Way Back To You

Way Back To You
Aborsi? Tidak Akan!



Liam tersentak kaget saat dia mendengar suara seperti erangan disertai tangisan yang ternyata berasal dari mulut Hanna. Dia melirik jam beker Hanna, pukul tiga pagi.


“Han, kamu baik-baik saja?”


Liam naik ke ranjang, duduk menyandarkan tubuhnya sambil memeriksa kondisi Hanna yang sedang mengingau. Liam meletakkan telapak tangannya di kening Hanna, tidak demam. Syukurlah. Dia mungkin sedang mimpi buruk.


“Sudah ku bilang aku nggak mau aborsi, jangan paksa aku...”


Liam meraih tangan Hanna yang seperti sedang mendorong seseorang yang dia yakini adalah dirinya sendiri yang hadir dalam mimpi Hanna. Hanna meracau dalam tidurnya, sepertinya dia benar-benar sangat frustasi dan hati Liam benar-benar teriris melihat kondisi Hanna. Dia menyesal sudah mempersulit hidup Hanna.


“Hanna, kita nggak akan mengaborsi anak ini. Ini bayi kita, kita akan membesarkannya bersama-sama. Aku janji.” Bisik Liam di telinga Hanna.


Setelah itu Hanna masih meracau beberapa kata lagi, namun dia mengucapkannya tidak begitu jelas. Liam merebahkan dirinya di samping Hanna, mengangkat kepala Hanna pelan seraya menjulurkan tangan kirinya, setelah itu dia meletakkan kepala Hanna kembali. Dalam pelukan Liam, Hanna kembali tertidur dengan sangat pulas. Liam mencium kepala Hanna berkali-kali dan melingkarkan kedua lengannya dengan erat memeluk Hanna.


Hanna, aku akan bertanggung jawab penuh pada bayi ini dan juga padamu. Aku berjanji.


*


Hanna terbangun ketika dia mendengar suara laki-laki yang terasa asing baginya. Dia membuka matanya, menguceknya perlahan dan mendapati seorang laki-laki tambun menggunakan jas putih berdiri di samping ranjangnya dengan menenteng sebuah tas kulit berwarna cokelat. Di lehernya tergantung stetoskop merk Littmann dan dia sedang berbicara dengan Liam. Tak jauh darinya berdiri seorang wanita yang lebih muda darinya, mungkin asisten laki-laki itu.


Hanna mengumpulkan kesadarannya, berusaha menggunakan otaknya untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Astaga, bayiku. Apa yang mereka bicarakan? Apa mereka ingin melakukan....aborsi..? Tidak...Jangan...Bayiku.


Dengan refleksnya yang sudah terkumpul, Hanna langsung bangun dan beringsut mundur menggeser tubuhnya dengan penuh ketakutan hingga dia tidak sadar sudah berada di sisi tempat tidur. Liam dengan cepat melompat, menarik tangan Hanna hingga tubuh Hanna menggantung dengan posisi kakinya masih berada di atas ranjang.


“Liam, lepaskan aku. Aku nggak mau aborsi. Tolong...tinggalkan aku. Aku berjanji aku nggak akan mengganggumu dan aku akan diam soal ayah dari bayi ini. Aku nggak akan memberitahu media atau reporter mana pun. Aku janji, jadi tolong tinggalkan aku. Jangan...jangan mengaborsinya, aku mohon.” Air mata Hanna mengucur deras bagai tetesan air hujan.


Kening Liam mengerut, tidak mengerti kenapa Hanna mengatakan semua hal itu secara tiba-tiba.


“Hanna, aku...”


“Saat aku mendengar detak jantungnya untuk pertama kali, hatiku sangat bahagia. Jadi aku benar-benar menginginkan bayi ini. Aku sudah jatuh cinta pada anak ini, Liam, please aku mohon. Kamu bisa membuat surat perjanjian jika kamu nggak percaya padaku....”


“Stop.” Sela Liam. Dia menarik tubuh Hanna dan mendudukkannya.


“Kamu bicara omong kosong. Siapa yang akan mengaborsi bayi kita? Aku nggak akan melakukannya.” Seru Liam.


“Aku memanggil Dokter Fritz ke sini karena aku ingin dia memeriksa keadaanmu dan juga bayi kita. Aku khawatir karena tadi malam kamu muntah parah dan memikirkannya saja membuatku ikut mual. Aku khawatir padamu, itu sebabnya aku meminta beliau datang ke rumahmu.”


Hanna menatap hingga ke dalam bola mata Liam. Kedua tangan Liam yang dia letakkan di kedua sisi wajahnya begitu hangat dan meyakinkan.


