
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, saat dua pasang insan masih berkumpul dalam ruang tamu di rumah Hanna. Hanna dan Lona duduk berdampingan, begitu juga Liam dan Bobby. Sorot mata kedua wanita itu tajam dan serius, berbanding terbalik dengan dua laki-laki di hadapan mereka yang cenderung menunduk dan menyembunyikan wajah mereka.
“Jadi kalian berdua nggak akan bicara?”
Hanna memecah keheningan di antara mereka. Liam dan Bobby saling berpandangan, namun keduanya tidak bicara sepatah kata pun.
“Baiklah..” Hanna berdiri. “Ini kesempatan terakhir kalian untuk menjelaskan apa yang terjadi padaku. Tapi karena kalian nggak ingin membahasnya dan nggak mau berterus terang, maka kalian boleh pulang. Anggap saja aku nggak pernah meminta pertemuan ini dan jangan harap akan ada lagi pertemuan seperti ini di kemudian hari. Aku nggak akan memberi kalian kesempatan sekecil apa pun untuk bicara.”
Lona menatap keduanya bergantian dalam diam. Dia juga menunggu apa yang akan dikatakan oleh keduanya, penjelasan apa yang akan mereka katakan. Namun walau dia dan Hanna sudah menunggu cukup lama, tak satupun mereka mau bicara.
“Han..” Lona ikut berdiri. “Sepertinya mereka ke sini hanya untuk mengganggu jam istirahat kita. Sebaiknya kamu usir saja mereka supaya kita bisa tidur malam ini dengan nyenyak.”
Liam mengangkat wajahnya. Dia menatap Hanna dalam dengan penuh perasaan rindu. Matanya turun menuju leher Hanna. Bekas memerah masih jelas tergambar di atas kulit putih Hanna dan hanya melihatnya saja Liam bisa mengetahui sesakit apa Hanna saat bajingan tengik itu mencekiknya. Tapi mereka sudah menjalankan setengah dari rencana ini dan kesepakatan awalnya, mereka tidak akan melibatkan Hanna. Namun melihat Hanna berdiri tepat di depannya, dengan wajahnya yang masih sedikit pucat serta bekas memerah di lehernya membuat Liam sedikit ragu.
“Baiklah...” ujar Hanna lagi. “Kalian boleh pulang.”
Liam tidak bisa menahan Hanna saat wanita kesayangannya itu meninggalkannya menuju kamar. Suasana di ruang tamu Hanna kembali lengang, Lona juga tidak bicara sama sekali dan hanya berdiri menatap keduanya bergantian dengan tangan menyilang di dada. Liam tidak tahan lagi. Semakin dia mengatakan jika dia harus menghindar dari Hanna, semakin dia ingin memeluk Hanna. Tidak, Liam tidak ingin terpisah dari Hanna.
Dia berdiri namun Bobby menahan tangannya. "Apa yang mau kamu lakukan? Jangan bilang kamu akan memberitahu Hanna semuanya."
"Bob, lihat betapa berantakannya Hanna. Aku nggak bisa membohongi dia terus."
Liam tidak akan melawan kata hatinya lagi. Dia melepas tangan Bobby, dan dalam sekejap dia sudah melesat ke kamar Hanna, meninggalkan Lona dan Bobby berdua di ruang tamu.
“Untuk apa kamu ke sini?”
Hanna terkejut karena Liam masuk ke dalam kamarnya saat dia akan mengganti pakaiannya. Dia setengah berteriak ketika Liam memeluknya tiba-tiba dengan sangat erat, bahkan nyaris membuatnya tidak bisa bernafas.
“Lepaskan aku..” Hanna berusaha mendorong Liam dengan kedua tangannya.
Namun semakin dia memaksa diri untuk melepas pelukan Liam, semakin Liam membawanya lebih erat lagi dalam pelukannya. “Lepaskan aku..” Hanna mendorong Liam lagi.
Liam tidak juga menurutinya. Hanna memukul tubuh Liam berkali-kali, kembali mendorongnya untuk melepas pelukannya dan kali ini berhasil. Tubuh Hanna terlepas lalu Liam kembali akan merengkuhnya dan tanpa sadar Hanna melayangkan tangannya ke wajah Liam. Dengan nafas memburu, Hanna berusaha menguasai dirinya yang bergetar hebat. Air matanya jatuh, sebagian karena dia masih trauma dan ketakutan, sebagian karena dia menyesal menampar Liam.
