
“Bagaimana Hanna?”
Setelah pertemuan di restoran Silver Bowl, ketiganya melanjutkan perjalanan mereka ke club malam. Seperti biasa, Liam membutuhkan sesuatu yang bisa menghilangkan kepenatannya dan jawabannya adalah alkohol. Hanna tidak di sisinya sekarang, jadi hanya ini yang bisa dia gunakan untuk menenangkan diri. Jika ada Hanna, dia cukup memeluknya, menciumnya dan menghirup aroma tubuhnya, maka semua bebannya akan menguap begitu saja.
“Entahlah..” gumam Bobby.
Dia tidak yakin bagaimana keadaan Hanna sekarang. Masih sangat jelas terbayang di ingatannya bagaimana kerasnya tamparan wanita yang diyakini Liam adalah orang tua Hanna. Air mata Hanna yang menganak sungai membuatnya mati rasa. Apalagi saat mendengar suara Hanna yang bergetar meminta ditampar lagi. Itu semua berulang-ulang dalam otak Liam, membuatnya merasa sangat bersalah pada Hanna. Seharusnya dia tidak langsung menyinggung soal bayi saat ada orang lain. Masih beruntung dia orang tua Hanna, bagaimana kalau tadinya itu tetangganya?
Liam memegang lehernya yang terasa tegang. Dia merasa bodoh, sangat bodoh.
“Kalau dia tahu kamu melakukan ini untuknya, dia pasti akan memaafkanmu.” Ujar Noah lagi.
“Entahlah..” dia kembali bergumam. “Aku hanya berharap dia nggak meninggalkanku dan tempat ini sekarang. Aku nggak bisa membayangkan jika aku harus kehilangan dia selamanya, entah jadi apa aku nanti.”
“Pemikiranmu terlalu jauh..” ujar Bobby. “Hanna nggak seperti itu.”
Masalahnya sekarang Hanna sedang mengandung. Dari semua buku yang Liam baca, ada banyak perubahan pada Ibu yang sedang mengandung, mulai dari perubahan fisik, sikap dan juga kepribadian. Jika sebelum hamil Hanna bisa menghadapi semuanya dengan tenang, bisa saja setelah kehamilannya ini, dia menjadi tempramen. Semua itu mungkin terjadi karena dipengaruhi hormonnya yang berubah-ubah.
*
Mata Hanna masih terpejam, saat dia mendengar suara kedua orang tuanya sedang tertawa. Dia juga mendengar suara sendok beradu seperti seseorang sedang memasak. Hidungnya juga perlahan bisa menghirup aroma yang menggiurkan dan membuatnya lapar seketika. Ahhh, indah sekali mimpi kali ini. Akhirnya setelah dibayang-bayangi mimpi buruk, aku bisa juga bermimpi hal yang indah lagi.
Tunggu..
Hanna terbangun. Dia duduk, memeriksa sekitarnya dengan seksama. Kemarin orang tuanya memang datang dan bahkan dia baru ditampar karena ketahuan hamil. Dia bahkan masih memakai pakaian yang sama karena dia langsung tidur sehari semalam penuh. Jadi ini bukan mimpi? Tapi kenapa mereka tertawa? Bukankah kemarin mereka marah padaku?
Penasaran, Hanna membuka pintu kamar perlahan. Dia tertegun saat melihat pemandangan indah di depan matanya. Kedua orang tuanya sedang duduk di meja makan, sedang menyantap sarapan yang disajikan Lona. Mereka tampak tidak ada beban, seperti tidak sedang marah padanya.
“Kamu sudah bangun?” Lona tersenyum.
Narendra dan Eliana langsung menoleh –dan menyambut Hanna. “Duduk nak. Lona memasak sarapan, enak sekali ternyata.” Ujar Narendra.
“Benar. Ibu nggak menyangka Lona punya kelebihan ini.” sahut Eliana menimpali.
“Kalian nggak marah padaku lagi?” Hanna tidak bergeming dari tempatnya berdiri.
Kedua orang tuanya saling berpandangan. Lona membuka celemeknya karena dia juga sudah selesai memasak. “Hanna..” dia meraih tangan Hanna. “Kamu duduk saja dulu.”
Hanna menurut. Dia duduk di samping Narendra yang langsung menggenggam tangannya erat.
“Aku minta maaf pada kalian berdua. Maaf sudah mengecewakan kalian.” Hanna menunduk.
“Hanna, Ayah dan Ibu nggak akan bertanya kenapa padamu karena kamu sudah dewasa. Sekarang yang kami mau tau, apa rencanamu selanjutnya?”
