
Bradley tidak berkutik saat beberapa petugas kepolisian menyeretnya dari rumah duka. Veronica terlihat tergopoh-gopoh mengikuti langkah Bradley tanpa menghiraukan acara duka yang tengah berlangsung. Leo menelan ludah, lalu perlahan senyumnya mengembang saat menatap bingkai foto Gita.
“Semuanya sudah selesai..” dia mengusap foto itu dengan linangan air mata. “..Tidurlah yang nyenyak, Gita. Semuanya sudah selesai.” Leo menangis sesenggukan memeluk bingkai foto Gita.
Hanna tidak bisa menahan diri. Dia mendekati Leo, menepuk punggungnya pelan, lalu ikut bersimpuh merangkul Leo. “Kamu sudah melakukan yang terbaik..” Hanna mengelus punggung Leo. “Gita benar-benar bahagia sekarang. Dia sudah bahagia.”
Gita dimakamkan tanpa kehadiran Veronica. Wanita itu ternyata lebih memilih mendampingi Bradley alih-alih melepas puterinya untuk yang terakhir kalinya. Ternyata semua rasa pengakuan cinta yang selama ini digadang-gadang olehnya hanya tipuan semata. Bisa jadi itu hanya sekedar menjaga nama baiknya di mata para pemegang saham dan petinggi agensi miliknya.
Dan hal itu benar-benar membuat Hanna dan Liam meradang. Liam khususnya, benar-benar tidak tahu jika orang-orang yang mendirikan agensi dan tampak normal itu sebenarnya predator buas. Tega-teganya Bradley melecehkan seorang anak yang saat itu hanya berusia sepuluh tahun. Dan Veronica juga, bagaimana bisa dia menutup mata dan pura-pura tidak mengetahui apa yang sudah dilakukan suaminya pada Gita, puteri kandungnya sendiri? Bukankah dia lebih dulu jatuh cinta pada Gita, lebih dulu bertemu dengan Gita daripada dengan Bradley sendiri? Sekonyol itukah cintanya pada Bradley?
“Orang-orang biadab..” Liam mengguman sendiri saat dia, Hanna, Bobby, Lona dan Noah makan malam di restoran Silver Bowl selepas pemakaman Gita.
“Memang..” sahut Hanna. “Dan aku nggak tahu jika Gita menderita seperti itu selama ini. Ku pikir dia baik-baik saja, keluarganya pasti sangat harmonis melihat bagaimana cerianya dia setiap hari di kantor.”
Bobby juga tampak menghela nafasnya. “Ternyata ungkapan seseorang yang banyak tertawa biasanya menyimpan banyak kesedihan dalam hatinya itu benar. Aku nggak menyangka akan menemukan ini pada diri Gita.”
“Laki-laki itu yang patut mati..” Noah menancapkan garpu ke atas roti dalam piring. “Usia Gita masih sepuluh tahun saat itu, bayangkan sepuluh tahun..” dia menggeram. “Dan kenapa juga Veronica pura-pura nggak mengetahui semuanya itu? Dia sok berkuasa di dalam industri hiburan, ternyata dia memperlakukan anak perempuannya dengan tidak sepantasnya. Aku berharap keduanya di blacklist dari industri ini dan juga dihukum seberat-beratnya.”
Mereka semua mengangguk setuju. Tampak wajah-wajah penat tergambar dalam raut wajah mereka, khususnya Hanna. Jika ada yang bertanya saat ini padanya apa penyesalan terbesarnya, maka dia akan menjawab Gita. Gita adalah penyesalan terbesarnya, bagaimana bisa dia hidup berdampingan setiap hari dengan Gita dan menghabiskan banyak waktu dengannya, namun dia tidak tahu apa pun tentang Gita. Bagaimana bisa dia mengakui jika dirinya adalah Kakak dan atasan Gita? Dirinya keterlaluan, dan Hanna mengakuinya sendiri.
Menyadari Hanna masih shock dan sedih, Liam menggenggam tangan Hanna diam-diam. Dia tersenyum, mencoba mengusir kegelisahan Hanna. Dia mengelus tangan Hanna dengan buku ibu jarinya, menenangkan dan meredam perasaan Hanna. Liam tahu ini pasti berat bagi Hanna dan Bobby karena mereka lah yang menghabiskan banyak waktu bersama Gita. Tapi Gita sudah bahagia, dan mereka harus kembali melanjutkan hidup.
Saat Liam memarkir kendaraannya setiba di rumah, Hanna sudah terlelap. Dengan hati-hati Liam melepas sabuk pengaman Hanna dan menggendongnya ke dalam. Jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas malam saat mereka kembali dan Liam langsung meletakkan Hanna di atas tempat tidur tanpa membangunkannya. Biasanya Hanna akan merengut soal make up yang belum dibilas bersih dan menimbulkan jerawat di wajahnya, namun bagi Liam Hanna tetap menawan walau wajahnya ditumbuhi satu dua buah jerawat.
“Kita sudah sampai?”
Walau Liam sudah meletakkan Hanna dengan sangat pelan-pelan, tetap saja Hanna terbangun. Liam duduk di sampingnya dan mengangguk. Seperti biasa Hanna bangkit kembali untuk membersihkan dirinya dan Liam tidak bisa melarangnya. Itu adalah kebiasaan Hanna dan kebiasaan itu semakin menggila saat Hanna mengandung. Mungkin itu efek dari hormon kehamilannya.
“Apa yang kamu lakukan?”
