
“Trimakasih banyak sudah mau menemuiku, Hanna.”
Liz meletakkan tehnya dan tersenyum ramah pada Hanna. Hanna hanya mengangguk kecil. Setelah berkomunikasi dengan Liz lewat telepon, Hanna memutuskan untuk menemui pengacara Gita untuk tujuan yang sama, yaitu membicarakan kasus Gita karena ini menyangkut dirinya juga.
“Sebenarnya aku juga ingin mengunjungi Gita di tahanan, tapi aku masih memulihkan diri, jadi..”
“Aku mengerti.” Liz tersenyum. “Kamu pasti masih sangat shock dengan semua kejadian yang menimpamu ini.”
“Apa kamu tahu kalau bukan Gita pelakunya? Maksudku..”
“Aku tahu..” sela Hanna. “Alternya yang melakukannya, iya kan?”
“Syukurlah kamu memahaminya. Aku pikir akan lebih susah bicara padamu karena nggak semua orang awam mengerti kondisi ini.” Liz terlihat lega.
“Bagaimana keadaan Gita?”
“Dia baik-baik saja. Kami sudah melakukan hipnoterapi padanya kemarin.”
“Hipnoterapi?” kening Hanna mengerut.
Liz mengangguk. “Sebuah terapi untuk memberi sugesti pada alam bawah sadarnya. Dengan begitu, akan lebih mudah bicara dengan alternya karena selama di tahan, alternya belum pernah muncul sekalipun.”
“Jadi apakah hipneterapinya berhasil?”
“Sejauh ini berhasil. Tapi bukan itu sebenarnya yang ingin ku bicarakan padamu.”
“Lalu apa?”
“Gita ditahan karena serangkaian teror yang dia lakukan padamu, juga penyekapan dan penembakan pada korban bernama Jhon. Lalu terakhir, dia mengakui jika dialah sosok yang bertanggung jawab di balik kematian Angela, seorang model dalam naungan agensi yang sama dengan Hazer. Aku bisa mendampinginya, tapi bisakah kamu membantunya untuk meringankan tuntutan? Maksudku, aku sangat memikirkan kesehatannya karena saat bertemu dia kemarin, dia terlihat sangat berantakan..”
Hanna mendengar dengan seksama.
“Dokter yang menghipnotis dia mengatakan jika dia sedikit ragu dengan keadaan kesehatan mental Gita. Dia khawatir jika Gita akan terguncang dan cenderung menyakiti dirinya sendiri. Hal yang paling fatal yaitu bunuh diri. Kamu paham maksudku bukan?”
Hanna mengangguk. Dia mengerti apa yang dimaksud Liz. Sesungguhnya dia juga tidak ingin Gita mendekam di penjara karena bagaimana pun, dia sangat menyayangi Gita. Kedekatan mereka selama ini tidak bisa digantikan dengan apa pun. Lagipula bukan Gita yang melakukan semua tindakan kejahatan selama ini, melainkan alternya. Gita pasti merasa tertekan, kacau, bingung dan merasa bersalah.
“Aku akan menemui Gita sekaligus memberi keterangan pada pihak kepolisian..” ujar Hanna. “Aku akan membantunya keluar dari penjara secepatnya.”
*
Hanna duduk dengan tenang di dalam ruang kunjungan yang tidak terlalu luas. Beberapa saat kemudian Gita datang dengan didampingi dua orang petugas. Hanna bisa melihat kedua bola mata Gita berkaca-kaca saat melihatnya. Wajahnya pucat, bibirnya kering dan mengelupas, kedua bola matanya bengkak dan lingkaran hitam menggantung di bawah kelopak matanya.
Hati Hanna terenyuh. Dia tidak menyangka Gita akan berubah sebesar ini.
“Kamu baik-baik saja?” sapa Hanna lembut.
Gita mengangguk, kepalanya masih menunduk. “Maafkan aku Kak Han..” ujarnya pelan.
