
Hanna membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan tatapan nyalang. Kedua kakinya pegal dan dia benar-benar lelah, namun lelah fisiknya tidak seberapa jika dibandingkan dengan lelah batinnya. Hanna baru saja akan mempercayai Liam, memutuskan untuk meletakkan masa depannya di tangan laki-laki itu. Namun apa yang dia lakukan tadi ketika mereka berada di mobil membuatnya kembali bertanya-tanya, benarkah Liam memang laki-laki yang tepat?
Sambil mengisi tub dengan air hangat, Hanna menghapus sisa air mata di wajahnya. Tidak. Dokter sudah mengatakan jika dia tidak boleh menangis dan stres. Bayinya sangat berharga dan masalah ini tidak seharusnya mengambil alih pemikirannya.
Namun saat Hanna memutuskan untuk tidak memikirkan Liam, tiba-tiba saja perutnya kram, nyeri menusuk seperti sedang dipenuhi oleh jarum-jarum tajam. Hanna menunduk, namun rasa sakitnya memaksa dia bersimpuh di lantai kamar mandi. Keringat mengucur di wajah Hanna yang mulai putih pucat.
Hanna mencoba meraih gagang pintu untuk membantunya berdiri, namun dia gagal. Dengan nafas tersengal, Hanna merangkak keluar dari kamar mandi. Saat rasa sakitnya semakin hebat, Hanna meringis dan air matanya kembali jatuh karena ketakutkan. Bagaimana jika dia kehilangan bayinya? Bagaimana jika rasa sakit ini karena bayinya menolak berada dalam perutnya? Bagaimana...
Setelah berhasil meraih handphonenya yang diletakkan di atas nakas, Hanna mencoba menyandarkan tubuhnya dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Dia menekan nomor Lona dengan tangan gemetar, lalu mendekatkan benda itu ke telinganya. Dia mendengar bunyi tuttt berulang-ulang, namun setelah menunggu beberapa lama, sambungannya terhubung ke kotak suara. Tidak diangkat. Apa Lona masih di pantai bersama Bobby?
Hanna mencoba tenang. Dia membasahi bibirnya dan menarik nafasnya berulang-ulang. Ritme nafas Hanna kacau, jantungnya berdetak sangat cepat. Kembali Hanna mengulangi panggilannya, berharap kali ini Lona mengangkatnya. Namun sayang sekali, Lona tidak menganggat panggilan Hanna.
Peluh sudah memenuhi wajah Hanna dan pakaiannya nyaris basah karena keringat dingin. Hanna membuka aplikasi chatnya, memilih kontak Lona dan menekan tombol voice recorder.
“Na..cepat...cepat datang ke rumahku...Perutku sakit...aku...” Hanna mencoba menarik nafas.
“...aku nggak kuat...Tolong aku...”
Setelah menekan tombol kirim, Hanna mencoba tetap tenang namun selain rasa sakit dalam perutnya, dia juga merasa nafasnya mulai terasa berat. Dia tidak bisa bernafas –dugaan Hanna asam lambungnya mulai berulah. Hanna mencoba mengelola emosinya, membuat dirinya se-rileks mungkin dan mengusir jauh masalahnya. Tidak. Aku pasti bisa menang melawan rasa sakit ini.
Nak, jangan begini. Ibumu takut!
*
Lona memperhatikan Bobby yang terus menerus minum sejak mereka meninggalkan pantai dan memilih pergi ke club malam untuk menghilangkan kegalauan Bobby. Ini botol ke dua, Lona menghitungnya. Dia menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan tangan di dada. Kenapa pula dia harus ada di sini dalam situasi seperti ini?
Kalau bukan karena Hanna berpesan untuk menjaga Bobby malam ini, dia sudah tidur di atas tempat tidurnya yang nyaman dan mencari kehangatan dalam selimutnya. Tapi mau tidak mau dia harus memenuhi permintaan Hanna jika dia tidak ingin diceramahi oleh sahabatnya itu. Lebih baik dia menemani Bobby daripada harus mendengar ocehan Hanna yang membuat telinganya sakit.
