Way Back To You

Way Back To You
Perempuan Spesial



Liam melambaikan tangan untuk menyapa Hizkia -pengelola club malam, ketika dia masuk bersama dengan Noah dan beberapa body guardnya. Dia meminta Noah dan yang lainnya duduk terlebih dahulu saat Hizkia memberi kode padanya untuk bicara.


“Ada apa? Ada masalah?” Liam duduk di depan Hizkia.


“Club aman-aman saja, semuanya aman terkendali dan lancar. Aku hanya mau bilang kalau...”


Hizkia mengangkat tangan, menunjuk ke suatu arah dan Liam pun mengikutinya.


“...aku nggak tahu apa yang terjadi dengan sepupumu, tapi beberapa minggu terakhir hampir setiap malam datang ke club dan...mabuk.”


Liam mengernyit heran. Bobby memang mau datang ke club malam, tapi harusnya tidak sesering yang diungkapkan Hizkia. Saat Liam meminta bertemu, Bobby selalu menolak dengan alasan sibuk. Tapi kenapa dia malah berada di club hampir setiap malam, sendirian dan mabuk-mabukan? Apa yang terjadi padanya?


“Beberapa malam yang lalu bahkan dia harus diantar pulang oleh seorang perempuan, tapi sepertinya Bobby mengenalnya karena aku melihatnya memberi kunci mobil pada perempuan itu.”


“Kenapa kamu membiarkannya?” Liam berdecak kaget lalu meninju lengan Hizkia pelan.


“Bagaimana kalau perempuan itu memanfaatkan Bobby karena dia sedang mabuk?”


Liam tidak ingin Bobby mengalami apa yang dia alami, karena perempuan seperti Hanna satu diantara seribu. Dia masih sangat beruntung melakukannya bersama Hanna, dan jika itu orang lain, mungkin kehidupan Liam berbeda lagi jalan ceritanya.


“Aku pikir mereka...cukup dekat.” Ada seberkas rasa bersalah dan menyesal di wajah Hizkia, tapi semuanya sudah terlanjur.


“Mudah-mudahan perempuan itu benar-benar kenalan Bobby.” Gumam Liam.


Dia menoleh sekali lagi pada Bobby yang sepertinya mulai mabuk. Dia minum, lalu menunduk, minum lagi, menunduk lagi, begitu seterusnya. Apa yang membuat Bobby bisa sampai seperti itu? Bagi Liam, kondisi Bobby yang seperti ini sudah termasuk parah karena dia belum pernah melihat Bobby mengenaskan seperti itu.


Bobby menengadah -lalu menoleh manakala dia menyadari seseorang duduk di sampingnya. Menyadari itu Liam, dia tersenyum tipis lalu kembali menenggak alkoholnya hingga tetes terakhir.


“Hentikan. Apa-apaan kamu, hah?” Liam tampak tidak senang.


Bobby hanya tertawa meringis seolah-olah Liam sedang melakukan sesuatu yang lucu. Liam mendesah. Dia menyingkirkan minuman yang masih penuh yang berada di meja Bobby.


“Ayo, aku antar pulang.”


Bobby menepis tangan Liam lalu mengambil kembali minumannya yang sudah dijauhkan oleh Liam. Liam kembali menahan tangan Bobby tapi Bobby tetap berusaha menepisnya.


“Apa yang terjadi denganmu, hah? Kenapa kamu menyedihkan seperti ini? Kamu selalu nggak punya waktu untuk bertemu denganku tapi kamu bisa menghabiskan banyak waktu di sini. Kenapa? Kamu ada masalah denganku?” Liam nyaris tidak bisa mengontrol amarahnya.


Bobby bertingkah aneh. Dia seperti sedang berada dalam fase depresi, tapi karena apa? Sekalipun perusahaan bermasalah, harusnya tidak mengakibatkan Bobby hancur, tidak sampai separah itu. Kalau dia mengalami kesulitan keuangan, dia bisa menemui Liam. Bahkan orang tuanya pun pasti akan turun tangan dan tidak membiarkan Bobby menderita sendirian. Tapi kenapa dia menutup diri dan malah melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan?


“Gadis itu menolakku...” Bobby tersenyum tipis.


“...bayangkan...aku mencintainya bertahun-tahun. Aku terus memupuk harapanku karena aku percaya dia pasti akan menyukaiku, dia pasti akan menerimaku suatu hari nanti. Tapi...ternyata aku terlalu percaya diri...”


Astaga, ternyata masalah perempuan.


Liam terhenyak karena dia tahu bagaimana dalamnya perasaan Bobby pada perempuan misterius yang selalu diceritakannya pada Liam. Masih segar dalam ingatan Liam, malam setelah gala dinner perusahaannya, Bobby langsung meluncur ke apartemen Liam dan menceritakan perempuan itu dengan antusias. Dia bahkan mampu menggambarkan secara detail gaun malam yang dipakainya, aksesoris yang menempel di kepalanya, juga perhiasannya yang minimalis tapi mewah -setidaknya itu yang dikatakan Bobby dulu. Liam bahkan menganggap waktu itu Bobby sedikit kekanak-kanakan dan persis seperti remaja yang baru mengenal kata cinta.


Walau waktu itu Bobby juga cerita jika perempuan itu sudah memiliki kekasih, namun wajah Bobby memancarkan kebahagiaan yang sangat nyata, yang baru pertama kali dilihat oleh Liam. Liam sadar, itu adalah kali pertama Bobby menceritakan seseorang pada Liam, dengan artinya perempuan itu sangat spesial. Dia bisa mendapatkan satu ruang di dalam hati Bobby, bukankah dia luar biasa?


