Way Back To You

Way Back To You
My Way Back To You



Tetesan hujan masih jatuh hingga pagi menjelang. Sepanjang malam hujan dicurahkan dari langit dengan volume yang nyaris sama, petir terus menyambar dan guntur bersahut-sahutan memecah keheningan malam. Bahkan listrik sempat padam beberapa jam, namun pagi ini sudah menyala. Hanna masih belum mau membuka matanya walau dia tahu hari sudah pagi.


Ini akhir pekan, dia bisa bersantai di atas tempat tidurnya yang hangat apalagi hujan masih turun di luar sana. Suasananya sangat mendukung untuk kembali tidur. Hanna membalik tubuhnya, memeluk sesuatu yang dia kira adalah gulingnya, hingga..


Mata Hanna mengerjap saat dia menyadari dia memeluk tubuh Liam. Liam sudah bangun, sedang menatapnya lekat-lekat dengan posisi miring menghadapnya. Kepalanya disanggah oleh siku tangannya dan dia tersenyum pada Hanna. “Selamat pagi.”


Hanna pura-pura tidak terintimidasi oleh senyuman Liam yang membuat hatinya menjerit di dalam. Hanna mengangkat tangannya, meletakkannya di kening Liam. “Demam mu hilang.”


“Mm, karena kamu yang merawatku.”


Sekali lagi Hanna menjerit dalam hatinya. Dia mencoba membalik kembali tubuhnya ke posisi awal namun Liam menahannya. “Aku masih ingin melihatmu seperti ini.” ujarnya.


“Jangan berlebihan. Aku belum..”


“Belum memaafkanku? Aku tahu..” Liam mengelus wajah Hanna. “Aku nggak memintamu memaafkanmu secepatnya karena aku cukup tahu diri. Aku hanya bilang aku suka menatapmu seperti ini.”


Wajah Hanna memerah, dia yakin sekali jika sekarang wajahnya seperti tomat yang ranum. Dia menarik selimut, menutup tubuhnya hingga ke batang hidung dan hanya menyisakan kedua bola matanya. Liam tertawa kecil melihatnya lalu meraih tubuh Hanna dengan mudahnya.


“Apa yang kamu lakukan?” pekik Hanna.


“Memelukmu..” Liam tidak peduli dengan tangan Hanna yang bergerak mendorong tubuhnya. “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri Han, aku tahu kamu menginginkanku.”


“Percaya dirimu cukup bagus.”


“Itu sebabnya aku terus mengejarmu, karena aku percaya pada diriku sendiri.”


“Jangan bergerak..” Liam menahan tangan Hanna dan memeluk tubuhnya erat. “Ayo tidur beberapa menit lagi. Aku masih mengantuk.”


Hanna mengigit bibirnya saat dia bisa mendengar detak jantung Liam dengan sangat jelas. Dia selalu menyukai tertidur di dada Liam yang bidang. Rasanya hangat, nyaman dan aman. Hanna bisa melepas semua hal yang membuat pikirannya semrawutan hanya dengan memeluk Liam. Hanna memejamkan matanya, kembali tertidur saat matahari sudah menapak naik mencoba mengalahkan awan gelap yang masih bergelayut.


Liam, kenapa kamu selalu sanggup memporak-porandakan keadaan hatiku? Kenapa kamu bisa dalam sekejap membuatku terbang, lalu dalam sekejap bisa membuatku jatuh lagi? Kenapa kamu bisa sesuka hati mengatur moodku?


*


“Aku nggak mau kalau harus melibatkan bayi dalam kandungannya.” Jhon berseru, menciptakan gaung di dalam ruang sempit di bawah jembatan. Wanita yang berada di balik beton penyangga jembatan terdengar tertawa, mengejek.


“Aku pikir kamu masih menyukainya.”


“Aku memang menyukai Hanna, tapi bukan berarti aku harus menyingkirkan bayinya..” balas Jhon. “..Dengar, aku sudah melakukan apa yang kamu mau walau aku sebenarnya terpaksa. Aku memang menginginkan Hanna tapi bukan begini caranya.”


