Way Back To You

Way Back To You
Aku Merasa Tak Pantas Untuknya



Sambil menopang tubuh dengan siku, Hanna duduk di teras rumah setelah selesai menyiangi rumput liar yang tumbuh di sela-sela tanaman. Hari sudah sore, dan Liam belum kembali juga setelah pergi dua malam yang lalu. Tiba-tiba seekor kucing berwarna putih mendatanginya, mengeong beberapa kali lalu duduk di samping Hanna.


“Kamu siapa? Apa kamu tersesat?” Hanna mengelusnya.


Kucing itu kembali mengeong, menggosok kepalanya ke tangan Hanna lalu merebahkan tubuhnya di lantai, tepat di sisi Hanna.


“Aku khawatir padanya..” gumam Hanna pada kucing yang meringkuk di sampingnya. “Jika dia nggak pulang, setidaknya dia bisa memberi kabar padaku di mana dia sekarang berada.”


Kucing itu sama sekali tidak memperhatikan Hanna, namun bicara dengan kucing jauh lebih baik daripada bicara dengan diri sendiri. Setidaknya itu masih terlihat sedikit normal.


“Saat dia mengatakan dia nggak akan pulang, aku pikir dia bercanda. Aku pikir dia nggak akan tega meninggalkanku sendirian di rumah besar ini..” lanjut Hanna, meskipun kurang mendapat dukungan dari si kucing. “Walau ada Lona dan Bobby, seharusnya dia nggak pergi, iya kan?” Hanna menatap kucing.


Si kucing membuka mata, mendesah, lalu menutup matanya kembali.


“Seharusnya kamu melihat bagaimana ekspresinya saat meninggalkanku. Aku tahu dia bingung dan kalut, tapi bukankah semua hal bisa dibicarakan baik-baik? Kenapa dia memilih pergi dan nggak memberitahu kabar keberadaannya?” sungut Hanna lagi.


Dan sebenarnya apa yang ku keluhkan sekarang? Pikir Hanna. Liam memang sedang kacau, perasaannya bimbang dan luka masa lalunya kembali terbuka setelah Leanor mendatanginya. Tapi bukankah tindakannya menghilang seperti ini malah menimbulkan masalah lain pada Hanna? Jika dia sabar sedikit lagi saja, dia akan mengetahui kebenaran jika Leanor bukanlah Ibu kandungnya, melainkan orang suruhan Ibunya yang sudah meninggal. Tapi hingga saat ini, Hanna bahkan belum sempat memberitahu Liam soal kebenaran ini.


“Dia egois.” Sungut Hanna lagi pada si kucing. Aku tidak melihatnya selama beberapa hari ini dan aku sangat merindukannya. Seharusnya dia pulang. Seharusnya dia tak perlu menyembunyikan diri. Dia bilang aku bisa menyembuhkan lukanya, kenapa malah dia meninggalkanku?


“Kalau seperti ini, bagaimana jika anak kami lahir dan suatu saat dia menghadapi masalah. Itu artinya dia akan meninggalkan kami begitu saja?” Hanna memberitahu kucing itu dengan cepat.


Kucing itu hanya menguap lebar. Dia membuka matanya menatap tanaman, lalu tak berapa lama dia kembali tidur.


“Untuk apa dia mengatakan semua janjinya padaku jika dia tak bisa menepatinya? Hanya masalah kecil ini saja.. maksudku, ini bukan termasuk masalah kecil. Tapi seharusnya dia mempercayaiku juga dalam hal ini. Seharusnya dia mengatakan padaku apa isi kepalanya agar aku mengerti melakukan apa padanya..”


Si kucing menyadari dirinya tidak akan bisa tidur tenang di samping Hanna. Dia berdiri, meregangkan tubuh dan menguap lebar, lalu melompat dan berjalan menuju taman. Ekornya yang panjang bergoyang karena bosan.


“Bagus sekali, bahkan kamu juga tidak mau mendengarkanku..” gerutu Hanna sambil menunjuk si kucing, dan yang ditunjuk hanya menoleh sebentar sebelum menggosok tubuhnya di antara rerumputan.


Yang didapatkan Hanna sebagai balasan adalah kibasan ekor ketika si kucing berjalan menuju sekumpulan catnip yang sengaja dibiarkan tumbuh oleh Hanna.


