
“Bagaimana?”
Liam menemui setidaknya tiga orang yang menggunakan jaket kulit hitam dan kaca mata senada. Mereka bertemu di sebuah gedung yang sudah lama tidak digunakan secara diam-diam. Orang-orang itu diutus Liam untuk memata-matai rumah yang didatangi Veronica tiga hari yang lalu. Liam tidak percaya jika rumah itu tidak berpenghuni. Jelas-jelas dia dan Bobby melihat seseorang membuka pintu itu dari dalam.
“Maaf Pak Liam. Kami sudah mengawasi rumah yang Bapak minta selama tiga hari ini, tapi benar-benar tidak ada orang yang masuk atau keluar dari rumah itu Pak.” Terang salah satu orang suruhannya.
“Kalian yakin? Kalian mengawasinya selama dua puluh empat jam penuh? Tidak tertidur sedetik pun?”
“Yakin Pak. Kami berjaga bergantian dan memang tidak ada yang keluar atau pun masuk ke rumah itu.”
Mustahil, Liam berdecak. Bayangan hitam yang terlihat membuka pintu pasti seseorang. Apa dia tidak pernah keluar rumah dan Veronica yang mengantarkan semua yang diperlukannya? Tapi ketika dia datang, dia tidak membawa apa pun. Tapi aku sangat yakin rumah itu berpenghuni, aku tidak akan salah.
“Ya sudah. Kalian tetap lanjutkan pengawasan kalian selama dua minggu penuh..” Dua minggu pasti cukup untuk menunggu penghuni rumah itu keluar untuk membeli kebutuhannya, atau mungkin dia memerintahkan seseorang untuk mengantarkannya. Pasti. Dia pasti akan keluar. “..setelah dua minggu, kita kembali bertemu di sini. Jangan lupa menjaga jarak dan jangan tampil mencolok.”
“Siap Pak Liam.”
Rahang Liam mengetat, tangannya mengepal kuat. Siapa pun yang ditemui Veronica, pasti ada hubungannya dengan semua yang dialami Hanna akhir-akhir ini. Veronica langsung pergi ke sana usai dia mengancamnya. Itu cukup memberi Liam alasan untuk mencurigai hal itu.
*
“Ssstt, Kak Han..”
Gita dan Leo masuk ke ruangan Hanna dengan mengendap-endap. Setelah tiga hari libur, Hanna kembali masuk kerja seperti biasa. Dia tidak mau bersembunyi terus menerus karena ketakutannya tidak akan menghilang dengan cara bersembunyi seperti itu. Apa pun yang menghadangnya, akan dihadapi oleh Hanna dengan berani. Dia tidak ingin berdiam diri dan membuat seseorang –siapa pun dia merasa bangga sudah membuatnya menderita.
Rencananya masuk kerja tentu saja bertentangan dengan Liam. Liam bahkan meminta Hanna untuk resign, namun Hanna menolak mentah-mentah. Jika sudah takdir, di rumah pun dia bisa terluka. Hanna akan memilih menjadi sosok wanita yang kuat, yang bisa melawan aral yang melintang di hadapannya bersama kekuatan cinta dari orang-orang yang dia sayangi.
“Kalian kenapa?” Hanna menatap keduanya heran.
“Apa departemen kita melakukan sesuatu yang salah? Pak Bobby terus menerus mengawasi kita.” Bisik Leo, diikuti anggukan kecil dari kepala Gita. “Teman-teman yang lain sampai ketakutan tau Kak.” Sambung Gita.
Ya Tuhan Bobby...
Hanna menggeram ketika mendapati Bobby lewat untuk kesekian kalinya di depan departemen nya. Dia bolak balik seperti itu malah akan membuat semuanya terlihat sangat jelas, bukannya mengawasi diam-diam. Semua orang malah akan curiga dan bertanya-tanya jika dia seperti itu. Bahkan Hanna sangat yakin beberapa jam lagi akan muncul gosip antara mereka berdua –karena sejak Bobby menggendongnya ke rumah sakit gosip tentang mereka sudah merebak.
Hanna mendesah. Dia mengambil handphonenya, memutuskan mengirim pesan pada Bobby. Dia tidak mau menemui Bobby dan menciptakan gosip baru yang menyita waktu dan tenaganya.
Apa yang kamu lakukan dengan bolak-balik seperti itu?
Tak lama kemudian..
Mengawasimu, apa lagi? Aku sudah berjanji pada Liam untuk memperhatikanmu setiap jam.
Hanna menghela nafas dalam, berusaha menahan rasa jengkelnya.
Tapi kamu membuat semua orang di departemen kami merasa risih.
Bobby mengedarkan pandangannya ke sekeliling departemen keuangan, semua staff yang menatap Bobby tiba-tiba menunduk saat dia menatap mereka.
Aku nggak tahu kalau kalian risih.
Itu sebabnya kamu harus kembali ke ruanganmu. Aku bisa menjaga diri.
Terakhir kalinya juga kamu mengatakan hal yang sama.
Bobby, kamu mau kita ribut di chat seperti ini? Kamu kembali ke ruanganmu dulu, nanti kita bicara secara langsung.
“Jill, tolong panggil Gita dan Leo dari departemen keuangan ke ruanganku.” Perintah Bobby pada sekretarisnya.
