
Noah bersiul sementara dia menempel wajahnya ke alat pendeteksi wajah, dan sedetik kemudian pintu terbuka. Dengan santai Noah berjalan menuju rumah Veronica, sesekali melempar candaan riang pada pekerja Veronica yang dilaluinya. Wajah Noah terlihat sumringah, sejalan dengan siulan riang yang dilantunkannya.
“Kamu sudah datang?”
Veronica duduk dengan posisi kaki terangkat. Dia sedang bersantai membaca majalah keluaran terbaru yang dimodeli oleh Hazer. “Lihat, penjualan majalah ini meledak di pasaran. Semuanya sold out, bahkan pihak mereka harus membuka pre order kembali. Luar biasa memang pengaruh Hazer ini.” gumam Veronica.
“Baguslah kalau Nyonya Vero tahu itu..” Noah mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kenapa?” Veronica menutup majalahnya, menatap Noah sinis.
“Seharusnya Nyonya Vero tahu konsekuensinya sebelum menyebar foto USG Hanna. Kenapa Anda masih melakukannya? Bukankah perjanjian kita hanya sekedar mengusir wanita itu dari kehidupan Liam? Kita ingin menyelamatkan karir Liam, bukan? Kenapa malah membuat jebakan seperti ini?”
Apa yang dia katakan? Foto USG? Jangan-jangan pelakunya adalah..
“Untung saja Bobby masih bisa mencari alasan yang bagus dengan mengatakan bahwa anak itu adalah anaknya. Kalau nggak, aku nggak tahu harus mengatakan apa jika Hanna mengakui siapa ayah bayinya.”
Veronica menegakkan punggungnya. Tidak salah lagi, pelakunya pasti dia.
“Aku pikir kesepakatan awal kita adalah mengusir wanita sialan itu dari hidup Liam, itu sebabnya aku mau bekerja sama dengan Anda. Kalau Anda berencana menghancurkan karier Liam karena masalah pribadi, maaf Nyonya Vero, aku nggak setuju. Kami sudah membangun jalan ini bersama-sama sejak dulu, aku nggak rela ada satu pihak pun yang merusaknya, termasuk Anda.” Tegas Noah.
“Siapa yang ingin merusaknya? Baiklah, aku mengaku salah..” Bukan sekali ini saja aku memasang badan untuk semua hal yang sudah diperbuatnya. Mau apa lagi, semuanya memang sudah salah dari awal. “Aku hanya terbawa emosi melihat tingkah Liam, dan seharusnya aku nggak terpengaruh. Jadi ya...” Veronica mengangkat bahunya, memaksa tersenyum pada Noah.
“Ngomong-ngomong, kenapa Anda memanggilku kemari?”
Rencana Veronica untuk membahas pertunangan Liam dan puterinya buyar setelah dia mendengar pengakuan Noah tentang bocornya foto USG Hanna. Untuk sementara waktu, sepertinya dia tidak akan mempersulit Liam dulu. Suasana hati Liam pasti gusar sekarang dan akan sangat mudah tersulut emosi. Dia akan menunggu beberapa lama hingga keadaan hati Liam sedikit membaik.
“Kita akan bahas itu lain kali.” Putusnya. Dia tidak akan berhasil mendekati Liam dalam keadaan seperti ini. “Kamu pulang saja dulu.”
“Baik kalau begitu, aku permisi, Nyonya Vero.”
Veronica tidak menyahut. Angannya langsung terbang pada puterinya dan semua obsesi beratnya pada Hazer.
“By the way, apa Nyonya pernah ke komplek perumahan Red Stone beberapa hari yang lalu?”
Wajah Veronica langsung memerah, jantungnya berdebar cepat. Kenapa Noah bisa tahu soal ini?
“Waktu itu aku dan tim sedang meninjau lokasi syuting outdoor Liam, nggak sengaja seperti melihat Nyonya Vero berjalan seorang diri di area itu. Apa Anda ke sana akhir-akhir ini?”
Astaga, Veronica berdecak. Dia lupa lokasi syuting Liam ada di dekat situ. “Apa maksudmu? Untuk apa aku ke sana? Komplek itu cukup kumuh, nggak mungkin aku ke sana.”
“Aku pikir juga begitu. Baiklah, aku permisi.”
Jantung Veronica berdegup cepat menyadari dia nyaris ketahuan. Jika orang-orang tahu keberadaan puterinya dan kondisinya saat ini, semuanya pasti akan selesai. Untung saja dia bisa berkelit dengan cepat, kalau tidak, dia tidak akan tahu bagaimana selanjutnya.
