Way Back To You

Way Back To You
Surat Kecil Dari Ibu



Nak, ini Ibumu.


Saat ini musim dingin, udara sangat menusuk dan mungkin di luar akan segera turun hujan. Angin bertiup sangat cepat, mudah-mudahan tidak terjadi badai lagi.


Maaf jika saat kamu membaca surat ini, kamu akan mengetahui kebenaran pahit tentang hidupmu. Aku tak egois. Aku pikir, kamu berhak tahu apa yang terjadi denganmu atau pun dengan ku.


Liam memperbaiki posisi duduknya. Dia berdehem, tenggorokannya mulai tersekat ketika dia baru saja membaca beberapa baris surat dari Ibunya, Cathy.


Sekarang usiamu tujuh belas tahun, bukan? Selamat Nak, selangkah lagi kamu akan dewasa. Maka apa pun yang terjadi, hadapi dengan lapang dada dan berpikirlah dengan kepala dingin. Aku akan mendukungmu selalu.


Aku sangat menderita. Jujur saja, pada saat pertama kali aku mengetahui jika ada kamu dalam perut ku, dunia ku hancur. Hatiku remuk dan aku tidak mengerti harus apa. Kamu hadir dari benih empat orang laki-laki biadab yang melecehkan ku. Tapi kita tidak akan membahas mereka.


Walau aku sangat membencimu saat berada dalam perutku, tapi ketika mendengar suara tangisanmu untuk pertama kali, semua kebencian itu luntur digantikan cinta yang luar biasa. Aku mencintaimu, demi apa pun, aku mencintaimu dan menerimamu.


Air mata Liam tidak terbendung lagi. Genangan bening di pelupuk matanya jatuh menerobos semua pertahanannya. Tangannya gemetar memegang surat Cathy, sementara dirinya sendiri menangis sesenggukan seorang diri.


Tapi aku lelah dan aku tidak ingin berjuang lagi. Mungkin, tugasku hanya untuk mengandung dan melahirkanmu saja, bukan untuk merawat dan membesarkanmu. Aku tidak sanggup, hatiku terlalu sakit.


Nak, kamu akan menjadi laki-laki yang bijaksana, yang menghargai wanita dan tak akan merusak mereka. Akan ada banyak bekas luka berdarah yang tak terlihat dari diri mereka saat kamu menyakiti mereka. Dan luka itu biasanya akan bertahan, tak mudah menyembuhkannya. Pun jika sembuh, percayalah, bekasnya tetaplah terlihat.


Seketika bayang-bayang masa muda Liam menari di kepalanya. Sebelum bertemu Hanna, wanita adalah mainannya. Dia akan melakukan apa pun demi meniduri mereka berganti-ganti. Setiap malam dia hanya akan keluar masuk hotel demi memuaskan nafsu. Dan begitu naifnya dia karena dulu dia menganggap itu semua bagian dari pelampiasan pada wanita bergelar Ibu yang membuangnya. Namun sekarang surat Cathy memutar semua kenangan tentang betapa jahatnya dia dulu pada wanita dan Liam tidak bisa menahan dirinya karena hal itu.


Dia menunduk, satu tangan memukuli dadanya sebagai bentuk penyesalan atas semua hal yang dilakukannya dulu.


Dan jika tiba saat kamu bertemu wanita yang kamu cintai, maka jagalah dia sepanjang sisa hidupmu. Kebahagiaan itu tak perlu mahal. Menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kamu cintai sudah lebih dari cukup. Aku juga mengalaminya dari Kakek dan Nenekmu.


“Aku sudah bertemu dia Bu...” Liam menangis hebat. Dia menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata yang masih melelehkan buliran bening. “Aku sudah bertemu wanitaku dan aku sangat mencintainya..” isak Liam.


“Aku sangat mencintainya, dan karena cintaku itulah aku bisa berubah menjadi Liam yang sekarang. Jika bukan karena dia, mungkin aku masih tenggelam dalam kesalahan yang sama selamanya.”


Sekali lagi aku katakan, aku mencintaimu dengan hidupku. Namun kita tidak bisa bersama karena aku tidak sanggup menjalani kehidupanku dan aku berpikir aku mungkin akan menjadi bebanmu selamanya. Kamu akan malu memanggilku Ibu, dan aku tidak ingin melakukannya. Melahirkanmu saja sudah membuatku merasa bersalah padamu karena aku takut kamu mungkin tidak akan menyukai kehidupanmu. Dan jika hidupmu tidak berjalan sesuai dengan rencana dan keinginanmu, kamu boleh menyalahkanku. Makilah aku sesuka hatimu, aku akan dengan senang hati menerimanya.


