Way Back To You

Way Back To You
Rahasia Masa Lalu



Suara berdengung terdengar saat lengan atas Hanna dibungkus manset tensimeter. Dia mengerahkan kekuatannya untuk membuka kelopak mata supaya bisa melihat sekitarnya. Dirinya ada di rumah sakit, di sebelahnya berdiri seorang perawat dan tangannya sudah tertancap jarum infus. Hanna tidak bisa mengingat banyak kenapa dia bisa ada di rumah sakit, yang dia ingat adalah pertengkarannya dengan Liam –dan juga nada suaranya.


Tubuh Hanna masih berat dan lemas dan adrenalinnya langsung meningkat manakala dia mengingat bayinya. Bayiku! Apa bayiku baik-baik saja? Hanna langsung duduk hingga membuat perawat yang mengukur tensinya terkejut.


“Bagaimana dengan bayiku? Apa dia baik-baik saja?”


Perawat tadi tampak menarik nafas karena masih kaget. Dia mengangguk lembut, sambil memperbaiki selimut Hanna. “Bayi Ibu baik-baik saja, sebentar lagi Ibu akan dibawa ke ruang USG namun tadi malam dokter sudah memeriksa detak jantungnya. Detaknya kuat dan normal, jadi dia pasti baik-baik saja.”


Hanna menunduk, mengusap perutnya sembari tersenyum. Perawat kembali memerintahkan Hanna untuk berbaring karena sebentar lagi dia akan dibersihkan. Hanna lega. Walau belum melakukan USG, jika jantungnya masih berdetak, itu artinya bayinya masih hidup dan sehat. Itu sudah lebih dari cukup baginya.


“Kamu sudah bangun.” Lona datang menenteng sarapan. Dia langsung duduk di samping Hanna dan memeriksanya, memastikan jika Hanna baik-baik saja. “Kami khawatir setengah mati tadi malam, tau.” Sungutnya.


“Maaf, aku merepotkanmu.” Hanna menatap Lona sungguh-sungguh. “Tapi hanya kamu yang selalu bisa ku andalkan."


“Kamu bertengkar dengannya? Masalah apa lagi sekarang?”


Hanna kembali duduk, dia menyandarkan tubuhnya. Sembari menarik nafas dalam, dia menatap Lona. “Dia membentakku, marah besar padaku karena aku menyembunyikan hal ini darinya. Padahal aku sudah bilang kalau aku nggak berniat sama sekali membohonginya. Aku hanya ingin mencari waktu yang tepat, tapi dia nggak percaya padaku dan malah memarahiku.” Hanna menunduk.


Terus terang Hanna sempat berpikir jika dia mungkin akan berubah pikiran. Sisi tempramen Liam membuat Hanna ketakutan dan nyalinya selalu ciut jika mengingatnya. Maklum, Hanna dibesarkan dalam keluarga yang nyaris tidak pernah bertengkar –mungkin orang tuanya pernah bertengkar namun diam-diam dan bukan di depannya. Hal itu membuat Hanna tumbuh menjadi pribadi yang lembut tapi tegas. Dan Liam mungkin adalah rang pertama yang memarahinya dengan nada seperti itu.


Keduanya serempak menoleh ke arah pintu kamar mandi, saat Bobby keluar dan tersenyum. Wajah Hanna memerah, dia menatap Lona, berbisik “Kenapa kamu nggak bilang Bobby di sini?” Bagaimana pun juga orang yang tadi dibahasnya adalah sepupu Bobby. Walau mereka bisa dibilang rival, tapi hubungan darah tentu lebih dari apa pun.


“Hanna, aku tahu mungkin kamu belum sepenuhnya percaya pada Liam. Tapi, aku ingin memberitahu sesuatu padamu perihal rahasia masa lalunya yang mungkin bisa mengubah cara pandang kalian terhadap dia, khususnya kamu, Han.”


“Rahasia?” kening Hanna mengernyit. Rahasia apa yang dimiliki oleh Liam?


Setelah menyeret kursi hingga ke sisi tempat tidur Hanna, Bobby duduk dengan tegak. Dia mengusap kedua telapak tangannya sebelum bicara. “Apa kamu tahu, Liam bukan sepupu kandungku? Kamu nggak penasaran kenapa dia nggak membawa nama keluarga Andrews, malah menggunakan nama Andreas di belakang namanya?”


Hanna tidak menyahut. Sebenarnya dia bukannya tidak penasaran, hanya saja dia memang tidak tahu sama sekali. Jika bukan karena Bobby yang mengatakannya barusan, dia tidak tahu sama sekali nama keluarga yang dipakai Liam berbeda dengan yang dipakai Bobby. Dia sama sekali tidak tahu.


“Dia adalah anak adopsi...”


Hanna mengakui cukup kaget mendengar identitas Liam yang tidak pernah disangka-sangkanya ini. Selama ini dia membaca di internet, Liam merupakan anak tunggal pengusaha properti Midian Andrews. Tidak pernah ada sumber yang menyebutkan dia anak adopsi. Apa Bobby tengah berbohong padanya untuk mengembalikan simpatinya pada Liam?


“...dia ditinggalkan oleh orang tuanya di depan panti asuhan. Saat ditemukan, dia nyaris meninggal namun pihak panti asuhan segera membawa dia ke rumah sakit. dan selama menghabiskan masa anak-anaknya di panti asuhan, dia menjadi target bullying karena wajahnya yang tampan. Kejadian itu menimbulkan trauma yang sangat besar hingga membuatnya sulit mengelola emosinya..”


