Way Back To You

Way Back To You
Ungkapan Cinta Yang Nyata



“Aku sudah menonton siaran pers Hazer. Teman-teman, bukankah dia laki-laki yang sangat bertanggung jawab? Dia keren, kalian harus mengakui itu.”


“Hazer, beruntung sekali tunanganmu memiliki laki-laki sepertimu. Aku iri.”


“Tunangannya menjadi prioritasnya saat ini karena sedang mengandung. Astaga, Hazer, you are so sweet.”


“Bayangkan dia rela meninggalkan identitasnya sebagai model terkenal demi tunangannya. Bukankah itu luar biasa?”


“Jarang sekali aku melihat seorang public figure penuh wibawa seperti Hazer. Hazer, aku mendukungmu. Kembalilah ke dunia hiburan.”


“Sepertinya aku menyesal membuang photo card mu Hazer. Jangan pernah berpikir kamu bisa meninggalkan dunia hiburan sebelum kamu mengeluarkan photo card baru.”


“Mommy, i want that Hazer so bad.”


“Hazer, semangat. Kami akan selalu berada di belakangmu. Majulah idolaku.”


.


Noah tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia dalam hatinya manakala dia membaca semua komentar yang ada di setiap media. Pasca konferensi pers, hatinya tidak karuan memikirkan dampak yang harus mereka hadapi. Karier Liam di ujung tanduk, pertaruhannya terlalu besar. Namun Noah sudah berjanji mendukung semua keputusan Liam, termasuk jika dia harus pensiun dini dari dunia model.


Uang bisa dicari, karier bisa dikejar. Namun sahabat seperti Liam tidak selamanya bisa ditemukan.


“Sepertinya raut wajahmu cukup bersinar. Kamu menang taruhan lagi?” selidik Liam.


Keduanya sedang menghabiskan sore di basement, menikmati beberapa gelas wine. Hanna sedang istirahat di dalam kamarnya sementara Bobby dan Lona sedang dalam perjalanan menuju rumah Liam.


“Ini lebih hebat dari taruhan..” Noah tertawa kecil. “..walau aku belum tahu bagaimana hasil pertaruhan ini ke depannya, namun hanya membaca komentar positif nya saja membuatku sangat puas. Mereka berbalik mendukungmu.” Seru Noah.


Liam tersenyum kecil. Dia sudah membacanya di kamar Hanna sewaktu menunggui wanitanya itu tertidur. Namun tetap saja dia masih harus menghadapi hal yang lebih buruk dari semua perwakilan brand yang mengontraknya. Walau kebanyakan penggemar kembali mendukungnya, bukan berarti perwakilan brand itu mengikuti langkah mereka dan mendukungnya. Liam hanya bisa tenang jika mereka sudah membuat keputusan resmi, entah itu masih melanjutkan kontrak atau bahkan membatalkannya.


“Hei, sudahlah..” Noah menepuk punggung Liam. “Kamu pernah mengatakan padaku jika ada saatnya kita tidak bisa mendapat dua hal sekaligus. Kadang kita harus mengorbankan hal lain jika ingin mempertahankan hal yang menurut kita lebih berharga. Percaya padaku, kamu akan bertemu karier yang lebih menjanjikan dari dunia model ini.”


Liam menyesap wine di gelasnya lalu pandangannya kosong. Benar, dia pernah mengatakan hal itu. Tapi menjalani kenyataan jauh lebih sulit dari sekedar mengungkapkan dengan kata-kata. Liam jatuh bangun membuktikan kemampuannya dalam dunia model dan akting, dan saat kariernya sedang berada di puncak, nyatanya dia harus dipaksa turun sendiri dari sana. Liam menghela nafasnya panjang, lalu menunduk. Tapi tak mengapa. Hanna sudah menunggunya di bawah bersama bayi mereka. Jadi tidak apa-apa kalau dia harus menuruni tangga kesuksesannya hingga ke dasar demi bisa bertahan dengan Hanna.


“Bagaimana kalau..” Noah melirik handphonenya saat benda itu berbunyi. “Perwakilan dari salah satu brand. Sebentar. Aku angkat dulu siapa tahu penting.”


Jantung Liam berdetak lebih cepat saat Noah menunjukkan layar handphone padanya, menunjukkan siapa yang menghubunginya. Dia tidak bisa berbohong jika dia khawatir menunggu keputusan final mereka yang seharusnya sudah keluar setelah konferensi persnya kemarin.


“Mereka meminta bertemu dengan kita, tapi sudah ku bilang kamu masih menenangkan Hanna. Jadi aku akan menemui mereka dan mengabarimu secepatnya.” Noah memakai jaketnya kembali. “Ingat, jangan terlalu memikirkan semua ini. Biarkan saja mengalir apa adanya.”


Liam mengangguk. Dia melambaikan tangannya pada Noah hingga dia hilang di ujung tangga. Liam kembali sendiri, menikmati winenya seorang diri. Rasanya baru kali ini dia bisa santai tanpa memikirkan apa pun. Dia kembali menyesap winenya, lalu mengangkat botol wine yang dibelinya dari luar negeri beberapa tahun lalu. “Rasanya cukup enak.” gumamnya. “Baru kali ini aku bisa merasakan rasa wine yang sebenarnya.”


