Way Back To You

Way Back To You
Ketahuan



“Dia baik-baik saja, begitu juga bayi dalam kandungannya.”


Bobby kembali masuk ke dalam mobil setelah dia berbicara dengan dokter kandungan yang menangani Hanna. Dengan memanfaatkan kekuatan koneksinya, Bobby berhasil menemukan profil dokter yang menangani Hanna dan juga kontaknya. Mereka masih menggunakan pakaian yang sama karena mereka tidak beranjak sedikit pun dari rumah sakit.


“Syukurlah..” Liam mendesis lega, nyaris berteriak.


Sekarang dia baru bisa bernafas dengan normal. Rasa bersalah menghujam dada Liam berkali-kali setelah mengetahui apa yang terjadi pada Hanna. Dia ingin meraih tubuh Hanna, menempatkannya di sisinya dan melindunginya setiap detik. Dia ingin memastikan Hanna merasa aman dalam pelukannya. Namun semua itu hanya sekedar angannya saat ini karena Hanna semakin jauh dari jangkauannya.


“Dia bahkan menyerahkan salinan foto USG Hanna.” Bobby menyerahkan gambar hitam putih di kertas tipis itu. “Untukmu.”


“Thanks.” Ujar Liam tulus.


Dia menatap gambar itu walau dia tidak mengerti sama sekali. Namun itu adalah janinnya, miliknya sendiri. Dia sudah pernah melakukan USG bersama Hanna namun dengan alat seadanya dan Liam baru menyadari, setelah itu dia tidak pernah menemani Hanna memeriksakan kehamilannya lagi.


USG yang dulu masih terus mempengaruhi Liam dan saat dia memikirkan bayinya, air matanya akan jatuh. Dia senang memikirkan jika di dunia ini dia akan memiliki kerabat sedarah, -darah dagingnya sendiri. Kebahagiaan itulah yang membuat Liam menangis bahagia karena akhirnya dia mampu mengakui dan mengklaim seseorang itu adalah bagian dari dirinya tanpa beban.


“Usia bayimu sembilan belas minggu dan dia sehat. Maksudku, ada banyak hal yang diberitahukan oleh Dokter tapi aku nggak bisa merekam semuanya dalam otakku..” Tidak dalam keadaan kalut seperti ini. “Tapi intinya tetap sama, dia baik-baik saja. Oh iya, kata dokter seharusnya sebentar lagi Hanna bisa merasakan gerakan bayinya.”


Walau terdengar menarik dan Liam sudah sangat lama menantikannya, tentu saja dia harus bisa menahan diri dulu. Semuanya ini harus segera diselesaikan jika dia tidak mau berlama-lama berpisah dari Hanna. Dan saat itu tiba, dia akan memeluk Hanna dan tidak akan melepaskannya lagi.


Walau menunggu semalam suntuk, tetap saja mereka tidak bisa masuk ke rumah sakit. Semua wartawan itu masih memenuhi sekitar rumah sakit, entah untuk apa. Bobby sudah mencari tahu, tidak ada pejabat tinggi atau publik figur yang dikirim ke rumah sakit ini. Dugaan mereka, semua wartawan itu diperintah oleh seseorang.


“Mantan Hanna pelakunya..” ujar Noah setelah dia selesai menerima panggilan telepon.


Menyadari Liam dan Bobby tidak ada di klub, Noah mau tidak mau harus menghentikan nafsunya untuk sementara waktu. Liam masih tanggung jawabnya karena dia adalah manager Liam –dan dia jauh lebih penting daripada olahraga ranjang lima menitnya.


Liam menoleh ke bangku penumpang. “Jhon, dia yang memobilisasi semua wartawan itu.” terang Noah sekali lagi.


Sudah ku duga, batin Liam. Tidak mungkin mendadak ada banyak sekali wartawan di sana. Semua itu dilakukan oleh Jhon hanya agar dia tidak bisa menemui Hanna. Laki-laki itu benar-benar sakit dan semakin terobsesi pada Hanna. Jika dia menyadari Hanna sangat berharga, seharusnya dia tidak melakukan hal murahan seperti selingkuh dari Hanna dulu. Tapi ada baiknya juga, dia dan Hanna bisa bertemu berkat keteledorannya.


“Berarti Jhon terhubung dengan seseorang yang menyerang Hanna di rooftop.” Ujar Liam. “Karena kabar ini tidak diketahui siapa pun, dan nggak mungkin juga petugas keamananmu menghubungi dia, dia bukan siapa-siapa. Jadi aku bisa menyimpukan jika dia dan pelaku terhubung dan bisa jadi, semua hal yang dilakukan Jhon merupakan perintah pelaku.”