Hanna tercengang, tidak pernah terlintas di benaknya jika kedua orang tuanya tidak akan mempersulitnya. Seharusnya mereka masih memarahinya karena kehamilan di luar nikah ini adalah aib. Tapi kenapa?
“Kami tahu, kamu pasti punya alasan kenapa sampai melakukan ini. Walau awalnya kami sangat shock, tapi sekarang, apa boleh buat? Yang terpenting adalah kesehatanmu dan bayimu, juga rencanamu ke depannya bagaimana.”
Rencana? Hanna tidak punya rencana apa pun saat ini. Dia hanya bisa menjalani hidup sesuai alurnya dulu, setelah itu mungkin dia akan dapat ide nanti. Saat ini pikirannya benar-benar buntu. Yang bisa dia lakukan hanya bertahan dan hidup bahagia bersama bayinya.
“Aku belum tahu harus melakukan apa pun sekarang..” Hanna menatap keduanya bergantian. “Tapi kalian jangan khawatir, aku pasti bahagia dan baik-baik saja.”
**
“Sial...sial..sial...”
Wanita itu memporak-porandakan semua barang-barang yang ada di atas mejanya dengan membabi buta. Matanya melolong merah penuh kemarahan saat mendapati jalan menuju rumahnya masih dikerubuti oleh orang-orang –yang menurutnya adalah suruhan Liam.
“Kenapa mereka bisa menemukan pintu keluar masukku? Kenapa?” teriak dia lagi.
Dia mencakar foto-foto Hanna yang ditempel di dinding. “Semua gara-gara kamu, wanita pembawa sial. Semua gara-gara kamu...” dia kembali berteriak di dalam rumah yang sudah didesain kedap suara olehnya.
“Lihat saja..” Kedua sorot matanya memamerkan rasa marah dan benci yang meluap-luap. “Aku akan memberi pelajaran yang tidak akan bisa kamu lupakan. Hanna...kamu akan tahu akibat dari kehadiranmu dalam hidup Hazerku.”
***
Hanna mengurut lehernya yang terasa sedikit tertarik dan juga tegang. Beberapa hari ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak dan selalu saja terbangun. Dia merasa seperti diawasi oleh seseorang, namun dia tidak bisa menemukan siapa-siapa. Hanya ada Lona yang tidur bersamanya setiap malam –orang tuanya sudah kembali ke rumah mereka.
Gita dan Leo mendatangi Hanna di ruangannya dengan membawa air mineral dalam botol. Sejak masuk kantor, Hanna tidak banyak bicara. Dia cenderung diam, bicara seperlunya dan jarang tersenyum. Hal itu membuat Gita dan Leo sangat khawatir.
“Bobby masih meminta kalian mengawasiku?” Hanna menyandarkan tubuhnya.
“Tanpa Pak Bobby suruh juga kami akan mengawasi Kakak setiap hari.” Sungut Gita.
“Kakak sedang hamil, kami akan lebih memperhatikan Kakak .” Leo menambahkan, sembari mengerlingkan matanya.
Hanna tersenyum kecil. “Thanks, tapi aku baik-baik saja.” Sahut Hanna.
Ketiganya menoleh bersamaan saat mereka mendengar beberapa suara teriakan wanita yang bersahut-sahutan. Keadaan kantor seketika menjadi ramai, dan seperti biasa Gita dan Leo langsung berlari meninggalkan ruangan Hanna untuk mencari tahu. Dasar, sungut Hanna.
Dia kembali memeriksa data-data di atas mejanya, mencoba mengumpulkan kekuatannya untuk berkonsentrasi. Hanna sudah berjanji untuk melupakan Liam. Laki-laki itu terlalu rendah untuk terus menghuni ingatan Hanna dan Hanna tidak menyukainya. Takdir tetaplah takdir, dia tidak akan bisa mengubahnya sesuka hati. Dia dan Liam mungkin sejak awal memang ditakdirkan hanya untuk sekedar bertemu, bukan bersama dan Hanna tidak akan memaksakan skenarionya.
Dia akan mengikuti apa yang menjadi kemauan Si Pembuat Skenario.
Entah kenapa, saat kerumunan orang-orang melewati departemennya, Hanna tidak bisa menahan diri untuk mencuri pandang. Saat itu dia melihat Bobby berjalan berdampingan dengan dua orang yang dikenalnya. Noah dan...Liam. Untuk apa Liam datang ke kantor Hanna?
Sebesar itukah usahamu untuk melihatku menderita sehingga kamu harus datang ke sini? Kamu benar-benar berniat mengucurkan asam ke atas luka ku, selamat karena berhasil membuatku menderita.