Se-dalam itukah perasaanmu pada Hanna hingga kamu menyiksa dirimu seperti ini?
“Hentikan...” Lona mencegah Bobby membuka botol ke tiga. “Kalau kamu mau mati jangan di depanku.” Sungutnya kesal.
“Aku nggak memintamu ikut ke sini, kamu yang memilih datang bersamaku.” Bobby menunjuk ke wajah Lona dan dengan cepat Lona menepisnya. Enak saja dia mengangkat jari telunjukkan pada wajahku.
“Kalau bukan karena Hanna yang memintaku, aku juga nggak mau berada di sini.” Lona kembali memberengut.
Bukannya berterima kasih, Bobby malah menunjuk-nunjuk dia. Tidak sopan.
Mendengar nama Hanna, Bobby tertawa kecil. Dia tampak merenung lama dalam diam, hingga Lona terkesiap manakala dia melihat sesuatu menetes mengenai meja. Lona menyipitkan matanya, menarik kursi Bobby hingga lebih dekat dengannya dan mengamati wajah Bobby –walau Bobby berusaha membalik wajah.
“Kamu menangis? Apa yang kamu tangisi?” Lona berdecak tidak percaya. Hati laki-laki ini ternyata lembut juga, tidak sedingin kelakuannya.
“Siapa yang menangis?” Bobby menjauhkan dirinya dari Lona, lalu menghapus air matanya diam-diam.
Lona mencoba menahan tawanya karena baru kali ini dia melihat laki-laki menangis. Itu hal yang cukup unik dan Lona tidak menyangka akan menyaksikannya secara langsung. Dia pikir hal seperti itu hanya ada di drama, namun siapa sangka ternyata laki-laki juga bisa menangis.
“Bobby..” Lona kembali menarik kursi Bobby hingga dia bisa menatap langsung wajahnya. Kali ini dia tersenyum bukan untuk mengejek Bobby, namun karena dia ingin membangun kembali percaya diri Bobby yang mungkin terenggut oleh kemenangan Liam atas Hanna.
“Nggak semua hal di dunia ini diciptakan untuk mu, sama hal nya dengan Hanna. Kita semua punya jalan masing-masing, punya jodoh masing-masing. Hanna bukan untukmu, Tuhan menciptakannya bukan untukmu, dan kamu harus merelakannya. Wanita yang sudah diciptakan untukmu mungkin saja sedang menunggumu di suatu tempat, berharap kamu mendatanginya sekarang. Jadi jangan seperti ini, jangan membuat wanita yang diciptakan untukmu menunggu lebih lama lagi..”
Air mata Bobby malah semakin menetes, bukannya berhenti. Namun itu bagus. Meluapkan emosi lewat tangisan juga bisa membantu mempercepat sembuhnya luka hati Bobby.
“..Lagipula, kamu bilang kamu mengikhlaskannya, bukan? Jika kamu sudah memutuskan seperti ini, maka kamu harus bertanggung jawab dengan ucapanmu. Ingat, move on dan move in. Percaya padaku, jika kamu rela dan ikhlas, maka di sini..” Lona meletakkan tangannya di dada Bobby.
“..di sini akan ada kelegaan dan kepuasan tersendiri. Jangan sampai seorang Hanna membuat hubunganmu dengan Liam rusak. Percaya padaku, jika kalian nggak bisa akur seperti sebelumnya, menilik dari sifat Hanna, maka dia nggak akan memilih siapa pun walau Liam ayah bayinya. Kamu nggak mau Hanna melakukannya kan?”
Bobby tertawa kecil mendengar kalimat terakhir Lona. Dia mengeringkan air matanya setelah Lona membuatnya tenang dan bebannya perlahan menguap.
“Kamu masih mau menangis? Sini, aku akan meminjamkan pundakku.” Lona menepuk pundaknya sendiri.
Bobby diam, menatap Lona sangat lama dan tiba-tiba menarik tangannya hingga Lona hampir terjerembab. Begitu Lona berdiri tegak -dan hampir meneriakinya, Bobby langsung memeluknya dengan erat.
