Way Back To You

Way Back To You
Melawan Rasa Takut



“Kak Hanna...”


Gita dan Leo menerjang tubuh Hanna hingga dia nyaris terjengkang saat Hanna pertama kali menampakkan dirinya setelah kejadian malam itu. Hanna tahu berita tentangnya sudah tersebar ke mana-mana. Pak Hara juga ada di sana menyambutnya, menepuk pundaknya pelan. “Kamu baik-baik saja kan?”


Hanna mengangguk pelan. Semua anggota timnya di departemen keuangan juga berdiri menyambutnya, membuat Hanna terharu. Dia tidak menyadari jika dia teramat penting bagi mereka semua.


“Thank you semuanya, tapi aku baik-baik saja sekarang.” Ujar Hanna.


Setelah berbicara beberapa saat –Gita dan Leo masih menempel di lengannya, teman-temannya kembali ke meja masing-masing, menyisakan mereka bertiga. “Apa yang kalian lakukan?” Hanna berusaha melepas pelukan mereka dari tangannya.


“Gita, kamu menangis?” Hanna berusaha melepas Gita. Namun gadis itu malah merengut seolah-olah dia malu karena ketahuan menangis. Hanna tersenyum kecil, mau tak mau dia harus ke ruangannya dengan menyeret bocah yang masih menempel di kedua tangannya.


“Sudah ku bilang aku baik-baik saja..” Hanna mengelus punggung Gita yang tangisnya makin menjadi setelah mereka berada di ruangan Hanna sementara Leo duduk mematung di kursi.


“Maaf Kak..” Gita tersedu-sedu.


“Maaf kenapa?”


“Kami..gagal menjaga Kakak..”


Hanna menarik nafasnya dalam-dalam. Dia menarik tangan Leo, memeluk keduanya sekaligus dalam pelukannya dan berusaha menenangkan mereka. “Aku baik-baik saja sekarang.”


“Mulai sekarang..” Gita melepas pelukannya. “Kami mau...pindah ke ruangan Kakak. Kakak nggak bisa pergi...tanpa salah satu dari kami dan Kakak nggak boleh lembur lagi.” suara Gita tersendat-sendat.


“Kenapa nggak sekalian pindah ke rumahku saja?”


“Memangnya boleh? Kapan kami boleh pindah?” seru Leo.


Hanna berdecak, pura-pura memukul kepala Leo. “Aku bercanda.” Sungut Hanna.


“Aku akan bikin perhitungan dengan Pak Bobby nanti..” Gita menghapus air matanya. “Istri sendirian ditinggal di kantor malam-malam begitu, kenapa dia nggak becus jadi suami?” Gita menggerutu.


“Betul.. Pak Bobby keterlaluan...”


Hanna mencoba memperingatkan keduanya saat Bobby dan Liam berdiri di belakang mereka.


“Apa? Jangan mentang-mentang Pak Bobby itu suami Kakak lalu Kakak bisa seenaknya membenarkan sikapnya yang mengabaikan Kakak..” teriak Gita.


“Gita..” Hanna kembali mencoba menghentikan pembicaraan keduanya.


“Kakak pasti cinta buta sama Pak Bobby, iya kan? Suami salah begitu masih saja dibela. Nanti aku juga akan bikin perhitungan pada Pak Bobby.” Leo malah ikut-ikutan.


“Baiklah..” Hanna mengangguk setuju. “Katakan saja sekarang mumpung orangnya ada di belakang kalian.”


“Wuahh..” Gita dan Leo melompat bersamaan, lalu bersembunyi di belakang tubuh Hanna.


“Ma..Maaf Pak Bobby. Kami hanya bercanda..."


"Maksudnya serius sih, tapi nggak bermaksud seperti itu..” seru Gita dari balik punggung Hanna. “Hai Hazer..” Gita masih menyempatkan diri menyapa Liam, membuat Liam dan Bobby tidak bisa menahan senyum.


“Benar.. Pak Bobby memang salah, tapi kami nggak akan membuat perhitungan kok Pak.” Tambah Leo.


Hanna tertawa kecil melihat tingkah keduanya. Liam dan Bobby saling berpandangan ketika mereka menyadari kalau Hanna tertawa setelah malam mencekam itu membuatnya nyaris tanpa ekspresi.


“Baiklah, karena suasana hati ku sedang baik, kalian tidak akan mendapat hukuman. Malah aku berterima kasih sekali pada kalian karena sudah membuat suasana hati Hanna membaik.”


“Wah, syukurlah. Kalau begitu bagaimana kalau...”


“Kalian ke ruangan kalian sana.” Hanna terpaksa mengusir keduanya sebelum pembicaraan mereka semakin jauh.


"Kak Han.."


"Keluar!" seru Hanna dan keduanya terlihat menggerutu.


Setelah Gita dan Leo meninggalkan ruangannya, Hanna menatap keduanya bergantian. “Ada apa?”


“Kamu yakin langsung masuk kerja Han?” Bobby mendekatinya. “Kamu bisa istirahat di rumah dulu sampai situasinya aman.”


“Kapan situasinya aman?” Hanna menatap keduanya. “Sudahlah Bob. Aku nggak mau terus menerus hidup dalam kejaran bayang-bayang teror yang mungkin mendatangiku setiap waktu. Aku akan menghadapinya sendiri.”


“Tapi Han..”


“Liam, kamu harus mendukungku.” Sela Hanna cepat. “Kalian harus mendukungku.”


Setelah berdebat cukup panjang dengan Liam dan Bobby di ruangannya, akhirnya dua laki-laki itu meninggalkan ruangan Hanna dan perdebatan mereka tentu saja dimenangkan oleh Hanna. Memang Hanna sudah bertekad, apa pun yang terjadi dia tidak akan bersembunyi lagi. Rasa takut itu harus di lawan, bukannya dibiarkan semakin membesar.