Saat Hanna menuruni tangga, dia sempat berhenti saat Liam terlihat sedang memikirkan sesuatu. Jauh dalam lubuk hati Hanna dia masih benar-benar merasa bersalah pada Liam, namun mereka sudah berjanji jika tidak ada penyesalan dalam hubungan mereka. Butuh pengorbanan jika mereka hendak mencapai kebahagiaan yang seutuhnya karena tidak semua hal bisa diraih dengan cuma-cuma, dan mereka berdua sudah memberikan yang terbaik dari diri mereka demi masa depan bersama yang lebih baik.


Mereka sudah memberikan semua yang mereka miliki.


Tanpa disadari Liam, Hanna sudah berada di belakangnya dan memeluk leher Liam dengan lembut. Hanna memejamkan matanya, menghirup aroma leher Liam yang maskulin. Liam melepas lingkaran tangan Hanna, dan memutar tubuh hingga keduanya berhadap-hadapan.


“Saat aku sadar kamu nggak ada, aku terbangun dan nggak bisa tidur lagi. Kamu baik-baik saja? Kenapa sendiri? Noah sudah pulang?”


Liam mengangguk. “Dia pergi mengurus sesuatu. Aku meninggalkanmu karena aku ingin membicarakan sesuatu dengan Noah, jadi maaf kalau aku nggak menemanimu di atas.”


Suara Liam yang rendah dan lembut membuat setiap persendian Hanna lumpuh. Dia benar-benar tidak ingin Liam terus berpura-pura baik-baik saja di hadapan Hanna. Saat melihat Liam dari tangga, Hanna tahu jika Liam masih terus kepikiran dengan kontrak dan penalti yang akan dibayarnya.


“Liam..” Hanna meletakkan kedua tangannya di wajah Liam. “Jika kamu ingin menangis, nggak apa-apa. Menangislah selama itu bisa membuatmu baik-baik saja.”


“Kamu kenapa sih Han? Aku laki-laki, mana mungkin aku menangis? Lagipula hal apa yang membuatku menangis?”


Hanna langsung mendekap Liam dengan erat, menenggelamkan laki-laki itu ke dalam pelukannya yang hangat. “Laki-laki juga punya perasaan, bisa sakit hati, kecewa, marah, sedih, khawatir. Itu semua emosi yang ada dalam diri manusia, nggak peduli dia laki-laki atau wanita. Jika kamu mau menangis, menangis saja. Jangan berpura-pura kuat di hadapanku karena aku mencintaimu dan semua hal yang melekat padamu. Kamu bisa menunjukkan sisi paling lemahmu padaku dan berhentilah berpura-pura.”


Liam mendongakkan wajahnya menatap Hanna. “Kamu bilang apa tadi?”


“Yang mana?” Hanna balik bertanya.


“Setelah kata jika kamu mau menangis.”


Hanna berpikir sejenak. “Menangis saja dan jangan berpura-pura kuat.”


“Bukan, bukan itu. Setelah itu.”


Dalam hati Hanna sudah tahu kalimat mana yang dimaksud Liam, tapi dia memilih berpura-pura tidak tahu. “Kamu bisa menunjukkan sisi paling lemahmu..”


“Bukan itu. Sebelum itu.”


Hanna tidak bisa menahan senyumnya. Dia menatap Liam lekat-lekat. “Aku mencintaimu.” Bisiknya.


Untuk pertama kalinya, Hanna mengatakan jika dia mencintai Liam dalam keadaan yang tenang seperti ini.


“Katakan sekali lagi.” pinta Liam.


Hanna menjauhkan dirinya, namun Liam menahan tubuhnya dalam pelukannya. “Katakan sekali lagi.” bisik Liam.


Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Liam. Hanna tersenyum padanya seraya kembali berucap: “Aku mencintaimu.”


Liam tidak melepas bibir Hanna lagi. Dia mencium Hanna, awalnya untuk menepis keinginan wanita itu untuk menghindar darinya. Namun bagaimana pun juga, Hanna menempelkan tubuhnya pada Liam seperti biasa. Bibir Hanna membuka untuk merasakan sentuhan lidah Liam yang hangat. Dia kembali merasakan sensasi menyengat yang mengalir dalam tubuhnya saat Liam menangkup wajahnya dengan gamang. Kedua tangan Hanna merayap naik perlahan-lahan hingga ke leher Liam, berhenti di sana dan Hanna melingkarkan kedua lengannya sebagai penahan agar dia tidak jatuh saat Liam semakin mencecapnya.


“Aku berharap kita masih punya sedikit waktu..” bisik Liam di bibirnya.


Hanna tergelak. Dia tahu jika Bobby dan Lona sebentar lagi pasti sudah tiba, dan tentu saja mereka tidak memiliki waktu yang cukup lagi.


“Nanti kita sambung lagi.” bisik Hanna.


Sekali lagi Hanna menempelkan bibirnya di bibir Liam, hingga keduanya mendengar bunyi klakson dari luar.