara Gita terdengar seperti di awang-awang. “Briggita Anelson.”


“Di mana kamu sekarang?”


"Di dalam penjara.”


“Kenapa kamu bisa dipenjara?”


“Kata mereka aku terlibat penyekapan Kak Hanna yang merupakan tunangan seorang model terkenal dan menyerang seseorang dengan senjata api.”


“Kata mereka? Itu artinya kamu tidak melakukannya?”


“Tentu saja tidak. Aku tidak tahu apa-apa soal itu.”


“Kalau begitu, bisakah kamu memanggil pelakunya? Kamu tahu siapa yang melakukannya, bukan?”


Tiba-tiba kursi kayu itu berdecit. Tubuh Gita mulai melengkung ke kanan dan ke kiri, lalu perlahan tegang. Wajahnya mulai berubah muram tapi dingin, tatapannya tajam dan matanya melotot memerah.


“Dia datang..” bisik dokter Rebecca pada Liz.


Liz tidak terlalu terkejut. Dia memang sudah beberapa kali mendampingi klien dengan masalah seperti yang dialami Gita dan dia juga turut mendampingi kliennya di ruang interogasi seperti ini. Sesi hipnoterapi ini bukan lagi hal baru baginya.


“Hai Gita..”


“Sssttt, aku bukan Gita.”


Suaranya terdengar berat dan rendah, juga sedikit serak. Di luar ruangan, para petugas tampak fokus. Beberapa diantaranya mulai terlihat tercengang dengan perubahan Gita yang tiba-tiba.


“Lalu siapa kamu? Bisakah kamu memperkenalkan dirimu?”


“Sebentar... Bisakah kamu memutar lagu kesukaanku? Aku belum mendengarnya beberapa hari ini.” Dia tersenyum menyeringai.


“Lagu apa?” dokter Rebecca mengeluarkan handphonenya.


“What A Wonderful World. Aku suka lagu itu, kalian harus mendengarkannya juga.” Dia mengerlingkan mata pada dokter Rebecca.


Dokter Rebecca tersenyum. Dia memutar lagu yang diminta Gita dan meletakkan handphoennya di atas meja. Mata Gita terpejam, ada senyum di wajahnya dan jari nya lentik mengikuti ketukan musik. Dia lalu berdiri, dengan tangan yang masih diborgol, bergerak ke sana ke mari seperti sedang berdansa.


Dokter Rebecca dan Liz menunggu dengan sabar hingga lagu itu selesai. Setelah musik berhenti, Gita kembali duduk, mengangkat kedua tangannya bersamaan untuk merapikan rambutnya. “Borgol ini membuatku tidak bebas.” Serunya.


“Baiklah Gita, boleh kita lanjutkan lagi?” tanya dokter Rebecca setelah dia menyimpan kembali handphonya ke dalam tas.


“Sudah ku bilang aku bukan Gita. Aku Giselle, Giselle Nicholas.” Tegasnya.


“Kenapa kamu harus menanyakan hal konyol itu? Tidak masuk akal. Bukankah kamu tahu kita ini berada di mana?” serunya dengan nada bicara yang berbeda dengan Gita.


Dia tidak terlihat gugup, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan atau pun lelah.


“Jadi kamu yang bertanggung jawab atas penyekapan Hanna dan penembakan di lengan Jhon? Kamu kenal mereka?”


“Tentu saja.” Gita meniup kuku-kukunya. “Wanita murahan bernama Hanna itu berniat merebut tunanganku. Bukankah itu sedikit rendahan? Dia bahkan mengandung anaknya. Bayangkan.. anak tunanganku...” teriaknya.


Para petugas di luar ruangan terkejut. Mereka terkesiap dengan perilaku Gita yang benar-benar mengejutkan dengan transformasi di luar nalar.


“Lalu bagaimana dengan Jhon? Kenapa kamu menembaknya?”


“Seharusnya dia memang layak mati. Awalnya dia mau bekerja sama denganku menghancurkan Hanna, kenapa dia tiba-tiba berada di sisi Hanna dan membelanya? Bukankah hukuman seorang pengkhianat adalah kematian?” matanya Gita melotot tajam.


