Way Back To You

Way Back To You
Lahirnya Alter Ego



“Kamu sudah melakukan yang terbaik.”


Bobby menyambutnya di depan kantor Cassia Agency. Liam mengangguk diikuti sebuah senyuman. Dia juga merasa lega sudah mengatakan apa yang selama ini ingin dia katakan. Sekarang dia sudah menentukan pilihannya, jika masih ada yang mendukungnya itu adalah bonus. Demi Hanna, dia akan melakukan apa saja.


“Aku harap juga begitu.”


“Kalau kamu butuh bantuan, kamu selalu bisa mendatangiku.”


“Thanks.” Seru Liam. “Tapi aku baik-baik saja sekarang. Ngomong-ngomong, kamu jadi ke lapas? Bagaimana keadaan Gita?”


Liam masuk ke dalam mobil bersama Bobby. “Well, selama dia di dalam sel, alternya belum pernah muncul sekalipun. Dan jujur aku sangat kasihan pada Gita ketika dia minta tolong untuk dikeluarkan dari sana.”


Walau Gita memang tidak bersalah, namun pada kenyataan alternya hidup dalam dirinya dan meminjam tubuhnya untuk melakukan kejahatan. Mereka tidak bisa mengabaikan fakta itu karena lagipula semuanya sudah terekam secara jelas.


“Aku akan membahas ini dengan Hanna karena bagaimana pun dia yang menjadi korban. Tunggu pendapatnya saja bagaimana baiknya.” Sahut Liam.


“Aku pikir juga begitu.” Seru Bobby. “Jhon sudah bisa pulang hari ini, katanya luka tembakan di lengannya tidak terlalu parah.”


“Kamu tahu dari mana?”


“Carissa mengabariku.”


“Hubungan mantan staff dengan CEO kita ini sepertinya terjalin cukup baik.” Liam tertawa kecil. “Hati-hati ketahuan Lona karena bagaimanapun hubungan Hanna dan Lona dengan Carissa ini sedikit bermasalah.”


“Aku juga nggak tahu bagaimana dia bisa mendapatkan kontakku. Mungkin saja niatnya memang hanya untuk mengabariku.”


“Kenapa harus kamu? Dia bisa mengabariku, Hanna dan juga Lona. Jangan-jangan dia hendak menjadikanmu Jhon yang kedua?” Goda Liam.


Bobby melirik Liam tajam sembari berusaha tetap konsentrasi mengemudikan mobil. Tapi Liam benar. Hati kecil Bobby juga sedikit tidak nyaman ketika Carissa menyebut namanya tadi di telepon. Dia takut Lona akan salah paham padanya karena mereka tidak percaya pada Carissa. “Aku akan memblokirnya..” seru Bobby akhirnya.


Liam tertawa kecil. “Aku masih nggak menyangka kamu akan jatuh cinta pada Lona.”


“Well..” Bobby mendesah. “Kita nggak bisa mengatur pada siapa kita akan jatuh cinta bukan?”


*


“Ma, tolong keluarkan aku dari sini..”


Gita menangis sesenggukan memohon pada Veronica saat wanita paruh baya itu datang menjenguknya. Tanpa diminta oleh Gita pun, Veronica sungguh-sungguh ingin mengeluarkan Gita bagaimana pun caranya. Namun kali ini dia tidak bisa bertindak sesuka hati lagi. Kasus ini tengah jadi sorotan semua pihak dan Veronica tidak mau mengambil resiko.


“Bertahanlah Nak..” Veronica memaksa diri untuk tidak menangis. “Mama akan mencarikan pengacara yang paling hebat untukmu.”


“Aku nggak mau berlama-lama di sini. Aku nggak melakukan apa pun Ma, bukan aku pelakunya. Aku nggak tahu apa-apa.”


“Mama akan mengurus beberapa hal lainnya. Kamu bertahan sebentar lagi, okay.”


Mata Gita nanar melihat bagaimana Veronica meninggalkannya. Kenapa dia selalu meninggalkan Gita? Kenapa dia tidak pernah mencoba memahami Gita? Kenapa?


Semua ini karena laki-laki sialan itu..


