Way Back To You

Way Back To You
Jebakan



Hanna menatap layar komputernya cukup lama. Dia tampak berpikir keras, dan sedikit bingung. Sedari tadi dia sudah memasukkan kata kunci puteri pasangan Bradley dan Veronica, CEO agensi Liam. Namun tidak ada satu artikel pun yang membahasnya serta menampakkan wajahnya, menambah kesan misterius padanya. Hati kecil Hanna mengatakan jika wanita yang dicurigainya ini mungkin kerabat dengan keluarga Veronica, entah anak atau keponakan.


Hanna, kamu di mana? Apa kita bisa bertemu?


Dia harus menghentikan penyelidikannya untuk sementara saat pesan dari Jhon masuk ke handphonenya. Dengan perasaan yang masih bercampur aduk, Hanna membaca pesan yang baru masuk. Dia sangat membenci laki-laki itu karena sudah membuat video palsu tentangnya. Demi apa pun, idenya itu membuat perasaannya hancur walau hanya sesaat.


Maaf, aku sibuk.


Balas Hanna. Dia tidak ingin menemui Jhon karena entah kenapa hati kecilnya tidak bisa mempercayai semua yang dikatakan oleh mantannya itu.


Ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Penting.


Hanna menimbang-nimbang. Liam, Bobby dan Lona melarangnya bertemu siapa-siapa, termasuk Jhon. Namun Hanna juga penasaran bagaimana Jhon bisa menemukan ide untuk mengedit video palsu tentangnya. Seseorang pasti mengontrol dirinya dari belakang karena sepanjang pengetahuan Hanna, Jhon tidak memiliki kemampuan editing seperti itu. Seseorang pasti membantunya untuk merusak hubungan Hanna dengan Liam.


Baiklah. Restoran Silver Bowl pukul lima sore.


Jangan. Aku mungkin sedang dimata-matai jadi aku nggak bisa bertemu denganmu di keramaian. Aku akan mengirimkan sebuah alamat padamu, datanglah ke sana.


Kening Hanna mengerut, cukup terkejut dengan permintaan Jhon. Tak lama, Jhon mengirim alamat yang harus di datangi Hanna. Bukankah ini..


“Kak Han, aku bisa minta tolong?”


Gita berdiri di ambang pintunya. Hanna meletakkan handphonya dan menatap Gita yang terlihat gusar. “Ada apa?”


“Aku... Bisakah Kakak membantuku bicara pada orang tuaku? Ini tentang...” Gita terlihat gelisah. Tanpa disuruh Gita menutup pintu ruangan Hanna. Dia masih berdiri dengan gusar dan kebingungan, seperti menghadapi sesuatu yang menyeramkan.


“Tentang apa?”


Gita meletakkan sebuah testpack di atas meja Hanna. “Aku..aku hamil Kak.”, dia menunduk.


Wajah Hanna memerah. Gita masih muda, masih berusia dua puluh namun dia hamil? “Kok bisa Git?” Dia menahan suaranya agar tidak terdengar ke luar ruangan. Dengan cepat Hanna menurunkan semua tirai untuk menutupi seluruh ruangannya.


“One night stand..” Gita mengangkat wajahnya. “Aku menghadiri pesta ulang tahun temanku lalu setelah itu kami minum-minum dan..dan..aku nggak tahu kalau aku dan laki-laki itu sudah..”


Hanna terhenyak, cerita Gita persis dengan apa yang dialaminya. Mungkin ini sebabnya orang tua melarang anak perempuannya untuk jangan terlalu banyak minum. Hal ini benar-benar sangat rentan menimbulkan masalah seperti yang mereka alami.


“Kamu tahu siapa Ayah bayi dalam kandunganmu?” Hanna merasa perlu menanyakannya karena laki-laki itu perlu bertanggung jawab. Dan seandainya laki-laki itu berniat meninggalkan tanggung jawabnya, maka dia akan maju lebih dulu.


“Tau Kak. Dia masih tetangga denganku.”


“Lalu kenapa kamu membutuhkanku untuk bicara dengan orang tuamu?”


“Mereka ngotot untuk mengaborsi bayiku..” Gita meneteskan air matanya. “Tapi aku nggak bisa Kak, aku takut.”


Astaga, masalah ini benar-benar lebih berat dari dugaannya. Hanna pikir dia mungkin menghadapi masalah dari laki-laki itu, namun siapa sangka masalahnya justru berasal dari orang tua Gita sendiri?


“Karna Kakak sedang mengandung..tolong berikan orang tuaku pemahaman Kak. Aku dan laki-laki itu sepakat untuk bertanggung jawab secara penuh. Tapi..tapi kami butuh restu mereka Kak.” Gita menangis terisak-isak.