“Kenapa minta maaf? Kamu nggak salah. Kamu nggak melakukan apa pun yang salah.”
“Tapi aku membantunya membawa Kak Hanna ke rumah untuk menjebak. Aku.. aku nggak bisa menolak saat bisikan-bisikan itu datang di kepalaku.”
Hanna mendesah. Dia menatap Gita lamat-lamat. Hal apa yang sudah dialami Gita? Masa lalu yang seperti apa yang membuat dia menderita seperti ini?
“Gita, kamu jangan khawatir. Aku akan membantu memberi pernyataan pada kepolisian agar kasusmu lebih ringan. Hanya itu yang bisa ku lakukan saat ini..”
“..dan untuk kasus yang lain, percaya lah pada pengacara yang dipilih untukmu. Dia pasti bisa membebaskanmu dengan segera.”
Masih sepi. Hanna menghela nafasnya dalam-dalam. “Baiklah Gita, hanya itu saja yang mau ku katakan. Bertahan dan tetaplah berpikir dengan jernih. Aku akan mendukungmu.” Hanna mengelus lengan Gita dengan lembut.
Tetesan demi tetesan air mata Gita jatuh menelusuri wajahnya yang putih pucat. Dia menatap Hanna sungguh-sungguh. Bagi Gita, Hanna bukan sekedar atasannya. Dia sudah seperti saudara, seorang Kakak yang perhatian padanya melebihi keluarganya sendiri. Semua luka batinnya begitu membuat Gita mati rasa, namun dia terus mengumpulkan semua tetes-tetes kewarasannya hingga saat ini, Gita mulai merasa sedikit lelah.
“Kak..” Gita mengangkat wajahnya. “..tolong berikan ini pada Leo.” Dia mengeluarkan sebuah surat dari dalam kantongnya dan meletakkannya di atas meja. “Katakan padanya untuk jangan menungguku lagi apapun yang terjadi.”
“Leo?” mata Hanna mengerjap.
Gita mengangguk. “Dia sudah menemaniku selama ini, dia menyaksikan semua apa yang ku alami. Aku nggak pantas untuk dia Kak. Dia berhak bahagia bersama wanita lain.”
Astaga, kenapa Hanna tidak menyadari ini sebelumnya? Semua kebersamaan mereka, semua waktu yang dihabiskan setiap hari bersama-sama, di mana ada Gita disitulah Leo berada, semuanya karena Leo menyukai Gita? Kenapa aku tidak peka sama sekali?
“Leo sudah melakukan yang terbaik untuk membuatku bangkit dari kelamnya masa laluku, tapi tetap saja aku kalah. Jadi Kak Han, tolong katakan padanya berhenti mencintaiku.”
“Kamu nggak mengabari Leo di mana posisimu sekarang berada? Dia tidak tahu sama sekali?”
Gita mengangguk pelan. “Aku meminta agar Mama merahasiakan ini semua dari Leo. Aku yakin saat ini dia sedang mencariku ke mana-mana. Tapi aku benar-benar nggak pantas untuk dia Kak dan aku malu dengan diriku saat ini.”
“Gita..” Hanna menggenggam tangan Gita. “Jangan malu, kamu nggak melakukan kesalahan apa pun. Kalau Leo memang menyukaimu, dan kamu menyukainya, kenapa kalian tidak mencoba memulai hubungan yang serius? Percaya padaku, luka masa lalumu, entah apa pun itu pasti bisa sembuh dengan cinta.” Karena itulah yang dikatakan oleh Liam padaku. Keberadaanku membuat luka masa lalunya perlahan sembuh dan menghilang. Gita, percayalah padaku.
Gita tersenyum, lalu mengangguk pelan.
“Waktu kunjungan sudah habis.” Seorang petugas masuk ke dalam ruang kunjungan. Gita kembali dibawa ke dalam sel, dan sebelum dia berlalu dari hadapan Hanna, dia kembali menoleh dan tersenyum. “Kak Han, kalau aku menyerah, apa Kakak akan marah padaku?”
