Way Back To You

Way Back To You
Aku Akan Menunggumu



Ditemani sekaleng cola dingin, Hanna duduk sendirian di atas gedung bertingkat berlantai dua puluh lima itu. Angin malam menerpa rambutnya, menerbangkannya hingga sesekali mengenai wajahnya dan membuat Hanna meringis kesakitan. Dia mendesah sembari mengikat rambutnya.


Lantunan nada Gymnopèdie yang didengarnya melalui earphone tidak bisa membuat hatinya nyaman, walau sebelumnya saat dia memikirkan sesuatu, mendengar musik klasik bisa membantunya rileks dan berfikir jernih. Namun kali ini, semua itu malah membuatnya ingin terus menangis walau Hanna tidak tahu persis hal apa yang sebenarnya dia tangisi. Dia hanya ingin menangis hingga dadanya terasa lebih longgar –dia pikir mungkin ini ada hubungannya dengan perubahan hormonnya karena dia sedang mengandung.


Pandangannya lurus, tampak kosong karena Hanna tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Tadi di dalam ruang rapat, Pak Hara marah besar karena laporan keuangannya yang berantakan. Dia sudah berkutat dengan laporan keuangan bertahun-tahun namun kali ini dia membuat kesalahan yang sangat fatal. Beruntung Bobby yang juga turut ikut rapat menunda semuanya dengan alasan dia kurang enak badan. Padahal Hanna yakin sekali, Bobby melakukannya karena tidak mau Pak Hara memarahinya.


“Dasar laki-laki sialan.” Hanna mengumpat.


Semua kesalahan yang dia lakukan akhir-akhir ini adalah karena Liam. Laki-laki itu meninggalkan luka yang sangat besar di dadanya yang sangat menyakitkan, hingga terkadang membuat Hanna tidak bisa bernafas manakala dia mengingatnya. Kata-kata Liam yang mengatakan dia tidur dengan laki-laki lain selalu terngiang di telinganya dan membuat darah Hanna langsung mendidih.


“Aku harap aku nggak akan bertemu denganmu lagi.” sungutnya kemudian.


Hanna membuka minuman kalengnya, dan bersiap meminumnya saat tiba-tiba seseorang menahan tangannya.


“Hentikan.”


“Pak Bobby?” Hanna tertegun.


Bobby menahan tangan Hanna, lalu mengambil minuman cola dari tangan Hanna dan membuangnya ke tempat sampah.


“Kamu nggak boleh minum minuman bersoda, apalagi saat kehamilan yang masih awal seperti ini. Itu bisa membahayakan bayimu.”


Hanna benar-benar tidak tahu. Dia pikir cola bisa menambah tenaganya karena perutnya kosong minta diisi, tapi karena Hanna masih mual, dia tidak bisa memakan apa pun. Bodohnya dia. Kalau Bobby tidak ada, apa yang akan terjadi dengan kandungannya?


“Kenapa? Masalah di rapat tadi atau masalah Ayah dari bayimu ini?” Bobby menatap Hanna lamat-lamat.


Dua-duanya, batin Hanna. Hanna hanya menyunggingkan senyumnya, lalu kembali menunduk. Dia tidak kuasa menolak saat Bobby membuka jasnya dan menyelimutkan ke tubuhnya. Keduanya kemudian duduk berdampingan, namun untuk beberapa lama mereka hanya diam, hingga..


“Thanks Pak..”


“Bobby saja.”


“Thanks Bobby.”


“Untuk apa? Aku nggak melakukan apa pun untukmu.”


Untuk semua hal yang sudah kamu lakukan untukku. Kamu bisa hadir di waktu-waktu aku membutuhkan seseorang seperti kamu punya telepati denganku.


“Apa kamu belum menemukan Ayah bayimu ini?”


Tolong jangan ungkit tentang dia. Laki-laki bajingan itu bahkan tidak pantas disebut Ayah karena dia tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali. Dia bahkan menuduhku yang tidak-tidak.


“Belum. Setelah ku pikir-pikir, sepertinya aku nggak perlu mencarinya –lebih tepatnya tidak perlu meminta pertanggungjawabannya, aku akan merawat bayiku sendiri.”


“Padahal aku sudah menawarkan diriku dengan suka rela untuk..”


“Bob, please.” Jangan membuatku semakin gila dan putus asa.


“Aku nggak tahu kamu sedang bercanda dengan ku atau nggak..”


“Apa menurutmu aku bercanda?” Bobby memutar tubuh Hanna.


Seandainya saja kamu tidak dalam situasi seperti ini, aku sangat ingin merengkuhmu, membawamu ke dalam pelukanku dan tidak akan melepaskanmu lagi. Hanna, aku sangat ingin menciummu untuk meyakinkanmu, jika semua yang ku katakan ini adalah benar adanya. Aku benar-benar mencintaimu.


