
Hanna menyusuri jalanan yang tergenang air menuju cafe tak jauh dari rumah menggunakan payung. Gerimis sedang turun, tidak terlalu deras. Tadi malam ada badai besar dan rumah mengalami pemadaman listrik hingga pagi ini. Tadi malam Liam juga tidak pulang. Beruntung Hanna ditemani oleh Lona dan Bobby datang menyusul sekitar pukul sebelas malam.
Aku nggak bisa menemukan Liam di mana pun.
Itu yang dikatakan oleh Bobby. Jadi semalaman Hanna pun tidak bisa tidur karena memikirkan Liam. Liam tidak bisa dihubungi. Karena dia keluar dari rumah dengan buru-buru –dan malamnya dia mabuk, mungkin Liam tidak sempat mengisi daya handphonenya. Hanna khawatir dengan keselamatan Liam, harap-harap cemas karena kondisi cuaca yang sedikit ekstrim. Semoga saja Liam sedang berada di suatu tempat yang hangat dan aman.
“Steve, hai..” sapa Hanna.
Dia melipat payungnya, menyenderkannya di dinding cafe lalu duduk di kursi yang sudah disediakan Steve. Detektif itu tengah membaca sesuatu dari handphonenya dan memberi kode pada Hanna untuk menunggu sebentar. Mungkin itu urusan yang sangat penting. Di sudut bibirnya terdapat noda putih, dugaan Hanna berasal dari krim cake yang dimakannya. Hanna menoleh ke luar cafe, ke arah pejalan kaki yang ramai memadati jalanan.
Di mana kamu sekarang Liam? Apa kamu baik-baik saja?
“Sorry Han. Dari klien.”
Hanna mengangguk, memberi gestur tidak keberatan dengan kesibukan Steve.
“Bagaimana? Apa hasil tes paternal sudah keluar?”
Hanna tidak sabar lagi untuk mendengar semua kebenaran tentang masa lalu Liam. Saat Steve mengirim pesan padanya untuk bertemu, Hanna tahu jika dia akan membicarakan tentang Leanor dan Liam. Tidak ada topik lain yang lebih penting dari hal itu.
“Kamu minum saja dulu..” Steve menunjuk pada cappucino yang sudah tersedia di meja. “Pembicaraan kita mungkin akan sangat panjang.”
“Maaf Steve, tapi aku nggak minum minuman seperti ini..”
“Astaga, aku lupa kalau kamu sedang mengandung. Maaf Han..” Steve buru-buru menyingkirkan minuman itu dari depan Hanna. “Mau ku pesankan sesuatu? Jus atau minuman lain?”
“Nggak usah Steve. Aku ingin mendengar hasil tesnya langsung.”
“Seandainya bajingan itu hadir juga di sini, aku bisa memberitahunya langsung apa yang sudah terjadi. Tapi dia malah pergi entah kemana.” Gumam Steve.
Bajingan yang dimaksud olehnya adalah Liam. Steve memang merengut pada Hanna lewat telepon karena dia tidak bisa menghubungi Liam. Bahkan pesannya pun tidak terkirim. Steve menggeser minuman dan makanan yang sudah tersaji di meja. Dia meletakkan satu buah amplop cokelat besar dan menyodorkannya pada Hanna. “Aku harus mengakui, jika pepatah yang mengatakan feeling seorang wanita itu sangat akurat adalah benar."
“Maksudmu Leanor memang bukan Ibu kandung Liam?”
Steve mengangguk. “Baca saja.”
Hanna membuka map yang dikeluarkannya dari dalam amplop. Dia membaca lembar demi lembar kertas yang ada dalam map, dan tak sengaja mengucapkan Thank God setelah melihat persentase akurasi DNA Liam dan Leanor. Ada kelegaan dalam hati Hanna karena dia tahu Leanor, wanita itu bukan bagian dari kehidupan Liam. Tidak di masa lalu, sekarang, atau pun di masa depan.
“Syukurlah..” desis Hanna. “Ini kabar yang terbaik yang pernah ku dengar Steve, terimakasih banyak.”
“Itu adalah tugasku.” Steve memotong cake di piring menggunakan sendok. “Tapi..” Dia me-lap mulutnya menggunakan tangannya langsung. “Bukankah kamu penasaran kenapa Leanor ini mendatangi Liam?”
Hanna mengernyit. “Masalah uang?” tebaknya.
“Apa?” wajah Hanna memerah, matanya melotot tak percaya.
Steve mengangguk pelan. Dia menahan nafasnya dan raut wajahnya berubah sayu. “Ceritanya sedikit menyakitkan. Aku bahkan nggak yakin apakah harus memberitahu Liam atau tidak.”
“Ceritakan padaku!”