Lewat celah jendela kecil bersekat besi berukuran tiga puluh senti, Gita menatap ke luar dengan tubuh yang masih terbaring. Udara cukup dingin, suara nyamuk berdengung di telinganya. Dia tidur hanya beralaskan sebuah kasur tipis yang bahkan tidak ada bedanya dengan tikar. Gita menarik nafas dalam-dalam.
“Aku tahu kamu lelah..” Gita mendengar suara dari dalam dirinya sendiri. “Sudah ku bilang istirahat lah, jika kamu beristirahat sejak dulu kita tidak perlu melalui ini semua.”
Gita mengangguk setuju. Hatinya lelah, batinnya sakit, tubuhnya remuk. Dia sangat ingin beristirahat dan melupakan semuanya.
“Maaf kalau aku membuatmu terluka cukup dalam. Aku hanya ingin menciptakan duniaku sendiri karena dunia nyata yang kamu jalani tidak sesuai dengan yang ku mau..”
Air mata Gita menetes, semakin lama semakin deras hingga dia sesenggukan. “Jangan menangis. Kamu terlalu berharga bagi dunia yang penuh kemunafikan seperti ini dan air matamu tak pantas terjatuh menyentuh bumi..”
Gita menangis terisak-isak hingga tubuhnya bergetar. “Gita, maukah kamu mengakhiri penderitaan kita bersama-sama? Ayo, kita langkahkan kaki kita ke dalam dunia yang jauh lebih baik. Dunia yang tenang tanpa air mata dan penderitaan. Kamu sudah cukup menahan semua ini seorang diri..”
Gita memutar tubuhnya hingga memunggungi pintu jeruji besi itu. Dengan air mata yang masih memenuhi kelopak matanya, dia mengambil sebuah silet dari bawah kasur yang dia dapatkan dari salah satu tahanan saat mereka melakukan bersih-bersih tadi sore. Dia memejamkan matanya dan merasakan sentuhan dingin benda tajam yang memutus pembuluh darah di pergelangan tangannya.
Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa sakit. Semuanya terasa sangat cepat dan Gita mulai merasakan detak jantungnya melambat.
Dia melihat seorang laki-laki dengan postur tinggi layaknya atlet, tersenyum menatap seorang bayi perempuan yang baru lahir. Dia menimangnya ke sana ke mari, berputar-putar layaknya seorang penari balet. Anak perempuan itu tidak terpengaruh suara berisik yang diciptakannya. Dia tetap tertidur dengan lelap, merasa aman dalam dekapannya.
Dia melihat Ibunya, mengenakan gaun yang sangat cantik dengan satu gelas wine di tangannya. Dia berdansa dengan laki-laki biadab bernama Bradley. Keduanya tertawa bahagia, berdansa dengan tubuh melekat satu sama lain diiringi alunan musik Minuetto dari Luigi Boccherini.
Dia melihat Hanna, wajah teduh penuh kasih sayang. Satu-satunya orang yang bisa mencintai Gita tanpa melihat siapa dia. Hanna percaya padanya, tersenyum padanya setiap saat. Hanna melempar candaan, memarahinya karena dia terlalu banyak bicara dan bergosip.
Dia melihat Leo, teman kerja kantor yang sebenarnya adalah teman masa kecilnya. Laki-laki itu tersenyum melambaikan tangan padanya. Mereka berlari-lari menuruni bukit rumput hijau dan memunguti bunga-bunga liar. “Aku menyukaimu.” Dia mendengar pengakuan cinta dari Leo padanya saat usianya delapan belas tahun.
Dia melihat Giselle, dirinya sendiri, berada dalam sebuah ruangan, kelelahan, namun tetap tersenyum. Dia mengulurkan tangan padanya, menyambutnya dengan sebuah senyuman kemenangan.
Semua sudah selesai. Penderitaan dan luka itu sudah selesai.