Kesimpulan Liam diikuti anggukan setuju dari Bobby dan Noah “Video syur itu juga pasti diedit oleh pelakunya.” Ucap Bobby lagi. “Siapa pun itu, dia pasti sangat ahli menggunakan komputer.”


Liam setuju. Mereka sudah mendapat rekaman CCTV kejadian itu. Saat itu sayangnya kamera CCTV di lantai dua puluh empat dan dua puluh lima sedang dalam perbaikan menyeluruh jadi mereka tidak bisa menemukan rekaman saat Hanna diserang. Seseorang yang menggunakan jubah hitam itu keluar dari ruang gudang peralatan di lantai dua puluh.


Ada banyak orang yang keluar masuk ke ruangan itu, namun anehnya, semua petugas kebersihan sudah tercatat pulang sekitar pukul lima sore kecuali shift malam. Shift malam ada lima orang petugas kebersihan dan pada saat kejadian mereka semua sedang berkerja di departemen yang berbeda –dan semuanya terekam kamera. Lalu siapa dia? Kenapa dia bisa berada di perusahaan Bobby?


“Aku sangat yakin ini orang dalam Bob.” Dia menatap Bobby sekali lagi. “Nggak mungkin orang luar bisa menghapal semua detail ruangan di kantormu dan tahu gerak gerik Hanna. Aku sangat yakin.”


“Tapi siapa?”


Siapa yang harus mereka curigai? Apakah ini tentang cinta dan perasaan?


*


Wanita itu duduk dalam ruangan gelap di dalam rumahnya. Dia melempar bola kecil ke dinding, lalu saat bola itu memantul dia kembali menangkapnya. Dia melakukannya berulang-ulang, hingga tiba-tiba dia berteriak histeris dan melempar bola itu ke cermin.


Prangg..


Cermin berukuran fullbody itu hancur berkeping-keping. Tanpa alas kaki, dia berjalan di atas pecahan beling tanpa merasa kesakitan saat kepingan itu menusuk kulitnya yang tipis.


“Wanita murahan, bisa-bisanya kamu masih bertahan..” desisnya penuh kebencian.


“Seharusnya malam itu aku menjatuhkanmu ke bawah, bukan hanya mencekikmu. Itu jauh lebih baik.” Dia menyesali perbuatannya setelah mengetahui targetnya masih selamat, masih baik-baik saja dan bahkan sudah kembali ke rumahnya.


“Tunggu saja..” dia tersenyum menyeringai. “Karena kamu cukup asyik untuk diajak bermain, maka kita akan lanjutkan terus permainan ini hingga kamu menyerah..” Dia tertawa terbahak-bahak.


“Hanna, untuk sementara aku akan mengizinkanmu menikmati hari-harimu dulu dan kembali menunggumu lengah. Saat ini aku akan kesulitan mendekatimu karena kamu pasti sangat waspada. Tapi percayalah, aku akan kembali padamu melanjutkan apa yang harus kita lanjutkan. Hanna.. Kamu ibarat tikus kecil yang tidak akan lolos dari cengkeramanku.”


"Tidak akan pernah!"


**


Hanna mengintip lewat jendela kamar saat perasaannya mengatakan jika seseorang sedang mengawasinya. Dia menangkap sekelebat bayangan hitam –dua orang atau lebih, berjalan hilir mudik tak jauh dari rumahnya. Di luar sana, saat rembulan bersinar penuh dan terang, bayangan itu terlihat sangat jelas.


“Ada apa?” Lona mendekati Hanna sembari mengoleskan lotion ke tangannya.


“Seseorang mengawasi kita..” dia menatap Lona. “Ada beberapa orang.”


Lona ikut mengintip dengan menyibak sedikit tirai jendela kamar Hanna. Dia menangkap bayangan yang dimaksud Hanna.


“Menurutmu mereka yang menyakitimu?”


“Tunggu di sini..” Hanna mengikat rambutnya yang terurai.


“Kamu mau ke mana?”


“Menemui mereka..” Hanna melirik jam dinding. “Ini masih pukul sepuluh malam, seharusnya masih ada banyak orang yang belum tidur seandainya pun terjadi sesuatu padaku nanti. Aku bisa berteriak meminta tolong.”


“No..” Lona menggeleng tidak setuju. “Hanna, kondisimu masih riskan, jangan menambah masalah lain. Bagaimana kalau mereka menyakitimu dan kamu tidak sempat untuk berteriak?”


“Bagaimana kalau kamu ikut?”


“Hanna..”


“Aku nggak mau dihantui terus menerus Lona. Mereka membuatku mati ketakutan setiap saat. Nggak, aku nggak bisa selamanya seperti ini. Aku harus menghadapi semuanya sendiri..”


