Way Back To You

Way Back To You
Perasaanku Tidak Akan Berubah



Hanna langsung melompat ke pelukan Liam saat Liam dan Bobby tiba di rumah. Dia memeluk Liam dengan erat dengan penuh senyuman yang merekah di wajahnya. Dia tidak bisa menggambarkan rasa haru dalam dadanya saat mendengar semua yang diungkapkan Liam dalam konferensi pers tadi siang. Semua rasa menyatu dalam dada Hanna.


“Biarkan aku bernafas dulu..” Liam mengelus punggung Hanna.


Hanna turun dari pelukan Liam, menatap wajahnya dengan penuh haru dan cinta, lalu mengecup bibirnya dengan lembut. Lona tersenyum dan langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya melihat bagaimana Hanna mencium Liam di teras rumah. Bobby mendekati Lona, menarik tangannya dan mengecup bibirnya dengan hangat. Kedua pasangan itu saling merengkuh bibir orang yang mereka cintai di sana, tanpa menyadari sebuah mobil sedan berhenti tak jauh dari mereka.


“Dasar anak-anak tak tahu diri..”


Suara berat dan rendah laki-laki paruh baya itu mengejutkan mereka semua. Hanna bersembunyi di belakang tubuh Liam, takut dengan tamu yang sedang berkunjung ke kediaman mereka secara tiba-tiba. Liam bilang tidak ada yang tahu lokasi rumah ini, tapi kenapa laki-laki ini bisa mengetahuinya?


“Paps, kenapa kemari?” Liam menyapa Anthony Andrews dengan santai.


Wajah Hanna memerah, dia menatap Liam tidak percaya. “Paps?” bisiknya, nyaris tidak bersuara.


“Oh, maaf aku belum pernah mengenalkan kalian berdua. Han, ini Paps ku..” Paps merupakan panggilan kesayangan Liam sejak kecil dan sulit untuk mengubahnya sekarang. “..dan, Paps, ini Hanna. Dia ..”


“Aku tahu..” sungut Anthony kesal. “Kalau aku tidak menonton siaran konferensi pers mu, kamu akan membohongiku selamanya?”


“Tidak Paps. Aku memang sudah berencana mempertemukan kalian, hanya saja kondisinya akhir-akhir ini nggak begitu tepat jadi aku mengurungkannya.” Liam tersenyum tanpa merasa bersalah.


“Dan kamu juga..” Anthony mengarahkan pandangannya pada Bobby. “Kamu sekongkol dengan sepupumu ini untuk membohongi hal sebesar ini dariku?”


“Bukan begitu Om..” Bobby tidak bisa berkelit. Kesannya memang dia sedang menutupi semua ini dari Anthony walau hanya menuruti perintah Liam saja.


“Dan dia siapa?” Anthony melirik Lona yang berada di belakang tubuh Bobby.


“Dia Lona, kekasihku.” Bobby tersenyum diikuti suara decakan dari bibir Anthony.


“Dasar kalian semua. Kamu dan Kakak sepupumu sama saja.” Anthony menarik nafas, menatap Hanna lamat-lamat. “Hanna..” panggil Anthony.


“Iya Om..” Hanna ragu-ragu.


“Kenapa kamu masih memanggilku Om? Bukankah kamu dan Liam akan segera menikah? Kamu bisa memanggilku sama seperti dia tadi.”


“Baiklah...Paps..” dia masih sedikit ragu-ragu.


Anthony menarik nafasnya dalam. “Aku ingin bicara dengan kalian berdua.” Dia menunjuk Liam dan Hanna.


“Tentu.”


Anthony mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah Liam. Interiornya cukup memukau, sederhana namun mewah, sesuai dengan gaya Liam. Dalam ruang tamu, mereka duduk berhadap-hadapan. Liam duduk di samping Hanna dan Anthony di seberang mereka.


“Katakan, apa rencana kalian ke depannya.”


“Dalam waktu dekat..aku ingin menikahi Hanna..”


Hanna menatap Liam dengan tatapan dalam, tidak menyangka jika waktu di mana mereka akan segera menjadi satu akan terwujud. Setelah melalui banyak rintangan dan halangan yang tidak main-main, akhirnya mereka keluar sebagai pemenang.


“Bagaimana denganmu, Hanna? Apa kamu memang sudah yakin dengan pilihanmu pada Liam?”


“Paps...” Liam mendesah. “Apa yang hendak Paps katakan?”


“Aku tidak mengatakan apa pun. Aku hanya bertanya pada Hanna. Kamu sudah mendengar semua hal yang dikatakannya sewaktu konferensi pers. Dia tidak mewarisi darah keluarga Andrews, apa kamu tidak keberatan?”


“Tidak Paps..” Hanna menjawab dengan tegas. “Aku sebenarnya tidak terlalu peduli siapa Liam sebenarnya, apa masa lalunya, siapa orang tua kandungnya. Itu semua tidak penting bagiku. Aku mencintai Liam, bukan siapa yang ada di belakang Liam. Aku memilih Liam karena dirinya sendiri, bukan karena orang-orang yang menjadikan Liam seperti ini. Liam adalah Liam, dan masa lalunya hanya bagian kecil dari perjalanan hidupnya. Perasaanku tidak akan terpengaruh walau dia tidak mewarisi darah keluarga Andrews.”


Anthony menyandarkan tubuhnya.


Hanna mengangguk. “Ini semua terjadi bukan hanya karena Liam, tapi juga karena diriku. Jadi aku akan membantunya bertanggung jawab, entah itu pada diriku sendiri atau pada semua tanggung jawabnya di luar sana. Jika dia tidak memiliki apa pun lagi, kami akan memulai semuanya lagi dari awal.”


