Way Back To You

Way Back To You
Menyukai Wanita Yang Sama



“Cara mu bertemu wanita agak ekstrim. Bukannya menjemputku, malah menyuruhku datang ke sini sendirian.” Lona meletak tasnya.


Dia duduk di samping Bobby yang bahkan tidak menyapanya ketika sudah tiba. Bobby terlihat kurang sehat, wajahnya putih pucat, lalu kantung matanya yang hitam menggantung di sana. Lona menebak jika Bobby beberapa minggu ini kurang tidur atau nyaris tidak tidur. Hanna, kamu benar-benar membuat anak orang menderita.


"Jarak rumahmu ke restoran ini cukup dekat, jalan kaki saja sudah tiba." sahut Bobby datar.


Lona berdecak, namun dia tidak terlalu terkejut. Dia tahu kepribadian Bobby yang dingin, jadi Lona tahu sebenarnya dia tidak berniat untuk mengacuhkannya, namun memang karakternya sudah seperti itu.


“Aku belum sempat mengucapkan terimakasih padamu soal malam itu. Terimakasih sudah mengantar ku pulang ke apartemen ku dan juga merawat ku.” Bobby menatap Lona dengan wajah sayunya.


“Kamu...baik-baik saja?” Lona menyelidik.


Bobby menggeleng, menandakan dia tidak baik-baik saja. Setelah itu dia menyandarkan tubuhnya, menatap pemandangan yang terhampar di hadapannya. Restoran ini cukup bagus dan estetik dan seharusnya ini adalah restoran yang akan dia datangi bersama Hanna, setidaknya itulah yang dia rencanakan dulu.


“Aku tahu ini nggak adil bagimu, tapi, aku tetap akan mendukung Hanna sebagai sahabatnya. Walau pada awalnya aku ragu dengan kepribadian Ayah bayinya, aku pikir akhir-akhir ini dia sudah cukup bisa diandalkan dan...aku mendukung mereka berdua untuk bersatu.”


Tidak perlu meneteskan cuka ke atas lukaku, gumam Bobby. Tentu saja dia tahu kepribadian laki-laki yang dipilih Hanna harus yang terbaik. Jika tidak, Hanna pasti tidak mau bersama laki-laki itu. Dia percaya pada pilihan Hanna, dia pasti laki-laki yang baik.


“Sepertinya aku benar-benar harus segera move on.” Bobby mencoba tersenyum.


“Hanna bahkan nggak menyadari jika aku menderita seperti ini, jadi, untuk apa aku terus menerus berada dalam lingkaran patah hati seperti ini, iya kan?”


Lona mengangguk, membenarkan pendapat Bobby. Syukurlah dia mulai bisa berfikir normal dan tidak memaksa keadaan lagi. “Move on dan move in lebih tepatnya.”


“Move in?” Bobby mengernyit.


“Move on ketika kamu bersedia meninggalkan masa lalumu, mungkin dengan cara berdamai dengan diri sendiri atau mengikhlaskan kebahagiaan orang yang kamu cintai. Dan move in berarti kamu harus bersedia berpindah hati. Berikan wanita lain kesempatan untuk merasakan kalau cintamu itu benar-benar layak untuk dihargai.”


Bobby tersenyum tipis. “Baru kali ini aku mendengar kata move in. Bagus juga artinya.”


Lona akhirnya merasa tenang melihat wajah Bobby mulai berubah menjadi lebih ceria. Bagaimana pun juga, dia adalah sahabat Hanna, wanita yang membuat Bobby patah hati dan Lona sebenarnya tidak enak pada Bobby.


“Apa laki-laki itu baik pada Hanna?”


“Aku pikir setelah kamu mengatakan move on tadi, kamu nggak akan membahas soal Hanna lagi.” tukas Lona datar.


“Aku membahasnya dari sudut teman biasa. Lagipula aku hanya penasaran, kenapa pada awalnya Hanna sempat mengatakan jika dia akan merawat bayinya sendiri, namun tiba-tiba malah menerima laki-laki itu.”


“Oh.” Lona manggut-manggut. “Laki-laki itu baik seperti yang ku bilang tadi. Awalnya sih aku kurang setuju karena banyak hal, khususnya profesinya. Tapi dia ayah bayi dalam kandungan Hanna, mau nggak mau yaa aku setuju saja. Akhir-akhir ini saja aku baru mempercayainya sepenuhnya. Awalnya memang laki-laki itu menolak bayi mereka, bahkan managernya sempat mendatangi Hanna,meminta Hanna untuk menjauhi laki-laki itu. Itu sebabnya Hanna mengatakan dia akan membesarkan bayinya sendirian.”


“Memangnya apa profesinya?” Bobby penasaran.


“Bisa dibilang dia public figur. Dia seorang model yang membintangi banyak iklan dan juga video clip dari banyak penyanyi. Dunianya berbanding terbalik dengan dunia Hanna yang tenang, dan itu sebabnya aku ragu.”


