Way Back To You

Way Back To You
Dia Tidak Boleh Menyentuhku Lagi



Hanna, aku akan bertanggung jawab pada bayi dalam kandunganmu.


Aborsi? Tidak akan, kita akan membesarkan bayi itu bersama.


Jadi single parent? Itu juga hal baik, aku akan menjadi ibu angkatnya.


Hanna, aku merelakanmu untuk Liam.


Bayi itu adalah bayiku, aku datang untuk mengklaimnya.


Aku pikir kita harus berpisah dulu, setelah lahir bagaimana kalau kita melakukan tes DNA?


Tolong jangan sakiti aku.


Hanna


Hanna


Hanna


Hanna mendengar sayup-sayup semua suara orang-orang yang sangat dikenalinya, berputar-putar di otaknya. Ada air mata, ada tawa, ada pertengkaran, ada emosi, ada bahagia. Semuanya tergambar di sana dengan jelas.


Perlahan Hanna membuka matanya setelah semua memori yang tersimpan dalam otaknya kembali di reka ulang dalam bayangannya. Matanya mengerjap, dia siaga seketika saat dia menyadari dia tidak berada di kamarnya. Dia menggeser kepalanya menatap infus yang menggantung tersambung ke tangan kanannya.


Kembali Hanna memejamkan mata, lalu dia akhirnya sadar kenapa dia bisa berakhir di sana. Hanna memegang lehernya yang masih sedikit sakit saat disentuh. Jadi aku masih hidup? Tapi bagaimana dengan bayiku? Apa dia selamat?


Setelah mengumpukan kekuatannya, dia mencoba duduk. Hanna menelan ludah saat dia tidak menemukan siapa pun dalam ruangan tempatnya di rawat. Sayup-sayup dia mendengar suara ribut-ribut dari luar. Suara Jhon dan Lona. Apa yang terjadi? Tak lama dia mendengar suara pintu di banting dan ceklikan kunci. Hanna menunggu dengan cemas sementara detak jantungnya mulai berdentum tak karuan.


“Han..” Lona muncul dari balik tembok.


Hanna merebahkan kembali tubuhnya ke bantal, merasa lega pada akhirnya Lona yang menemaninya di sana. “Kamu sudah sadar? Kamu baik-baik saja?”


Dia tidak peduli pada dirinya, entah keadaannya baik atau tidak. Bayinya. Hanya bayinya yang perlu dia ketahui keadaannya sekarang. “Di mana bayiku? Bagaimana keadaannya?”


Lona tersenyum pada Hanna namun air matanya jatuh. Dia mengelus wajah Hanna. “Dia masih ada di tubuhmu. Dia benar-benar kuat, sama sepertimu.” Isak Lona.


“Jadi dia baik-baik saja?”


Lona mengangguk. “Anak itu baik-baik saja. Dia manusia yang sangat hebat.”


Syukurlah, Hanna tersenyum kaku. Tidak ada kabar yang lebih mengesankan daripada ini. Bayinya masih ada bersamanya, masih tumbuh dan berdetak di dalam dirinya. Mereka masih menyatu bersama. Hanya itu kabar yang benar-benar ditunggu oleh Hanna.


“Dokter bilang setelah kamu sadar, mereka akan melakukan USG lagi dan kamu bisa menyaksikannya langsung.”


Hanna mengangguk lembut. Di hadapannya, Lona masih terus menangis –bahkan sesenggukan. Lona menggenggam tangan Hanna dengan erat. Dia tidak bicara apa-apa namun buliran bening itu tak henti-hentinya menetes dari kedua bola matanya.


Lona ketakutan. Dia sangat ketakutan sampai-sampai dia tidak tahu harus melakukan apa-apa. Yang bisa dia lakukan hanya berdiam diri di sisi Hanna sebelum bajingan bernama Jhon itu muncul. Lona tidak perlu memberitahu Hanna soal Jhon dan kegilaannya itu. Hanna perlu menenangkan diri dan Jhon tidak seharusnya merusak ketenangan hidup Hanna.


Itu adalah kebohongan Hanna kesekian kalinya. Dia tidak baik-baik saja. Semua hal yang dialaminya ini membuat dia ketakutan setengah mati. Cara orang itu meraih lehernya masih terus membayang di otaknya. Hanna memejamkan mata, menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk mengusir bayangan itu.


“Sudah berapa lama aku tertidur?” Hanna berusaha mengalihkan kesedihan Lona.


“Sekarang pukul lima sore..” Lona menatap jam tangannya, masih sesenggukan. “..berarti sekitar dua puluh dua jam..”


Sahabatnya itu masih mengatur nafasnya. Dia tersengut-sengut, kepalanya masih menunduk dan tangannya sibuk mengelus telapak tangan Hanna. Hanna mendesah. “Lona..” Hanna mengangkat kepala Lona sehingga dia bisa menatap matanya yang sembab dan bengkak. “Aku akan lebih menjaga diriku, tolong berhentilah menangis.”