“Aku akan mencabut catnip itu agar kamu nggak kembali lagi ke sini.” Hanna memperingatkan.


Si kucing hanya mengeong –entah sedang mengejek Hanna atau menyadari jika ucapan Hanna hanya sekedar ancaman belaka, lalu kembali mengendus tanaman catnip. Dia sama sekali tidak terpengaruh pada perkataan Hanna.


“Aku akan mencabutnya dan menggantinya dengan tanaman yang tak kamu sukai. Kamu nggak suka mawar, kan? Aku akan menanam mawar di sana.” Ancam Hanna. “Dan kamu akan menyesal karena sudah meninggalkanku begitu saja saat aku butuh teman bicara.”


Kucing itu masih mengendus catnip dan terdengar suara dengkuran lembut menandakan dia bahagia di tengah-tengah tanaman yang bisa mempengaruhi tingkah laku kucing itu. Dia merebahkan diri, sesekali menggigit-gigit catnip tanpa menghiraukan Hanna.


“Apa yang sebenarnya sedang ku lakukan?” gumam Hanna seorang diri.


Dia mendesah, lalu bangkit berdiri. Saatnya dia membersihkan tubuhnya. Berendam dalam air hangat mungkin bisa membuat otaknya rileks. Sebentar lagi Lona dan Bobby pasti akan datang dan setidaknya dia sudah mandi jika mereka tiba.


Saat Hanna meraih gagang pintu, dia melihat dari kejauhan sebuah sedan melaju menuju rumahnya. Dia mengenali kendaraan itu. Sedan itu milik... “Liam?” kening Hanna mengerut.


Dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah, menunggu dan memastikan jika itu adalah Liam. Saat melihat Liam turun dari mobil –dan dia baik-baik saja, Hanna tidak bisa menahan air matanya. Dia kecewa dan sedih, namun dia juga merasa lega saat mengetahui Liam kembali padanya dalam keadaan baik dan sehat.


“Han...”


Hanna tidak menyahut. Alih-alih menyambut Liam dan memeluknya, dia malah masuk ke dalam rumah, melewati ruang tengah dan langsung masuk ke dalam kamar. Liam berusaha menyusulnya namun tidak berhasil saat Hanna langsung menutup pintu, tepat saat dia akan masuk ke kamar.


“Pergi saja sana..” teriak Hanna, di tengah air mata yang mengucur. “Jelas kamu nggak membutuhkanku lagi.”


“Hanna, izinkan aku masuk dan bicara. Aku minta maaf Han. Aku tahu aku nggak seharusnya pergi dari rumah.”


“Katakan itu pada dirimu sendiri.” Teriak Hanna dari dalam kamar.


Dia duduk di sisi tempat tidurnya, sesenggukan menahan semua emosi yang membuncah dalam dirinya. Hanna mengerti, sangat mengerti jika Liam butuh waktu untuk sendiri. Namun bukan berarti dia harus meninggalkan Hanna selama dua hari penuh. Tidak, Hanna tidak bisa menerimanya.


“Han..” Liam masih berusaha membujuk, namun Hanna tidak bergeming.


Saat itu, Bobby dan Lona muncul dari ambang pintu. Karena mereka menemani Hanna selama Liam pergi, Hanna sudah memberi kunci cadangan untuk Lona sehingga kapan pun mereka datang, mereka bisa langsung masuk ke dalam rumah.


“Dari mana saja kamu?” bentak Lona pada Liam. “Kamu tahu setiap detik Hanna selalu menangis? Dia selalu menyalahkan dirinya karena menganggap dia nggak pantas menjadi pasanganmu.” Gerutu Lona.


Bobby hanya menahan nafasnya. Dia tidak mengatakan apa pun, namun ekspresi wajahnya menjelaskan seberapa kecewanya dia pada Liam.


“Aku salah, maafkan aku.” Sahut Liam pendek. “Tapi ada alasan kenapa aku nggak bisa kembali ke rumah. Aku..”


“Kamu pikir aku ingin mendengarnya? Hanna saja nggak mau mendengar alasanmu, apalagi aku.” Lona melengus begitu saja, sengaja menabrak lengan Liam saat dia melewatinya.


Dia mengetuk pintu kamar Hanna. “Han, kamu baik-baik saja?”