Tidak perlu menunggu lama, dua orang yang dipanggil Bobby muncul dengan wajah takut-takut –bahkan saling mendorong.
“Bapak mencari kami?” Leo memberanikan diri bicara sementara Gita hanya bersembunyi di belakangnya.
Keduanya hampir jatuh pingsan saat Jill meminta mereka ke ruangan Bobby. Keduanya saling bertanya kesalahan apa yang mereka buat hingga membuat mereka dipanggil orang nomor satu di kantor untuk pertama kalinya setelah mereka bekerja di perusahaan ini.
“Kalian duduk dulu.” Perintah Bobby.
Keduanya menurut. Mereka duduk di depan Bobby dengan gestur ketakutan.
“Aku memanggil kalian ke sini untuk meminta tolong.”
“Minta tolong?” keduanya saling bertukar pandang. Leo menendang kaki Gita, memberi kode untuk mendekat dan Gita menurutinya.
"Apa kita terlalu berbakat sehingga Pak Bobby minta tolong pada kita?” bisik Leo pelan. “Bisa jadi. Mungkin kita orang yang paling mencolok.” Balas Gita masih dengan berbisik.
Semua percakapan itu mereka lakukan di depan Bobby, dan Bobby berusaha menahan senyumnya melihat tingkah keduanya. Hanna sudah pernah memberitahunya jika Gita dan Leo adalah sepasang penggosip handal di departemen nya. Dan sepertinya Hanna tidak berbohong soal itu.
“Aku memang hanya bisa mengandalkan kalian berdua untuk masalah ini.”
“Bapak mau minta tolong apa?” Leo langsung menegakkan tubuh, serta membusungkan dadanya saat Bobby selesai mengucapkan kalimatnya. “Benar. Bapak mau kita melakukan apa?” Gita juga ikut-ikutan membuat gestur seperti yang dibuat Leo.
“Mengawasi Hanna..”
“Hah?”
Bobby tersentak kaget mendengar mereka berteriak bersamaan. Dia menyandarkan tubuhnya, menghela nafas dalam dan mencoba tersenyum. Dia mengangguk, membenarkan kembali permintaannya.
“Jadi gosip itu benar? Bapak dan Kak Hanna...” Gita menutup mulutnya, wajahnya tampak cerah dan berseri-seri. “Kan ku bilang juga apa..” Gita menepuk lengan Leo hingga membuat Leo mengaduh. “Bayar lima ratus ribu..” dia menjulurkan telapak tangannya pada Leo sembari mengangkat alisnya –mengejek.
Bobby mengurut keningnya. Bagaimana Hanna bisa bertahan dengan dua orang dengan model seperti ini? Dia saja yang baru beberapa menit bicara dengan mereka sudah merasa gerah plus ingin muntah.
“Tapi Pak, serius deh..” Gita mencondongkan tubuhnya. Kedua tangannya terlipat di atas meja –dia bicara seolah-olah Bobby adalah rekan kerjanya dan bukan atasannya. “..dari tadi Bapak mondar mandir di depan ruangan kami karena Kak Hanna? Bapak mengawasi Kak Hanna? Kenapa?”
“Benar Pak. Kak Hanna melakukan kesalahan apa? Oh, aku tau Git..” Leo malah memutar tubuhnya menghadap Gita. “Pasti karena Kak Hanna pingsan kemarin itu. Jadinya ...”
“Ssssttt..” Bobby memutus rantai pergosipan keduanya. Bobby heran, kenapa keduanya bisa memiliki sifat yang persis sama. Mereka bertanya tentang sesuatu, namun menjawab dengan sendirinya. Pantas saja banyak gosip tak berdasar beredar di perusahaannya. Dia belum mengatakan fakta apa pun pada mereka, namun mereka sudah mengarang sendiri kesimpulan-kesimpulan tak berdasar sesuai imajinasi mereka.
“Aku tidak bisa mengatakan pada kalian alasannya apa, tapi aku mau kalian mengawasi Hanna. Mengawasi dalam artian kalian harus memperhatikan apa yang dia makan, dia minum, dari mana makanan dan minuman yang dia konsumsi, dia akan ke mana, siapa yang menemui dia, semuanya. Dan kalau ada yang janggal, kalian harus segera melaporkannya padaku.”
“Kenapa Bapak membuat seolah-olah Kak Hanna dalam bahaya?” Leo menggaruk keningnya.
Bobby tidak menyahut. Demi menjaga reputasi kantor dan juga menutupi kehamilan Hanna, terpaksa Bobby harus berbohong perihal pingsannya Hanna waktu itu. Dengan persetujuan Hanna dan Liam, dia mengatakan jika Hanna hanya keracunan makanan. Dia tidak bisa mengatakan jika Hanna dalam bahaya karena tidak mau menciptakan gosip baru.
Hanya dengan begini, dia bisa mengawasi Hanna tanpa terang-terangan seperti tadi. Semoga saja Gita dan Leo bisa membantunya, dan seharusnya memang bisa.
“Aku mengandalkan kalian berdua.”
"Bapak tenang saja." Gita berdiri, penuh semangat membara. "Mulai hari ini, Team Pengawas Kak Hanna resmi dibentuk."