“Jadi... wanita yang melahirkan Liam adalah korban pemerkosaan, masih berusia delapan belas tahun saat itu. Dia adalah siswi sekolah menengah yang baru saja pulang dari sekolah, dan para biadab itu melecehkannya di antara rimbun pohon Ek di hutan yang tak jauh dari rumahnya...”
Nafas Hanna tertahan. Ada sesak yang mengikat dadanya hingga dia terasa sulit untuk mencari udara. Kedua bola matanya berkaca-kaca..
“Selain hamil, wanita itu menderita beberapa komplikasi pada tubuhnya karena dia juga terluka parah karena kejadian itu. Dan karena dia tidak kuat, dia pun memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri setelah seminggu melahirkan Liam.”
*
Ibumu, Catherin Wilson adalah wanita yang sangat periang dan ramah. Aku mengenalnya, karena dia dan orang tuanya beberapa kali menyumbang ke panti asuhan. Lalu tiba-tiba Cathy, begitu aku memanggilnya, menghilang bagai ditelan bumi. Saat itu aku tidak begitu mengkhawatirkannya karena dia adalah siswi di tahun akhir sekolah menengah.
Aku pikir dia mungkin sedang sibuk mempersiapkan ujian akhir. Hingga beberapa bulan kemudian aku mengetahui dia diperkosa oleh tiga orang laki-laki yang mabuk saat sedang berjalan menuju rumah. Dia hamil, dan sempat menginap di rumah sakit beberapa bulan karena komplikasi yang dia alami. Setelah melahirkanmu dalam keadaan yang masih kacau dan depresi, dia mengalami baby blues lalu memilih mengakhiri nyawanya sendiri.
Sebelum bunuh diri, dia meminta seseorang untuk mengantarkanmu ke panti asuhan tempat ku berada dan menitipkan sepucuk surat. Kalau bukan karena surat ini, aku tidak akan tahu jika kamu adalah anak Cathy.
Maaf Liam, aku juga dulu begitu menyiksamu. Aku bersikukuh ingin mempertahankanmu di dalam panti asuhan, dan itu sebabnya aku meminta anak-anak itu menindasmu. Akulah pelakunya, akulah yang salah. Aku pantas kamu benci, namun aku melakukan itu hanya karena ingin menjalankan pesan Cathy.
Hingga suatu malam aku melihatmu menangis sesenggukan di balik selimut, aku sadar aku egois. Malam itu aku berjanji akan mencarikanmu seseorang yang bertanggung jawab pada hidupmu.
.
Kata-kata Celine berdengung di telinga Liam. Kemarin sore, saat dia menghabiskan waktu bersama Celine, akhirnya wanita itu memberitahu semua hal kebenaran tentang dirinya dan masa lalunya. Dan mengingat bagaimana proses dia hadir di dunia ini membuat bulu kuduknya merinding. Nafasnya tersekat dan air matanya mengalir deras.
Dia tidak menyangka, jika dia adalah anak hasil pemerkosaan.
“Sial..” Liam memukul kemudinya berkali-kali, lalu setelah dia lelah –dan amarahnya masih berkobar, dia menundukkan kepalanya.
Kendaraannya masih tertahan di jalan bersama beberapa kendaraan lain. Dari info yang dia peroleh, di depan mereka ada tebing longsor dan memutus jalan utama menuju luar kota. Dan sialnya, di sanalah Liam sekarang, tertahan, tidak bergerak, menahan dingin dan lapar. Dia sengaja mematikan mobilnya demi menghemat bahan bakar dan yang membuat penderitaannya lengkap adalah handphonenya mati total tanpa daya.
“Hanna pasti khawatir padaku..” gumamnya di tengah-tengah kepedihan hatinya setelah mendengar cerita Celine. “Seharusnya aku nggak meninggalkannya begitu saja.”
Liam menatap sebuah amplop putih dengan liris merah di sisinya yang terlihat sangat usang. Dia masih belum membaca isinya apa karena dia belum siap. Ibunya, Cathy menitipkan sepucuk surat pada pengurus panti dan ada catatan jika mereka harus menyerahkan surat itu pada Liam saat usianya sudah tujuh belas tahun.
Mungkin Ibunya mempertimbangkan sisi kedewasaannya dan kematangannya dalam mengelola emosi, itu sebabnya dia mengatakan usia tujuh belas. Namun Liam sudah meninggalkan panti asuhan sangat jauh dan tidak pernah kembali. Itu sebabnya surat itu tidak sampai padanya di usia yang ditentukan ibunya.
“Ibu pasti menderita sekali..” Liam menatap surat di tangannya. “Maaf Bu, seharusnya aku datang padamu lebih cepat. Selama ini aku menghujatmu, mengatakan jika kamu adalah wanita yang tidak bertanggung jawab. Namun ternyata akulah anak yang tidak bertanggung jawab. Kamu tidak egois, akulah yang egois. Bu, maafkan aku.”