“Kenapa aku harus memaki Ibu? Alih-alih memaki, aku justru ingin minta maaf karena sudah melakukan banyak sekali kesalahan padamu Bu..”


Jadilah seseorang yang bisa diandalkan Nak, entah itu oleh dirimu sendiri atau orang-orang di sekelilingmu. Kehidupanmu harus terus berjalan walau tidak ada aku di sisimu. Jauh di atas sana, aku akan mengawasimu. Jangan menjadi seorang bajingan. Kamu harus ingat ada darahku yang mengalir dalam tubuhmu, maka kamu harus tahu jika aku menginginkanmu menjadi sosok yang baik dan bertanggung jawab. Aku yakin kamu tidak akan mengecewakanku.


Jalanilah hidupmu dengan bahagia, Nak.


Aku mencintaimu.


Ibumu, Catherine Wilson.


Liam masih menatap langit-langit kendaraannya sementara air matanya masih mengalir, satu dua tetes masih terus menyusuri wajahnya hingga jatuh ke lehernya. Kenyataan ini membuatnya bahagia sekaligus sedih.


Dia bahagia, ternyata Ibunya bukanlah sosok wanita yang tak bertanggung jawab. Dia hanya lelah dan ingin istirahat, itu sebabnya dia menyerahkan Liam ke panti asuhan. Alasan itu sangat bisa diterima oleh Liam, karena sama seperti Ibunya, ada saatnya juga dia mengalami masa di mana dia lelah, bukan secara fisik namun lebih ke mentalnya. Jika keputusan ini bisa membuat Ibunya bahagia, dia akan bahagia.


Namun Liam juga sedih. Membayangkan kembali saat-saat di mana dia menghabiskan hampir separuh hidupnya melampiaskan kekesalan dan kemarahan yang ternyata tak berdasar pada wanita. Ternyata semua ini hanya kesalahpahaman dan dia sudah menjadikan wanita sebagai pelampiasannya nafsunya semata. Bukan hanya puluhan, mungkin jika ditotalkan sudah ada ratusan wanita yang dia tiduri.


Membayangkan betapa bejatnya dia membuat sekujur tubuh Liam merinding. Air matanya kembali jatuh dengan deras karena menyesali apa yang sudah dia lakukan. Lalu tiba-tiba dia teringat kembali pada pertemuannya bersama Hanna yang juga dikarenakan dia membutuhkan sebuah pelampiasan malam itu.


Liam menggeleng. Tidak. Hanna adalah pengecualian. Bersamanya tidak ada penyesalan dan Liam justru bersyukur. Mungkin jika dia tidak bertemu Hanna, dan Hanna tidak mengandung bayinya, maka dia bisa memastikan jika dirinya masih bergonta ganti pasangan hingga saat ini, tenggelam dalam dosa yang tak terhitung jumlahnya. Dan membayangkannya saja membuat Liam ingin muntah.


Hingga pukul tiga dini hari, kendaraan Liam baru bisa bergerak dengan kecepatan yang sangat kecil. Para petugas sedang bahu membahu membersihkan jalanan dari tanah bekas longsoran tebing. Ada dua alat berat yang digunakan untuk menyingkirkan material yang terbawa longsor dan karena listrik padam, petugas menggunakan traffic lightstick untuk mengatur lalu lintas kendaraan.


Saat ini yang ada dalam pikiran Liam bukan lagi tentang kebenaran Ibunya dan siapa Leanor sebenarnya. Dia sudah menyisihkan masalah itu dan jika boleh jujur, ada kelegaan tersendiri dalam diri Liam setelah membaca surat Cathy. Satu-satunya hal yang membuatnya ingin cepat kembali adalah Hanna. Wanitanya itu pasti sudah khawatir karena dia tidak bisa memberi kabar apa pun.


Dia ingin memeluk Hanna sesegera mungkin. Semua bebannya akan luruh begitu menemukan kenyamanan dalam diri Hanna dan bahkan mendengar suaranya saja mampu menenangkan diri Liam. Dia hanya memerlukan Hanna dalam kehidupannya ini, maka semua akan baik-baik saja.