
“Menurutku malah bagus..” Lona menyesap minumannya.
“..dia bisa bertanggung jawab penuh atas dirimu, bukan hanya bayi itu.” lanjutnya.
Keduanya berada di cafe biasa yang mereka datangi. Hanna menyimak penuh apa yang dikatakan Lona, dan dia sedikit kurang memahaminya.
“Apa maksudmu bertanggung jawab penuh atas diriku? Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Hanna...” Lona melipat kedua tangannya di atas meja.
“...mau nggak mau, kalian kelak akan membentuk yang namanya keluarga. Ada Ayah, yaitu Liam, lalu Ibu, itu dirimu sendiri dan anak kalian. Menurutmu, jika kalian ingin membentuk keluarga yang utuh, bukankah kalian harus punya ikatan?”
Memang Hanna pernah membayangkan jika kelak dia dan Liam akan bersama, namun dia sama sekali tidak memikirkan arti ‘ikatan’ seperti yang disebutkan Lona. Dia pikir, bersama membesarkan anak sudah cukup.
“Kebersamaan kalian nggak akan bisa bertahan kalau nggak ada ikatan dan perasaan cinta dalam diri kalian masing-masing Han. Dari rasa cinta itulah akan muncul yang namanya komitmen. Bagaimana cara kalian menjaga komitmen, yaa, itu tergantung kalian nanti.”
Komitmen? Saling terikat? Rasa cinta? Benarkah sebuah keluarga memang wajib membutuhkannya?
“Ngomong-ngomong, aku bertemu dengan Bobby di club dua malam yang lalu.” Lona mengalihkan pembicaraan.
Dia tahu Hanna sedang menimbang-nimbang apa yang dia katakan. Mengalihkan pembicaraan cukup tepat agar dia tidak merasa terbebani.
“Aku pikir kamu sudah berjanji nggak akan pergi ke club lagi.” sungut Hanna.
“Teman-teman kantor mengajakku, jadi, yaa terpaksa.” Sahut Lona.
“Tapi bukan itu intinya. Aku menemukan Bobby mabuk berat, dan dia menyebut namamu. Apa akhir-akhir ini terjadi sesuatu antara kalian berdua?”
“Aku jujur padanya tentang kemungkinan kami bersama itu nggak ada alias nihil. Aku juga jujur kalau aku sudah bertemu dengan Ayah bayiku, jadi...aku menolaknya.”
Lona mengangguk-anggukkan kepalanya. Dugaannya tepat sekali, Hanna lah yang menyebabkan Bobby mabuk dan juga sakit.
“Saat aku bertemu dia, dia juga sedang demam dan pakaiannya agak sedikit lembab. Aku pikir mungkin dia kehujanan karena waktu itu hujan, kan?”
Memang. Bobby kehujanan, itu pasti. Hanna melihat sendiri bagaimana Bobby berlari di tengah hujan deras demi menghindari situasi yang tidak nyaman di antara mereka berdua. Tapi Hanna tidak menyangka jika dia akan langsung ke club, bukannya mengganti pakaiannya yang basah terlebih dahulu.
“Mau bagaimana lagi Na...” Hanna ikut melipat kedua tangannya.
“...aku nggak mungkin memberi dia harapan palsu. Lagipula sebenarnya sejak awal aku sudah menolaknya karena aku sama sekali nggak tertarik padanya. Namun dia yang bersikukuh mau dekat dengan ku terus, mungkin dia berpikir aku akan luluh padanya suatu hari nanti.”
“Walau aku kasihan padanya, namun keputusanmu sudah tepat.” Lona mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Lona.
“Dengan begitu dia bisa memulihkan dirinya lebih cepat. Itu hal yang bagus.”
*
“Hanna tunggu...”
Bobby setengah berlari menyusul langkah Hanna ketika dia nyaris saja masuk ke dalam lift. Hanna menoleh, menunggu dengan bimbang apa yang akan dilakukan atau dikatakan Bobby padanya. Sejak Hanna menolaknya, Bobby sedikit berbeda. Dia cenderung lebih diam namun tetap melakukan kegiatannya secara profesional.
Tadi ketika Hanna menggantikan Pak Hara mengantarkan laporan keuangan ke ruangannya, Bobby tersenyum padanya seolah-olah tidak pernah tejadi apa pun di antara mereka. Tapi Hanna tahu, dari sorot matanya Bobby masih bergulat dengan perasaannya. Itu sebabnya Hanna juga berusaha menjaga jarak dan mencari sejuta alasan untuk tidak bertemu Bobby.
“Ada apa?” Semoga kamu tidak akan mengatakan hal-hal yang membuatku semakin merasa bersalah padamu.
“Ahh, aku ingin meminta kontak sahabatmu, namanya...Lona bukan? Boleh?”
Lona? Untuk apa dia meminta nomor Lona? Aku pikir mereka tidak sedekat itu, tapi kenapa Bobby tiba-tiba mencari Lona? Tapi, syukurlah dia hanya meminta kontak Lona.
Ahh, waktu di cafe Lona sudah cerita kalau dia bertemu Bobby dan mungkin karena itu dia mencarinya.
“Baiklah.”
Hanna mengirim kontak pribadi Lona pada Bobby, setelah itu Bobby langsung kembali ke ruangannya. Tiba-tiba dalam kepala Hanna muncul sebuah ide gila. Bagaimana kalau aku menjodohkan Lona dan Bobby? Toh keduanya sama-sama sendiri, Lona juga baik, sama baiknya dengan Bobby. Tapi, kalau aku melakukannya, apa itu akan menyinggung perasaan Bobby?
Bobby meminta kontakmu dan aku memberinya.