“Apa maksudmu?”


“Aku nggak mau terlibat lebih jauh lagi..” dia mendekat ke balik tiang. “..aku nggak mau dicap sebagai kriminal karena membunuh bayi yang tidak bersalah hanya karena keserakahanmu..” Jhon masih punya nurani dan dia tidak akan mau menyentuh bayi Hanna.


“Diam..” teriak wanita itu penuh kemarahan. “Jangan mencoba mengataiku.”


“Aku nggak mengataimu, ini memang fakta kalau kamu terlalu terobsesi pada Liam..” Jhon balik berteriak.


Tangan wanita itu mengepal hingga menampakkan urat-urat yang menyembul di kulitnya. “Apa kamu bilang? Terobsesi?”


“Kamu masih bisa berubah...” nada suara Jhon merendah. “Liam bukan milikmu, kamu hanya menyukai sisi Hazer yang ada dalam diri Liam. Kamu sama sekali tidak menyukainya.”


Sepi. “Kalau kamu membutuhkan bantuan untuk menyembuhkanmu, aku bisa menolongmu..”


Kepalan tangan wanita itu semakin menjadi. Dia tersenyum, lalu senyuman itu berubah menjadi tawa yang mengerikan. Wanita itu terbahak-bahak selama beberapa saat hingga tiba-tiba dia terdiam.


“Apa kamu baru saja menasehatiku? Kamu nggak tahu apa yang bisa ku lakukan pada hidupmu?” suaranya terdengar mengintimidasi, penuh ancaman.


Jhon terkejut saat wanita itu mengeluarkan sesuatu dari balik saku jaket tebalnya. Dalam remang gelap –karena hari juga sudah mulai senja, dia mandapati nafasnya memburu oleh ketakutannya sendiri. Kedua bola mata wanita itu dipoles oleh kekejaman dan tampak mengkilat dipenuhi kemarahan, menatapnya dengan sangar dan tanpa belas kasihan sedikit pun.


Wanita itu mengangkat pistol pelan-pelan dan mengarahkannya tepat ke kepala Jhon. Dia kembali tersenyum seolah-olah dia sangat menikmati situasi ini, sebuah senyum yang licik. Peluh mengucur berlari menuruni wajah Jhon yang memutih. Jantungnya berderap sangat cepat begitu mengetahui hari-harinya mungkin akan selesai di sana.


“Mungkin kamu bisa menutup matamu..” seru wanita itu. “Ada kata-kata terakhir?”


Jhon menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Kakinya goyah hingga tak kuasa menahan bobot tubuhnya. Bahkan Jhon tidak menyadari air matanya jatuh dan wanita itu kembali menertawakannya.


“Aku akan menuruti permintaanmu.” Ucap Jhon pada akhirnya karena dia masih ingin hidup.


Ada seberkas rasa penyesalan dalam dadanya ketika dia berakhir berurusan dengan wanita gila ini. Kalau bukan karena dia memiliki video dewasanya saat bersama Carissa dan mengancam akan menyebarkannya, Jhon tidak akan mau menuruti semua kemauannya.


Wanita itu tertawa terbahak-bahak. Untuk sementara Jhon bisa bernafas lega saat dia menurunkan pistolnya, namun nafasnya kembali memburu manakala wanita itu kembali mengarahkannya tepat di keningnya.


“Apakah tadi aku mengatakan masih membutuhkanmu? Aku bertanya, apa kamu memiliki kata-kata terakhir?” ujarnya dingin.


Wanita ini gila, sinting. Batin Jhon. Dia tidak hanya jahat tapi benar-benar gila. Sepertinya mentalnya terganggu. Jhon tidak punya pilihan lain, pada akhirnya dia memejamkan matanya, pasrah.


