Way Back To You

Way Back To You
Kartu As



Saat bangun, Hanna meregangkan otot tubuhnya. Dia tertidur sepanjang malam dan tidak terbangun sekali pun. Tubuhnya terasa ringan dan normal, tidak terasa sakit lagi. Kemudian Hanna teringat jika tadi malam dia tidur bersama Liam namun saat dia bangun Liam sudah tidak ada di sampingnya. Jam beker menunjukkan angka tujuh, dia sudah bangun terlalu siang dari jam biasanya. Hanna merapikan rambutnya lalu mengikat cepol kemudian dia menendang selimutnya untuk bergegas turun dari ranjang.


Hanna lapar. Pagi ini sepertinya dia sangat berselera makan, apalagi ketika dia mencium wangi roti panggang yang menggugah selera. Setelah mencuci muka dan menyikat gigi, Hanna segera keluar mencari asal aroma tersebut. Dugaannya benar, Liam sedang memasak di dapurnya. Dia masih tampak gagah walau celemek tuanya melekat di tubuhnya.


“Selamat pagi.” Liam tersenyum hangat, meletakkan roti panggang yang masih panas di atas piring lalu mencium pipi Hanna. “Aku sudah membuat sarapan untukmu.”


Hanna sangat yakin wajahnya merona merah sekarang. Perlakuan Liam dan perhatiannya membuat Hanna melambung tinggi –dan dia menyukainya.


“Duduklah, aku akan memasak telur orak arik untukmu.”


Liam mendudukkan Hanna pada kursi yang sudah disediakannya. Tiba-tiba saja Hanna diperlakukan bak puteri kerajaan, dilayani dan dituruti semua kemauannya. Diam-diam Hanna menatap Liam lewat punggung nya yang bidang lalu teringat dengan apa yang dikatakan Bobby. Apa kamu benar-benar kesakitan selama ini? Benarkah luka batinmu tidak bisa sembuh walau kamu sudah menjalani bertahun-tahun usiamu? Apakah se sakit itu?


“Kenapa menatapku seperti itu?”


Hanna bahkan tidak menyadari jika Liam sudah selesai memasak dan sudah duduk di depannya. Hanna mencoba tersenyum, menimbang-nimbang apakah dia bisa menanyakan soal masa lalu Liam sekarang. Kelihatannya suasana hati Liam sedang bagus, tapi bagaimana kalau mood nya mendadak rusak jika aku menanyakannya? Ah, tidak. Mungkin hal ini bisa ku bahas lain kali saja.


“Apa kamu sudah memikirkannya, Han?” Liam meletakkan roti panggang berserta telur orak arik ke dalam piring lalu menyerahkannya pada Hanna. Tidak lupa Liam menyeduh segelas susu khusus Ibu hamil untuk Hanna.


“Tentang apa?” tanya Hanna.


“Di mana kita akan tinggal berdua.”


Astaga, Hanna nyaris lupa jika keadaannya dan bayinya sedang dalam bahaya sekarang. “Belum.” Sahut Hanna ragu-ragu. “Tapi sebenarnya kita bisa tinggal di rumah masa depan yang kamu katakan waktu itu.” Kalau kamu tidak keberatan tentu saja.


“Benarkah?” wajah Liam berbinar hingga dia hampir tersedak makanannya sendiri. “Kamu setuju?”


“Apa aku bisa nggak setuju? Lagipula, sebentar lagi perutku pasti membuncit. Aku nggak mau para tetangga mengataiku yang aneh-aneh.”


Tinggal bersama Liam bisa mendatangkan dua keuntungan sekaligus pasa Hanna saat ini. Pertama, dari segi keamanan, sedikit banyak pasti terjamin. Kedua, dia bisa menghindari gosip panas dari mulut para tetangganya. Jadi sebenarnya solusi ini cukup bagus dan Hanna tidak memiliki alasan lagi untuk menolaknya.


“Bagaimana kalau kita menikah saja?”


Hanna berhenti mengunyah makanannya. Dia berpikir sejenak, lalu kembali terlihat mengunyah lalu menggeleng pelan. “Aku pikir waktunya belum tepat.”


Hanna belum memberitahu kedua orang tuanya tentang kehamilannya. Mustahil dia menikah dengan Liam mendadak begini, bisa-bisa dia akan dipanggang hidup-hidup oleh keduanya. Perihal kehamilan ini saja membuatnya pusing tujuh keliling, bagaimana memberi tahu mereka tanpa menimbulkan kemarahan. Lagipula Hanna masih mempertimbangkan tentang karir Liam. Hanna sempat berpikir bagaimana kalau dia melahirkan anaknya lebih dulu lalu menunggu hingga kontrak Liam berakhir pada brand-brand itu, baru setelah itu dia menikah dengan Liam. Jadi karir Liam tidak akan terganggu dan dia juga bisa hidup dengan tenang.


“Baiklah, aku nggak akan memaksamu soal pernikahan. Kapan kamu siap, kamu tinggal beritahu aku.” Sahut Liam santai.


*


“Kenapa melakukan itu saja kamu nggak becus?”


Wanita muda, berusia sekitar dua puluhan mondar mandir di rooftop sebuah gedung. Dia sedang berbicara dengan seseorang lewat panggilan telepon, dan wajahnya tampak gugup dan risau.


“Ma...maafkan aku, Bu. Aku..sudah berusaha...”


“Berusaha apanya, hah? Kalau kamu berusaha mustahil rencana ini gagal. Bagaimana bisa kamu membiarkan wanita sialan itu masih bisa bernafas dan bayi sialan itu juga...sialan...”