Dokter Rebecca menghela nafas. “Aku mendengar ada serangkaian teror yang terjadi pada Hanna. Kamu kah pelakunya?”


Gita tertawa. Tawanya terdengar mengerikan.


“Dokter Rebecca, tahukan anda hal yang lebih mengejutkan?”


“Apa itu?”


“Akulah orang yang bertanggung jawab atas kematian Angela.” Dia tersenyum tipis.


Dokter Rebecca menatap Liz. “Dia model berusia dua puluh satu tahun. Dia ditemukan meninggal setelah melompat dari gedung tinggi beberapa bulan yang lalu, masih di bawah agensi yang sama dengan Hazer.” Terang Liz pada dokter Rebecca.


“Kamu sedikit menyulitkan Gita.” Gumam dokter Rebecca.


Mata Gita melotot, wajahnya tegang dan tubuhnya kaku. “Apa katamu? Lalu apa yang seharusnya ku lakukan pada gadis bodoh dan polos itu, hah? Seharusnya dia melakukan apa yang ku perintahkan dari dulu. Berapa kali dia ku minta untuk mengiris nadinya tapi dia malah mengacuhkanku? Aku tidak menyulitkannya. Aku justru menolongnya, menolong...”


“Dokter Rebecca, sepertinya kita harus mengakhiri hipnoterapi ini sebelum dia menyakiti dirinya sendiri.” Saran Liz.


“Aku pikir juga begitu.” Dokter Rebecca setuju. “Baiklah Gita. Dengarkan aku, fokus pada suaraku. Tidurlah, pejamkan matamu dan rilekskan tubuhmu. Rasakan otot tubuhmu terasa lebih ringan dan longgar. Dalam hitungan ke lima, kamu sudah harus membuka matamu kembali."


“Satu..”


Nafas Gita terengah-engah, namun matanya mulai terpejam.


“Dua..”


Tubuhnya kembali melengkung dan menggeliat menimbulkan bunyi decitan kursi.


“Tiga..”


Ekspresi wajahnya mulai berubah menjadi lebih tenang.


“Empat..”


Gita mengangkat wajahnya yang tertunduk.


“Lima..”


Kedua mata Gita terbuka. Dia menatap dokter Rebecca dan Liz bergantian. “Aku sedikit mengantuk.” Gumamnya.


“Kamu sudah melakukan yanh terbaik, Gita. Kamu boleh istirahat.” Seru dokter Rebecca dengan senyum di wajahnya.


“Apa aku mengatakn sesuatu?” selidik Gita.


Dokter Rebecca mengangguk. “Kamu mengatakan banyak hal. Sekarang waktunya kamu istirahat.”


Dokter Rebecca memberi kode pada petugas di luar ruangan. Tak lama dua orang petugas masuk, membawa Gita meninggalkan ruangan itu.


“Sisanya ku serahkan padamu, Liz.” Ujar dokter Rebecca.


“Aku tahu..” Liz mengangguk. “Ini bukan kasus yang terlalu berat, jadi kemungkinan Gita akan dilepas itu lebih besar. Aku akan berusaha menyelamatkan Gita."


“Jika Gita tidak segera bebas dan ditangani, aku khawatir dia akan melakukan hal-hal yang ekstrim.”


Hal ekstrim yang dimaksud dokter Rebecca adalah perilaku yang cenderung menyakiti diri sendiri. Ada banyak kasus penderita kepribadian ganda memilih bunuh diri karena bingung dengan keadaannya sendiri. Beberapa diantaranya ada juga yang berakhir depresi hingga gangguan jiwa.


“Aku akan berusaha.” Ujar Liz pendek.


Kedua wanita itu beranjak meninggalkan ruangan interogasi. Hari sudah mulai beranjak sore saat Liz meninggalkan kantor kepolisian. Dia harus menyusun beberapa hal untuk menangani kasus Gita. Dan entah kenapa, hati kecilnya ingin bertemu dengan Hanna.