Way Back To You

Way Back To You
Let's Get Married



“Kamu tunggu saja di rumah.” Liam menunduk memakaikan sepatunya.


Dia tampak gagah memakai setelan yang sangat pas dengan ukuran tubuhnya. Di dekat nakas, Hanna berdiri menatapnya sembari menyandarkan tubuhnya ke tembok. Dia terlihat khawatir, merasa bersalah dan sorot matanya dipenuhi kepedihan. Liam kembali tersenyum, mencoba meredam berbagai emosi yang memenuhi hati Hanna. Dia berdiri, merapikan kembali pakaiannya dan menggenggam tangan Hanna.


“Aku mungkin pulang agak lama. Aku sudah menelepon Lona dan memintanya menemanimu dan dia bilang dia akan datang beberapa jam lagi..” Liam memindahkan sejumput rambut Hanna ke belakang telinganya. “..Jangan menungguku untuk makan siang. Makanlah duluan dan jangan sampai bayi kita kelaparan..” dia mengelus perut Hanna. “Aku akan kembali padamu secepatnya.


Noah menghubunginya dan memberitahu tentang rapat dadakan yang diadakan oleh para pemegang saham dan juga para petinggi perwakilan beberapa brand yang mengontrak Liam. Perwakilan brand itu tidak semuanya hadir, masih ada beberapa yang belum muncul seperti sedang menunggu situasinya kondusif. Liam tahu jika dia akan menghadapi hal semacam ini sejak dulu saat Hanna memberitahu soal kehamilannya. Jadi kabar ini tidak terlalu membuatnya terkejut.


Liam hanya bisa diam saat melihat ada bayangan di sorot mata Hanna yang membuat rasa pedih menusuk ulu hati Liam. Tatapan Hanna jelas menunjukkan rasa takut, bukan takut pada teror lagi namun pada diri Liam sendiri.


“Hanna..” Liam membawa Hanna ke pelukannya. “Akhir-akhir ini, saat kamu mengalami banyak teror yang selalu mencelakaimu dan bayi kita, pernah terlintas dalam pikiranku jika aku menyesal sudah masuk dalam hidupmu. Bukan karena apa yang kita sudah lakukan, namun aku menyesal karena kehidupanmu porak-poranda setelah bersamaku. Tapi kemudian aku berpikir, nggak ada gunanya aku menyesal dan aku nggak seharusnya menyesal. Bagiku kamu adalah takdir, jadi alih-alih menyesal, aku memilih menjalani semuanya bersamamu.”


Dia melepas pelukannya, menatap lembut wajah Hanna yang mulai meneteskan air mata. “Jadi aku ingin kamu melakukan hal yang sama..” Dia menghapus air mata Hanna dengan ibu jarinya. “Jangan pernah menyesal Han. Ayo kita lalui semua ini berdua, bersama. Kita pasti bisa.”


Hanna mendesah lirih, menganggukkan kepalanya dengan cepat pertanda dia setuju. “Aku nggak pernah menyesal mengenalmu.” Sahut Hanna.


Sebuah ciuman hangat yang singkat mendarat di bibir Hanna sebelum Liam melambaikan tangannya. Hanna menatap Liam dari ambang pintu, dan sebelum Liam masuk ke dalam mobilnya, dia berteriak memanggil Liam.


“Liam..” Hanna menatap Liam dengan ekspresi yang sangat serius. “Setelah ini semua selesai, let’s get married.”


Liam tertawa kecil. “Aku mungkin sudah bangkrut dan nggak punya uang untuk biaya pernikahan kita.”


“Aku akan menanggung semuanya. Aku masih punya tabungan, jadi kamu nggak perlu khawatir.”


Liam mengangguk sekali lagi. “Baiklah. Aku mengandalkanmu, calon isteriku.”


Hanna menatap kepergian mobil Liam hingga kendaraan itu menghilang dari pandangannya. Dia menghembuskan nafasnya dalam. Liam, semoga saja kamu mendapatkan hasil yang kamu inginkan. Dan jika itu semua tidak sesuai dengan yang kamu inginkan, jangan khawatir, aku akan ada bersamamu melalui semuanya.


Liam melangkah memasuki ruang tempat diadakannya konferensi pers tanpa merasa terbeban sedikitpun. Dia sudah meyakinkan diri walau memang harus mengakhiri kariernya sebagai model, tidak masalah. Dia masih bisa mengandalkan profesi dosennya, atau menimbang tawaran Papa Antonio Andrews untuk mengambil alih perusahaan. Semuanya masih bisa dipertimbangkan dan Liam tidak akan jatuh begitu saja.


Suasana ruangan yang penuh keributan mendadak senyap saat Liam muncul. Noah yang sudah kehabisan akal menghadapi semua orang itu bernafas lega saat melihat Liam. “Akhirnya kamu datang juga.” Bisik Noah pelan.


Liam tidak menggubrisnya. Dia membuka masker dan berdiri di depan semua orang-orang penting di ruangan itu dan juga para pemburu berita yang beberapa diantaranya sangat mengenal Liam. Liam yang meminta konferensi pers dilakukan dan meminta mereka untuk meliput secara langsung apa yang akan dia katakan. Dia hanya akan bicara sekali, jadi setelah mengucapkan kata-katanya, Liam akan pergi.