Hanna memutar-mutar fountain pen yang didapatkannya dari Lona sebagai hadiah atas kenaikan pangkatnya beberapa tahun lalu. Mata Hanna menyipit, di kepalanya ada banyak hal berputar-putar. Dia teringat dengan perkataan Liam beberapa hari yang lalu. Siapa pun pelakunya, dia pasti orang yang bekerja di kantor yang sama dan ahli menggunakan komputer.


Tapi siapa? Hanna diam-diam melirik semua staffnya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Apa mungkin pelakunya berada di antara mereka? Tapi tidak mungkin.


“Kenapa Han?”


“Tolong kirim data pribadi semua orang yang bekerja di kantor kita ini ke emailku.”


“Buat apa? Kamu membutuhkannya untuk apa?”


“Tenang saja, informasinya aman dan aku nggak akan menyebarkan apa pun. Aku hanya ingin mengkonfirmasi sesuatu.”


“Nggak semudah itu Han. Kamu kan tahu kalau data pribadi kita confidential..”


“Aku tahu. Tapi aku benar-benar membutuhkannya.”


“I'm sorry, tapi aku nggak bisa memberikannya padamu."


“Baiklah.” ujar Hanna.


Hanna tidak memaksa karena dia tahu itu permintaannya itu sedikit tidak masuk akal. Hanna menarik nafasnya dalam lalu mengetik sesuatu di handphonenya.


Bobby, bantu aku.


Apa yang bisa ku bantu?


Aku perlu data pribadi semua karyawan di perusahaan ini. Kamu bisa membantuku mendapatkannya, kan?


Baiklah,nggak masalah. Aku akan email ke kamu datanya nanti.


Hanna meletakkan handphonenya. Baiklah Han, ayo kita mulai pertarungan kita.


*


“Ada yang ingin ku beritahu padamu.”


Lona menempel di tubuh Hanna dengan wajah penuh senyuman saat dia sedang bersantai menonton National Geographic yang sedang tayang. Hanna mengamati wajah Lona dengan kening yang mengerut. “Jangan dekat-dekat denganku..” Hanna mendorongnya.


Dia sedang hamil, perutnya semakin membesar dan dia gampang gerah. Suhu tubuh Lona akan membuatnya kepanasan dan pastinya mengganggu waktu menontonnya.


“Han... Dengarkan aku dulu..” bujuk Lona.


“Kamu mau mengatakan kalau kamu dan Bobby pacaran?” tebak Hanna.


“What?” Lona mendadak mematung. “Kamu tahu dari siapa?” dia memukul lengan Hanna.


“Pacarmu sudah mengatakannya sebanyak..” Hanna menghitung menggunakan jarinya. “ Lima atau enam kali sepanjang satu hari ini sampai aku bosan mendengarnya.” gerutu Hanna.


“Tapi..” Hanna meletakkan remote, meraih kedua telapak tangan Lona dalam genggamannya. “Aku bahagia kamu dan Bobby pacaran.” Dia tersenyum.


“Really? Kamu juga percaya padanya?”


Hanna tersenyum."Aku percaya padamu.”


**


Beberapa hari setelah Hanna masuk kantor, situasinya masih aman namun Hanna tetap siaga. Liam, Bobby dan Lona melarangnya untuk lembur dan Hanna juga tidak ada rencana untuk lembur sekalipun pekerjaannya masih menumpuk –terlebih karena dia sering absen beberapa hari terakhir.


Setelah jarum jam menunjukkan angka enam sore, Hanna mengunci ruangannya. Masih ada beberapa orang staff yang tinggal di sana mengejar laporan, salah satunya Leo. “Kamu lembur?” Hanna menyapa Leo saat dia akan pulang.


“Nggak Kak, takut soalnya. Paling sebentar lagi aku pulang juga.” Ujar Leo.


“Baiklah..” Hanna tersenyum. Dia merogoh tasnya saat handphonenya bergetar, terkejut saat Pak Hara menghubunginya. Managernya itu sedang berlibur, buat apa dia menelepon Hanna?


“Ya Pak Hara..”


“Hanna, maaf sekali saya mengganggumu. Kamu masih di kantor?”


“Masih Pak. Ada apa?”


“Kamu masih punya soft copy laporan keuangan perusahaan yang akan kita akuisisi? Tolong email ke saya ya, ada yang harus saya double cek karena Pak Bobby meminta data fix nya tiba-tiba.”


“Baik Pak, akan saya kirim.”


Hanna terlalu malas jika harus kembali ke ruangannya karena dia harus mengeluarkan kunci lagi. Dia melihat komputer Gita dan memutuskan menggunakannya. Hanna tersenyum melihat wallpaper komputer Gita yang cukup eksentrik lalu tanpa menunggu lama dia mengirim email yang dimaksud, setelah itu dia bergegas pulang.


Hanna berjalan hilir mudik di depan kantor sembari menunggu Liam datang menjemputnya. Ada beberapa hal yang cukup aneh yang dia temukan tentang seseorang yang mungkin adalah dalang dari semuanya ini, namun dia tidak begitu yakin. Dia masih perlu bukti yang lebih banyak sebelum menyimpulkan jika orang yang dicurigainya ini benar-benar pelakunya.


Liam tiba tak lama kemudian. Setelah itu mobil Liam melaju meninggalkan kantor dan tanpa mereka sadari sepasang mata yang memerah menahan kebencian sedang mengamati dari kejauhan.


Wanita murahan, aku akan membuat perhitungan denganmu secepatnya.