“Tapi aku sudah berusaha Bu. Hanya saja...wanita itu dikelilingi banyak orang yang melindunginya...dan...aku gagal..”


Suara wanita muda itu terdengar gugup dan patah-patah, menunjukkan jika dia sangat tertekan dan ketakutan.


“Tutup mulutmu. Karena kamu gagal, maka foto telan*ang mu dengan senang hati akan ku sebar. Pergilah ke neraka, sialan.”


“Tapi Ibu sudah berjanji padaku untuk...” nada tutt panjang berbunyi, pertanda sambungan terputus. “Halo..Halo...” Wanita itu menangis sembari mencoba menghubungi kembali orang itu, namun sambungannya langsung mati. Dia diblokir. Wanita muda itu menyandarkan tubuhnya, menangis tersedu-sedu sembari memeluk dirinya sendiri.


Tak berapa lama, handphone nya tiba-tiba berbunyi berulang-ulang dengan intensitas yang sangat cepat. Jantung wanita itu memacu, dengan tangan gemetar dia mencoba membuka handphonenya dan menjerit saat melihat potret dirinya tanpa sehelai benangpun terpampang di laman internet. Dengan gusar dan tangan gemetar, dia mencoba menghapusnya namun dia sendirian tidak mampu melawan ribuan jari yang langsung menyebar fotonya secepat kilat.


Wanita itu langsung berteriak dan melempar handphonenya. Dia ketakutan, kedua tangannya menjambak rambutnya dan dia menggeleng cepat. Tidak, itu bukan aku. Itu bukan aku. Dia menangis tersedu-sedu. Bukan salahku kenapa mereka bisa mendapat fotoku seperti itu. Aku terpaksa, mereka memaksaku. Aku tidak salah. Aku tidak salah.


Wanita muda yang penuh putus asa, sendirian di atas gedung bertingkat dua puluh. Bisikan-bisikan iblis mulai menelusup ke dalam batinnya. Lompatlah, maka semua masalahmu akan berakhir dan selesai. Wanita muda yang kehilangan harapan berdiri dengan langkah kaki gemetar, dia menaiki palang pembatas dan berdiri di tepi gedung. Dia membentangkan tangannya, menutup matanya yang masih basah oleh air mata, dan...


Tidak ada gunanya aku hidup. Cacat yang ku buat terlalu dalam menyakiti hatiku. Semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak terlalu percaya pada mereka. Tuhan, jika di kehidupan selanjutnya aku terlahir kembali, tolong jangan berikan aku wajah rupawan dan hati yang terlalu lembut. Cukup jadikan aku sosok yang bisa membela diriku sendiri, itu sudah cukup.


Orang-orang yang sedang berjalan kaki sontak berteriak kencang –dan ngeri saat sesosok tubuh wanita muda terjatuh dari atas gedung, tergeletak dipenuhi darah segar.


*


“Apa kamu sudah melihat berita yang sedang trending sekarang?”


Liam terpaksa mengangkat telepon dari Noah saat dia sedang berbincang-bincang dengan Hanna di meja makan. Sarapan mereka harus terhenti, karena jika Noah sudah meneleponnya berkali-kali, berarti ada sesuatu yang perlu.


“Berita apa? Aku belum sempat menonton apa pun.” Sahut Liam santai.


“Angela, model baru yang masuk ke agensi kita satu bulan yang lalu ditemukan meninggal karena bunuh diri.”


“Apa katamu?” Liam tersentak. Dia mengenal Angela, gadis belia berusia dua puluh satu tahun yang memiliki semangat yang luar biasa, juga senyum yang amat manis. Dia ramah dan sopan pada senior dan Liam sempat bertemu dia di agensi beberapa kali.


“Foto-foto tanpa busananya tersebar di internet. Aku sudah meminta seseorang melacaknya, namun mereka bilang foto itu diunggah di banyak server yang berbeda di waktu yang bersamaan, seperti sudah diatur dan diperintahkan.”


Liam menelan ludahnya dengan susah payah. Dia mengurut keningnya, dan tiba-tiba dia langsung memikirkan Veronica. Satu-satunya yang bisa memutar balik keadaan adalah Veronica. Dia punya segudang ide menjijikkan dan jahat yang selalu berhasil pada orang lain, namun tidak bagi Liam.


“Maksudmu Veronica?”


“Seharusnya hanya Veronica yang sanggup berbuat seperti ini. Tapi ini hanya sekedar asumsi, aku harap kamu nggak menyebarkannya. Oh iya, aku sudah menanam sensor keamanan di sekitar rumah yang baru kamu beli. Sensor itu sudah diaktifkan dan tombol alarmnya akan berbunyi otomatis saat ada sesuatu yang mencurigakan bergerak mendekati rumah.”


“Thanks Noah, aku berhutang banyak padamu.”


“No problem. Aku juga sedang berusaha menebus kesalahanku pada Hanna, jadi anggap saja ini sebagai permintaan maafku. Oh iya, rumah juga sudah dibersihkan dan kalian bisa pindah hari ini. Kalau kamu butuh bantuan untuk packing barang-barang Hanna, kamu bisa memberitahuku.”


“Aku akan mengurus semuanya.”


Liam meletakkan handphonenya. Setelah diam dan berpikir sejenak, kematian Angela justru memberinya sebuah kartu as. Jika benar ini adalah ulah Veronica, maka dia bisa menyelidiki kasus ini saja sebagai alat untuk menjatuhkan Veronica. Kalian tunggu saja, aku akan benar-benar menemukan banyak bukti sehingga orang-orang akan muntah melihat wajah polos dan bak malaikat kalian selama ini.