“Tapi Han..”


Lona belum selesai bicara saat Hanna sudah meninggalkan kamar. Mau tidak mau Lona mengikuti Hanna dan diam-diam mengantongi gunting kecil di saku hoodienya. Keduanya berjalan mengendap-endap menuju sebuah tanah kosong di samping rumah Hanna. Tanah itu milik salah satu tetangganya yang hanya ditumbuhi oleh beberapa pohon mangga dan rambutan.


Dari balik pohon, Hanna melihat ada tiga orang laki-laki menggunakan jaket sedang duduk jongkok. Mereka sedang bermain kartu ditemani penerangan ala kadarnya dari cahaya lampu tetangga yang menyusup sedikit ke tanah kosong itu.


“Siapa kalian?” Hanna berdiri di belakang mereka, sehingga membuat ketiganya nyaris terjengkang karena kaget.


Lona siaga di samping Hanna. Dari tadi tangannya dia simpan di dalam saku hoodienya, bersiap siapa tahu mereka akan menyerang Hanna. Namun bukannya bersikap agresif, ketiga laki-laki berjaket itu malah terkesan ketakutan –seperti seseorang yang sudah ketahuan. Dia dan Hanna saling berpandangan, tidak yakin jika mereka ini akan menyakiti Hanna.


“Apa yang kalian lakukan di dekat rumahku? Kalau kalian tidak bicara, aku akan berteriak sekarang memanggil warga.” ancam Hanna sekali lagi.


“Ma..Maaf Bu Hanna. Kami hanya menjalankan perintah untuk mengawasi Ibu Hanna.”


“Mengawasi?” alis Hanna naik.


“Benar. Kami mendapat perintah dari Pak Liam.”


“Liam?” seru Hanna dan Lona bersamaan.


“Benar. Pak Liam meminta kami mengawasi rumah Ibu Hanna sejak dua minggu yang lalu.”


Untuk apa? Bukankah dia sudah mencampakkan Hanna? Kenapa dia memerintahkan orang untuk menjaga Hanna seolah-olah dia masih peduli padanya?


“Kalian bisa kembali..” Hanna berbalik. “Katakan pada Tuan kalian aku tidak butuh diawasi.” Mulai saat ini, aku yang akan menjaga diriku sendiri.


“Tidak Bu. Kami tidak bisa meninggalkan tempat ini kalau bukan Pak Liam yang memerintahkan secara langsung.”


Hanna menoleh, dia tersenyum kecut. “Memangnya siapa dia?”


Pembicaraan mereka harus terhenti sejenak saat salah satu handphone orang utusan Liam berbunyi. “Jika itu Liam, tolong aktifkan speakernya. Kamu bisa bicara dengan leluasa, anggap saja kami tidak ada di sini.” Perintah Hanna dan orang itu menurut pada Hanna.


“Halo Pak Liam..”


“Kalian masih di sana? Bagaimana keadaan sekitar rumah Hanna?”


Jantung Hanna berdetak cepat manakala dia mendengar suara Liam. Caranya bicara seolah-olah dia sangat peduli, sangat bertolak belakang dengan cara bicaranya ketika memberitahu Hanna tentang keputusannya untuk berpisah. Dan nada suaranya ini juga berbeda, terdengar seperti..cemas dan ketakutan.


“Semuanya aman Pak. Dan..” Orang itu menatap Hanna. Hanna menggeleng, memberi isyarat agar dia tidak memberi tahu Liam jika dia di sana.


“Dan apa? Ada masalah?”


“Tidak Pak. Semuanya aman.”


Hanna dan Lona saling berpandangan dan dua-duanya dipenuhi rasa bingung. Tidak, tidak seharusnya Liam masih peduli pada Hanna, kecuali..


“Kenapa kamu mengirim orang-orangmu padaku saat kamu sendiri sudah meminta perpisahan dariku?” seru Hanna tiba-tiba.


Dia tidak bisa menahan diri. Dia bingung dengan kepribadian Liam yang memperlakukannya seolah-olah dia bodoh.


“Hanna..” suara Liam terdengar shock.


“Benar, ini aku. Katakan padaku kenapa kamu masih memantauku setelah apa yang sudah kamu katakan waktu itu.”


Jika kamu sudah meminta untuk berpisah, setidaknya kamu harus benar-benar meninggalkanku. Jangan sisakan jejakmu di sekitarku agar aku tidak kesulitan untuk melanjutkan hidupku. Jika kamu seperti ini, aku akan merasa jika kamu sebenarnya masih menginginkanku. Jangan buat aku bingung dengan sikap mu.


“Temui aku sekarang juga dan jelaskan semua ini padaku.”