
Rahang Liam mengetat, dia berjalan hilir mudik di dalam kamar sementara wajahnya terlihat sangat kesal. Beberapa kali Hanna bisa mendengar kata umpatan dari mulut Liam, menunjukkan seberapa marah dirinya sekarang.
“Sebaiknya kamu temui saja dia dulu.” Ungkap Hanna kemudian.
Wanita paruh baya, seseorang yang mengaku Ibu kandung Liam sedang duduk di ruang tamu.
“Siapa yang harus ku temui? Han, aku sudah nggak mau berhubungan dengan semua masa lalu ku. Sekalipun dia memang ibu kandungku, aku nggak sudi bertemu dengannya. Kenapa harus sekarang? Aku masih tinggal di panti asuhan hingga berusia depalan tahun. Kenapa dia nggak mencariku ke panti asuhan, hah?”
Hanna mengerti kemarahan dan kekecewaan Liam. Jika dia berada di posisi Liam sekarang, bisa jadi dia akan melakukan hal yang sama. Namun wanita itu mungkin punya alasan di balik tindakan tidak bertanggung jawabnya beberapa puluh tahun yang lalu.
“Liam..” Hanna berdiri, meraih tangan Liam dan menggenggamnya. “Aku tahu kamu marah dan kesal, tapi lebih baik menghadapinya sekarang, bukan? Katakan apa yang mau kamu katakan. Jika kamu nggak mau menerima atau pun mengakuinya nanti, tidak masalah. Aku akan mendukung semua keputusanmu. Tapi dia sudah datang sejauh ini ke rumah kita, bukankah agak keterlaluan jika kita mengabaikannya?”
“Hanna, yang keterlaluan itu dia. Jika dia merasa diabaikan itu menyakitkan, kenapa dia melakukannya dulu padaku? Tidak Han, aku nggak mau menemui dia. Jika kamu ingin bicara padanya, terserah kamu. Tapi saat aku keluar nanti, tolong pastikan dia tidak ada di sana.”
Hanna mendesah, tarikan nafasnya panjang, lalu dia mengangguk. “Baiklah, kamu tunggu di sini saja.”
Dengan ragu-ragu Hanna duduk di sofa, berseberangan dengan wanita itu. Dia sudah menyajikan minum tadi, tapi jelas sekali air minum itu belum tersentuh sedikit pun. Hanna mencoba tersenyum, mencari kata-kata yang tepat untuk memberitahu jika Liam tidak ingin menemuinya.
“Maaf..” Hanna tidak tahu harus menyapa apa.
“Panggil saja Leanor, namaku Leanor.” Wanita itu mengerti kebingungan Hanna.
“Leanor..maaf sekali, tapi Liam sedang tidak ingin diganggu..” Hanna menelan ludahnya. “Dia... dia sedang istirahat. Jadi kalau kamu ingin mengatakan sesuatu, katakan saja padaku.”
Leanor tersenyum simpul. “Aku tahu. Aku sudah menyakitinya terlalu dalam, bagaimana mungkin dia mau menemuiku?”
Hanna mencoba membalasnya dengan senyuman yang kaku. Dia menegakkan punggungnya, diam-diam mengamati Leanor yang sedang menyesap tehnya. Ada beberapa bagian dari Leanor yang juga dimiliki Liam layaknya genetik. Lihat saja rambutnya yang ikal, warna nya yang kecokelatan, dan juga susunan alisnya. Liam juga memiliki ciri fisik yang sama dengannya.
“Apa dia baik-baik saja? Kehidupannya bahagia?”
Hanna mengangguk. “Sejauh ini dia hidup dengan baik dan bahagia. Dia memiliki ayah angkat yang sangat mencintainya, juga dikelilingi oleh orang-orang yang juga sangat menyayanginya.”
“Dan kamu adalah..”
Hanna menarik nafasnya dalam. “Tunangannya.”
“Oh iya, aku lupa. Identitasmu sudah diberitakan dalam siaran pers beberapa minggu yang lalu.”
“Jadi kamu mengetahui Liam dari kabar yang baru-baru ini meledak?”
Leanor mengangguk. “Aku sudah lama mencari Liam tapi tidak bisa menemukannya. Aku nyaris putus asa, hingga beberapa waktu yang lalu aku melihat berita di televisi. Aku mengenali Liam, karena begitu melihatnya berbicara, darahku langsung berdesir. Walau kami terpisah sangat jauh dan sangat lama, sepertinya ikatan darah itu tetap ada.”
“Kamu sudah lama mencari Liam?”
Leanor kembali mengangguk.
“Liam tinggal di panti asuhan selama delapan tahun. Itu masih panti asuhan yang sama dengan tempat di mana kamu meninggalkannya. Seharusnya kalau kamu memang sudah mencarinya sekian lama, kamu pasti masih bisa menemukannya, bukan?”
