
“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu secepatnya.”
Liam menuang susu segar ke dalam gelas dan menatanya di atas meja. “Kamu mau membicarakan apa?”
“Kita bertemu saja. Hal ini nggak bisa dibicarakan lewat telepon.”
Hal apa lagi ini? batin Liam. Apakah ini kabar buruknya? Jadi waktuku sudah selesai dan aku memang harus berhenti? “Baiklah. Kamu datang saja ke rumah.”
Liam memutus sambungan teleponnya. Dia kembali menyibukkan diri membuat sarapan untuknya dan Hanna tanpa memikirkan apa pun soal kariernya. Hanna masih tidur saat Liam bangun lebih dulu. Hanya ini yang bisa dilakukan Liam untuk mengisi kekosongan hari-harinya.
“Aromanya wangi..” Hanna memeluk tubuh Liam dari belakang. Dia masih mengenakan piyama dan rambutnya hanya diikat cepol begitu saja.
Liam merangkul Hanna, menatap lekat-lekat wajah natural tanpa make up yang selalu bisa membuatnya terpana. Dia tersenyum, lalu mengecup bibir Hanna dengan lembut. “Kamu sudah bangun?”
Hanna mengangguk. “Kenapa kamu menyiapkan tiga porsi? Ada yang akan berkunjung?” Hanna membuntuti Liam ketika laki-laki itu menyusun roti isi yang sudah dibuatnya.
“Noah akan datang. Aku yakin dia belum sarapan, jadi sekalian saja ku buat.”
“Dia datang untuk membicarakan sesuatu?”
Liam mengangguk. “Katanya hal penting. Kita tunggu saja dia datang.”
Perasaan Hanna mulai teraduk-aduk. Bagaimana jika Noah membawa kabar buruk? Bagaimana kalau Liam benar-benar harus mengubur impiannya? Bagaimana kalau karier Liam benar-benar berhenti?
“Aku..akan mandi sebentar.” Gumam Hanna. Dia harus menjernihkan pikirannya agar dia siap menerima kabar apa pun yang akan diberitahu Noah.
“Buat apa? Kamu sudah cantik walau belum mandi. Lagipula Noah bukan siapa-siapa, dia juga sudah pernah melihatmu tanpa make up seperti ini.” Liam menahan tangannya.
“Tetap saja..” Hanna melepas tangan Liam. “Aku ini wanitamu. Aku ingin tampil sempurna di depan teman-temanmu tanpa mempermalukanmu.” Dia melanggeng menuju kamar.
Liam tersenyum kecil. Tentu saja dia tahu niat Hanna yang sebenarnya. Dia hanya ingin berendam di dalam bathup, mendinginkan otaknya agar dia tidak terlalu terkejut dengan kabar yang akan di bawa Noah. Dengan begitu Hanna bisa menjadi kekuatan untuknya nanti.
Tak butuh waktu lama, Noah tiba bersamaan dengan Hanna yang keluar dari kamar. Liam menatap Hanna yang mengenakan dress biru langit selutut, begitu memukau hanya dengan pakaian sederhana seperti itu. Pandangannya kembali teralih pada perut Hanna yang mulai menggelembung. Ingin sekali Liam mencium perut Hanna, namun dia menyadari ada Noah diantara mereka.
“Kamu menatap Hanna seolah-olah baru pertama sekali bertemu dengannya..” gurau Noah.
Liam tertawa kecil. Dia meraih pinggang Hanna yang berjalan ke sampingnya. “Kamu juga tahu aku tidak akan pernah bosan padanya..” Liam menatap Hanna.
Wajah Hanna memerah. Dia mencubit tangan Liam pelan, pura-pura menggerutu dan duduk di kursi.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Liam duduk di samping Hanna.
Dia menatap Noah yang mengunyah makanan dalam piring tanpa menunggu dipersilahkan oleh tuan rumah. Sambil memegang roti isinya, dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan menyerahkannya pada Liam.