“Aku bilang kan meminjamkan pundak, bukan meminjamkan tubuh dan kepalamu berada di..” Dadaku.
Lona mendesah, pasrah. Dia membalas pelukan Bobby dan menepuk punggungnya pelan, semoga saja pelukannya ini sedikit membantu Bobby untuk melupakan kesedihannya. Samar-samar Lona mendengar bunyi berdegung dari dalam tasnya berkali-kali. Siapa yang menghubungiku malam-malam begini?
Bobby masih memeluknya erat hingga membuatnya nyaris tidak bernafas. Itu sebabnya dia tidak bisa meraih tasnya. Namun dia kembali mendengar bunyi getar yang berdengung. Jika handphonenya bunyi berkali-kali di jam yang hampir tengah malam seperti ini, maka pasti sangat urgent.
“Bob, bisa lepas sebentar? Ada yang menghubungiku.”
Bobby mengangkat kepalanya namun tangannya masih melingkar di pinggang Lona. Dugaan Lona, Bobby mulai sedikit mabuk. Wajah Bobby sedikit lucu dengan posisi seperti itu, namun kemudian dia teringat dengan handphonenya. Dia meraih tasnya dan mengeluarkan handphone.
“Dari Hanna..” Lona menunjuk layar benda pintar itu ke depan wajah Bobby dan Bobby segera melepas pelukannya. “Untuk apa dia menghubungiku malam-malam begini?”
Sebuah pesan masuk ke dalam chat Lona. Dia membukanya, mencoba memutar pesan suara yang dikirim Hanna namun Lona tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena suara hingar bingar musik yang dimainkan DJ sangat nyaring. Tiba-tiba perasaan Lona mulai tidak enak.
“Aku akan mendengar pesannya di luar. Kamu tunggu di sini.” Seru Lona.
Bobby tentu tidak mau menunggu. Dia masih sadar dan tahu jika wajah Lona berubah gugup, itu sebabnya dia membuntuti Lona hingga ke parkiran. Di sana Lona memutar pesan suara yang dikirim Hanna, dan kepanikan langsung memenuhi tubuhnya bahkan sebelum pesan itu selesai didengarnya.
Berhubung karena Bobby minum alkohol, maka yang menyetir kali ini adalah Lona. Dengan terburu-buru keduanya meluncur menuju kediaman Hanna dan mereka bisa tiba dengan cepat karena jalanan sudah lengang. Lona langsung menghambur mengetuk pintu, namun tidak ada sahutan dari Hanna. Dia membongkar isi tasnya, mengeluarkan kunci rumah Hanna dan langsung merangsek masuk.
“Astaga Hanna...”
Lona berteriak ketika mendapati Hanna tergolek lemah di lantai kamar, namun ketika Lona datang, dia masih bisa membuka matanya yang sayu.
“Pe..rut..” tangan Hanna memegang perutnya sejak tadi.
“Aku tahu, jangan bicara lagi.”
Lona membungkus tubuh Hanna dengan selimut, sementara Bobby yang kesadarannya sudah kembali penuh segera menggendong tubuh Hanna.
“Kita mau ke mana?” Hanna menggumam.
Kepalanya terayun-ayun ketika Bobby menggendongnya dan meletakkan Hanna di kursi penumpang. Setelah itu Bobby keluar, namun Lona menahan tubuhnya.
“Jangan. Kamu baru minum, bahaya jika kamu yang menyetir. Biar aku saja.”
Lona tidak mau menambah masalah baru. Mereka harus segera mengirim Hanna ke rumah sakit karena Hanna sudah terlihat seperti mayat hidup.
“Tenang saja, aku sudah sepenuhnya sadar. Aku ragu Hanna nggak nyaman jika aku yang ada di sampingnya. Lebih baik kamu yang menjaganya.”
“Tapi Bob...”
“Jangan khawatir.” Bobby menggengam tangan Lona, diikuti anggukan kecil dari Lona.
Hanna, jangan menyerah. Aku akan membawamu dengan aman dan selamat. Jangan menyerah Han.