
Setelah tiba di rumah sakit, sebuah brankar sudah tersedia di pintu UGD dan tubuh Hanna segera dipindahkan ke atasnya. Beberapa perawat membawa Hanna masuk ke dalam ruang UGD, meninggalkan Lona dan Bobby berdua di luar ruangan. Keduanya panik, khususnya Lona. Dia tidak bisa duduk diam dengan tenang dan selalu berjalan hilir mudik. Dia harap-harap cemas pada keselamatan Hanna dan bayinya.
“Na, aku akan kabari Liam dulu.”
“Jangan.” Tukas Lona cepat.
“Kenapa?” Bobby tidak mengerti.
Liam harus tahu kondisi Hanna. Tidak mungkin mereka menyembunyikan hal sepenting ini dari Liam. Bagaimana jika Hanna kenapa-kenapa? Bagaimana jika kandungannya bermasalah?
“Nggak usah dikabari.” Sahut Lona dingin.
“Ya tapi kenapa?” Bobby masih belum mengerti.
Lona tidak lagi menyahut. Dia tahu, kondisi Hanna seperti ini salah satunya pasti dipengaruhi oleh Liam. Dugaannya mereka berdua bertengkar setelah meninggalkan pantai. Jika tidak terjadi sesuatu di antara mereka, mana mungkin Hanna menghubunginya dan bukan Liam? Laki-laki sialan itu, apa lagi yang dia lakukan kali ini pada Hanna?
Setelah menunggu hampir lima belas menit, seorang Dokter bertubuh gempal keluar dari ruang UGD. Lona dan Bobby berdiri menyerbu dokter dengan keingintahuan yang tinggi soal kondisi Hanna.
“Dia baik-baik saja, hanya menderita maag dan kami sudah menanganinya. Bayinya juga baik-baik saja, jangan khawatir. Dia akan segera dipindahkan ke ruang perawatan dan kalian bisa menemuinya di sana.”
Lona mengucap syukur berkali-kali sambil tersenyum lega. Dia memang sudah menduga jika maag Hanna kambuh, namun dia kali ini lebih khawatir karena kondisi Hanna yang berbeda. Dulu ketika kuliah, Hanna tidak pernah memperhatikan pola makannya. Dia makan sembarangan, tidak sesuai jam, dan akibatnya adalah dia menderita maag. Maag itu kambuh berulang kali terutama saat dia dalam keadaan stress –dan kali ini Liam pasti penyebabnya. Lona mendesah, syukurlah dia baik-baik saja.
Setelah berada di ruang perawatan, Lona dan Bobby menemui Hanna yang terbaring lemah dan sedang tertidur. Wajahnya masih sedikit pucat walau selang infus sudah dialirkan ke tubuhnya. Hanna, kamu kenapa? Kali ini, apa yang dia lakukan padamu?
Dengan penuh kelembutan Lona menggeser rambut Hanna dari keningnya, dan tersenyum menatap sahabatnya yang menunjukkan wajah teduh saat terlelap seperti ini. “Kamu cantik Han.” Gumam Lona. “Tapi sayang, kamu kurang beruntung bertemu laki-laki itu.”
Bobby yang mendengar ocehan Lona mengernyit. Dia menaikkan satu alisnya, menatap Lona serius. “Really? Kamu menghina sepupuku di depanku?”
“Ahh, maaf..” Lona pura-pura tersenyum. “..seharusnya aku menghinanya langsung di depan wajahnya.” Sahutnya lagi dengan ketus.
Bobby tidak mengerti kenapa Lona tiba-tiba bersikap seperti itu. Namun demi mengamankan dirinya, dia pun memilih diam di pojok ruangan Hanna. Sesekali dia mengangkat wajahnya untuk memeriksa keadaan Hanna, namun alih-alih menatap Hanna, kedua bola matanya malah tidak bisa lepas dari Lona.
*
Liam tidak tidur semalam penuh untuk pertama kalinya karena memikirkan Hanna, bukan karena keperluan syutingnya di luar sana. Semalaman Liam menahan diri untuk tidak menghubungi Hanna yang mungkin akan mengganggunya, memberikan Hanna waktu untuk memulihkan diri dari pertengkaran mereka.