“Kamu baca saja sendiri..” ucapannya terdengar kurang jelas karena dia bicara sambil mengunyah.
“Tidak mau..” Liam menyodorkan amplop itu kembali pada Noah. “Katakan saja langsung. Aku tidak punya tenaga untuk membacanya.”
“Mereka setuju untuk melanjutkan kontrakmu..”
Liam mendesah. “Sudah ku duga..” gumamnya pelan. Namun kemudian dia mengangkat wajahnya, keningnya mengerut dan dia menatap Noah tajam. “Kamu bilang apa tadi?”
“Setelah mempertimbangkan feedback dari para penggemar, mereka tidak akan memutus kontrak denganmu. Malahan mereka akan membuat kampanye anti aborsi dengan menampilkan brand mereka, dan model utamanya adalah kamu.”
“Tunggu..” Liam belum bisa mengolah semua kabar itu secara bersamaan. “Kontrakku masih berlanjut..”
Noah menganggukkan kepalanya.
“..mereka akan membuat iklan baru dengan mengatasnamakan kampanye anti aborsi..”
Noah kembali menganggukkan kepalanya.
Noah kembali menganggukkan kepalanya. “Plus, kita mendapat kontrak baru dari brand kesehatan.”
Liam tidak bisa berkata-kata. Suaranya tertahan oleh kebahagiaan yang meluap dalam dadanya. Kedua kelopak matanya mulai berkaca-kaca, dia menatap Hanna yang juga mulai meneteskan air mata.
“Hanna..” Liam memeluk Hanna erat. Dia menangis karena bahagia dalam pelukan Hanna. “Aku masih bisa melanjutkan mimpiku..Aku...aku masih bisa menjadi model..” isak Liam.
Hanna mengelus punggung Liam dengan lembut. Dia ikut menangis bahagia karena dia tidak jadi penghalang masa depan karier Liam. Tidak ada kabar yang lebih membahagiakan daripada ini semua. Akhirnya, setelah jatuh bangun menghadapi semua masalah bersama-sama, mereka masih bisa melakukan apa yang menjadi pilihan hidup mereka.
“Congratulation baby..” bisik Hanna.
Liam melepas pelukannya dan langsung mengecup bibir Hanna hingga membuat Noah berdecak. “Bisakah kalian jangan terlalu mengumbar keintiman kalian di depanku? Apa kalian tidak pernah memiliki sedikit saja rasa kasihan padaku?” sungut Noah.
Hanna dan Liam tertawa bersamaan. Tiba-tiba handphone Hanna bergetar, sebuah pesan masuk dari Liz.
Selamat pagi Hanna. Aku ingin memberitahu jika Gita ditemukan meninggal dunia pagi tadi sekitar pukul tiga dini hari. Kalau kamu sempat, datanglah ke Heaven Funeral Home.
Tangan Hanna bergetar hingga membuat handphonenya terjatuh. Air mata bahagia berganti menjadi air mata kesedihan. Dia bernafas dengan cepat, lalu menatap Liam nanar.
“Kenapa? Ada apa?” Liam bingung menatap Hanna yang berganti ekspresi dengan cepat.
“Gi...Gita..”
“Gita kenapa?”
“Dia meninggal.”
*
Hanna berusaha menguatkan dirinya saat dia memasuki rumah duka bersama Liam dan Noah. Bobby dan Lona sudah tiba lebih awal di sana. Begitu melihat bingkai foto hitam putih wajah Gita yang tersenyum, Hanna berhenti melangkah. Senyuman itu begitu indah, begitu tulus tanpa beban. Gita, aku bahkan belum melakukan sesuatu yang berarti bagimu. Tega sekali kamu pergi begitu saja.
“Dia ditemukan oleh petugas sipir penjara saat melakukan pemeriksaan sel pukul tiga dini hari tadi. Dia memanggil Gita berkali-kali namun tidak ada sahutan, lalu petugas melihat rembesan darah pada kasur..”