“Kamu harus percaya padaku. Ketika aku sudah mengatakan kalau aku akan bertanggung jawab, maka aku akan melakukannya. Jangan khawatir.”


Sebuah kecupan lembut yang mendarat di kening Hanna mengembalikan akal sehatnya secara penuh. Dia menatap Liam, lalu Dokter Fritz yang juga tersenyum ramah.


“Ka...kamu nggak akan mengaborsi anak ini?”


Liam menarik nafas panjang karena dia tidak bisa menyalahkan Hanna atas semua pemikiran-pemikiran itu. Dia yang dulu berteriak di wajah Hanna, memintanya untuk mencari klinik ilegal supaya dia bisa mengaborsi bayi dalam kandungan Hanna. Jadi, wajar saja jika Hanna histeris melihat Dokter Fritz tiba-tiba ada di dalam kamarnya.


“Aku khawatir dengan kondisimu karena kamu muntah lebih dari tiga kali dalam satu malam ini, belum lagi dalam tidurmu kamu mengingau. Aku nggak bisa membawamu ke rumah sakit..” karena jika ada yang mengenaliku, maka semua ini akan ketahuan dan bukan tidak mungkin kamu juga akan terkena imbasnya.


“..jadi aku memutuskan untuk memanggil dokter ke rumah supaya dia bisa memeriksamu. Jadi, kamu harus menghilangkan pikiran-pikiran tentang aborsi itu jauh-jauh, karena aku nggak akan melakukannya.”


Hanna percaya, tentu saja. Wajah Liam, sorot matanya, semua menunjukkan kesungguhan. Itu sebabnya saat Liam menggenggam tangannya dan menuntunnya kembali merebahkan diri, Hanna hanya menurut. Dengan segera dokter Fritz mengeluarkan alat-alatnya dari dalam tas sementara wanita yang berdiri di belakangnya membalut lengannya untuk mengukur tensinya.


Asistennya membantu Hanna menaikkan pakaiannya, dan Liam kembali terpukau, kali ini karena perut Hanna mulai sedikit menggelembung namun perbedaannya masih tidak kentara. Hanya saja malam itu Liam memperhatikan setiap detail tubuh Hanna lekat-lekat dan merekamnya dalam memorinya, sehingga dia dengan cepat bisa menemukan sesuatu yang berbeda dari tubuhnya.


Saat transduser mulai digerakkan di perut Hanna yang sudah diolesi gel, denyutan jantung bayi mereka terdengar sangat jelas lewat alat USG portable. Dokter Fritz masih menggerakkan alat itu sembari menatap layar alat USG, lalu tidak berapa lama dia menyudahinya. Asisten tadi segera membersihkan gel di perut Hanna dan Liam membantunya untuk duduk.


“Denyut jantungnya normal dan bagus, tidak ada kelainan. Dia baik-baik saja. Tensimu agak rendah, itu hal yang biasa karena kamu juga belum sarapan apa-apa. Banyak istirahat, dan jangan lupa untuk tetap makan makanan yang sehat dan jauhkan makanan mentah selama kehamilan ini. Aku akan meresepkan obat anti mual untukmu.”


Setelah mengantar dokter Fritz pulang, Liam duduk di sofa Hanna sementara wanita itu sedang mandi untuk membersihkan dirinya. USG tadi sangat mempengaruhi emosi Liam, apalagi saat dia mendengar detak jantung bayinya untuk pertama kali. Saat itu kedua bola matanya mendadak pedih karena menahan air mata. Dia benar-benar terharu –dan bahagia.


Selama tiga puluh tahun hidupnya dia selalu sendiri tanpa adanya keluarga sedarah, namun saat ini, dia memilikinya dalam tubuh Hanna. Anak itu mengaliri darahnya dan terikat padanya. Liam benar-benar terharu dan kebahagiaannya nyaris tidak bisa terbendung.


Memang agak aneh bagaimana dia bisa jatuh cinta dengan bayinya secepat itu. Pantas saja Hanna juga mengoceh soal hal itu tadi, mengatakan jika dia sudah mencintai bayi ini. Ternyata memang benar, hatinya langsung meleleh hanya dengan mendengar bunyi detak yang bahkan hanya tergambar di monitor.


Dada Liam tiba-tiba terasa terhimpit, dia benar-benar ingin menangis. Dia menyesali semua perkataannya yang sangat menyakitkan untuk Hanna dulu. Tidak bisa menahan air matanya, Liam pun memilih untuk keluar sebentar mencari udara pagi yang segar.