Mata tidak akan bisa berbohong, dan sepertinya hal itu benar. Hanna bisa menilik ketulusan Bobby padanya lewat sorot mata yang teduh namun sangat mendamba –karena seperti itulah dia menatap Liam saat itu. Namun tetap saja Hanna merasa dirinya harus menolak Bobby, bukan hanya karena dia sudah mengandung, namun juga karena dia tidak memiliki perasaan apa pun pada Bobby.


“Kamu sudah bisa melihat ketulusanku? Atau...kamu ingin aku membuktikannya?”


Suara Bobby terdengar sangat rendah, memohon penuh harapan pada Hanna. Hal itu membuat dada Hanna sesak dipenuhi rasa bersalah pada Bobby. Namun dia tidak ingin menipu laki-laki itu –dan karena dia juga tidak ingin terlibat hubungan asmara lagi, Hanna berpikir Bobby layak mendapatkan seseorang yang lebih dari dia.


“Aku akan menunggumu, hingga kamu menerimaku!”


Kenapa kamu tidak mengerti kalau kesempatan itu tidak akan pernah ada? Bobby, tolong jangan seperti ini. Kamu malah membuatku semakin tersiksa dan frustasi.


“Hanna...”


Bobby menggenggam tangan Hanna erat.


“Aku tahu masa-masa ini sangat berat untukmu, tapi aku juga sudah menunggu selama bertahun-tahun. Aku ingin ada bersamamu melewati masa sulitmu dan aku mau kamu percaya padaku kalau aku benar-benar menyukaimu dengan tulus...”


Kata-kata Bobby menghujam jantung Hanna, menambah sedikit lagi beban dalam hatinya. Kenapa bisa laki-laki ini menyukainya? Apa yang Bobby lihat darinya?


*


“Aku ingin bertemu Hazer.”


Lona menyandangkan tas kerjanya, dengan tatapan serius menyapu ke sekeliling ruangan tempat Liam melakukan pemotretan. Setelah seharian mengutak-atik internet untuk mencari data tentang Liam atau Hazer, Lona akhirnya bisa menemukan alamat pemotretan Liam dari seseorang penggemar fanatiknya. Tentu saja Lona harus membayarnya –karena fans sialan itu tidak ingin bekerja sama dengannya tanpa kompensasi, dan di sinilah dia sekarang. Semua orang tampak sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Tidak ada yang menyahutinya, bahkan orang-orang itu terus melakukan pekerjaannya seolah-olah dia tidak pernah ada di sana.


“Halloooo, aku ingin bertemu dengan Hazer atau dengan Liam atau siapapun namanya!”


Kali ini Lona membuat suaranya lebih kencang dari sebelumnya. Triknya kali ini cukup berhasil, terlihat dari beberapa orang yang menatapnya penuh tanda tanya. Dengan tergopoh-gopoh Noah mendatanginya dengan handphone yang masih melekat di tangannya. Selama pemotretan Liam dia terus memainkan gamenya tentu saja, dan suara Lona membuatnya nyaris jatuh dari tempat duduknya. Bukan karena teriakannya, namun saat Lona menyebut Liam, saat itulah Noah langsung bergerak.


“Ada yang bisa ku bantu? Aku adalah manager Liam.” Dia menjulurkan tangannya.


“Di mana Liam? Aku sudah bilang aku ingin bicara dengannya.” Lona mengacuhkan tangan Noah, tentu saja karena dia tidak sudi berjabat tangan dengan teman laki-laki bejat itu.


“Liam...dia masih pemotretan. Mungkin sekitar setengah jam lagi sudah selesai.”


“Aku ingin bicara sekarang karena aku nggak mau menghabiskan waktuku yang berharga untuk menunggu laki-laki bejat itu.”


“Ehh, tunggu. Kamu bilang bejat? Tolong jangan bicara sembarangan, kamu bisa ku tuntut nanti.” Noah mengacungkan jarinya tepat di wajah Lona.


Lona tertawa kecil, menatap Noah sinis. “Kamu yakin akan melaporkanku? Baguslah, jadi ketika kita bicara di kantor polisi aku bisa menceritakan kelakuan artis mu itu dengan gamblang pada polisi.”


“Liam...” Lona kembali berteriak hingga menjadi pusat perhatian.


“Kamu ingin aku mengatakannya di sini atau kamu ikut aku untuk bicara empat mata?” lanjutnya kemudian.


“Hey, apa yang kamu lakukan?” Noah menarik tangan Lona dan berusaha menutup mulutnya.


“Noah, lepaskan. Aku akan bicara dengan dia.”