Walau wanita ini mengakui jika dia adalah Ibu kandung Liam, entah kenapa Hanna merasa jika semua ini terlalu aneh dan tiba-tiba. Liam bukanlah sosok yang baru terkenal. Dia sudah lama hilir mudik di dunia hiburan, entah itu sebagai model majalah atau model iklan dan video klip. Seharusnya jika memang Leanor memiliki firasat bahwa Liam adalah anaknya, dia pasti muncul sejak beberapa tahun yang lalu.
Hanna membaca kertas yang merupakan hasil pemeriksaan kesehatan Leanor selama beberapa tahun. Hatinya terenyuh, merasa buruk karena sudah meragukan Leanor. Jadi ini alasannya kenapa dia meninggalkan Liam? Dia juga sedang berjuang dan dia pasti merasa jika Liam akan tersiksa hidup bersamanya. Aku juga seorang ibu, dan seorang ibu akan melakukan apa pun untuk anaknya.
“Leanor..”
“Aku akan pulang..” Leanor berdiri bahkan sebelum Hanna menyelesaikan pembicaraannya. “Aku akan memberikan Liam waktu yang sangat banyak agar dia bisa menerimaku kembali. Dan tolong jaga dia. Mungkin dia akan merasa sangat tertekan beberapa hari ini karena kedatanganku kembali dalam hidupnya. Tapi aku tahu kamu mengerti perasaanku karena kamu juga adalah seorang ibu, bukan?”
Hanna mengikuti arah mata Leanor yang berhenti di perutnya. Dengan gelisah Hanna mengelus perutnya, lalu mengangguk. “Aku mengerti. Akan ku cari waktu untuk bicara dengan Liam tentang hal ini.”
Setelah mengantar Leanor hingga dia masuk ke dalam taksi online yang dipesannya, Hanna segera menutup pintu. Dia langsung masuk ke kamar, namun Liam sudah tidak ada di sana. Sayup-sayup Hanna mendengar suara bola beradu dari arah basement. Cepat sekali dia turun, pikir Hanna.
Liam sedang bermain biliar dan di meja sudah tersedia sebotol anggur. Ini masih terlalu dini untuk minum karena masih pukul sembilan pagi, namun Hanna tahu kenapa Liam melakukannya. Liam masih mengenakan baju tidur dengan rambut yang masih acak-acakan. Wajahnya tampak sedih dan kecewa, dan jumlah tenaga yang dikerahkannya saat menyodok bola putih ke arah bola kuning memberitahu Hanna jika Liam benar-benar sangat kesal.
Hanna bisa mendengar Liam mengumpat kasar saat bola yang disodoknya tidak masuk ke dalam lubang yang disasar. Dia berbalik, menuang wine dari botol ke dalam gelas dan menenggaknya hingga habis. Dia kembali menggosok kapur biliar pada ujung stik, fokus menyodok bola putih, namun lagi-lagi dia gagal memasukkannya ke dalam lubang dan sekali lagi Hanna mendengar umpatan yang tak kalah kasar.
“Kamu baik-baik saja?”
Hanna melepas stik dari tangan Liam. Laki-laki itu tidak menjawabnya, namun malah memeluk Hanna dengan erat.
“Dia sudah pergi?” tanya Liam sendu.
“Mmm..” gumam Hanna. Dia mengelus punggung Liam dan membiarkan laki-laki itu membenamkan wajahnya di leher Hanna. “Kamu baik-baik saja?”
“Aku nggak apa-apa..” Liam melepas pelukannya. “Hanya sedikit...bingung?”
Hanna tahu mungkin saat ini Liam ingin sendiri. Tapi bagaimana bisa dia meninggalkan Liam bersama sebotol wine dan juga permainan biliarnya yang agak payah kali ini. Walau Liam terkesan menutupi perasaannya, Hanna juga tahu jika dia tidak baik-baik saja dan gestur tubuhnya terlihat sangat gelisah.
“Kamu tahu masa laluku sangat menyakitkan dan kelam..”
Liam akhirnya membuka mulut dan duduk di sofa tak jauh dari Hanna berdiri.
“Saat ini, semua itu bukan lagi rahasia dan aku tidak bisa menerima apa pun yang berkaitan dengan masa lalu ku. Aku tidak ingin mengingat kembali bagaimana pahitnya masa kecilku di panti asuhan.”
“Tapi mungkin dia punya alasan..” Hanna memberikan lembaran kertas yang sedari tadi disembunyikan Hanna di belakang tubuhnya.
Liam membaca kertas demi kertas itu dengan serius. Wajahnya memerah, kedua kelopak matanya berkaca-kaca. Sebuah bongkahan bening jatuh perlahan menyusuri wajahnya saat tubuhnya mulai gemetar tak karuan.
“Dia sakit parah?”
Hanna mengangguk. “Saat kamu lahir, dia sedang berjuang menyembuhkan penyakitnya.”
“Itu sebabnya dia meninggalkanku?”
Hanna kembali mengangguk.
“Setiap Ibu punya alasannya sendiri kenapa dia melakukan sesuatu, apalagi menyangkut anak.”