Setelah tiba di apartemennya tadi malam dan menenggak segelas anggur, Liam nyaris kembali lagi ke rumah Hanna untuk minta maaf. Dia tidak bisa duduk diam dan menunggu masalah ini terus berlarut-larut tanpa adanya penyelesaian mereka berdua. Liam tahu dia tidak bisa memaksa Hanna, jangan sampai Hanna memang menganggapnya mengganggu dan kasar, seperti apa yang dikatakannya dulu. Lagipula, jika Liam kembali ke rumah Hanna, bukan tidak mungkin dia menimbulkan skandal jika ketahuan oleh paparazzi yang bisa saja mengikutinya. Dan jika dia memiliki skandal, maka dia akan kesulitan menyembunyikan fakta tentang kehamilan Hanna dan resikonya menjadi amat besar. Tapi dia benar-benar tidak sabar untuk menunggu.
Setelah semalaman berguling dengan gelisah di atas tempat tidurnya, Liam pun memutuskan untuk bangkit. Dia menyeduh segelas kopi untuk membantunya rileks dan mengembalikan akal sehatnya. Sambil menunggu panas kopinya sedikit berkurang, dia menyikat giginya sambil mengecek handphone. Sial. Hanna tidak mengirimkan pesan apa pun padanya.
Setelah berkumur dan mencuci wajahnya, Liam kembali ke meja untuk menikmati kopinya. Dia membuka handphonenya, mengirim pesan pada Hanna.
Han, kamu baik-baik saja?
Liam menunggu beberapa menit, namun belum juga ada balasan. Apa dia belum bangun? Tapi tidak mungkin, dia selalu bangun pagi untuk olah raga. Apa dia..memblokirku? Liam menekan nomor Hanna, namun nomornya tidak aktif. Apa terjadi sesuatu padanya?
“Selamat pagi jagoan.”
Noah masuk ke dalam apartemennya dengan menenteng banyak paper bag. Liam hanya tersenyum, lalu menyesap kopinya perlahan.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa masih belum siap-siap?” Noah berkacak pinggang.
Liam mengangkat alisnya heran. “Siap-siap? Ke mana?”
Tuan Bradley yang mulia atau Bradley Nicholas adalah CEO agensi yang menaungi Liam. Mereka memanggilnya yang mulia karena permintaan istrinya sendiri –yang dianggap memalukan oleh semua orang.
“Aku malas, lelah juga. Aku mau istirahat.” Sahut Liam datar.
“Apa maksudmu? Kamu mau karier mu lenyap?”
Lenyap yang dimaksud Noah tentu saja menghilang selamanya tanpa ada harapan untuk bisa kembali. Dikenal bertangan dingin dan semua artisnya harus memenuhi permintaannya, Tuan Bradley menjadi momok yang disegani juga ditakuti dalam dunia entertainment. Tapi Liam masih bisa bernafas dengan santai karena dia dikenal sebagai anak emas Tuan Bradley dan Istrinya Veronica.
“Perasaanku kurang enak. Aku benar-benar ingin istirahat.” Ujar Liam sekali lagi.
“Kurang nyaman di bagian mana? Kamu sakit?”
Liam menggeleng. Kepalanya memang pusing dan satu-satunya yang bisa menyembuhkannya adalah Hanna. Namun hingga sekarang –sudah sepuluh menit berlalu, Hanna belum juga membalas pesannya.
“Aku nggak mau tahu...” Noah setengah menyeret Liam, memaksanya berdiri.
“...kamu harus ikut karena aku masih ingin hidup. Masih banyak staff lain yang bekerja padamu yang harus diberi makan.” Jika Liam tidak hadir, maka bisa dipastikan Tuan Bradley dan Istri kesayangannya Veronica akan uring-uringan. Semua pihak akan kena dampratannya, apalagi Veronica dikenal cukup semena-mena dan Bradley tidak bisa untuk tidak mematuhi istrinya itu.
“Baiklah..” Liam akhirnya mengalah.
Liam pikir berada di party mungkin bisa membuatnya berpikir lebih jernih daripada harus duduk menunggu di rumah.Bisa jadi dia bisa menemukan solusi dari masalahnya jika dia sudah bertemu orang banyak. Hanna lagipula sudah mengancamnya agar dia tidak muncul hari ini, jadi Liam memutuskan ikut ke pesta ulang tahun pernikahan CEOnya.