Separah itu? Jadi itu alasannya kenapa dia bisa tiba-tiba manis dan lembut, namun seketika bisa marah? Jadi semua itu terjadi karena dia terluka di masa lalu ketika dia masih anak-anak?


Bobby tampak tulus, tidak ada kesan intrik dalam semua kata-katanya. Jadi Liam membawa rasa sakit sebanyak itu selama ini?


“Aku pikir, Liam nggak akan pernah serius pada siapa pun karena dia sudah pernah berjanji untuk tidak menikah dan terikat dengan wanita. Saat dia cerita ada seorang wanita yang mengaku dihamili olehnya, untuk pertama kalinya dia khawatir, galau dan cemas. Aku nggak menyangka jika wanita itu adalah kamu, dan aku nggak menyangka jika Liam akan mengubah prinsipnya demi bayi kalian.”


Hanna terhenyak. Dia teringat kata-kata Liam padanya waktu itu. Karena suatu hal, aku nggak bisa berkomitmen. Jadi suatu hal ini maksudnya adalah masa lalunya?


“Jadi Han..” Bobby menatapnya tulus. “Tolong lebih banyak mengerti dia. Karena itu Liam, aku bisa lega menyerahkanmu padanya dan memilih mengalah. Aku yakin, kamu bisa membantunya mengobati luka hatinya di masa lalu. Kalau pun dia terkesan sedikit arogan atau gengsi, percayalah, itu hanya di luar saja. Aku sudah mengenalnya selama bertahun-tahun, aku bisa memastikan jika dia adalah laki-laki yang baik.”


Tidak ada jawaban, suasana ruangan itu hening. Pembicaraan mereka harus terhenti saat seorang dokter masuk memeriksa Hanna, dan sepanjang pemeriksaan, Hanna terus menerus memikirkan tentang apa yang dikatakan Bobby tentang Liam. Jadi, dia hanya salah paham pada Liam?


*


Suara tepuk tangan sontak bergemuruh memenuhi ruangan, namun menyisakan tanda tanya besar dalam diri Liam. Raut wajah Liam berubah mengeras, rahangnya mengetat dan wajahnya memerah mendengar apa yang disampaikan Bradley dan Veronica. Dia diam-diam menatap Noah dari podium, seolah langsung mengerti, Noah menggeleng, membuat tanda silang di dada dengan kedua tangannya. Bukan aku, aku nggak tahu apa pun soal ini. Seharusnya itu benar karena Liam sangat mengenal Noah. Dia tidak akan berbuat hal yang sembrono menyangkut kehidupan pribadi Liam –menemui Hanna waktu itu adalah hal yang berbeda.


“Liam, kamu setuju kan?” bisik Veronica. Tangan wanita paruh baya itu diletakkan di pinggang Liam.


“Kalau aku bilang tidak, apa yang akan kalian lakukan?” bisik Liam dengan sorot mata tajam.


“Kamu tentu tahu apa yang akan kami lakukan.” wanita itu tersenyum menyeringai, menepuk pundak Liam beberapa kali sebelum membalik tubuhnya kembali menghadap para tamu.


Nada mengancam itu sama sekali tidak membuat Liam bergetar. Satu-satunya wanita yang ada dalam hidupnya adalah Hanna, dan dia sedang mengandung bayinya. Tidak ada jalannya dia bertunangan dengan wanita lain selain Hanna. Sekalipun dia harus mempertaruhkan karier dan masa depannya, dia tidak peduli. Hanna adalah masa depannya saat ini dan dia tidak mau menukarnya dengan apa pun.


“Semuanya..” Liam merebut mikrofon dari tangan Bradley, tidak peduli pada sorot mata melotot Veronica. “Pengumuman spesial hari ini sebenarnya hanya sekedar...”


“Apa kamu masih ingin bayimu selamat?” samar-samar Liam mendengar suara Veronica yang setengah berbisik, penuh dengan nada mengancam. Liam menoleh, dia terkejut bukan main. “Mungkin, aku bisa meminta dokter menyuntik sesuatu ke tubuh Hanna..” Veronica mengerling, tersenyum jahat pada Liam.


“Apa maksudmu?” Liam menjauhkan mikorofon dari mulutnya. Dia menatap Veronica tajam, tangannya mengepal kuat sehingga jalur nadinya bisa terlihat dengan jelas. “Apa yang kamu lakukan pada Hanna?”


“Tidak ada, oh, maksudku, belum ada. Mungkin kalau kamu mau bekerja sama dengan rencanaku, wanita sialan itu bisa baik-baik saja bersama bayinya tentu saja. Tapi kalau kamu berulah, aku tidak bisa menjaminnya.”


Bisikan Veronica dingin dan menusuk seperti suara iblis yang menembus tulang-tulangnya. Ternyata selama ini dia hanya pion bagi mereka dan ketika mereka mengetahui ada seorang wanita yang akan masuk ke kehidupan Liam, mereka tidak rela. Tapi Liam juga bukan bocah kemarin sore yang ketika diancam akan mengangkat bendera putih. Tidak. Mereka salah mencari masalah pada Liam. Untuk sekarang, oke, Liam akan mengikuti semuanya karena mereka tahu tentang Hanna. Dia tidak ingin Hanna terkena masalah, jadi dia akan mengulur semuanya dulu. Tapi Liam akan membongkar semua kebobrokan kedua pasangan itu beserta agensinya.


Suatu hari nanti, kalian akan tahu jika kalian salah mencari masalah denganku.