
“Kamu yakin melakukan ini?”
Liam tampak ragu-ragu saat Lona membuka pintu rumah Hanna menggunakan kunci yang memang dimiliki olehnya. Liam khawatir, Hanna akan semakin marah padanya atau bukan tidak mungkin dia akan mengusirnya. Dia tidak ingin menciptakan masalah baru lagi sementara masalah lama masih bertumpuk tanpa titik temu sedikit pun.
“Mau bagaimana lagi?”
Hanya ini satu-satunya cara agar mereka berdua bisa duduk dengan tenang, bicara empat mata dan saling mengkomunikasikan isi hati mereka masing-masing. Hanna pasti akan memarahinya, namun berkaca dari pengalamannya selama berteman dengan Hanna, Hanna mungkin tidak mau bicara padanya tapi paling juga selama dua hari.
“Tolong jangan sia-siakan usahaku ini. Kalian harus bicara, bujuk Hanna untuk menyelesaikan masalah ini. Dan ingat, jangan sekali-kali kamu menyakitinya.”
Tanpa Lona peringatkan pun, Liam tidak akan mengulanginya lagi. Dia tidak ingin terlihat buruk dan kasar di mata Hanna.
“Ya sudah, aku pulang dulu. Ingat, bicara dengan kepala dingin. Oh iya, ini titipan Hanna tadi, tolong berikan padanya.”
Liam hanya mengangguk saat Lona menutup pintu. Sebenarnya Liam cukup kaget dengan ide Lona ini, karena dia pikir Lona juga membencinya. Dia masih ingat bagaimana Lona menemuinya, bicara dengan lantang di depannya -dan juga mengancamnya untuk tidak bertemu Hanna. Tapi entah hal apa yang mengubah pendirian wanita itu, dia malah berbalik membantu Liam sekarang.
“Lona, kenapa kamu nggak angkat teleponku? Aku tadi minta dibelikan....”
Hanna mematung, menyadari jika yang berdiri di ambang pintu adalah Liam, bukan Lona. Tunggu, bagaimana dia bisa ada di dalam rumahku? Hanna masih terlihat kebingungan, saat kemudian handphone yang dia pegang bergetar.
Han, sorry baby. Tapi kalian berdua harus bicara. Ingat, jangan tinggikan ego dan bicaralah pelan-pelan. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, begitu juga masalah kalian. Sekali lagi, i’m sorry and i love you.
Seharusnya Hanna sudah menduganya. Siapa lagi yang memasukkan Liam ke rumahnya kalau bukan Lona? Hanya Lona satu-satunya orang yang memiliki kunci rumahnya dan Liam tidak mungkin membobol rumahnya.
Lona, aku akan buat perhitungan denganmu nanti, tunggu saja.
“Lona..menitipkan ini padaku. Dia bilang...”
Hanna merampas kantong plastik yang dipegang Liam, tanpa menyahutinya Hanna beranjak menuju dapur. Liam membuntuti Hanna layaknya anjing yang mengikuti tuannya, ke mana pun Hanna pergi Liam mengikutinya dan akhirnya Hanna sudah tidak bisa menahannya lagi.
“Apa mau mu?” Hanna memberengut dengan wajah kesal.
“Aku mau bicara Han.”
“Aku nggak mau bicara.” Sungut Hanna.
“Aku tau, tapi bukan itu yang ku inginkan sekarang.” Liam tersenyum sembari berusaha menebar pesona khas yang dimilikinya.
“Jangan kira kalau kamu tersenyum aku akan luluh.”
“Aku tahu kamu akan luluh.” Senyuman Liam berubah menjadi cengiran jahil.
Hanna berdecak kesal. Senyuman Liam membuatnya luluh, itu adalah kenyataan. Dia memutar tubuhnya dan diam-diam malah mendapati dirinya tersenyum seperti orang bodoh. Dia yang mengatakan pada dirinya sendiri jika dia tidak akan bertemu Liam lagi, tidak akan memberinya kesempatan. Namun lihat dirinya sekarang, malah dengan mudahnya takluk oleh pesona Liam.
Hanna tersentak kaget, saat tiba-tiba Liam memeluknya dengan sangat erat hingga rasanya Hanna kesulitan untuk bernafas.
“Aku minta maaf Han, untuk apa yang ku lakukan atau dilakukan oleh Noah. Lona sudah memberitahuku semuanya. Aku benar-benar minta maaf..”
Hening. Hanna masih berada di pelukan Liam, namun dia belum berani membalas pelukan laki-laki itu. Dia takut, dia akan mendapatkan sakit hati lagi setelah ini.
“Apa benar kalau kamu akan membayar penalti yang sangat besar kalau kamu...”
“Kamu nggak perlu memikirkannya, itu adalah urusanku.”
Liam melepas pelukannya, meletakkan kedua telapak tangannya di wajah Hanna yang teduh. “Aku sudah memilih bertanggung jawab, maka aku juga akan mengambil semua resiko-resiko itu.”
“Tapi Noah bilang, menjadi model adalah impianmu.”
