Way Back To You

Way Back To You
Menguji Perasaan



Angin semilir yang terasa lembab berhembus menerbangkan angan Hanna. Dia duduk di teras rumah ditemani segelas teh chamomile kesukaannya karena aromanya bisa menenangkan suasana hatinya. Perlahan gerimis mulai turun, tak lama berubah menjadi hujan lebat disertai angin kencang. Hanna belum bergeming, pikirannya masih tertuju pada sosok yang mulai dicurigainya. Tapi kenapa dia melakukannya padaku?


Mata Hanna menyipit, dia mengangkat telapaknya untuk menutup kedua matanya dari sorot lampu sedan yang berhenti di depan rumah. Dari dalam Liam tergopoh-gopoh berlari menuju teras rumah untuk menghindari hujan. Namun walaupun dia sudah berusaha, pakaiannya tetap saja basah. Liam mengebas jas nya yang tak luput dari derasnya hujan.


“Kenapa kamu di luar hujan deras begini? Ayo masuk, nanti kamu masuk angin.” Seru Liam.


Hanna masih duduk dengan kedua kakinya diangkat ke atas kursi yang didudukinya. Keningnya mengerut mendengar ucapan Liam. “Ayo masuk?” Dia tersenyum mengejek. “Memangnya ini rumahmu? Kenapa kamu ke sini?”


“Hanna..” Setidaknya izinkan aku masuk dulu karena aku benar-benar kedinginan. “Angin malam nggak bagus untuk bayi kita. Kalau kamu nggak mengizinkanku masuk, ya sudah, nggak apa-apa..” Dia meletakkan tiga buah paper bag ke dekat Hanna. “Aku membelikan beberapa pakaian ibu hamil karena aku menyadari baby bump mu mulai terlihat.”


Sial, gerutu Hanna. Kenapa Liam selalu punya cara untuk menggoyahkan hatinya? Bagaimana aku akan mengusirnya kalau sikapnya seperti ini? Tapi aku harus tega. Biarkan dia menyadari semua kesalahannya terlebih dahulu.


“Kamu masuk saja, aku akan menumpang sebentar di teras kamu hingga hujannya reda. Nanti setelah reda, aku akan langsung pulang jadi kamu nggak perlu menungguiku.”


“Baiklah..” Hanna berdiri. “Aku juga sudah mengantuk dan ingin istirahat.” Dia meraih paper bag di lantai. Tidak masalah dia mengambil barang yang dibeli dengan menggunakan uang Liam, toh bayi nya ini adalah bayi Liam juga. “Thanks buat pakaiannya.”


Hanna menutup pintu. Dia menghela nafasnya panjang, mencoba mengintip ke luar dan melihat Liam masih berdiri memunggungi rumahnya. Pakaiannya yang basah bisa terlihat dari balik kaca dan tentu saja Hanna kasihan dan tidak tega. Astaga, jangan bodoh Han. Beri dia pelajaran, jangan terlalu lembut padanya.


Setelah membuat keputusan untuk menelantarkan Liam di teras rumahnya, Hanna segera masuk ke dalam kamar. Dia menggulung tubuhnya ke dalam selimut karena cuaca hujan membuat suhu udara lebih dingin dari biasanya. Dia melirik jam beker, setengah sepuluh malam. Biasanya hujan seperti ini akan berhenti paling lama setengah jam, jadi biarkan saja Liam pulang sendiri nanti.


Walau sakit hati, Liam harus menerima semua perlakuan Hanna dengan ikhlas. Bukankah ini hal yang layak dia terima? Masih beruntung Hanna masih mengizinkannya bertemu dan bahkan masih menerima barang pemberiannya. Itu masih lebih baik daripada diusir dari kehidupan Hanna selamanya.


Mata Liam terpejam sebentar, kepalanya masih berdegung karena sebenarnya kondisinya kurang baik. Sudah hampir satu bulan dia tidak tidur dengan teratur dan tubuhnya nyaris tumbang karena kelelahan. Selain masih harus melakukan kegiatannya sebagai model yang sangat sibuk, dia juga masih harus mencaritahu siapa yang berniat menyakiti Hanna. Semuanya itu berputar-putar dalam otaknya, membuatnya was-was dan selalu diliputi rasa khawatir.


Tidak kuat berdiri, Liam akhirnya menyerah dan duduk di kursi teras rumah Hanna. Hujan masih turun dengan lebat disertai kilat yang menyambar di langit yang sesekali menciptakan cahaya terang sepersekian detik. Liam mulai menggigil karena pakaian yang dikenakannya juga basah dan suhu tubuhnya mulai naik. Tenggorokannya mulai terasa kering mungkin karena pengaruh demamnya. Liam menyandarkan tubuhnya, lalu tak lama kemudian matanya terpejam.