“Aku minta maaf Han..” Buliran bening itu kembali jatuh. “Aku sudah memikirkan ini cukup lama. Semua yang kamu alami ini terjadi karena aku mengajakmu ke club malam waktu itu dan..”


“Cukup Lona..” Hanna tersenyum. “Aku nggak mau kamu membahas hal yang sudah terjadi di masa lalu karena itu nggak bisa berubah lagi. Kita nggak bisa kembali ke masa lalu, jadi buat apa terus membahasnya? Aku tahu ini benar-benar pelajaran yang sangat berarti buatku. Bayangkan, kehidupanku yang tenang dan damai mendadak penuh tantangan, bahkan beberapa kali nyaris mencabut nyawaku. Tapi aku masih bertahan, bayiku juga masih bertahan. Aku pikir, Tuhan memang sengaja mengizinkan ini terjadi padaku karena Dia yakin aku mampu melewatinya.”


Begitu cepat semua tutur kata itu meluncur dari mulut Hanna, padahal cukup dia sendiri yang tahu bagaimana keadaan di lubuk hatinya. Meyakinkan seseorang memang mudah, namun menjalaninya sesuai dengan apa yang dikatakan itu yang sangat sulit.


“Jangan menangis lagi kalau kamu nggak mau melihatku menangis..” ujar Hanna lagi.


Lona mengangguk –akhirnya. “Aku akan memanggil dokter.”


Setelah memeriksa kembali tanda-tanda vital Hanna, juga melakukan USG dengan disaksikan Hanna, dokter menyatakan kondisinya baik-baik saja begitu pun bayinya. “Bayinya sehat..” Dokter menggerakkan transduser di perut Hanna.


“Usianya sembilan belas minggu, bobotnya normal sekitar dua ratus empat puluh gram dan panjangnya juga normal ya, sekitar lima belas senti. Semuanya bagus, detak jantung kuat..” Hanna mendengar kembali detak jantung bayinya dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak terharu. “Baiklah. Semuanya sehat dan bagus. Ibunya juga baik-baik saja. Vitamin terus dilanjutkan diminum dan jangan lupa menjaga pola makan yang sehat.” Dokter kandungan tersenyum pada Hanna.


Setelah dokter dan perawat keluar, Hanna menatap jauh ke luar lewat jendela kamarnya. Angin semilir menerbangkan tirai putih yang melekat di jendela dan membawa masuk keharuman kelopak bunga mawar yang sedang berbunga di taman dekat kamar rawatnya.


Ngomong-ngomong soal bunga, tiba-tiba Hanna kembali teringat dengan rumah masa depannya bersama Liam. Saat ini bunga-bunga di sana juga pasti masih bermekaran dan menciptakan keharuman yang luar biasa. Selama di sana, setiap sore Hanna akan menyempatkan waktunya menghirup semua aroma wangi alami itu, menyerapnya dan menyimpannya sebagai sumber hormon serotonin dalam tubuhnya.


Tidak. Hanna menggelangkan kepalanya. Kenapa aku tiba-tiba mengingatnya lagi? Hanna... dia mendesah. Ingat jika Liam sudah mencampakkanmu jauh-jauh dan kamu tidak seberharga itu untuknya. Jika kamu berharga, dia pasti kembali padamu atau paling tidak dia ada di sini saat ini di saat kamu sedang berjuang mempertahankan nyawamu.


Tapi lihat, jejaknya bahkan tidak ada di sini. Buat apa kamu mengharapkan dia lagi? Cukup. Sudahi kesahmu dan mimpimu dengannya dan hiduplah dalam realita. Dia tidak membutuhkanmu dan kamu juga tidak membutuhkannya. Kamu bisa melanjutkan kehidupanmu sama seperti dia yang juga bisa melanjutkan kehidupannya tanpamu.


Dia hanya seorang laki-laki brengsek.


“Na, aku ingin pulang saja.” Hanna memohon pada Lona.


“Tapi Han..”


“Aku nggak nyaman berada di sini.”


“Baiklah..” ujar Lona walau dia tampak keberatan. “Aku akan temui Dokter dan mengurus adminstrasimu dulu.”


Dia tidak ingin berada di rumah sakit karena Hanna merasa keamanannya tidak cukup terjamin di sini. Dia ingin pulang. Setidaknya jika dia di rumah, dia sudah mengenali setiap sudut rumahnya itu dan juga para tetangganya. Akan lebih mudah menghadapi bahaya jika dia berada di sana –atau kalau bisa tidak ada bahaya lagi.


Setelah tiba di rumah, dia langsung istirahat ke kamar sementara Lona menyiapkan makan malam mereka berdua. Hanna merenung. Terlalu banyak hal yang dia alami akhir-akhir ini dan semuanya sangat membahayakan nyawanya dan bayinya.


Apa karena aku lemah? Ya, aku pasti terlihat mengenaskan di mata siapa pun itu pelakunya sehingga dia menyerangku terus menerus. Tapi aku tidak bisa begini selamanya. Setelah ini, aku tidak akan mengizinkan siapa pun menyentuhku dan bayiku lagi, tidak seujung kuku pun.