
Liam tidak beranjak sedetik pun dari sisi Hanna setelah dokter mengirim Hanna ke ruang rawat biasa. Dia terus menggenggam tangan Hanna, memastikan dia tidak terpisah darinya dan tetap mengawasinya. Kejadian ini membuatnya takut kehilangan Hanna, dan juga bayinya.
“Liam, aku akan kembali ke kantor. Aku akan mengusut semuanya sampai tuntas, percaya padaku.”
Liam tidak menyahut. Tatapannya terus tertuju pada wajah Hanna yang sudah berangsur memerah, mungkin obat yang diberikan dokter sudah bekerja di tubuhnya. Karena Liam tidak menggubrisnya, Bobby memilih pergi tanpa menunggu lagi. Liam kecewa padanya, itu hal yang wajar. Namun Bobby lebih kecewa lagi pada dirinya sendiri kenapa Hanna bisa terluka di depannya. Rahang Bobby mengetat, tatapannya dingin. Aku harus menemukan pelakunya, siapa pun itu.
Sama seperti sebelumnya, kali ini Hanna masih bisa bertahan, demikian juga bayinya. Dokter menyatakan ibu dan bayi dalam keadaan selamat dan sehat, jantung bayinya juga berdetak kuat. Hal itu melegakan hati Liam, namun tetap ada rasa takut di dalam hatinya karena wanita yang dicintainya itu masih terkulai lemah. Dia akan baik-baik saja hanya ketika Hanna membuka matanya kembali.
Hanna masih terus tertidur hingga malam menjelang. Lona yang baru tiba tampak sangat khawatir dan langsung mencium wajah Hanna lalu menggenggam tangannya. Sewaktu Bobby mengabarinya, dia nyaris jatuh pingsan. Namun karena sedang sidak ke lapangan, dia tidak bisa langsung menjenguk Hanna. “Kenapa bisa begini?” Lona menatap Liam. Tidak ada nada marah, tidak ada nada menghakimi apalagi menyalahkan. Melihat bagaimana Liam terus diam, Lona tahu dia sangat terluka.
“Seseorang memasukkan obat ke minumannya.”
“Apa? Maksudmu seseorang masuk ke kantor Hanna untuk mencelakainya?” Lona terlonjak kaget.
“Atau seseorang yang berada di kantor Hanna mencoba mencelakainya.” Liam menatap Lona. “Maksudmu teman Hanna sendiri?” Lona tidak percaya dengan asumsi Liam. “Tapi nggak mungkin. Hanna pernah cerita kalau mereka semua akur dan..”
“Uang bisa membutakan semua mata.” Potong Liam.
Begitulah cara kerja Veronica. Dia akan menawarkan sejumlah uang dengan jumlah yang sangat banyak hingga membuat seseorang tergiur. Seharusnya skenario yang itu yang paling tepat. Liam tahu kondisi perusahaan Bobby. Dia saja yang sudah dikenal sekuriti sebagai sepupunya tidak bisa masuk dengan bebas begitu saja. Dia tetap dimintai kartu identitas walau sudah berkali-kali ke sana. Jadi kalau mencurigai orang luar yang menyusup ke dalam, sepertinya kurang tepat.
“Bobby di mana?” tanya Lona saat dia tidak menemukan Bobby di ruangan itu walau dia sudah duduk di sana beberapa waktu.
“Kembali ke kantor.” Liam mendesah, mengelus wajah Hanna perlahan. “Lona, aku bisa minta tolong?”
Lona mengangguk. “Apa?”
“Tadi aku sempat diam pada Bobby. Bukan karena aku marah padanya, tapi aku hanya shock dengan keadaan Hanna dan bayiku. Sekarang dia belum kembali ke sini, itu pasti karena dia masih ada di kantornya. Ini sudah lewat jam makan malam, dan dia pasti belum makan. Apa kamu bisa menyusulnya? Aku khawatir dia akan menyalahkan dirinya sendiri.”
Lona mendesah, dia bangkit dan kembali menyelempangkan tasnya. “Kalian memang sepupuan.” Dia tersenyum. “Jangan lupa kabari aku jika Hanna bangun.”