“Han..” air mata Liam ikut jatuh, menatapnya dengan mengiba. “Maafkan aku...”
“Maaf? Semudah itu? Setelah apa yang kamu lakukan, setelah semua luka yang kamu tinggalkan begitu saja, kamu datang meminta maaf? Kamu pikir kamu siapa?” Hanna memekik pilu.
“Kamu membuatku patah hati, bukan hanya sekali namun berkali-kali. Kamu membuatku sulit untuk percaya padamu, kamu membuatku menerka-nerka apakah semua yang kamu lakukan ini tulus, kamu membuatku terlihat seperti wanita murahan, kamu membuatku terlihat bodoh..” Hanna tersedu-sedu. “Kamu membuatku tidak percaya pada diriku sendiri Liam..”
Hanna tersungkur di lantai. Dia menangis sesenggukan memeluk dirinya sendiri. “Aku bahkan bertanya berkali-kali pada diriku sendiri, kenapa harus kamu? Kenapa aku harus bertemu denganmu dan mengandung anakmu? Kenapa?”
“Han...” Liam berlutut di hadapan Hanna. Air matanya juga membanjiri wajahnya karena semua yang dikatakan Hanna terlalu tepat. Sekejam itulah dirinya pada Hanna, dia pun mengakuinya. Dia menjungkir-balikkan kehidupan Hanna, menarik ulur hubungan mereka dan membuat Hanna kebingungan. Dia layak mendapatkan semua makian dari Hanna atau bahkan jika Hanna menamparnya berkali-kali, itu masih sangat layak.
“Kenapa kamu memperlakukanku layaknya orang bodoh? Liam..aku membencimu...Aku membencimu...” Hanna kembali berteriak sembari memukul tubuh Liam berkali-kali.
“Aku membencimu..” dia menyerah, lelah dan menjatuhkan kepalanya di dada Liam.
“Aku membencimu Liam..” dia kembali memukul dada Liam dalam isakan tangisnya, namun kali ini tangannya sudah tak bertenaga lagi.
Perlahan tangan Hanna melambat hingga lunglai, dan yang tersisa berikutnya hanyalah isak tangisnya. Hanna menumpahkan semua rasa kecewa dan sakit hatinya di dada Liam, laki-laki yang sangat dibencinya, namun dia juga menyadari dia tidak bisa jauh dari Liam.
“Hanna..”
Tangan Liam perlahan bergerak memeluk Hanna, mengelus kepala Hanna dengan lembut dan menghirup aroma dari rambutnya. Liam masih terus meneteskan air matanya dalam diam, menyadari begitu besar dampak dari semua keputusan sepihak yang dia ambil. Hanna sangat tersiksa, dia sangat menderita. Bukan teror mematikan itu saja yang membuat Hanna tidak bisa menjalani hidup dengan tenang, namun juga perilakunya. Dengan kehamilan Hanna yang seperti ini, tentu saja itu sangat membuat Hanna kesulitan.
“Maafkan aku Han..”
Kembali Liam mengelus punggung Hanna dengan penuh kasih sayang, mencoba untuk mengulang semuanya dari awal lagi. Semua hal yang sudah dirusaknya –kepercayaan dan harapan, Liam berjanji akan mengembalikannya secara utuh pada Hanna.
Liam mengangguk. Dia menurut, dan sementara untuk membuat Hanna tenang, dia juga beringsut mundur hingga tubuhnya bersandar di lemari pakaian Hanna. Liam mengamati Hanna, menyadari jika Hanna hanya mengenakan Chemise berwarna putih –nyaris menerawang. Model pakaian tidur itu menonjolkan garis bahu Hanna yang lurus dan juga lehernya yang jenjang. Dari tempatnya duduk, Liam bisa melihat lingkaran merah yang masih membekas di leher Hanna.
Sial. Itu adalah tanda betapa tidak becusnya dia menjadi laki-laki penjaga Hanna.
“Katakan padaku, kenapa kamu melakukannya?”
Hanna sudah bisa menguasai dirinya sepenuhnya. Dia perlu menenangkan diri, bukan hanya karena dia sudah terlalu shock untuk semua kejadian yang dia alami, namun di atas semua hal itu, kehamilannya lah yang lebih penting. Dokter terus memintanya menghindari stress dan Hanna tahu dia harus menurutinya jika dia tidak mau bayinya menerima semua dampaknya.