Seluruh bulu kuduknya berdiri manakala besi dingin itu menempel langsung ke kulitnya. Dia diam –menunggu sembari menghitung satu-satu dalam hatinya. Kemudian dia mendengar suara klik, hening. Suasananya sepi dan dia masih hidup. Perlahan Jhon membuka matanya yang langsung disambut tawa mengerikan dari wanita itu.


Sial, dia mempermainkanku. Ternyata itu hanya senjata mainan.


“Ikuti perintahku, atau yang asli akan menyusul.”


Wanita itu menghilang dalam gelap malam, meninggalkan Jhon yang masih berusaha mengatur ritme jantungnya. “Sial. Dasar wanita sakit..” teriak Jhon. “Aku akan membalasmu demi apa pun.”


*


“Bajunya cocok.” Liam yang sedang duduk menikmati kopinya terlihat bangga manakala Hanna mengenakan pakaian yang dibelinya dan memamerkannya di depan Liam.


Hanna tampak cantik dan anggun. Semua sisi tubuh Hanna sangat menarik, terlebih baby bump yang terlihat menggemaskan dan lucu. Liam menarik tangan Hanna perlahan, membuat Hanna semakin mendekat padanya. Liam meletakkan kedua tangannya di pinggang Hanna, memeluk tubuhnya dan mencium perut Hanna dengan lembut. “Hai, Nak.”


Sebuah senyuman melengkung di wajah Hanna, dia sangat senang dengan cara Liam menyapa bayi mereka. Dia tidak bisa menahan diri lagi dan meletakkan kedua tangannya melingkar di leher Liam, membalasnya dengan tatapan haru.


“Tolong katakan pada Ibumu untuk memaafkan Ayah. Ayah berjanji akan memperlakukan Ibumu dengan lebih baik.”


Hanna menahan tawanya. Dia mengalihkan wajahnya saat Liam menatapnya agar Liam tidak mengetahui jika dia terlihat senang. “Ibumu terlihat menikmati semua hal bersama Ayah..” Mata Hanna melotot, hendak protes namun itu adalah fakta. “..Tapi entah kenapa dia bersikap acuh pada Ayah. Bukankah Ibumu sedikit egois?”


Hanna kembali memelototkan matanya, sekali lagi hendak protes. “Apa kamu bilang?” Liam menempelkan kepalanya ke perut Hanna, seolah-olah bayi mereka sedang membalas percakapannya dari dalam. “Jadi Ibumu hanya pura-pura? Sebenarnya dia sudah memaafkan Ayah? Wah, Ibumu hebat juga aktingnya.”


Oh astaga, kenapa Liam bisa tahu dia sudah memaafkannya?


“Cukup..” Hanna menjauhkan dirinya sebelum dia terseret oleh perasaan emosional yang sudah merambah memenuhi dirinya. “Jangan ajari anak kita untuk bersikap sepertimu.” Dia pura-pura marah.


Anak kita. Dua kata itu membuat Liam melambung tinggi. Kata-kata itu meluncur dari mulut Hanna dan menciptakan ketenangan dalam diri Liam. Dia belum kehilangan Hanna. Kata-kata itu seperti sebuah klaim jika Hanna memang sudah memaafkannya.


Liam berdiri. Dia memutar tubuh Hanna dan merangkul pinggangnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain menangkup wajahnya. Dia menunduk, mencium Hanna dengan lembut. “Aku mencintaimu Han..”


Seketika ciuman mereka berubah menjadi panas. Hanna masih terus berusaha menjaga logikanya, berusaha melepas dirinya dari rengkuhan Liam. “Apa aku bilang sudah memaafkanmu?”


“Pasti sudah..” Liam kembali mendaratkan sebuah ciuman lembut yang panjang di bibir Hanna. “Hanna, apakah aku sudah pernah mengatakan jika apa pun yang terjadi, aku akan selalu menemukan jalanku untuk kembali padamu?”


Hanna mengangguk, dia ingat Liam pernah mengungkapkannya. “Maka sebesar apa pun usahamu untuk mengusirku, kamu nggak akan berhasil. Aku akan selalu kembali padamu.”