“Wuahh, ganteng sekali...”
“Hazer bukan? Dia Hazer kan? Wahhh, ternyata aslinya jauh lebih gagah daripada yang sering terlihat di majalah..”
“Dia orang paling tampan yang pernah ku lihat..”
Hanna mencoba menutup telinganya dari teriakan-teriakan teman-temannya yang mengidolakan Liam. Belum tahu saja mereka betapa bajingannya laki-laki itu. Dia laki-laki brengsek, bajingan yang punya mulut manis, keparat, laki-laki kurang ajar –tapi sayangnya Hanna menyukainya.
“Kak Han..Hazer...Hazer Kak..” Gita melompat-lompat seperti anak kodok di ruangannya.
Hanna tidak menggubrisnya, malah kembali menyibukkan diri dengan kalkulator di tangannya.
“Kak Han... Apa Kakak nggak tertarik sama sekali?” Gita kembali berteriak, kali ini sambil menggoyang-goyang tangan Hanna.
“Apa sih Git? Kak Hanna sudah memiliki Pak Bobby, spek Pak Bobby juga nggak kalah dari Hazer-Hazer mu itu.” gerutu Leo, kecewa karena dia tidak mendapat gosip yang memuaskan.
“Ah, iya juga..” Gita mengangguk setuju. “Pantas saja Kak Hanna tidak beranjak dari ruangannya.” Dia berdecak.
“Kembali ke meja kalian sekarang.” Tegas Hanna.
Keduanya langsung beringsut mundur, dalam sekejap sudah berada di meja masing-masing. Hanna memutar-mutar pulpennya, mencoba menebak-nebak apa yang hendak dilakukan Liam di sana. Apa dia hanya ingin bertemu Bobby atau dia datang untuk menertawakan penderitaannya?
“Hanna, ke ruang rapat sekarang.”
“Baik Pak Hara.”
Hanna meletakkan gagang telepon. Hanna tidak tahu mengapa dia dipanggil ke ruang rapat dan kenapa mendadak ada rapat begini. Dia membawa notes kecilnya beserta pulpen ke dalam ruang rapat. Di sana Pak Hara atasan Hanna di bagian keuangan sudah duduk menunggu beserta manager dari departemen lain. Hanna duduk di belakang Pak Hara, tak lama Gita dan Aditia dari departemennya ikut bergabung.
Mereka semua berdiri serempak saat pintu terbuka lebar, Bobby masuk bersama Liam dan Noah. Hanna terkejut, namun dia menyadari jika dirinya tidak lagi gugup berhadapan dengan Liam. Hanna sangat tenang, tidak terpengaruh oleh pesona Liam seperti biasa. Apa aku mati rasa? Atau apakah ini perasaanku yang sesungguhnya?
“Silahkan duduk.” Bobby mempersilahkan mereka semua duduk.
Hanna mencoba sebisanya untuk tidak melakukan kontak mata dengan Liam. Dia tidak takut, toh baginya Liam bukan lagi siapa-siapa. Dia hanya tidak ingin mengulang kembali momen di mana Liam mengucapkan permintaan tidak masuk akalnya mengenai bayi mereka. Kemarahan Hanna akan menggebu-gebu mana kala dia mengingat kembali kejadian itu, dan Hanna khawatir dia tidak bisa menahan diri.
Sementara Bobby sedang bicara panjang lebar, Hanna memilih untuk mencoret-coret notesnya. Kali ini rapatnya sedikit membosankan karena dia tidak tahu ke mana arah pembicaraan Bobby. Dia benar-benar tidak mood, semangatnya menguap, bahkan rasanya Hanna saat ini sangat mengantuk.
“..Jadi setelah memutuskan banyak pertimbangan, maka saya memutuskan mengangkat Hazer sebagai brand ambassador perusahaan kita.”
Apa? Brand Ambassador?
Hanna tertegun saat orang-orang di ruangan itu memberi tepuk tangan yang riuh. Dia tidak ikut bertepuk tangan, kedua bola matanya terarah pada Liam yang tersenyum sembari melambaikan tangannya pada semua orang.
Kenapa? Di saat seperti ini, kenapa kamu harus berkeliaran di sekitarku? Sebenci itu kah kamu padaku? Kamu mau menyaksikan setiap detik penderitaanku? Liam, tidak bisakah kamu membiarkanku hidup dalam ketenangan? Kamu meminta perpisahan dan aku setuju, haruskah kamu menyiksaku dengan berada di dekatku seperti ini? Sampai batas mana kamu akan membuatku menderita?