Liz duduk berdua dengan Hanna. Liam bergabung dengan Bobby dan beberapa rekan kerja yang sudah memenuhi area rumah duka.
“Dokter mengatakan jika dia sudah meninggal dua jam sebelum ditemukan karena kehabisan darah. Aku tidak menyangka akan kalah sebelum berperang. Dokter Rebecca sudah memperingatkan tentang konsidi mental Gita karena dia pasti sudah mengetahui apa yang dirasakan Gita, tapi aku tidak menyangka jika Gita akan mengambil langkah secepat ini.” gumam Liz. “Kita tidak bisa menyelamatkannya.”
Hanna mengagguk setuju. Mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka masing-masing sehingga terlalu lama membiarkan Gita sendirian. Dia pasti lelah, bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Hanna merasa sangat bersalah, kenapa dia tidak mengetahui jika Hanna sudah sangat lelah dan dia hanya ingin mengakhiri semuanya?
“Jangan pura-pura menangis, brengsek...”
Hanna dan Liz berdiri saat mendengar suara ribut-ribut. Leo terlihat terengah-engah, pundaknya naik turun dan dia terlihat berantakan. Tak jauh darinya Bradley bersimpuh di lantai sedang memegang sudut bibirnya. Tatapan Hanna berganti antara Leo dan Bradley. Tiba-tiba dia mengingat perkataan Gita saat dia mengunjunginya. Leo mengetahui semua yang ku alami. Jangan-jangan luka batin Gita ada hubungannya dengan Bradley?
“Jaga emosimu, Leo. Aku tahu kamu dan Gita sangat dekat, tapi kamu tidak boleh melakukan hal konyol seperti ini..” Veronica membentak Leo.
“Nyonya Vero yang terhormat, tahukah anda jika laki-laki inilah penyebab kehidupan Gita hancur? Tahukah anda itu semua?” Leo berteriak.
Dia mengedarkan pandangannya pada semua orang yang hadir di tempat itu. “Laki-laki ini..” dia menunjuk Bradley yang sudah berdiri dibantu oleh Veronica. “Dia melecehkan Gita sejak usia Gita sepuluh tahun..”
Dada Hanna seperti ditusuk tombak. Sakit, dan tiba-tiba dadanya terasa sesak dan dia sulit bernafas. Air matanya jatuh bercucuran membayangkan betapa tersiksanya Gita selama ini, namun dia masih bisa menutupi semuanya dengan tingkahnya yang masa bodoh, centil dan tukang gosip. Jadi selama ini itu hanya kamuflase untuk menutupi luka batinnya?
Veronica tidak mengucapkan apa pun, namun raut wajahnya juga tidak terlalu terkejut. Leo memicingkan mata, keningnya mengerut dan tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak. “Jadi selama ini anda sudah tahu jika anak gadis anda dilecehkan tapi anda memilih untuk tutup mata? Apakah anda layak menyebut diri anda sendiri wanita?”
"Jangan katakan apa-apa lagi atau aku akan menuntutmu.." suara Veronica terdengar bergetar.
"Tuntut saja, silahkan. Dan aku akan menyeret laki-laki brengsek ini ke dalam jeruji bersamaku." tantang Leo.
"Jangan bicara omong kosong.." Bradley mendorong Leo. "Selama ini aku sudah menganggap Gita seperti anak kandung ku sendiri. Mana mungkin aku melecehkannya?"
"Semuanya ada di sini..." Leo mengeluarkan sebuah handphone tipe lipat zaman dulu. Ukurannya kecil dan terlihat seperti handphone mainan jika dibandingkan dengan smartphone yang beredar sekarang. "Mungkin anda mengira ini dulu adalah mainan, tapi ini handphone sungguhan. Dan semuanya ada di sini. Semua kebusukan anda."