Hanna memeluk Gita untuk menenangkannya. Dia tidak menyangka masih ada masalah yang lebih berat dibandingkan masalahnya. “Baiklah. Nanti pulang kerja, kita langsung ke rumahmu.”


Jarum jam berjalan dengan cepat hingga tak terasa sudah menunjukkan angka di mana para pekerja kantoran harus pulang. Hanna membereskan barang-barangnya, termasuk handphone dan kunci ruangannya. Entah kenapa handphone Hanna mendadak tidak bisa mendapatkan sinyal sehingga cukup menyulitkan dia untuk memberitahu Liam. Dia mengetuk-ngetuk handphonenya beberapa kali, berharap sinyalnya muncul. Namun usahanya gagal, dan terpaksa dia menggunakan wifi kantor.


“Kak Han, ayo.”


“Sebentar Gita, aku akan izin dulu dari Liam...”


“Liam? Liam siapa?” Gita menatap Hanna bingung. “Suami Kakak kan Pak Bobby dan aku sudah melapor pada Pak Bobby tadi, kenapa izin dari Liam?”


Mendadak Hanna mematung, merasa dirinya bodoh karena keceplosan soal Liam. “Oh, kamu sudah izin dari Bobby?”


Gita mengangguk. “Baiklah kalau sudah..” Hanna menyimpan handphonenya, berusaha bersikap normal.


Namun Gita dengan mulut gosipnya tentu saja tidak akan melepaskan Hanna begtu saja. Dia menatap Hanna dengan tatapan mengintimidasi hingga ke dalam lift.


“Apa Kakak selingkuh dari Pak Bobby?”


“Nggak Gita. Liam itu...nama sepupu ku.”


“Yakin?”


“Astaga, kamu jangan menciptakan gosip baru lagi atau aku nggak mau menemanimu.”


“Iya iya..” bibir Gita manyun. “Jangan mengancamku soal itu..” ujarnya lagi.


Hanna tersenyum kaku. Untung saja Gita gampang dibohongi olehnya, kalau tidak masalahnya akan semakin rumit. Hanna menghela nafas, melirik jam yang sudah menunjukkan angka lima. Dia ingat janjinya dengan Jhon dan entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak. Dua suara terbagi dalam hatinya, bergaung di dalam otaknya.


Bagaimana jika Jhon ingin memberitahu kita soal dalang di balik semuanya? Kata satu sisi hatinya. Tapi kita tidak tahu sifat aslinya bagaimana dan dia cukup nekat. Bagaimana kalau dia justru ingin menjebak kita? Kata sisi hatinya yang lain.


Apa pun itu, Hanna menarik nafas, urusan Gita jauh lebih penting.


“Kamu tinggal di sini?”


Hanna menatap bangunan yang cukup sederhana, sedikit terletak di pinggiran kota. Anjing-anjing liar mengendus kaki mereka lalu kembali pergi. Ada aroma tidak enak di sekitar perumahan itu karena sampah berserak di mana-mana. Hanna bahkan tidak menyangka ada perumahan seperti ini di kota tempatnya tinggal.


“Bisnis orang tuaku hancur dan kami harus melunasi banyak hutang hingga hari ini. Itu sebabnya kami tinggal di daerah seperti ini.” Gita seakan menjawab rasa penasaran di dada Hanna. “Kalau bukan karena hutang orang tuaku, mungkin saat ini aku sudah bisa bersantai di dalam apartemen yang nyaman di pusat kota.”


“Apartemen bukanlah jaminan kehidupan seseorang berhasil dan nyaman Git. Di mana pun kamu, selama jiwamu bisa dihangatkan oleh yang namanya keluarga, maka kamu akan bahagia dan baik-baik saja.”


Gita tersenyum, mengangguk setuju. “Ayo masuk Kak. Sebentar lagi orang tuaku pulang dari tempatnya bekerja.”


Hanna melihat-lihat isi rumah Gita yang sangat sederhana. Ada bingkai foto keluarga dalam potret hitam putih ketika Gita masih kecil. Dia tampak bergelantungan di tangan orang tuanya, dugaan Hanna mungkin Gita berusia lima tahun. Hanna tersenyum, lalu meraih foto itu. dia mengamatinya lamat-lamat, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah.


Dia pernah melihat foto itu di...internet. Astaga, itu foto Bradley dan Veronica muda. Itu artinya Gita adalah..


Bukkkkk.


Sebuah pukulan tepat mendarat di belakang leher dekat ke punggung Hanna, membuat dia terjatuh dan seluruh pandangannya mendadak gelap.