Anthony mengangguk-anggukkan kepalanya, cukup puas dengan apa yang dikatakan Hanna. Sebenarnya dia hanya basa basi pada Hanna. Liam tidak akan salah memilih wanita dan Hanna bukanlah dipilih secara tutup mata. Liam pasti mengerti karakter Hanna dan dia percaya pada pilihan Liam.


“Kamu beruntung mendapatkan Hanna..” Anthony mengangkat dagunya menunjuk Liam. “Jika aku menjadi Hanna, aku akan meninggalkanmu, dasar anak tengik.” Sungut Anthony.


“Untung saja Paps bukan Hanna..” Liam tertawa kecil. “Baiklah Paps, aku mengerti apa yang Paps pikirkan. Aku akan menangani semuanya sendiri. Jangan khawatir.”


“Aku tidak khawatir padamu, tapi pada Hanna. Jangan terlalu percaya diri.”


Liam kembali tertawa. Dia menatap Anthony sungguh-sungguh, lalu berdiri dan memeluk Anthony dengan erat. “Thanks sudah menjadikanku anakmu, Paps. Aku sungguh-sungguh beruntung memiliki Paps dalam hidupku.”


“Kamu minta berapa?”


Liam tergelak. Selera humor Paps nya ini masih sama sejak dulu, namun Liam tahu Anthony juga sangat mencintai Liam. Mereka sudah bersama selama beberapa tahun, ikatan yang mereka ciptakan bahkan lebih erat dari orang tua dan anak yang sedarah. Liam tahu dia tidak bisa hidup tanpa bimbingan Anthony dan apa yang dia dapat ini semuanya berkat doa Anthony. Walau tidak ada ikatan darah diantara mereka, namun cinta ayah anak pada mereka tidak perlu diuji lagi.


“Jangan kecewakan Hanna, nak..” Anthony mengelus punggung Liam. “Seperti yang kamu katakan di pers tadi, jika kamu sudah menemukan kebahagiaanmu, maka genggamlah, dan jangan dilepas lagi. Semua kelakuan minusmu selama ini harus kamu tinggalkan. Kamu sudah memiliki tanggung jawab lain, yaitu bayi dalam perut Hanna. Kamu harus bisa berubah demi mereka berdua..”


Liam mengangguk. “Pasti Paps.”


*


“Hanna benar-benar beruntung bertemu calon mertua keren seperti Om Anthony.”


Lona meletakkan tasnya di atas sofa. Keduanya memutuskan meninggalkan rumah Liam setelah Anthony meminta untuk bicara bertiga saja. Tidak ada gunanya mereka di sana. Bisa jadi Anthony ingin membicarakan hal-hal yang sangat pribadi, itu sebabnya beliau meminta bicara bertiga saja dengan Hanna dan Liam.


“Kamu mau bertemu dengan calon mertuamu?” gurau Bobby dari dapur.


Lona tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Jangan dulu..” serunya. “Aku belum siap.”


Lona membaringkan tubuhnya di atas sofa. Membayangkan dia akan bertemu orang tua Bobby membuatnya merinding. Astaga, dia tidak siap. Membayangkan saja sudah membuatnya nyaris mual, apalagi jika dia benar-benar bertemu mereka, bisa jadi Lona akan pingsan.


“Kenapa kamu belum siap?” Bobby naik ke atas tubuh Lona tiba-tiba.


“Hubungan kita baru berjalan beberapa minggu, mustahil kamu membawaku bertemu orang tuamu.”


“Loh, memangnya kenapa? Kamu nggak berencana meninggalkanku kan?” Bobby mencium bibir Lona.


Lona menggeleng. Untuk apa dia meninggalkan Bobby? Bobby adalah laki-laki sempurna dan dia tidak menemukan alasan apa pun untuk meninggalkannya. “Untuk apa aku meninggalkanmu?” seru Lona.


Bobby menyelipkan tangannya ke bawah tubuh Lona sembari menciumnya dengan posesif. Jemarinya berlari di punggung Lona, membuat tubuh Lona melengkung karena tersengat sensasi geli dari jemari Bobby.


“Aku serius tentang mempertemukanmu dengan orang tuaku.” Bobby melepas bibirnya, menatap Lona dalam.


“Kamu sudah yakin padaku? Yakin kamu nggak akan jatuh cinta pada wanita lain? Yakin pilihanmu padaku sudah tidak lagi bertukar?”


“Yakin..” Bobby mengecup bibir Lona sekali lagi. “Aku nggak akan menukarmu dengan wanita lain. Jadi, beritahu aku kapan kamu siap bertemu orang tuaku. Okay?”


Lona mengangguk kecil. Dia tersenyum, mengelus wajah Bobby dengan lembut dan mengangkat kepalanya untuk mencium bibir Bobby. “Beri aku waktu. Aku akan memberitahumu nanti.”


Bobby menyadari jika dirinya sangat mencintai Lona, lebih dari apa yang dia pikirkan selama ini. Wanita itu sudah mengajari Bobby banyak hal, bahkan jauh sebelum dia merasakan perasaannya yang sebenarnya, Lona sudah banyak mengubahnya. Entah bagaimana caranya Lona bisa menyentuh perasaannya hingga ke titik terdalam dan menempatkan dirinya dalam hati Bobby dengan sangat tepat.


Bobby tidak akan melepaskan Lona dalam kehidupannya. Bobby kembali mencecap bibirnya dengan dalam. “Aku sangat mencintaimu, Lona.”