Benar. Tapi kamu dan bayi itu sekarang adalah tujuanku. Jika aku tidak bisa menyeimbangkan mimpi dan tujuan hidupku, maka aku harus mengorbankan salah satunya. Aku tahu dalam hidup ini aku tidak bisa egois. Aku tidak bisa mendapatkan dua hal sekaligus, maka aku harus mengorbankan satu hal yang lain walaupun itu juga berarti untukku.
“Mungkin aku bisa pensiun dini.” Liam menyengir.
Ekspresi wajah Hanna mendadak berubah saat Liam menyebutkan pensiun dini. Tiba-tiba saja Hanna merasa jika dia sudah menjadi penghalang untuk karier Liam. Kenapa harus seperti ini? Kenapa mereka tidak bisa melakukannya seperti pasangan-pasangan lain yang bisa bersama tanpa harus memikirkan resiko apa pun?
“Han, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri..” Liam mengusap wajahnya.
“..keputusan ini ku ambil setelah berpikir matang-matang. Aku punya alasan kenapa dulu aku menolakmu dan juga bayi ini –alasan menyedihkan yang saat ini tidak perlu kamu tahu, namun sekarang aku benar-benar ingin membuktikan diriku padamu.”
Suasana rumah kembali hening. Namun kali ini, kelopak mata Hanna mulai berkaca-kaca melihat kesungguhan yang benar-benar nyata di wajah Liam.
“Aku nggak seburuk yang kamu lihat, percaya padaku.”
Aku tidak menganggapmu buruk, tidak pernah. Mungkin selama ini kita melalui banyak hal yang menyedihkan karena kita tidak pernah mencoba duduk berdua dan bicara, seperti sekarang ini. Maafkan aku juga, karena aku pikir aku juga egois padamu waktu itu. Maafkan aku.
“Han...aku benar-benar minta maaf padamu. Please.”
Ekspresi menyesal di wajah Liam sangat terlihat jelas, dan Hanna bahagia karena hal itu. Namun tiba-tiba saja rasa mual dari perutnya muncul di tengah-tengah pembicaraannya yang serius dengan Liam. Astaga, kenapa harus sekarang? Hanna mendesah lirih. Hanna mulai ingin muntah, namun dia masih menahannya sebisa mungkin.
“Apa kamu bisa pulang dulu? Kita akan bicarakan ini besok saja.”
Walau Liam adalah Ayah bayinya, namun Hanna merasa malu jika dia harus muntah di depan Liam.
“Hah? Pulang?” Liam mendadak bingung karena dia memang tidak ada rencana untuk pulang malam ini. “Apa kita nggak bisa bicara dulu Han? Sebentar saja.”
“Besok saja atau....kapan-kapan.” Hanna masih terus berusaha menahan mualnya.
“Kenapa harus besok? Kamu nggak tahu bagaimana usahaku untuk membujuk Lona agar dia mau mengizinkanku masuk ke rumahmu ini? Kita harus menyelesaikannya sekarang.”
Perut Hanna mulai bergejolak seperti ombak di lautan lepas, bergulung hingga naik ke atas kerongkongannya. Hanna mengusap perutnya, membujuk bayinya untuk ‘jangan bertingkah’ dulu.
“Please Liam. Kita bisa bicarakan ini kapan-kapan. Aku...agak nggak enak badan.”
“Kamu sakit? Di sebelah mana? Bayinya atau kamu?”
Astaga, desis Hanna. Baru kali ini dia merasakan perhatian Liam sedikit mengganggunya, padahal sebelum-sebelumnya dia selalu mengidam-idamkannya.
“Aku bisa memijit kepalamu. Bagaimana kalau kamu berbaring dulu?”
Hanna menggeleng, menyingkirkan tangan Liam yang hendak menuntunnya menuju sofa.
“Aku...”
Hanna tidak bisa menahan lebih lama lagi. Isi perutnya seolah-olah sudah merangsek minta keluar sejak tadi dan Hanna langsung berlari menuju kamar mandi. Begitu selesai muntah, Hanna menekan tombol flush, lalu selama beberapa menit masih duduk di sana memeluk toilet dengan lemah tanpa tenaga. “Please, pergi dulu. Aku akan bicara denganmu besok saja.”
Dia tidak punya tenaga lagi. Namun bukannya pergi, Liam malah diam di pintu kamar mandi –memperhatikannya. Sembari masih memeluk toilet, Hanna mencoba berteriak mengusir Liam. “Apa kamu nggak ngerti bahasa? Kamu pulang dulu please...”
Hanna benar-benar malu Liam ada di sana, memperhatikannya dan mendengar suaranya menjeluak. Kepala Hanna berputar-putar, perutnya bergejolak hebat seolah-olah usus-ususnya juga ikut keluar dan sekujur tubuhnya dibanjiri oleh keringat. Dia pasti tampak mengenaskan –dan memalukan.
“Han...kamu baik-baik sa...”
“Pergi...” teriak Hanna, lalu dia kembali muntah.
Setelah semua makanan yang baru dimakannya keluar –padahal dia hanya memakan satu butir telur bebek rebus, Hanna kembali menyandarkan tubuhnya dengan peluh yang masih mengucur dan rambut yang berantakan.