Dengan memakai setelan suit merk dari salah satu brand yang dimodeli olehnya, Liam tiba di hotel tempat anniversary dilangsungkan. Cahaya flash dan bunyi klik dari ratusan kamera menyambutnya dan hal itu adalah pemandangan yang biasa bagi Liam. “Hazer di sebelah sini.”, “Hazer lihat ke sini.”, “Hazer, pose tangan melambai.”, dan masih banyak permintaan wartawan yang harus dituruti Liam –terpaksa. Beruntung Noah segera membawanya masuk ke dalam ballroom hotel yang sudah dipenuhi oleh orang-orang terkenal, baik dari kalangannya atau juga dari beberapa profesi lain seperti pengusaha atau orang-orang yang bekerja untuk pemerintah.
“Hey, baby..” Veronica seperti biasa menyambut Liam dengan pelukan dan ciuman di wajahnya yang sering kali meninggalkan noda lipstik di sana. Kadang Liam berpikir, kenapa dia tidak mencari produk yang waterproof saja? Kan memalukan jika lipstiknya malah tertinggal di wajah orang lain?
“Nyonya Vero.” Sahut Liam sopan.
“Kan sudah berapa kali ku bilang, panggil Kakak saja.” Veronica mengerling nakal.
Tabiat Veronica memang seperti itu, terkesan seperti menggoda namun sebenarnya tidak. Memang seperti itulah caranya menyapa, sedikit liar tapi masih dalam artian yang normal. Setelah berbasa basi, Liam memilih menjauh karena kepalanya masih sakit –dan dia mengantuk.
Saat dimana kedua bintang utama pesta mengucap sepatah dua patah kata pun tiba. Bradley dan Veronica naik ke podium, keduanya saling bergandeng tangan dan tersenyum hangat memamerkan bahagianya mereka di usia pernikahan yang sudah tidak muda lagi.
“Terimakasih semuanya sudah datang ke acara ulang tahun pernikahan kami...” Membosankan gerutu Liam. Paling juga yang akan dikatakan keduanya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Liam pun memilih memainkan handphonenya berharap Hanna mengirimnya pesan yang mengatakan dia sudah memaafkannya.
“Hari ini ada pengumuman yang sangat spesial sebelum kita melanjutkan pestanya.” Suara Bradley terdengar lantang memenuhi ruangan itu. Liam mengangkat wajahnya, cukup terkejut karena sebelumnya belum pernah Bradley mengumukan sesuatu di tengah-tengah acaranya.
“Seperti yang kalian ketahui, kami hanya dikaruniai seorang anak perempuan..” anak perempuan pasangan itu sangat misterius, tidak pernah terdeteksi oleh para wartawan. Namun desas desus yang didengar Liam, Bradley rela membayar para wartawan yang ketahuan mengambil foto putrinya diam-diam. Mereka benar-benar menjaga privasi puterinya dengan baik.
“Apa dia akan merekrut artis baru? Membosankan.” Gerutu Noah, diikuti oleh ekspresi mendukung dari Liam.
“..dan karena kami hanya memilikinya sebagai harta kami satu-satunya yang paling berharga, maka kami memutuskan untuk menyerahkannya pada laki-laki yang sangat kami percayai. Hazer, bisa kamu naik ke podium?”
Liam tersentak, kaget. Kenapa dia? Kenapa Bradley menyebut namanya? Noah yang berdiri di samping Liam tak kalah kaget. mulutnya menganga, bergantian menatap ke podium dan juga Liam. Apa yang terjadi?
Mau tidak mau, Liam akhirnya memilih naik saat semua pasang mata tertuju padanya. Perasaannya mulai tidak enak, namun dia berusaha untuk tetap tenang. Bradley dan Veronica menempatkan Liam di tengah keduanya, dan jantung Liam pun memacu lebih cepat. Apa lagi yang akan dilakukan ole kedua orang ini?
“Hari ini aku akan mengenalkan secara langsung pada kalian, Hazer atau Liam Andreas, tunangan puteri kami.”