Way Back To You

Way Back To You
Perasaan Yang Mulai Luluh



Liam baru tiba di rumah Hanna sekitar pukul tiga pagi setelah dia menyelesaikan seluruh jadwal syutingnya. Dia mondar mandir sebentar, hendak mengetuk pintu tapi dia mengurungkan niatnya. Suasana rumah Hanna sangat tenang, itu artinya Hanna pasti sedang tertidur nyenyak.


Liam memilih duduk di dinding dekat pintu masuk sembari sesekali menatap tangan kanan yang dia gunakan untuk meninju Noah. Tangannya tampak lebam dan memerah, namun bukan itu yang membuatnya sedih. Baru kali ini Liam memukuli Noah dengan penuh emosi yang sungguh-sungguh, bukan dalam keadaan bercanda.


Dia menyesal, itu pasti. Namun Liam hanya tidak bisa menahan kemarahannya, menyesali kenapa Noah bersikap gegabah seperti itu. Mengancam Hanna bukan jalan menyelesaikan masalah, namun menciptakan masalah baru. Dia perlu memperbaiki kesan terhadap dirinya sehingga Hanna percaya padanya sepenuh hati. Liam yakin, kalau bukan karena Hanna mengandung bayinya, wanita itu mungkin tidak mau bersamanya.


Liam menyandarkan tubuhnya. Angin pagi membuat tubuhnya menggigil, dan karena tidak tahan dia kembali ke mobil. Liam pun memilih tidur di mobil, menunggu Hanna bangun beberapa jam lagi. Dia tidak mungkin membangunkan Hanna saat subuh seperti ini. Siapa yang tahu, mungkin saja tadi malam dia masih muntah mual saat dia tidak ada. Seandainya syutingnya bisa selesai lebih cepat, Liam pasti bisa menemani Hanna saat ini.


Ketika matahari belum menampakkan dirinya, Hanna membuka pintu rumah dengan pakaian olah raganya yang lengkap. Walau dia sibuk, jalan pagi tetap tidak boleh terlewat karena ini bagus untuk tulangnya. Hanna memiliki pekerjaan yang mewajibkannya duduk selama berjam-jam menatap monitor komputer, jadi dia selalu memastikan olah raga paginya tidak pernah terlewat.


Namun dia begitu terkejut, ketika membuka pintu dia mendapati mobil Liam terparkir persis di depan rumahnya. Hanna mencoba mengintip, Liam ada di dalam sedang tidur. Hanna mengetuk kaca perlahan, dan samar-samar melihat Liam tersentak dan mendudukkan kursi mobilnya.


“Apa yang kamu lakukan di rumahku pagi-pagi begini?” Hanna mengernyit saat Liam sudah turun dari mobilnya.


“Han..aku mengantuk. Bisa kita bicara nanti setelah aku menumpang tidur sebentar di rumahmu, please?”


Menumpang tidur? Kenapa dia tidak kembali ke apartemennya dan malah ke rumahku?


“Masuklah..”


Otak dan logika Hanna tidak akan bisa menang melawan perasaannya. Liam jelas bisa memporak porandakan semua prinsipnya. Jika Hanna bisa tegas pada staff dan bawahannya, namun Liam adalah pengecualian. Pada Liam, yang menang hanya perasaannya saja sehingga Hanna kadang-kadang bahkan berpikir dia tidak punya otak lagi.


Tanpa berpikir panjang Liam langsung masuk ke dalam rumah Hanna, terus melangkah menuju kamar tidurnya. Hanna nyaris berteriak ketika Liam tidur di atas tempat tidurnya -menggunakan bantal dan selimutnya.


“Aku nggak bilang kamu bisa tidur di kamar ku.” Protes Hanna.


“Jangan pelit pada Ayah bayimu, nanti anak kita ikutan pelit.” Gumam Liam dengan mata terpejam.


Hanna membuka mulut hendak protes lagi, namun dia mengurungkannya karena Liam tampaknya sudah tidur. Hanna memperhatikan Liam yang tidur telungkup, dan matanya menangkap tangan Liam yang memerah.


Dengan hati-hati Hanna naik ke atas tempat tidur, mengoleskan obat untuk tangannya yang memerah. Apa kamu selalu syuting sampai pagi begini? Gumam Hanna. Hanna menyugar rambut Liam dengan lembut. Waktu itu di hotel saat dia pergi meninggalkan Liam, Liam juga sedang tidur terlelap seperti ini, dengan posisi yang nyaris sama, hanya suasananya saja yang berbeda. Waktu itu ada rasa yang menggebu-gebu dalam diri mereka masing-masing yang perlu disalurkan.