“Aku pikir gara-gara apa..” Liam pura-pura bersungut-sungut, padahal dalam hati dia sangat kasihan pada Bobby.


Padahal Liam berniat mengenalkan Hanna dalam waktu dekat ini pada Bobby, karena bagaimana pun Bobby adalah satu-satunya sepupunya. Jika keadaan Bobby seperti ini, sepertinya Liam harus membatalkannya, menunggu waktu di mana Bobby kembali bersikap normal.


“Tapi dia hanya satu, Liam. Dia satu-satunya perempuan yang membuatku jatuh cinta dalam sekali pandang. Tapi percuma juga aku cerita padamu, kamu nggak akan mengerti bagaimana rasanya sunguh-sungguh jatuh cinta."


Liam hendak menyangkal, tapi Bobby tahunya dia laki-laki yang setiap malam mencari 'mangsa' perempuan untuk ditiduri. Bobby belum tahu jika Hanna sudah membuat Liam berhenti melakukan kebiasaan buruknya. Jadi, Liam tidak bisa menyalahkan Bobby atas tuduhannya itu.


"Apa bagusnya perempuan itu katamu? Yang pasti dia jauh dari perempuan-perempuan yang sudah kamu ajak tidur.”


Liam mendesah pasrah. Sepertinya Bobby memang membutuhkan alkohol karena patah hatinya kali ini jauh lebih berat dari yang diperkirakan Liam. Setidaknya alkohol bisa membuatnya lupa sejenak tentang masalahnya.


“Aku..mau pulang..” gumam Bobby, berdiri namun langsung limbung seketika.


Beruntung ada Liam di sampingnya yang dengan cekatan menangkap tangan Bobby dan mendudukkannya kembali.


“Kenapa kamu mendadak bodoh seperti ini sih?” gerutu Liam.


“Duduk yang benar. Aku akan mengambilkan air lemon untuk menghilangkan sedikit pengar mu. Ingat, duduk yang benar.”


Liam mengacungkan jarinya ke depan wajah Bobby, hingga membuat Bobby tersenyum. Liam bahkan harus menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya jika yang ada di depannya ini adalah Bobby sepupunya.


Liam harus mengakui, ada banyak pengaruh yang ditimbulkan oleh perempuan dalam kehidupan mereka. Hanna mampu mengubah Liam, membuatnya seketika menginginkan sebuah ikatan keluarga padahal sebelumnya di sudah bersumpah berkali-kali untuk tidak berkeluarga. Dan lihat Bobby. Perempuan itu mampu mengubah kepribadiannya, dari yang jarang mabuk dan bermain ke club malam menjadi sosok yang hampir tiap malam menenggal alkohol dan mabuk-mabukan.


*


“Keren juga Liam.” Lona mengacungkan jempolnya.


Hanna hanya menyunggingkan senyumnya, lalu menunduk pertanda dia setuju dengan pernyataan Lona. Hari ini sabtu, jadi keduanya tidak masuk kantor dan memilih menghabiskan waktu berdua di apartemen Lona. Hanna baru saja memberitahu Lona perihal rumah yang baru dibeli oleh Liam dan tampaknya Lona sangat bahagia.


“Sepertinya aku harus mulai mengubah sudut pandangku padanya. Tadinya aku pikir, dia nggak bisa bertindak dewasa seperti itu, tapi ternyata aku salah.” Ujarnya lagi.


“Sama..” gumam Hanna.


“Aku juga berpikir jika kedekatan kami ini murni karena anak. Tapi semakin lama aku merasa jika aku mulai merasakan hal yang berbeda padanya.”


“Dari dulu kamu memang sudah tergila-gila padanya, bukan? Itu bukan rahasia lagi.” Lona tersenyum.


“Bukan perkara tergila-gila...” Hanna memang mengakui jika Liam membuatnya lupa diri. Dia mendambakan Liam, menginginkan Liam setiap saat, tapi kali ini bukan karena itu.


“...aku mulai menyukai caranya memperlakukanku. Sewaktu dia mengatakan dia mengosongkan kamar anak kami karena menunggu ide dariku, aku..sangat terharu. Dia melibatkan aku untuk hal sekecil itu, aku merasa sangat berharga untuknya. Dan...aku juga menyukai ketika dia mulai menunjukkan tanggung jawabnya padaku.”


“Jadi, kamu beruntung mendapatkannya, iya kan?”


“Mungkin lebih tepatnya, kami sama-sama beruntung, bukan begitu?”


Lona tertawa kecil. “Tetap saja kamu nggak mau mengalah ya.” Serunya.


“Oh iya, aku membelikanmu juicer portable. Sewaktu di kantor, kamu nggak boleh minum kopi lagi atau jus yang sudah jadi. Kamu harus bikin jus untuk dirimu sendiri, itu lebih sehat.”


Hanna menatap Lona penuh haru. “Thanks baby.”


“Sama-sama.” Sahut Lona sembari memeluk Hanna dengan erat.


 Keduanya menghabiskan sepanjang hari dengan bercerita, mengemil, dan juga tidur-tiduran. Hal seperti itu memang sering dilakukan keduanya, entah itu di rumah Hanna atau di apartemen Lona. Hal itulah yang menumbuhkan ikatan yang kuat diantara mereka.