Way Back To You

Way Back To You
Takdir Hidup



Dua buah mobil sedan berhenti di halaman bangunan besar dengan halaman yang hampir sama luasnya dengan luas bangunan itu. Bunga-bunga di halaman itu sedang mekar sempurna –hampir semuanya saat musim panas dan pemandangan indah itu disempurnakan oleh kupu-kupu yang terbang ke sana kemari. Dengungan lebah juga bisa terdengar dengan jelas karena memang mereka sedang berburu nektar dari bunga-bunga yang bermekaran.


Liam membantu Hanna turun dari mobil dan dari sedan di belakangnya Bobby dan Lona turun bersamaan . Ekspresi di wajah Lona sudah cukup untuk memberitahu sebesar apa rasa kagumnya pada bangunan itu. Hal itulah yang dirasakan Hanna saat pertama kali melihatnya.


“Wah, Liam, apa kamu butuh pembantu di sini? Mungkin kamu bisa merekrutku.” Gurau Lona yang langsung disambut oleh senyuman tipis Liam.


“Kalau kamu mau, kamu bebas datang ke sini. Hanna akan senang jika kamu sering-sering berkunjung.”


“Hanna senang, tapi aku nggak.” Sahutnya datar.


“Apa maksudmu?” Hanna menyikutnya. “Hanna, kamu tahu aku akan mati iri jika aku terus-terusan berada di rumah ini. Kamu mau aku mati karena menginginkan rumah sebesar ini juga?” sungut Lona.


“Kenapa? Biarkan saja pangeranmu yang akan membelikannya untukmu.” Ujar Bobby.


Pangeran apa? Memangnya aku tuan puteri? Sungut Lona.


“Ayo, kita bicara di dalam saja.” Liam menarik Hanna dari rangkulan Lona dan menggenggam tangannya melewati Lona dan Bobby.


“Iss, dia pikir dia siapa seenaknya memisahkanku dari Hanna seperti itu?” gerutu Lona. “Kalau bukan karena aku, Hanna juga nggak akan mau bersamamu.” Dia kembali memberengut.


Bobby berdecak. “Seharusnya aku yang cemburu, kenapa kali ini malah kamu?” Dia bergumam lalu meninggalkan Lona sendirian di teras depan.


“Kalian sepupu sama saja, sama-sama aneh.” Sungutnya lalu melangkah mengikuti ketiganya.


Siapa pun akan terpukau saat mereka memasuki rumah baru Hanna dan Liam, tidak terkecuali Bobby dan Lona. Keduanya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum mereka pada rumah bergaya pertanian yang disesuaikan Liam dengan modernisasi zaman sekarang. Ruang tamunya sangat luas, terdapat empat buah sofa dan satu televisi layar lebar berukuran raksasa. Dapurnya juga terkesan mewah dengan beberapa peralatan masak tergantung rapi dan berjejer. Semuanya terasa pas, mewah namun tetap meninggalkan kesan nyaman.


“Seleramu boleh juga.” Gumam Bobby, jujur.


“Seleraku memang bagus, bukan hanya soal rumah tapi soal wanita.” Liam mengerling usil pada Bobby –mengejeknya.


Bobby hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sisi kanak-kanak Liam yang terkadang masih muncul di tengah-tengah usianya yang sudah menginjak tiga puluh tahun. Namun Bobby mau tidak mau harus mengakuinya dan dia kalah selangkah di belakang Liam khususnya soal wanita.


Barang-barang yang dibawa Hanna tidak banyak. Dia hanya membawa dua buah koper berisi pakaian, buku, dan beberapa dokumen pentingnya. Sisanya dia tinggalkan di rumah lamanya karena dia berencana akan kembali ke sana sesekali. Rumah itu adalah hasil jerih payahnya jadi dia tidak akan mengosongkannya. Lagipula di kamar tidurnya –Hanna memutuskan tidur di kamar yang terpisah dengan Liam- sudah diisi oleh Liam dengan semua barang yang dibutuhkannya.


“Katakan padaku bagaimana perasaanmu sekarang.” Lona meletakkan satu minuman cola dan satu botol air mineral di atas meja.


Sementara Liam dan Bobby menyiapkan makan malam, Hanna dan Lona memilih duduk menikmati pemandangan senja dari halaman belakang rumah yang menyajikan hamparan rumput ilalang yang hijau. Cahaya keemasan dari matahari terbenam muncul dari celah-celah ranting pepohonan yang tumbuh berjejer. Suasana sore yang hangat dan nyaman dan Hanna bersyukur bisa menikmatinya bersama Lona, sahabatnya.


Dia kemudian diam sejenak, lalu menatap Lona sungguh-sungguh. “Aku sudah membuat keputusan untuk percaya pada Liam. Aku yakin, kami mampu melewati ini semuanya bersama dan juga..menumbuhkan perasaanku padanya.”