Hanna terkejut saat Liam menahan pintu kamar mandi ketika Hanna akan menutupnya. Liam tersenyum menyeringai dan Hanna langsung tahu tujuan Liam apa.
“Jangan bercanda. Aku ingin mandi secepatnya.”
“Aku juga ingin mandi..” Liam mendorong pintu. “Kenapa kita nggak mandi bersama-sama?”
“Liam..” wajah Hanna memerah. “Antri. Nanti giliranmu mandi, aku nggak akan lama mandinya.”
“Tapi Han..” Liam menahan dirinya dengan meletakkan tangannya di sisi pintu. “Aku mau mandi bersamamu.”
“Nanti..” Hanna mendorongnya kembali hingga Liam tidak sanggup lagi menahan dirinya sendiri.
Dengan merengut dia duduk di sisi tempat tidur, menunggu dengan jantung yang mulai berdetak dengan lebih cepat. Entah kenapa Liam tidak bisa menahan keinginannya jika dia berada di samping Hanna. Hanna terasa sangat lembut dan hangat, dan sialnya Liam selalu terpengaruh pesonanya. Semua dorongan sensual itu bercampur dalam dirinya sejalan dengan keinginannya untuk menjaga dan menenangkan Hanna.
“Aku akan menagih janjimu nanti..”
Liam mengerling pada Hanna saat wanita itu keluar dari kamar mandi mengenakan piyama tidur. Hanna tertawa kecil, lalu mengangguk pelan diikuti sebuah kecupan ringan di wajah Hanna. Hanna memegang dadanya. Jantungnya selalu berderap tak karuan saat Liam menggodanya seperti itu. Baginya tidak ada kata bosan jika itu tentang Liam, dan Hanna bersumpah sekali tidak akan cukup baginya.
“Han, kamu sudah tidur?”
Hanna menggenggam ujung sarung bantal yang ditidurinya. Dia memejamkan matanya dengan wajah yang memerah dan jantung yang semakin memacu.
“Han..”
Liam naik ke atas tempat tidur, lalu membalik tubuh Hanna. Hanna membuka matanya perlahan-lahan, mendapati wajah Liam tepat berada di atas wajahnya dan..dia tidak mengenakan sehelai benang pun.
“Liam.. Kamu..”
“Sudah ku bilang aku akan menagih janjimu nanti.”
“Tapi..”
Liam tidak ingin mendengar kata-kata apa pun lagi dari mulut Hanna. Dia mencumbu bibir Hanna dengan lapar dan liar, seolah-olah Liam tidak akan bisa terpuaskan. Dia menghujani wajah Hanna dengan ciuman-ciuman singkat tapi lembut, lalu turun ke leher Hanna. Perlahan tangan Liam bekerja membuka kancing demi kancing piyama Hanna dengan bibir yang masih menempel di lehernya.
Saat pakaian Hanna sudah terlepas semuanya, Liam duduk, mengamati tubuh Hanna sesaat. Hanna menutup wajahnya dengan telapak tangan, merasa malu dengan tatapan Liam walau hal itu sudah mereka lakukan hampir setiap malam.
“Apa yang kamu lakukan?” Hanna memutar tubuhnya, namun Liam menahannya.
“Sebentar..” nafasnya terengah-engah. “Biarkan aku melihatmu sebentar lagi.”
Tubuh Hanna menggeliat saat liam mencium perutnya yang sedikit membuncit. Liam terus menciumnya hingga otot perutnya terasa mengejang, lalu dia bergerak perlahan ke atas. Jemari Liam berlari dengan lembut di punggung Hanna sementara dia mencecap dadanya dengan liar.
Kedua tangan mereka saling bertaut saat Liam melakukan penyatuan, dan tak lama sebuah sensasi panas meledak di antara mereka berdua, terasa menguras tenaga dan lelah, namun mereka puas.
Hanna bergeser ke punggung Liam yang bidang, menempelkan tubuhnya sementara laki-laki itu masih menikmati sisa petualangannya yang semakin hari semakin menggairahkan bersama Hanna.
“Thanks baby..”
Sebuah ciuman hangat mendarat di bibir Hanna sekali lagi. Sebuah ciuman yang singkat namun terasa sangat berarti, karena itu adalah pertanda jika Liam menginginkan Hanna seutuhnya dan dia benar-benar mencintainya.
Malam semakin dalam dan gelap. Rembulan bersinar penuh, dan sesekali terdengar suara hewan malam dari pepohonan yang tumbuh di sekitar rumah. Hanna langsung terlelap dalam pelukan Liam dan tidak terbangun lagi hingga pagi menjelang.
Saat Hanna membuka mata, dia sudah tidak mendapati Liam di tempat tidur. Sudah pukul tujuh dan dia baru bangun. Hanna menyadari jika akhir-akhir ini dia lupa pada kebiasaannya olah raga pagi dan itu karena apa yang dia dan Liam lakukan pada malam hari.
Hanna menyunggingkan senyum pada Liam saat dia mendapati Liam tengah memasak dan saat dia akan melangkah menuju dapur, dia mendengar suara ketukan pintu.
“Biar aku yang membukanya.” Ujar Hanna.
Hanna bergegas, lalu saat pintu terbuka dia mendapati seorang wanita paruh baya, mungkin sekitar empat puluh hingga akhir lima puluhan, berdiri di depan pintu. Pakaiannya lusuh, polos dan sangat sederhana.
“Ibu mencari siapa?”
“Aku mencari Liam, anak kandungku.”