“Sebenarnya di mana mereka berkenalan? Kenapa Hanna bisa sampai...maaf, hamil?” Bobby semakin penasaran.


Lona sebenarnya enggan memberitahu Bobby soal Hanna karena Hanna pernah berpesan padanya untuk tidak banyak bicara pada Bobby tentang dirinya. Namun setelah dipikir-pikir, mungkin ini salah satu cara agar Bobby bisa terlepas dari Hanna secepatnya karena Lona benar-benar kasihan padanya. Lona tahu, Bobby berusaha mengorek jati diri ayah bayi Hanna karena dia ingin membandingkan dengan dirinya sendiri. Bobby ingin tahu, laki-laki mana yang bisa membuat Hanna berpaling darinya. Sederhana sekali, ini hanya tentang harga diri dan Lona tahu itu.


“Di club malam. Sebenarnya aku yang salah, akulah yang memaksa Hanna waktu itu. Tapi semuanya sudah terjadi, aku toh nggak bisa mengulang dari awal lagi semuanya.”


Club malam? Kenapa tiba-tiba bayangan Liam muncul di otak ku? Public figure, club malam, dua hal ini identik sekali dengan Liam. Tapi tidak mungkin, Liam tidak mungkin tidak memberitahuku jika Hanna adalah wanita yang sedang didekatinya.


“Club malam mana?” Kali ini Bobby bertanya bukan hanya sekedar panasaran, namun lebih ke menyelidiki.


“Club malam Northernlight, club malam yang sama ketika aku bertemu denganmu malam itu juga.”


Perasaan Bobby tiba-tiba mulai tidak enak. Jantungnya berdebar cepat, namun dia masih berusaha menenangkan dirinya se natural mungkin. Tapi tiba-tiba dia teringat jika Liam pernah cerita tentang wanita yang dihamilinya. Apa jangan-jangan wanita itu adalah Hanna?


“Aku nggak tahu kalau kamu mengenalnya. Dia adalah..” Lona mengeluarkan handphonenya, lalu menunjukkan foto Liam yang di unduh nya dari internet.


“..dia Hazer, model terkenal. Dialah Ayah bayinya Hanna.”


Jantung Bobby nyaris berhenti berdetak. Kenyataan ini menghantamnya seperti batuan raksasa yang dijatuhkan dari langit dan menimpanya. Jadi selama ini dia menyukai wanita milik Liam? Wanita yang diceritakan oleh Liam waktu itu adalah benar-benar Hanna? Kami jatuh cinta pada wanita yang sama?


“Aku tahu kamu nggak mengenalnya karena kami juga sama. Awalnya kami nggak tahu kalau Hazer ini model terkenal, mungkin karena kami berdua sama-sama nggak terlalu suka menonton infotainment atau apalah itu yang berkaitan dengan dunia selebritas.”


Siapa bilang Bobby tidak mengenalnya? Dia mengenal laki-laki itu lebih dari siapa pun di dunia ini, bahkan jauh sebelum Hazer terkenal Bobby sudah menghabiskan waktu bersamanya setiap saat. Bobby mulai gusar. Dia harus meluruskan masalah ini pada Hanna atau Liam. Dengan cepat Bobby berdiri meninggalkan restoran dan membuat Lona kebingungan. Tidak punya pilihan lain, Lona hanya bisa membuntuti Bobby dan ketika laki-laki itu masuk ke mobilnya, Lona pun melompat masuk.


“Kamu kenapa? Ada apa? Kamu benar-benar mengenal Hazer?” Lona masih tidak mengerti.


Dia memikirkan apa yang sudah dikatakan dan Lona tidak bisa menemukan kata-kata yang salah atau menyinggung perasaan Bobby. Semua tutur katanya biasa saja dan masih normal. Lalu kenapa Bobby malah seperti orang yang kesurupan?


“Liam itu sepupuku.”


Hah? Sepupu? Astaga, kebetulan macam apa ini?


Lona tidak sanggup bicara. Mulutnya masih menganga dengan tatapan yang sedikit kosong. Apa yang baru saja di dengarnya benar-benar membuatnya terguncang hebat. Bagaimana bisa Bobby dan Liam tidak saling tahu jika mereka mendekati wanita yang sama? Apa keduanya tidak pernah saling menceritakan wanita mana saja yang mereka dekati?


Lona berpikiran seperti itu karena dia dan Hanna tidak pernah menyembunyikan apa pun. Jika mereka bertemu laki-laki yang keren, mereka akan menceritakannya. Tidak ada rahasia di antara mereka dan tidak ada yang ditutupi.


“Ha..hati-hati.”


Lona terpaksa menggenggam erat sabuk pengamannya ketika Bobby mengemudi dengan kecepatan penuh. Ada sedikit bias bersalah di dada Lona, kenapa dia harus memberitahu Bobby soal Liam. Tapi Hanna sudah memperingatkannya sebelumnya, apa itu artinya dia sudah mengetahui jika Liam dan Bobby adalah sepupu?