“Han..” desis Liam, khawatir.
“Diam dulu.” Potong Hanna cepat.
Dia masih tidak punya tenaga untuk menjawab apa pun pertanyaan Liam. Hanna terengah-engah, meletakkan wajahnya ke atas lengannya yang sedang memeluk toilet. Pundaknya naik turun, ritme nafasnya cepat. Hanna lelah dan pusing, tenggorokannya juga terasa pedih karena perutnya terus memaksa untuk muntah hingga Hanna nyaris tidak memuntahkan apa pun.
Liam benar-benar sangat khawatir, juga sedih dengan kondisi Hanna saat ini. Setelah dia tahu jika Hanna kemungkinan mengandung anaknya, dia sudah membaca-baca di internet perkembangan bayi dalam kandungan dan dampaknya pada Ibu. Dan Liam tahu persis, Hanna melalui masa-masa yang sulit dengan mual muntah parah seperti ini.
“Liam..” desis Hanna.
“Hmm? Kenapa? Aku di sini.” Liam mengelus punggung Hanna dengan lembut.
“Pulanglah dulu, kita bisa membicarakan ini besok atau kapan pun. Aku nggak akan lari lagi, jadi, tolong biarkan aku sendiri dulu.”
Seharusnya aku yang mengatakan itu, gumam Liam. Aku yang melarikan diri, menyangkal hasil dari perbuatanku bersama mu.
“Aku nggak akan pergi.” Ucap Liam tegas.
Mendengar itu, Hanna membuka kelopak matanya. Dia memutar tubuh dan mendapati jika Liam sedang berjongkok di belakangnya, menatapnya dengan tatapan khawatir, sedih dan juga haru yang menyatu menjadi satu.
“Maafkan aku, Han.” Aku benar-benar membiarkanmu tersiksa selama periode yang menyulitkan ini.
Hanna tidak menyahut karena dia nyaris kehilangan tenaganya. Dia melepas pelukannya dari toilet, dan meraih dinding wastafel agar bisa menarik dirinya untuk bangkit berdiri.
“Sini, biar ku bantu.”
Hanna tidak punya pilihan lain walau saat ini dia ingin menyembunyikan wajahnya yang terlihat sangat..berantakan. Dia bahkan nyaris berteriak saat melihat dirinya dalam pantulan cermin yang terletak di dinding saat dia akan berkumur dan membersihkan mulutnya. Rambutnya, wajahnya, semuanya memang sangat berantakan –dan memalukan. Saat Hanna menyikat giginya, tiba-tiba saja rasa mualnya langsung menyergap kembali lewat buih yang ditimbulkan oleh pasta gigi yang dia gunakan. Sepertinya aku harus menggantinya dengan yang tidak berbusa, desis Hanna lagi. Hanna langsung berkumur sebelum dia kembali muntah, setelah itu dia mencuci wajahnya.
Sementara itu Liam masih berdiri di belakangnya untuk memegangi punggungnya dan juga menggulung rambutnya. Setelah selesai membersihkan dirinya, Liam menuntun Hanna menuju kamar. Dia membaringkan Hanna yang terlihat pasrah karena memang dia sudah kehabisan tenaga.
“Sebentar, aku akan mengambilkan air minum untukmu.”
Liam meninggalkan Hanna dan sedetik kemudian dia kembali membawa segelas air hangat. Hanna meneguknya, namun dia langsung mendorong Liam dan kembali berlari menuju kamar mandi. Hanna memuntahkan cairan itu seketika, dan setelah selesai dia kembali memeluk toilet dengan lemas. Tidak tega, Liam segera menggendong Hanna kembali ke kamar.
Dengan lembut, Liam menyeka peluh yang membanjiri wajah Hanna. Jika tahu hamil akan membuat Hanna menderita, mungkin dia akan berpikir dua kali untuk melakukan hal itu dulu. Namun saat itu Liam hanya ingin bersenang-senang tanpa memikirkan akibat dari apa yang dia lakukan. Sekarang Hanna terlihat sangat lemah dan menyedihkan.
Liam segera bergeser, saat Hanna kembali mual dan berlari menuju kamar mandi. Wajah Liam mulai panik karena dia berpikir muntah yang dialami Hanna agak tidak normal. Apa aku dan dia harus periksa ke dokter? Bagaimana jika bayinya tidak baik-baik saja di dalam? Mungkin, aku bisa menanyakan ini pada Hanna setelah dia merasa lebih baik.
“Han, kamu butuh sesuatu? Kamu baik-baik saja?”
Liam mengelus wajah Hanna yang seputih kapas, begitu pucat karena kehabisan tenaga dan sekarang terbaring lemah di tempat tidur. Hanna hanya mengangguk kecil, lalu memutar tubuhnya membelakangi Liam. Liam kembali mengelus wajah Hanna, lalu kepalanya, setelah itu dia menarik selimut hingga menutup tubuh Hanna. Liam masih duduk di samping Hanna hingga dia mendengar suara dengkuran lembut. Dia sudah tertidur.