*
“Kenapa kamu mencariku?”
Hanna terpaksa menemui Jhon di lobby bawah karena telepon nya terus berdering, meminta Hanna untuk turun. Dari sudut ekor matanya, Hanna bisa melihat Gita dan Leo membuntutinya dengan mengendap-endap. Tanpa mereka beritahu pun Hanna sudah bisa menebak jika mereka pasti disuruh oleh Bobby. Dasar bocah, sungut Hanna.
Wajah Jhon mengenaskan. Jelas sekali tergambar penyesalan yang amat besar di sana. Namun penyebab berakhirnya hubungan mereka adalah dirinya sendiri, dan sebesar apa pun usahanya untuk kembali, Hanna tidak akan pernah mengizinkannya lagi untuk masuk ke hatinya.
“Benar..” Tidak ada gunanya Hanna membohongi Jhon.
“Dia anak laki-laki atasan mu itu? Kamu melakukannya dengan dia sementara selama berpacaran denganku, bagaimana pun caraku membujukmu untuk tidur bersama kamu selalu menolak. Aku pikir kamu polos..”
“Katakan saja inti nya apa, aku masih harus bekerja.” Potong Hanna cepat.
Dia tidak ingin mendengar omong kosong Jhon. Setelah putus dengannya, entah kenapa Hanna malah merasa jika Jhon suka berbual, bicara hal-hal yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana dia tidak menyadarinya dulu?
“Kenapa harus laki-laki itu? Kenapa kamu harus mengandung anak laki-laki itu?” Jhon menggeram.
Hanna mundur selangkah. Bukannya dia takut, namun dia tidak ingin berada terlalu dekat dengan Jhon. Bagaimana pun, seisi gedung ini sudah tahu jika dia dan Bobby menikah, dan mereka juga tahu jika dia dan Jhon adalah mantan kekasih.
“Dia suamiku, wajar jika aku mengandung anaknya.” Sahut Hanna santai.
“Kamu pikir aku bisa ditipu semudah itu, Han?” Jhon tersenyum mengejek. Dia mendekati Hanna, lalu berbisik. “Atau itu anak laki-laki bernama Liam? Atau lebih terkenalnya, Hazer?” dia menyeringai.
Mata Hanna mengerjap, tubuhnya mendadak kaku. Bagaimana laki-laki ini tahu tentang aku dan Liam? Kenapa dia tahu aku mengandung anak Liam?
“Kaget?” Jhon kembali tersenyum jahat. “Mau ku sebarkan gosip panas?” bisiknya.
“Apa maumu?” Hanna menggeram.
Jhon kembali tersenyum. “Aku bisa membuat hubunganmu dan Liam berakhir. Boom, selesai!!” Bisiknya dengan sorot mata penuh dendam.
Hanna menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya terlalu cepat berdetak, membuat suhu tubuhnya mulai memanas karena panik. Nafasnya mulai tidak teratur, hingga..
“Han, apa yang kamu lakukan di bawah?” Bobby tiba –bersama Liam.
Mata Hanna memerah. Menyadari Liam ada di sana membuat dia tenang, namun dia juga takut Jhon melakukan hal yang aneh.
“Bukankah kamu mantan Hanna?” Bobby menarik Hanna menjauh dari Jhon.
Dia menempatkan Hanna berada persis di samping Liam. Keduanya saling berpandangan penuh kerinduan. Seandainya saja mereka sedang tidak ada di kantor, Hanna ingin langsung melompat ke pelukan Liam yang hangat dan nyaman. Di sana, Hanna pasti bisa melupakan semua kerisauannya.
“Syukurlah Pak Bobby sudah datang..” bisik Gita pelan. “Kamu benar. Untung saja kita melapor dengan cepat. Sepertinya laki-laki itu ingin memanas-manasi hubungan Pak Bobby dan Kak Hanna.” Sahut Leo.
Keduanya masih sembunyi di balik tembok. Mengetahui orang yang akan ditemui Hanna adalah Jhon, Gita segera memberitahu Bobby sejak mereka masih di atas tadi. Untung saja Bobby segera muncul, dan keduanya bisa kembali lagi ke atas dengan tenang.
“Untuk apa kamu ke mari?” Bobby mendekati Jhon dengan nada menantang.
Jhon tersenyum sinis, lalu senyumnya berubah kaku. “Apa lagi? Mengklaim hak ku tentu saja.”
“Hak? Hanna bukan hak mu, bangunlah dari mimpimu.” Sahut Bobby.
“Bukan Hanna, tapi bayi dalam kandungannya. Itu bayiku, dan aku datang untuk mengklaimnya.”