Liam mengangguk kecil. Dia menunduk, menggenggam tangan Hanna dan menciumnya berkali-kali. Hatinya sakit dengan keadaan Hanna seperti ini dan juga sangat marah. Sepertinya Veronica tidak main-main dengan ancamannya. Namun dia berurusan dengan orang yang salah. Semakin mereka mengincar Hanna, semakin Liam akan menunjukkan sisi liarnya.
*
Bobby mengurung dirinya sendiri di dalam ruangannya. Seharian dia menginspeksi semua kamera keamanan, tidak ada satu pun yang mencurigakan. Tidak ada satu orang pun yang datang ke ruang istirahat mulai dari pagi hari hingga pada waktu kejadian. Semuanya kosong, tidak ada apa pun. Tapi bagaimana obat itu bisa ada di sana? Bagaimana dia bisa kecolongan?
Selain staff, memang ada dua orang kurir yang mengantar paket ke departemen keuangan, namun mereka tidak sampai masuk ke dalam. Peraturannya adalah kurir bisa masuk ke dalam perusahaan namun setelah tiba di depan pintu departemen masing-masing, maka orang yang memerlukan yang harus menemui kurir. Dan kamera keamanan merekam itu semua dengan jelas, tidak ada satu orang pun yang masuk ke departemen Hanna.
Bobby menengadah, menatap langit-langit ruangannya dengan tatapan nanar. Kepalanya nyaris pecah, jantungnya sakit menahan kemarahan dan kekecewaan pada dirinya sendiri –dan perutnya lapar. Bobby berdiri, mengeluarkan sebotol anggur dari dalam kulkas yang terletak di ruangannya. Dia menuang anggur ke dalam gelas, saat tiba-tiba sebuah panggilan ke ruangannya membuat dia kembali meletakkan minumannya.
“Ada apa?”
“Pak, di bawah ada seorang wanita dengan nama identitas Brigitta Alona. Dia ngotot ingin bertemu Bapak dan menolak pergi.”
Bobby memang sudah berpesan pada petugas keamanan dan juga petugas yang ada di lobby, jika tidak ada satu orang pun yang bisa menemuinya. Dia ingin sendiri, berharap suatu waktu dalam kesendiriannya akan muncul satu ide bagaimana cara obat itu bisa ada di minuman Hanna. Namun dia tidak menyangka jika Lona akan datang, dan dia sudah membayangkan bagaimana ngototnya Lona pada petugasnya di bawah.
Lona mengucapkan terimakasih pada petugas yang mengantarnya hingga ke depan ruangan Bobby. Dia mengetuk pintu dan tanpa menunggu Bobby mempersilahkannya masuk dia sudah membukanya. Seperti dugaan Liam, Bobby terlihat berantakan dengan dasi yang longgar dan kancing kemeja yang terbuka. Namun dia cukup memukau dengan gaya urakan dan kurang rapi seperti itu.
“Kamu baik-baik saja?” Lona meletakkan makan malam yang dibelinya dari restoran kesukaannya.
“Apa seperti ini terlihat baik-baik saja?” Bobby setengah membentangkan tangannya, lalu memutar tubuhnya pada Lona. Lona mengangguk-angguk, dia tahu dia tidak perlu menanyakannya.
“Makan dulu..” Lona meraih anggur dari tangan Bobby. “..setelah makan baru bisa minum. Kasihan lambungmu jika kamu menjejalkan anggur padahal yang dia butuhkan bukan itu.”
Bobby menatap Lona tidak percaya ketika dia merebut gelas anggurnya. Lona tidak bergeming, dia menggerakkan dagunya kemudian, memerintahkan Bobby segera makan. “Aku nggak pernah menyangka aku akan menurut padamu.” Sungut Bobby.
“Well, ini baru permulaan.” Lona tersenyum. Lona menarik kursi hingga ke samping Bobby dan dia kemudian duduk di sana, membuat Bobby yang sedang makan memelototkan matanya bingung. “Kamu mau apa?” tanya Bobby dengan sedikit kurang jelas karena makanan di mulutnya penuh.