Hanna mengirim pesan pada Lona. Saat dia sudah selesai mengirim pesan pada Lona, sebuah pesan baru masuk ke handphonenya. Hanna kira itu balasan dari Lona, namun ternyata pesan dari Liam.
Kamu di mana? Aku sudah di luar kantormu.
Hanna mengernyit. Bukankah dia bilang jika dia punya banyak fans yang mengaguminya dan juga reporter yang selalu standbye dengan kamera nya? Apa dia tidak takut jika ketahuan oleh mereka? Kenapa dia bisa berkeliaran seperti ini?
Nggak usah. Aku akan pulang sendiri.
Dijemput oleh Liam memang membuatnya sedikit merasa bahagia. Namun hanya memikirkan dampak yang ditimbulkan oleh para fansnya jika dia ketahuan menjemput Hanna membuat Hanna merinding ketakutan. Bagaimana kalau dia ketahuan lalu semua fansnya datang berbondong-bondong? Bisa dipastika Bobby akan memarahinya –atau mungkin memecatnya. Dan Hanna juga tidak suka kehidupan nya yang tenang dan nyaman akan terusik.
Aku sudah di bawah, sudah sampai sejak tadi. Kamu mau mengusirku?
Bukan mengusir, gerutu Hanna. Apa dia tidak paham dengan profesinya? Mungkin Liam sudah terbiasa dengan kerubungan orang-orang yang meminta tanda tangannya atau sekedar berfoto dengannya. Namun Hanna adalah seseorang yang tidak pernah mengalaminya.
Sebenarnya pikiran-pikiran itu berkecamuk dalam otak Hanna karena dia iseng mengetik nama Liam Andreas dalam laman internet tadi siang di komputernya. Dan ketika dia menekan tombol play pada salah satu video Liam yang terlihat berada di bandara –entah hendak pergi ke mana, ada berjuta-juta fansnya yang mengerubutinya, layaknya semut-semut yang bergulung dalam lautan gula. Membayangkan hal itu selalu membuat jiwa introvert Hanna tersiksa dan ketakutan.
Aku nggak mengusirmu. Tapi apa kamu yakin fansmu nggak mengenalimu atau kamu yakin nggak ada yang mengikutimu?
Hanna mendesah, menyandarkan tubuhnya di dinding lift. Hanna dan Liam punya dua kepribadian yang bertolak belakang. Hanna suka ketenangan, dan Liam suka ketenaran dan kebisingan –buktinya mereka bertemu pertama kali di club malam yang bising. Ucapan Lona sangat benar dan dia terus memikirkannya. Tidak mungkin mereka berdua bisa bersama hanya karena tanggung jawab pada anaknya. Setelah anak itu lahir, lalu apa? Kalau mereka tidak membangun perasaan mereka, bisa jadi semuanya selesai setelah bayinya lahir.
It’s okay.
Dari Lona. Hanna pikir tadi itu dari Liam makanya dia buru-buru menatap layar handphonenya. Kenapa dia lama sekali membalasnya? Apa dia marah? Atau, apa mungkin ada yang benar-benar mengikutinya?
Setelah keluar lift, Hanna langsung memasukkan handphonenya kembali ke dalam tas dan begitu terkejut mendapati Liam sudah ada di lobby. Walau wajahnya tertutup masker dan dia juga menggunakan topi untuk menutupi wajahnya, Hanna tetap tahu jika dia Liam.
“Hei..” Liam melambaikan tangannya pada Hanna.
“Aku pikir kamu sudah pergi.” Hanna mendekat dengan ragu.
“Tenang saja, nggak ada yang mengikutiku. Oh iya, aku lupa memberitahumu kalau sepupuku juga bekerja di sini. Ah, bukan, lebih tepatnya pemilik perusahaan ini. Kamu mungkin pernah melihatnya.”
Apa? Wajah Hanna memerah seketika. Apa mungkin sepupu yang dia maksud adalah...Bobby? Astaga, kenapa dunia ini sempit sekali? Tapi tidak, tidak mungkin. Tapi...Bobby lah satu-satunya pemilik perusahaan ini selain kedua orang tuanya. Orang tua Bobby tidak bekerja di sini, jadi....benar-benar Bobby?
“Aku sudah menyuruhnya turun, tapi dia menolak. Katanya masih banyak pekerjaan, jadi ya sudah. Aku akan mengenalkanmu dengannya lain kali.”
“Maksudmu..Bobby?” Hanna harus memastikannya. Dia tidak ingin menebak-nebak dan tenggelam dalam rasa penasaran.
“Benar. Kamu pernah bertemu laki-laki sialan itu? Dia selalu menolak bertemu denganku karena alasan sibuk, sibuk dan sibuk. Padahal jadwalku lebih padat darinya tapi aku masih bisa sesekali menyempatkan diri menemui dia.” Sungut Liam.
“Tapi kamu memanggilnya Bobby, bukan Pak Bobby? Kalian...dekat?”
Jantung Hanna seketika berdebar dengan cepat. Bagaimana kalau Liam tahu jika Bobby menyukainya? Apa dia harus berterus terang? Bagaimana jika Liam marah dan keduanya berselisih?
“Nggak juga. Ini sudah di luar jam kerja, jadi kenapa harus panggil Pak?”
Bagus juga otaknya mengarang alasan yang masuk akal dengan cepat. Melihat reaksi Liam yang hanya manggut-manggut, Hanna sangat merasa lega. Dia tidak bisa memberitahu Liam soal perasaan Bobby padanya, tidak sekarang. Mungkin suatu hari nanti akan ada saat yang tepat untuk mengungkap semuanya.