Way Back To You

Way Back To You
Kita Pasti Menemukannya



“Jadi tidak ada penyusup yang masuk ke perusahaanmu?” Liam menutup laptop dan mengembalikannya pada Bobby setelah dia selesai melihat semua rekamanan CCTV perusahaan.


Bobby mengangguk. Mengecewakan memang, tapi begitulah kenyataannya. Liam boleh membencinya dan Bobby akan menerimanya, tapi dia juga tidak mau Hanna seperti ini. Walau Hanna sudah menolaknya, dia tidak mau Hanna –calon kakak iparnya mengalami hal yang membahayakan nyawa seperti ini.


“Bagaimana dengan orang dalam?” Liam menatap Bobby tajam. Bobby mengerjap, terkejut mendengar pertanyaan Liam. “Orang dalam? Maksudmu kamu mencurigai seseorang yang bekerja bersama Hanna?”


“Aku yakin dengan keamanan perusahaanmu dan itu sudah terbukti clear lewat rekaman CCTV. Mau nggak mau, satu-satunya yang harus kita curigai adalah..orang dalam.”


“Tapi nggak ada satu pun orang yang menyentuh minuman Hanna. Saat dia bersama Gita pun..”


“Siapa Gita?” potong Liam.


“Wanita yang bersama Hanna dalam rekaman pagi itu ketika Hanna membuat jus. Itu sudah ku putar berkali-kali dan nggak ada satu momen pun Gita menyentuh minuman itu. Dia memang menempel pada Hanna tapi kedua tangannya terlihat sepanjang dia bersama Hanna. Saat jam istirahat pun ada banyak orang yang langsung ke ruang istirahat, tapi seperti yang kamu lihat nggak ada yang membuka kulkas.” Terang Bobby.


Liam tampak frustasi. Dia mengucek matanya dengan kedua telapak tangannya dan menyandarkan tubuhnya lemah. Koridor rumah sakit terasa sangat lengang karena memang sudah hampir tengah malam dan mereka mengambil ruang VVIP demi menjaga privasi Liam. Suasana sepi seperti ini justru sangat meningkatkan rasa was-was dalam diri Liam. Dia tidak suka berada di rumah sakit dengan keadaan Hanna saat ini. Akan lebih baik mereka pulang ke rumah jika seandainya Hanna sudah bangun. Setidaknya Liam bisa menjamin kemanan Hanna di sana.


“Hei, Hanna sudah bangun.” Lona membuka pintu, setengah berbisik pada keduanya.


Itu adalah kabar paling membahagiakan yang didengar Liam sepanjang satu hari ini. Dia langsung berlari bahkan hampir menabrak Lona, namun Lona hanya tersenyum. Sementara itu Bobby masih duduk di luar, mengelus kedua telapak tangannya, menimbang-nimbang apakah dia harus menemui Hanna atau tidak.


“Han, baby. Kamu baik-baik saja? Ada rasa nggak nyaman?” Liam menunduk menatap langsung hingga ke dalam kedua kelopak mata Hanna. Hanna tersenyum, lalu mengangguk lemah. “Aku baik-baik saja.”


“Kamu hampir membuatku mati..” Liam memeluk Hanna. “..serius nggak ada yang sakit?”


Hanna menggeleng. “Maaf sudah membuat kalian semua khawatir. Tapi aku baik-baik saja sekarang.”


Hanna terguncang, sangat terguncang dan dia tidak baik-baik saja. Setelah terbangun dari tidurnya yang panjang, Hanna langsung siaga ketika mendapati dirinya berada di ruangan yang tidak dikenalnya. Keberadaan Lona yang duduk di sampingnya mengembalikan kesadarannya secara penuh atas apa yang sudah dilaluinya, dan juga rasa sakit itu...Bayiku!


“Apa bayi kita baik-baik saja?” Hanna menatap Liam ketakutan.


Liam mengusap rambut Hanna, mengangguk pelan. “Dia sama kuatnya denganmu. Sepertinya, dia mau ikut berjuang bersama kita.”


Syukurlah. Hanna meranik nafas dalam.”Apa kalian sudah menemukan siapa yang mencampur minumanku dengan obat?”


Saat itu Bobby masuk, namun dia tidak berani mendekat ke ranjang Hanna. Dia memilih berdiri di balik pintu dan tersenyum pada Hanna dari sana. Tadinya Bobby ingin langsung pulang setelah mengetahui Hanna sudah bangun dan dia baik-baik saja. Tapi Bobby ingin menunjukkan dirinya dan semua rasa bersalah yang dia bawa jadi mereka tidak akan menuduhnya lari dari tanggung jawab. Lagipula, setidaknya jika Hanna melihatnya, Hanna mungkin akan kasihan padanya dan memaafkannya.


“Bobby, apa yang kamu lakukan di situ?” gumam Hanna.


Bobby mencoba tersenyum, namun dia gagal. Dia mendesah saat sudah berada di samping Hanna. “Aku minta maaf Han, karena sudah mengecewakan kalian semua. Aku gagal menjagamu di kantor..”


“Kenapa kamu bicara seperti itu?” Hanna tertawa kecil. “Memangnya kamu bodyguard ku? Aku hanya staff mu, nggak mungkin juga kamu membuntutiku dan mengawasiku secara terang-terangan.”


“Aku nggak mau membahas apa pun yang menimpaku hingga aku siap. Tapi aku nggak mau berada di rumah sakit, aku ingin pulang.” Berada di rumah jauh lebih baik. Tidak akan ada yang bisa menyakitinya di sana sedangkan di sini, keamanannya sangat tidak terjamin –masih jelas di ingatan Hanna tentang perawat gadungan waktu itu.