“Aku terpaksa..” Liam menatap Hanna sendu dan penuh kerinduan.
“Terpaksa?” Hanna mendengus kesal. “Kenapa kamu melakukannya kalau terpaksa?”
“Han, semua hal yang terjadi padamu ini benar-benar membuatku takut setengah mati. Aku takut kehilanganmu dan..”
“Tapi pada kenyataannya kamu berusaha menyingkirkanku.” Potong Hanna cepat dan Liam tidak bisa untuk tidak setuju.
“Benar..” Liam menelan ludah dengan susah payah. “Dan aku menyesal Han.”
“Omong kosong..” gumam Hanna pelan.
“Hanna, percaya padaku, ini hanya skenario kami bertiga.”
Hanna mengangkat alisnya, bingung. “Skenario? Kalian bertiga?”
Liam mengangguk. “Aku, Bobby dan Noah menyusun rencana untuk mencari tahu siapa orang di balik semua teror yang menyerangmu berturut-turut. Untuk mengamankanmu, terpaksa aku harus bertindak seolah-olah aku menyingkirkanmu dari hidupku karena aku pikir orang yang melakukan ini terobsesi padaku. Dia pasti mengetahui hubungan kita dan itu sebabnya dia menyerangmu..”
Liam menunggu reaksi Hanna, namun wanitanya itu hanya menunjukkan wajah datar.
“Aku pikir dengan tersebarnya kabar aku berpisah denganmu, maka dia tidak akan menyentuhmu. Tapi ternyata aku salah..” Liam tersenyum pahit. “..dia malah semakin berani untuk menyerangmu secara terang-terangan.”
Liam bisa mendengar tarikan nafas Hanna yang terasa berat dan dia senang karena itu artinya Hanna mendengarkan semua ceritanya dengan baik.
“Aku tahu Jhon hanya mengada-ada soal video itu..”
Hanna mengangkat wajahnya, menatap Liam dengan kedua bola mata yang kembali berkaca-kaca. “Apa?” desisnya.
“Aku minta maaf Han..” Liam mendekati Hanna.
Liam pikir Hanna mungkin akan menendangnya atau memintanya kembali duduk menjauh darinya. Namun di luar dugaannya, Hanna diam dan hanya menatapnya sendu.
“Aku tahu video itu palsu, itu bukan kamu. Tapi aku perlu meyakinkan Jhon seolah-olah aku memang percaya pada video itu dan terkesan kecewa padamu. Itu semua hanya..akting.”
“Apa?”
“Orang awam sepertimu mungkin tidak menemukan keanehan dalam video itu, namun seseorang sepertiku, yang sehari-hari hidup dalam dunia yang munafik dengan cepat bisa menemukan celah dan tahu jika video itu hanya editan. Maafkan aku..” dia mengelus wajah Hanna. “Hanya itu alasan yang tepat untuk menjauhkanmu dariku.”
“Kamu sengaja melakukannya? Kamu sudah menyusun rencana ini sejak awal?” air mata Hanna kembali jatuh menyusuri wajahnya.
Liam menghapus air mata Hanna dan tersenyum pahit. “Sejak foto USG bayi kita bocor, feelingku mengatakan jika pelakunya bukanlah CEOku. Dan semakin ke sini, aku makin yakin jika pelakunya adalah orang yang dekat denganmu, atau satu kantor denganmu.”
“Hah?” wajah Hanna memerah menahan shock diikuti anggukan kecil dari Liam.
“Semua hal yang membuatmu nyaris kehilangan nyawa, mulai dari jus yang tercampur obat, lalu foto USG yang tersebar, terakhir kejadian tadi malam. Kami sudah memeriksa semua rekaman CCTV, data base absensi kantor, bahkan para petugas keamanan di kantor Bobby. Semuanya bersih seperti sudah diatur dan kami tidak bisa menemukan apa pun, semuanya nyaris tanpa cela dan hanya orang yang bekerja di kantor Bobby yang mengerti cara kerja di gedung itu.”
Hanna menelan ludah. Dia terlihat kebingungan, ketakutan dan khawatir. Semua hal rumit yang dikatakan Liam membuatnya merinding dan kacau.
"Tapi aku nggak akan membiarkanmu lepas dari pengawasanku lagi.." Liam kembali menyentuh wajah Hanna yang ketakutan. "Han, apa kamu masih percaya padaku?"