“Apa lagi kalau nggak makan? Aku lupa kalau aku belum makan padahal aku hanya beli satu porsi.” Gumam Lona. “Sini sendoknya.”
Bobby tidak mengiyakan dan juga tidak menolak saat Lona merebut sendok dari tangannya. Sembari mengunyah makanan di mulutnya dia mengamati Lona yang makan dengan lahap. Sendok yang mereka gunakan hanya satu, tidak ada sendok cadangan lainnya lagi. Bobby sudah menggunakannya lebih dulu, itu artinya sedikit banyak pasti sendok itu bersentuhan dengan salivanya dan sekarang Lona menggunakannya. Itu artinya...ciuman tidak langsung?
“Apa yang kamu temukan soal Hanna?” Lona menatap Bobby, membuyarkan lamunannya seketika. Dia mengembalikan sendok pada Bobby setelah makan hanya dua sendok saja.
Saat Lona menyebut Hanna, Bobby pun sadar, Lona sengaja melakukannya untuk mengalihkan perhatiannya. Lona pasti tahu dia sangat tertekan dengan kejadian ini dan dia kasihan padanya. Bobby tersenyum masam, tiba-tiba saja perasaannya tidak nyaman dengan cara Lona.
“Pengalihan yang bagus.” Bobby kembali makan. Lona membuka botol mineralnya dan tersenyum. “Kamu mengetahuinya?”
“Tentu saja.” Dan aku sangat kecewa.
“Liam yang memintaku ke sini..” Lona menyandarkan tubuhnya. “..dia bilang dia khawatir padamu karena tadi dia sempat diam padamu. Dia juga bilang dia seperti itu bukan karena marah, tapi karena dia shock.”
Jadi dia ke sini bukan karena memang berniat mencariku, tapi karena Liam? Bobby menelan makanannya dengan paksa, lalu menutupnya. Dia sudah kehilangan selera makan sekarang. Tapi apa yang ku harapkan darinya? Kenapa aku malah merasa lebih kecewa dengan apa yang dia katakan daripada sikap diam Liam tadi?
“Aku sudah memeriksa semua kamera keamanan..” Bobby menyingkirkan makanan di atas meja dan memindahkan laptop hingga ke depan Lona.”..tapi nggak ada satu pun yang mencurigakan. Semuanya bersih.”
Lona memicingkan mata menatap rekaman hitam putih yang sedang diputar di laptop Bobby. “Bagaimana dengan rekaman hari-hari sebelumnya?”
“Ini hari pertama Hanna bekerja, sebelumnya dia cuti selama tiga hari. Jadi nggak ada gunanya memeriksa rekaman hari sebelumnya.”
Benar juga, gumam Lona. “Aku juga sudah bertanya pada teman-temannya. Mereka semua mengatakan jika sebelumnya nggak ada buah dan juicer di ruang istirahat departemen Hanna. Baru pagi tadi setelah Hanna masuk, dia membawa buah dan juga satu buah juicer portable juga satu gelas yang baru. Jadi, semua ini agak aneh dan nggak masuk akal.”
Gita dan Leo mengatakan seperti itu, dan keterangan keduanya juga didukung oleh staff yang lain. Memang dari rekaman keamanan, Hanna tiba pagi tadi dengan menenteng satu buah paper bag besar. Ketika dia dan Gita menyusun buah ke dalam kulkas, itu juga terekam. Saat dia membuat jus, juga terekam. Setelah itu Hanna meninggalkan ruangan itu, begitu pula Gita. Jadi semuanya benar-benar sangat bersih.
“It’s okay, kamu sudah berusaha.” Lona menepuk lengan Bobby. “Bagaimana kalau sekarang kita ke rumah sakit? Kamu bisa membahas hal ini berdua dengan Liam, siapa tahu dia punya pemikirannya sendiri untuk masalah ini.”
“Tapi aku nggak punya nyali bertemu Hanna..”
“Kenapa? Kamu nggak salah, kenapa nggak punya nyali? Hanna juga nggak akan menuduh sembarangan. Dia sendiri pasti punya pendapatnya sendiri tentang apa yang menimpa dia, percaya padaku.”