Hanna terbangun karena terkejut mendengar bunyi guntur yang cukup kuat hingga membuat rumahnya seolah-olah bergetar. Dia terkesiap, menatap jam beker yang sudah menunjukkan angka dua belas. Astaga, aku ketiduran. Niatnya Hanna hanya berbaring saja sembari membaca buku, namun siapa yang menyangka buku yang dibacanya malah berada di lantai –mungkin terjatuh dari tangannya.


Hujan di luar masih cukup deras dan Hanna yakin Liam pasti sudah pulang. Tidak mungkin dia masih menunggu hingga tengah malam seperti ini. Hanna kembali membaringkan tubuh, namun pikirannya gusar. Dia duduk, memutuskan turun dari tempat tidur dan memeriksa sendiri ke teras rumah. Hanna mengintip dari balik tirai dan terkejut melihat Liam masih ada di sana. Kenapa dia masih di sana?


Wajah Liam terlihat pucat saat Hanna mendekatinya. “Liam, bangun..” Kenapa kamu tidak ketuk saja pintunya? Aku tidak tahu kalau kamu masih menunggu di sini, maafkan aku. “Liam..kamu mendengarku?”


Curiga pada kondisi Liam, Hanna menempelkan telapak tangannya ke kening Liam dan dia terkejut saat kulitnya bersentuhan langsung dengan tubuh Liam yang panas bak bara. Hanna segera membopong Liam ke dalam rumah. “Jangan bawa aku ke dalam..Hanna belum mengizinkanku..” Liam mengigau, mungkin pengaruh demamnya.


Dia meletakkan Liam dengan hati-hati. Hanna mendengus, kelelahan. Dia melihat Liam langsung meringkuk meraih selimut begitu dia menyadari dia sudah berada di tempat yang hangat. “Buka pakaianmu dulu. Semuanya lembab.” Ujar Hanna.


“Kenapa kamu nggak membantuku membukanya?”


“Jangan bercanda. Aku membawamu ke dalam rumah bukan karena aku sudah memaafkanmu. Aku hanya nggak mau jadi judul headline besok yang memuat kabar tentang seorang model terkenal meninggal di depan rumahku.”


“Bercanda mu agak ekstrim.”


“Ini beberapa pakaianku yang size nya besar..” Hanna meletakkan beberapa pakaiannya di atas tempat tidur. “Kamu pilih saja mana yang muat.”


Sementara Liam sedang mengganti pakaiannya, Hanna menuang air hangat ke dalam gelas. Dia juga menyiapkan air hangat lainnya di dalam wadah untuk mengompres Liam. Dia membawa semuanya ke dalam kamar dan mendapati Liam sudah tertidur kembali. Hanna tersenyum melihat baju yang dipilih Liam dengan motif bunga-bunga berwarna kuning cerah.


“Liam, minum dulu..” Hanna membangunkan Liam kembali. Dia membantu Liam duduk dan menyerahkan segelas air hangat untuknya. Dalam sekali teguk, segelas air hangat itu langsung habis. “Tidurlah. Aku akan mengompresmu.”


Liam merebahkan dirinya. Dia mengamati Hanna saat wanitanya itu memeras kain lalu menempelkannya di keningnya. Liam beruntung mengenal Hanna, sangat beruntung. Dia tidak peduli pada popularitas Liam saat pertama kali bertemu, dia acuh namun hatinya hangat, dia kuat dan hebat namun juga lembut. Liam benar-benar menyukai Hanna, sangat mencintainya.


“Aku benar-benar sangat menyulitkanmu..” Liam meraih tangan Hanna. “Terimakasih banyak Han sudah hadir dalam hidupku. Aku pikir, mungkin dulu di kehidupan sebelumnya aku pernah menyelamatkan negara ini sampai-sampai aku bisa dipertemukan dengan wanita sepertimu..”


“Jangan banyak bicara..” Hanna masih terus berusaha agar perasaannya tidak goyah. “Kamu akan baik-baik saja besok.”


“Apa aku sudah mendapatkan kata maaf darimu?”


“Kamu memanfaatkan kondisimu yang sedang sakit seperti ini untuk memaksaku?”


Liam menggeleng. “Aku hanya bertanya.”


Tentu saja sudah. Apa kamu tidak sadar betapa mudahnya kamu menggoyahkan semua prinsipku? Semua yang aku katakan berbanding terbalik dengan perasaanku yang sesungguhnya dan kamu lah penyebabnya. Kamu selalu memiliki tempat tersendiri dalam hatiku, Liam. Hanya saja aku masih perlu menguji perasaanmu padaku.


“Tidurlah..” Hanna memperbaiki selimut Liam. “Kamu akan baik-baik saja besok.”