Liam muncul untuk memecah pertikaian di antara keduanya. Saat Lona menatap Liam, dia nyaris lupa dengan tujuan awalnya datang ke sana. Ternyata Liam benar-benar sangat tampan, pantas saja Hanna tergila-gila padanya dan tidak bisa melupakannya. Namun tampan saja tidak ada artinya jika dia tidak punya hati. Itu semua adalah kesia-siaan semu.


“Ayo bicara di ruanganku.”


Lona mengikuti langkah kaki Liam yang panjang. Memang, Lona mengakui jika Liam nyaris sempurna. Dari segi fisik, Liam jauh lebih dari segala-galanya dibandingkan Jhon, mantan kekasih Hanna. Namun dari segi perilaku, keduanya sama saja, sama-sama bejat dan tidak punya tanggung jawab.


“Kamu adalah...”


“Lona.” Sahut Lona cuek sambil melipat tangannya di dada.


“Okay, Lona. Apa yang ingin kamu bicarakan?”


“Aku hanya ingin mengatakan kalau kamu sangat biadab. Setelah mencicipi tubuh Hanna, kamu meninggalkannya begitu saja...”


Meninggalkannya begitu saja? Bukannya itu terbalik? Hanna yang meninggalkanku, bukan aku yang meninggalkannya.


“...dan setelah kamu mengetahui dia mengandung anakmu, kamu membantahnya, menuduhnya tidur dengan laki-laki lain dan bahkan melakukan kekerasan padanya. Menurutmu kalau seisi dunia ini tahu bagaimana sifat aslimu, bagaimana fans mu itu akan terus mengelu-elukan kamu?”


Liam memang menyesal tentang hal itu. Semua yang dikatakan Lona adalah penyesalan terbesarnya saat ini. Namun dia melakukan itu semua murni karena dia juga shock –dan juga karena luka batin yang tidak semua orang tahu. Kalau Liam bisa memutar waktu, dia tidak akan melakukan pada Hanna, gadis lembut dan polos yang membuatnya limbung.


“Lona, aku benar-benar menyesal soal...”


“Menyesal? Setelah kamu menyakitinya, kamu bilang menyesal? Apa kamu nggak pernah mendengar kalau kata-kata lebih tajam dari sebilah pisau? Kalau kamu menampar Hanna, dia bisa melupakan sakit di wajahnya dalam beberapa jam. Tapi dengan kata-katamu yang sangat nggak masuk akal itu, seumur hidup pun itu akan ter-rekam dalam memori Hanna.”


Satu-satunya hal yang tidak bisa diterima Lona adalah kalimat Liam yang menuduh Hanna meniduri laki-laki lain. Hanya itu. Dia tidak peduli yang lainnya, entah dia mau bertanggung jawab atau tidak. Tapi Lona sangat mengenal Hanna, sahabatnya itu. Dia adalah gadis yang paling baik dan polos yang pernah Lona kenal –dan dialah yang merusak kepolosan Hanna.


Itu sebabnya Lona akan mengejar keadilan untuk Hanna. Dia tahu dia harus bertanggung jawab untuk semua yang diderita Hanna. Dan langkah pertama adalah mendatangi laki-laki ini tentu saja.


Liam tidak bisa berkata-kata. Semua yang dikatakan Lona benar karena dia pun sadar seberapa kasar dia pada Hanna waktu itu. Dia mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dia katakan. Bukannya menyelesaikan masalah, hal itu justru menambah masalah dan semakin melebarkan jarak antara dia dan Hanna.


“Dengar, Liam. Aku dan Hanna sudah sepakat, kami akan merawat bayi itu bersama. Kami nggak butuh kamu atau uangmu itu..” –Liam bisa mendengar nada mengejek dari penekanan intonasi Lona.


“...karena kami juga memiliki apa yang kamu miliki. Jadi nggak perlu sok kaya, seolah-olah kamu bisa menutupi semua kesalahanmu dengan uang. Tidak. Jadi ingat kata-kataku ini, jangan datangi dia lagi, jangan hubungi dia lagi, jangan cari dia lagi. Dia akan baik-baik saja tanpamu. Mengerti?”


Lona meninggalkan Liam yang masih mematung, tidak bergerak sama sekali. Kesalahan demi kesalahan yang dia lakukan membuat dunia Liam berantakan. Seandainya mereka juga tahu jika dia sangat tertekan soal ini dan bahkan nyaris tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak. Namun sepertinya kebencian Hanna sudah meluap padanya, bahkan sahabatnya pun rela mendatanginya demi Hanna.


Han, seandainya aku bisa menyembuhkan hatiku, aku mungkin bisa bersamamu dan memulai semuanya dari awal lagi.