Saat Gita berusia lima tahun, saat itulah dia pertama kali bertemu sosok Bradley Nicholas. Laki-laki itulah yang akan menjadi pengganti Ayahnya yang meninggal sejak usia Gita tiga tahun. Ayahnya meninggal karena penyakit mematikan, itu kata Veronica padanya.


Gita tidak terlalu mengerti kenapa dia harus menabur bunga saat Veronica menggandeng laki-laki itu dengan menggunakan gaun putih bersih. Dia pikir ini hanya sebuah permainan yang dimainkan oleh banyak orang. Dia tidak mengerti jika Bradley akan menjadi bagian dalam kehidupannya.


Kehidupannya yang suram pun di mulai.


Veronica sibuk ke sana ke mari untuk membangun bisnis agensi yang menampung para artis. Dia nyaris tidak pernah berada di rumah dan hanya mengandalkan asisten rumah tangga untuk mengurus Gita. Semua keperluan Gita disediakan oleh Veronica namun satu-satunya hal yang tidak bisa dipenuhi Veronica adalah waktunya.


Berbeda dengan Veronica, Bradley setiap hari berada di rumah, sibuk menggerakkan jemarinya di antara tombol-tombol keyboard komputer yang menyala sebanyak tiga buah sekaligus. Gita tidak terlalu mengetahui apa yang dilakukannya, pekerjaan apa yang sedang dikerjakannya.


Hingga suatu sore, saat Gita sedang mandi setelah lelah bermain bersama Leo, tetangganya. Sore ini asisten rumah tangga sedang izin karena sakit dan Gita harus melakukan semuanya sendiri. Bibir mungilnya bersenandung lagu Luois Armstrong What A Wonderful World yang diajarkan oleh Veronica padanya. Itu adalah lagu kesukaannya dan hampir setiap waktu dia nyanyikan.


I see tress of green


Red roses too


I see them bloom


Tiba-tiba dia mendengar suara pintu terbuka. Gita mematikan shower, lalu mendengar sekali lagi bunyi apa yang tadi dia dengar. Sepi, tidak ada bunyi apa pun. Dia kembali menyalakan showernya namun dia terkejut saat mendengar langkah kaki. Gita mencuci wajah dan rambutnya lalu melilitkan handuk kecil ke tubuhnya.


Dia berjinjit keluar dari kamar mandi dan terkejut saat Bradley berada di kamarnya. Laci tempat pakaian dalamnya terbuka, dan Bradley berdiri di sana, memegang beberapa pakaian kecilnya. Oh tidak, dia tidak hanya memegangnya, tapi juga mengusapnya ke wajahnya.


“Papa Bradley, apa yang Papa lakukan?” Gita melongo, ketakutan.


Bradley memutar tubuhnya, menatap Gita dengan penuh nafsu, bukan dengan tatapan hangat seorang Papa. “Hai, gadis kecil..”


Bradley menggunakan pakaian dalamnya untuk mengusap air liur yang menetes dari mulutnya. Langkah kaki kecil Gita mundur, dia gemetar dan handuknya terjatuh. Tubuhnya tidak menggunakan apa pun dan Bradley langsung menangkapnya dan mencengkeram tubuhnya.


Gita berteriak, meminta tolong namun suaranya tidak bisa didengar oleh siapa-siapa. Hanya tangan mungilnya yang muncul menyembul sedikit di antara kaca kamarnya, seolah-olah sedang berusaha menggapai sesuatu atau meminta tolong.


Kejadian itu terjadi berkali-kali dan Bradley akan mengancam Gita untuk tidak memberitahu siapa pun, termasuk Veronica. Gita tidak bisa melakukan apa-apa. Sejak saat itu dia mendengar suara-suara berisik dari dalam tubuhnya sendiri, meminta dia memotong urat nadinya atau membakar jarinya.


Gita terus berjuang menjaga kewarasannya tetap ada. Dia membujuk suara-suara yang didengarnya, agar dia tidak menyulitkan Gita. Namun semakin lama suara itu semakin memenuhi dirinya dan terngiang-ngiang di telinganya. Di usia lima belas tahun, Gita memutuskan untuk keluar dari rumah kediaman Veronica dan melanjutkan kehidupannya sebagai seorang Briggita Anelson yang biasa dan tidak mengandalkan Veronica lagi dalam hidupnya.


Dan sejak itulah, seorang Giselle Nicholas lahir dalam diri Gita.