“Aku akan bicara dengan dokter.” Bobby memilih dia yang keluar menemui dokter.


Hanna membutuhkan Liam di sana untuk menenangkannya, sementara dia hanya akan membuat Hanna ketakutan. Jadi lebih baik dia yang keluar.


Setelah diperiksa kembali oleh dokter, Hanna pun diizinkan pulang malam itu juga walau dokter tidak menyarankannya. Namun mereka semua ngotot pulang, dan Dokter tidak punya hak untuk menahannya. Sepanjang perjalanan pulang Hanna banyak bicara pada Liam, tidak seperti kejadian pertama dulu. Namun Liam jelas tahu jika Hanna hanya sedang mencoba mengalihkan pikirannya dan menutupi ketakutannya sendiri. Dia bicara dengan gugup, kadang tidak terlalu nyambung, namun Liam tetap menanggapinya.


Memutuskan untuk saling menjaga, Bobby dan Lona ikut menginap di rumah Hanna dan Liam. Setelah tiba Hanna langsung ke kamarnya, karena dia masih sangat mengantuk dan tubuhnya lemah. Dengan dibantu Liam, Hanna membaringkan dirinya di atas kasur yang baru terasa empuk dan nyaman baginya. Lona tersenyum melambaikan tangan, lalu menutup pintu sementara Liam masih memperbaiki selimut Hanna.


“Kamu butuh sesuatu?” Liam menunduk, menatapnya sangat dekat dan dalam sembari membelai wajahnya dengan buku ibu jarinya. Hanna menggeleng. “Aku hanya membutuhkanmu.”


Mata Liam berkaca-kaca, untuk pertama kalinya dia merasakan betapa Hanna sangat rapuh saat ini. Dia membutuhkan Liam untuk tetap berada di sisinya, itu artinya dia percaya padanya sepenuhnya. “Kamu ingin aku tidur bersamamu?” ujarnya lembut diikuti anggukan kecil dari Hanna.


“Tapi tamu kita masih di luar.” Ujar Liam. Hanna menarik tangan Liam, memaksanya naik ke atas tempat tidur. “Mereka bisa mencari kamarnya sendiri.” Liam tersenyum. Dia berbaring di samping Hanna dan memeluknya dengan erat. “Tidurlah. Aku akan menemanimu.”


“Jangan pergi hingga aku bangun..Jangan...” suara Hanna terdengar tidak terlalu jelas seperti mengingau. Liam mengangkat tubuhnya, ternyata Hanna sudah terlelap. Liam menyusupkan tangan kirinya ke bawah leher Hanna dan tiba-tiba Hanna berbalik memeluknya, menyurukkan kepalanya ke leher Liam. Sambil sesekali menepuk lengan Hanna, Liam pun mencoba ikut tidur walau sebenarnya ada banyak hal yang berkecamuk di kepalanya.


*


“Mereka sudah tidur?”


Lona mengangguk. Dia duduk di samping Bobby yang sedang minum anggur sendirian di ruang tamu. Dia masih tampak frustasi, wajahnya kusut dan dia sangat berantakan. “Kamu benar-benar menganggap rumah ini rumah mu sendiri.” Gumam Lona, blak-blakan seperti biasa.


Bobby diam. Wajahnya datar, tidak membalas celotehan Lona seperti biasa. Dia hanya mengaduk anggurnya berulang-ulang, hendak meminumnya, namun dia mengurungkannya. Bobby meletakkan kembali gelas anggurnya, kemudian mendesah sembari menunduk.


“Kita pasti bisa menemukan pelakunya.” Lona menggenggam telapak tangan Bobby untuk menenangkannya. “Mungkin bukan sekarang, tapi besok atau lusa kita pasti bisa menemukannya.”


“Kamu tahu ini hal yang sulit..” Bobby menatap Lona dalam. “..apa yang harus kita lakukan dengan petunjuk yang nyaris nggak ada seperti ini? Jika harus mencurigai orang dalam, siapa yang harus kita curigai?”


“Bob, pasti ada. Se rapi apa pun penjahat melakukan kejahatannya, dia tetap akan meninggalkan jejak. Untuk sekarang kita nggak bisa menemukannya karena pikiran kita sedang kalut, kita dipenuhi emosi. Tunggu sampai beberapa hari, ketika suasana hati kita membaik, kita bisa berpikir jernih dan saat itu tiba, kita pasti bisa menemukan petunjuknya.”


Lona kembali menggenggam tangan Bobby semakin erat, meyakinkannya. “Lagipula, kalau kita diam dulu, pelakunya pasti berpikir jika perbuatannya lolos dan dia akan menyusun taktik selanjutnya. Satu-satunya yang harus kita lakukan sekarang hanya satu, mengawasi Hanna. Jika kamu nggak bisa mengawasinya setiap saat, tempatkan seseorang yang kamu percaya mengawasi dia setiap hari di ruangannya.”


Lona selalu bisa melembutkan hati Bobby, selalu bisa menemukan cara untuk meredam kegelisahannya. Entah bagaimana cara Lona melakukannya, hanya dia lah wanita yang tahu cara meyakinkannya tanpa kesan memaksa.


Tanpa diduga-duga, Bobby menyeret Lona ke dalam pelukannya. Lona terkesiap, tidak siap tapi tidak juga menolak. Dia tertegun saat Bobby memeluknya sangat erat –dan dalam keadaan sadar. Sekelebat perasaan aneh tiba-tiba menjalar di tubuh Lona, membuat jantungnya berdebar sangat cepat. Kenapa dengan diriku?