Langkah pertama yang harus dia lakukan adalah minta maaf tentu saja. Dia mundur selangkah, lalu membungkukkan tubuhnya. Bagaimana pun juga dia sudah merusak ekpekstasi tinggi dari mereka semua dan dia patut disalahkan.


“Saya minta maaf sudah mengecewakan Bapak-Ibu semuanya yang hadir di sini, atau pun yang belum hadir. Saya, Liam Andreas atau Hazer mengucapkan maaf sedalam-dalamnya untuk semua hal yang sudah saya lakukan.”


“Saya akan membuka sedikit rahasia s0paya pada kalian semua tentang jati diri saya yang sebenarnya. Saya adalah anak yang diadopsi oleh seorang duda bernama Antonio Andrews saat usia saya delapan tahun. Sejak kecil, saya dipenuhi oleh luka masa lalu dan dendam yang tidak bisa sembuh. Saya membenci Ibu kandung saya karena sudah menelantarkan saya. Setelah berpuluh-puluh tahun hidup dalam luka batin, seorang wanita bernama Hanna Amoeretta muncul dalam kehidupan saya..”


.


“Narendra..Hei, sayang.. Lihat berita sekarang ini. Dia..dia mengatakan nama Hanna puteri kita. Ayah bayi Hanna adalah dia, memang dia...”


Eliana berteriak di tengah-tengah acara siaran live yang disiarkan di televisi. Suaminya, Narendra tempak tergopoh-gopoh muncul dari dapur dan duduk di samping Eliana, menonton siaran live dengan seksama.


.


“..Hanna adalah wanita yang sangat saya cintai. Dia mengubah kehidupan saya menjadi lebih baik dan saya menjadi mengenal apa yang namanya cinta dan komitmen. Dari dia saya belajar untuk merelakan apa pun yang sudah hilang dari masa kecil saya dan membuat lembar cerita yang baru versi diri saya sendiri dan wanita yang saya cintai. Saya mengerti jika dalam hidup ini akan ada yang namanya ikatan darah, dan saya mendapatkannya dari dia dan bayi dalam kandungannya. Ya, wanita yang saya cintai memang sedang mengandung anak saya dan saya memilih untuk bertanggung jawab secara penuh. Saya tidak akan mengizinkan anak saya mengalami hal pahit yang dulu saya alami, tumbuh tanpa kasih sayang orang tua..”


.


“Anak tak tahu diri..”


Laki-laki paruh baya itu menggenggam erat remote di tangannya sambil menatap layar televisi dengan gamang.


“Bisa-bisanya dia menutupi hal bahagia seperti ini dariku selama ini. Memangnya dia tidak menganggapku lagi Papa nya? Memangnya dia sudah bisa hidup sendiri tanpa Papa nya?”


Antonio Andrews berdiri. “Alex..” dia memanggil supir pribadi keluarganya. “Siapkan mobil. Kita akan berangkat menjemput menantuku dan cucuku.”


.


“Dan juga saya tidak lupa mengucapkan maaf yang terbesar pada fans yang mendukung karier saya dari awal hingga detik ini. Hazer bukan apa-apa tanpa kalian semua. Terimakasih untuk semua tenaga, waktu, dan juga dana yang kalian keluarkan untuk Hazer. Saya tahu jika saya sangat mengecewakan kalian, namun saya akan memilih kehidupan yang benar-benar saya inginkan dan saya yakin kalian juga setuju. Jika kalian sudah menemukan kebahagiaan kalian di depan mata, maka jangan abaikan dan genggamlah dengan erat dan jangan sampai terlepas, karena mungkin jika kalian melewatkannya begitu saja, kalian tidak akan pernah menemukannya lagi.”


.


Air mata Hanna mengalir dengan deras mendengar apa yang dikatakan Liam. Di depan layar televisi raksasa itu dia menangis sesenggukan, menyadari betapa besar rasa cinta Liam padanya dan bodohnya dia masih sempat meragukannya. Namun ini semua sudah cukup menjadi bukti jika Liam sangat mencintainya dan Hanna tidak sabar untuk menunggu Liam kembali. Dia ingin mengatakan pada Liam jika dia juga mencintai Liam.


.


“Untuk semua kerugian yang saya timbulkan baik pada brand maupun pada agensi, saya minta maaf sebesar-besarnya. Saya akan memenuhi tanggung jawab saya, dan bahkan jika industri ini tidak lagi menginginkan saya, saya bersedia. Semua hal berkaitan dengan kompensasi yang harus saya penuhi, Bapak-Ibu bisa mendatangi manager saya..” Dia melirik Noah yang tersenyum padanya, seolah-olah dia sedang bangga mendengar semua yang dia ucapkan.


“..Manager saja akan membantu Bapak-Ibu untuk membahas semua hal yang berkaitan tentang kontrak. Sekali lagi saya minta maaf..” Liam kembali membungkuk. “Saya sudah mengecewakan kalian semua.”