“Aku nggak mau bertemu dia...”


Lona menoleh.


“Aku tahu..” Liam mengangguk, nyaris putus asa. “Aku akan ke basement. Kalau dia sudah bersedia bicara, tolong minta dia menemuiku di bawah.”


Liam menyentuh pintu kamar Hanna sebelum melangkah turun menuju basement. Bobby tersenyum mengangkat jempolnya pada Lona. “Wanitaku memang garang, tapi baik hati.” Ujarnya.


“Sepupumu itu perlu diberi pelajaran.”


“Aku setuju. Tapi karena dia adalah sepupuku, aku rasa kamu nggak keberatan kalau aku menemaninya, bukan?”


“Pergilah.” Ujar Lona. “Sebenarnya aku nggak terlalu marah padanya karena aku tahu dia juga punya alasan di balik apa yang dia lakukan. Biar aku yang membujuk Hanna agar mereka bisa bicara berdua.”


“Baiklah.” Bobby mengecup pipi Lona lembut.


Bobby mengelus pipi Lona sebelum meninggalkannya. Dia turun menuju basement dan mendapati Liam tengah mengeluarkan satu botol alkohol dari dalam lemari penyimpanan. Bobby duduk di samping Liam, menatapnya lekat-lekat.


“Ku rasa satu botol masih kurang jika keadaan hatimu masih kacau seperti ini. Mau ku ambilkan beberapa lagi?”


Liam tersenyum mendengar nada sarkas dalam kalimat Bobby. Dia menuang alkohol ke dalam gelas, mengaduknya beberapa kali sebelum menenggaknya sampai habis dalam sekali tegukan. Setelah itu dia kembali mengisi gelasnya, lalu meminumnya hingga tak bersisa. Sementara Liam menyibukkan dirinya dengan alkohol, Bobby hanya diam duduk di sampingnya, tak ada niat sedikit pun untuk melarangnya.


Setelah satu botol alkohol hampir habis, namun Liam masih membutuhkan beberapa lagi –sesuai prediksi Bobby, dia turun dari kursinya menuju lemari penyimpanan sementara Bobby masih tak bergeming. Dia hanya memperhatikan Liam saat dia mengeluarkan dua botol alkohol lagi.


“Katakan apa yang membuatmu seperti ini.” Bobby menahan tangan Liam saat dia hendak menuang alkohol ke dalam gelas. “Leanor bukan Ibumu. Steve sudah menyelidikinya. Sekarang apa lagi?”


“Dia sudah memberitahu kalian rupanya..” gumam Liam. Dia mendesah panjang, kembali menuang alkohol ke dalam gelas. “Thanks sudah menemani Hanna selama aku pergi.”


“Dia terus menangis. Aku dan Lona bahkan sempat berdebat karena dia sangat marah padamu dan merasa kamu menelantarkan sahabatnya. Seharusnya kamu memang tidak melakukannya Liam. Bagaimana pun Hanna sedang mengandung, dan wanita yang mengandung tak boleh stres berlebihan. Itu akan mempengaruhi janin kalian.”


“Aku tahu..” Liam menunduk. Dia mengurut keningnya perlahan. “Aku juga menyesalinya.”


Dia tampak berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Tapi ada baiknya aku pergi dari rumah. Aku jadi tahu bagaimana aku lahir di dunia ini.” gumamnya pelan.


Liam diam beberapa saat. Kelopak matanya mulai berair, semakin lama semakin menggenang hingga dia tak bisa menahannya lebih lama lagi. Saat setetes air matanya jatuh, Liam segera membuang muka dan menghapusnya. Dia berdehem, menarik nafasnya dalam-dalam lalu kembali menunduk.


“Jangan bilang kalau kamu pergi ke panti asuhan.” Tebak Bobby.


“Aku memang ke sana.” Liam tersenyum kecil. “Tadinya hanya ingin berjalan-jalan sebentar, tapi aku malah mengetahui kebenarannya di sana.”


Kepahitan hidup Cathy, kenyataan jika dia adalah janin para penjahat -entah penjahat yang mana karena jumlah mereka ada empat, dia tidak diinginkan di dunia ini. Semua kenyataan itu merobek lukanya semakin membesar.


"Aku rasa, aku nggak pantas untuk Hanna."