“Aku pikir kamu sudah menyukainya sejak kalian bertemu di club malam dulu.”


Hanna awalnya juga berpikir seperti itu. Namun setelah beberapa kali bertanya pada dirinya, itu bukan perasaan suka, melainkan rasa kagum dan selebihnya adalah pemikiran sensualnya. Hanna baru pertama sekali melakukan itu bersama Liam, jadi itu sebabnya dia terus memikirkan Liam dan cara laki-laki itu menyentuhnya.


“Ngomong-ngomong tadi malam Liam mengatakan dia menyukaiku.” Hanna menatap Lona.


“Serius? Perasaan suka yang benar-benar suka?” Lona melonjak kaget.


Hanna mengangguk. “Aku sudah bertanya padanya apakah perasaannya muncul semata-mata hanya karena aku mengandung anaknya. Lalu dia bilang nggak. Dia menyukaiku sebagai diriku sendiri.”


“Hanna...” Lona menggenggam tangan Hanna, terharu dan bahagia. “Aku yakin Liam adalah sosok yang tepat untukmu.”


Hanna juga berharap seperti itu. Tiga tahun hubungannya bersama Jhon kandas begitu saja karena dia dikhianati, dan membangun kepercayaan itu sulit. Namun Hanna bertekad memulai kembali kisahnya dan tidak mau berdiam diri melulu di masa lalu. Hanna percaya, Liam lebih baik dari Jhon.


“Nggak nyangka, kamu bisa menyentuh dapur seperti ini lagi.” gumam Bobby dengan nada sarkas yang khas.


Liam hanya tersenyum, mengangguk setuju. “Awalnya aku juga merasa sulit berdiri di ruangan seperti ini, tapi berhubung karena itu Hanna dan dia sedang bergumul dengan rasa mualnya hingga dia nggak bisa memakan apa pun, tentu saja aku harus bertanggung jawab. Itu sebabnya aku memulai semuanya lagi. Sulit memang, tapi aku baik-baik saja sekarang.”


Sesekali Liam menoleh ke arah luar, di mana Hanna dan Lona sedang bersantai. Hanya melihat senyuman di wajah Hanna saja mampu mengusir semua rasa sakit di hati Liam. Sejak dulu Liam tidak percaya yang namanya takdir, namun kali ini dia sangat yakin. Dia dan Hanna tidak bertemu kebetulan, Hanna mengandung anaknya juga bukan suatu kebetulan. Ini benar-benar takdir dan Liam menyukai cara kerja Tuhan kali ini dalam hidupnya.


“Kamu benar-benar beruntung mendapatkan Hanna, Liam.” Seru Bobby. “Percayalah, Hanna akan mampu menyembuhkan luka masa lalumu.”


“Aku juga berharap demikian.”


Walau luka itu terasa mustahil untuk sembuh karena sudah ada dalam batinnya selama tiga puluh tahun, namun berharap itu tidak salah bukan? Satu-satunya orang yang diharapkan Liam untuk bisa menyembuhkan batinnya hanya Hanna. Dulu dia menolak dan mengatakan jika lukanya tidak akan sembuh, namun setelah semakin lama bersama dengan Hanna, entah kenapa Liam perlahan bisa menemukan kenyamanan hidup yang dulu tidak pernah dirasakannya. Itu semua berkat Hanna.


“Ah...aku nggak menyangka kalah lagi darimu.” Gumam Bobby kemudian.


Liam menoleh, menatap Bobby sungguh-sungguh. “Aku belum mengucapkan terima kasih padamu soal Hanna, dan juga minta maaf. Terimakasih, karena kamu rela melepas Hanna. Dan, aku minta maaf, karena akulah lawanmu bersaing untuk mendapatkannya, Bob.”


“It’s okay..” Bobby mendesah. “Lona bilang nggak semua hal diciptakan untukku di dunia ini, dan setelah ku pikir-pikir benar juga. Ada beberapa hal yang pada awalnya ku klaim milikku dan merasa punya hak atasnya, namun seiring berjalannya waktu, aku menyadari jika semua itu salah. Nggak perlu minta maaf Liam..” Bobby tersenyum. “..karena itu kamu, aku bisa tenang sekarang. Bagaimana pun juga Hanna wanita baik-baik, aku senang dia berakhir di pelukanmu.”


“Thanks Bud.” Liam memeluk Bobby tulus. Terimakasih untuk semua hal yang sudah kamu relakan padaku selama ini. Seharusnya kamu tidak perlu melakukannya karena kita bukanlah sepupu kandung. Aku hanya anak adopsi yang keberadaan orang tuanya entah di mana, tapi kalian memberikan aku kasih sayang melebihi orang tua kandung yang justru menolakku dan membuangku. Aku tidak akan melupakan ini hingga aku mati nanti, Bob.