“Kamu bekerja terlalu keras.” Gumam Hanna kemudian.


Ketika Hanna hendak turun, tiba-tiba Liam menarik tangannya hingga Hanna jatuh terlentang di atas tempat tidur. Otak Hanna belum sempat memproses apa yang sedang terjadi, namun Liam sudah menarik tubuhnya lebih dekat lagi pada Liam. Dan masih dengan mata terpejam, Liam melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk Hanna erat.


“Sepuluh menit saja, temani aku tidur.” Ujar Liam saat Hanna berusaha melepas tangan Liam.


Hanna memutar tubuhnya hingga menghadap ke tubuh Liam. Dia menatap wajah Liam lekat, memperhatikan setiap detail bentuk wajah Liam yang membuat dadanya berdebar dengan cepat. Apa yang sebenarnya ku rasakan padamu saat ini? Apa perasaanku ini hanya sekedar ungkapan terimakasih karena kamu sudah mau bertanggung jawab pada bayi kita? Atau, apakah karena alasan yang lain? Liam, kenapa kamu mengotak-atik perasaanku hingga aku nyaris tidak mengenali diriku sendiri?


*


Ketika Bobby bangun, dia tertegun menemukan sebuah kain yang diletakkan di keningnya. Kepalanya sangat pusing dan tubuhnya berat. Bobby meletakkan kain ke atas nakas dan menyadari jika dia sedang demam. Perasaan Bobby masih tidak nyaman, bukan hanya karena disebabkan demamnya, namun karena sisa pengaruh alkohol yang diminumnya tadi malam hingga dia tidak sadar apa yang terjadi padanya.


“Apa yang terjadi padaku?” gumam Bobby. "Bagaimana aku bisa kembali ke rumah?"


Tiba-tiba dia mencium bau makanan dan mendengar seseorang menggunakan dapurnya. Siapa yang ada di rumahnya?


"Apa itu Liam? Apa Liam yang menjemputku di club tadi malam?"


Hanya Liam satu-satunya orang yang bebas keluar masuk apartemennya. Tapi dia tidak pernah memasak, jadi Bobby berpikir mungkin itu bukan Liam. Tapi kalau bukan Liam, lalu siapa?


Bobby mengumpulkan tenaganya untuk turun dari tempat tidurnya. Dia melangkah ke luar kamar dan dia tertegun mendapati seorang perempuan tengah memasak di dapur. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang menggunakan dapurnya sesuai tujuannya, karena sejak apartemen ini dibeli, dia belum pernah menggunakan dapurnya sama sekali.


Lona? Bukankah dia Lona, sahabat Hanna?


Ngomong-ngomong soal Hanna, tiba-tiba Bobby ingat alasan kenapa dia bisa mabuk. Hanna baru menolaknya dan lebih memilih untuk bersama Ayah bayinya. Itu hal yang mutlak sebenarnya, tapi tetap saja hati Bobby sakit mendengar keputusan yang diambil Hanna dan membuatnya berakhir di club malam.


“Kenapa kamu ada di rumahku?” Bobby masih terlalu bingung untuk mengingat apa yang sudah terjadi dan kenapa Lona bisa ada di rumahnya.


“Baguslah kalau kamu sudah bangun.” Lona melepas celemeknya tanpa menjawab pertanyaan Bobby.


Tanpa ragu, Lona meletakkan tangannya ke kening Bobby hingga membuat Bobby tersentak kaget. Wajahnya memerah dan matanya mengerjap beberapa kali.


“Kamu masih demam, tapi nggak setinggi demam mu tadi malam. Aku sudah membeli obat...” Lona menunjuk ke arah meja.


“...dan juga membuat sarapan untukmu. Aku harus bekerja, jadi, kamu harus mengurus dirimu sendiri. Bye.” Lona melambaikan tangannya.


“Jangan lupa minum obatnya.” Serunya lagi.


Bobby masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi namun Lona sudah melesat meninggalkan apartemennya. Dia tertegun melihat ada banyak makanan yang dimasak Lona untuknya. Dia juga memeriksa obat yang disediakan Lona. Itu adalah obat yang sering dia konsumsi, kenapa perempuan itu bisa tahu?


Bobby menghela nafas panjang. Setelah berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi, Bobby pun paham kenapa Lona bisa ada di rumahnya. Lona masih menggunakan pakaian yang sama dengan yang digunakannya tadi malam. Itu artinya, sepanjang malam gadis itu bersamanya dan menungguinya. Kenapa dia melakukan itu? Apa dia terlalu kasihan padaku? Aku pasti terlihat sangat mengenaskan tadi malam, itu sebabnya dia tidak mau meninggalkanku.