
“Kamu baik-baik saja?”
Hanna menatap Liam setelah mereka tiba di rumah. Sepanjang perjalanan pulang dari pantai, Liam cenderung diam, tidak berusaha menggoda Hanna seperti biasa. Hal ini justru membuat Hanna khawatir karena tidak terbiasa dengan sikapnya. Liam tidak menyahut, kedua tangannya masih mencengkeram erat kemudi.
Mungkin dia masih butuh waktu, gumam Hanna. Berusaha tidak menimbulkan suara apa-apa, Hanna membuka sabuknya perlahan. Dia kembali menatap Liam ketika dia ingin turun, namun tangannya urung membuka pintu mobil. Dia tidak bisa meninggalkan Liam dengan kondisi seperti ini. Bagaimana kalau Liam malah menyetir ugal-ugalan dan dia...Ah, tidak. Kenapa aku bisa memikirkan hal seburuk itu?
“Kamu sudah tahu kalau Bobby sepupuku.”
Suara Liam yang berat dan rendah sedikit membuat nyali Hanna menciut. Dia memperbaiki posisi duduknya, lalu mengangguk pelan.
“Dan kamu nggak memberitahuku saat itu? Kenapa?” Liam menatapnya tajam hingga Hanna merasa jika tatapannya itu sanggup menembus tubuhnya.
“Aku pikir kita belum terlalu dekat untuk membahas sesuatu yang lebih privat.”
“Apa?”
Wajah Liam sangat serius, dan jujur saja, Hanna sedikit ketakutan menghadapi Liam dalam situasi seperti ini. Hanna tahu dia salah, namun dia tidak pernah menyangka jika kesalahan yang dianggapnya masih dalam batas normal ini justru tidak bisa ditoleransi oleh Liam. Dia pikir, Liam tidak akan keberatan dengan kebohongannya, tapi ternyata semuanya di luar perkiraan Hanna.
“Liam, aku nggak bermaksud berbohong padamu saat itu. Aku hanya berpikir belum waktunya kalau aku...”
“Lalu kapan waktu yang tepat?” Liam setengah berteriak, menyentak Hanna hingga sekujur tubuhnya mulai bergetar.
“Jika kamu memberitahuku secepatnya, aku pasti bisa memikirkan bagaimana cara menghadapi Bobby. Kamu tahu, begitu bodohnya aku ketika dia mabuk-mabukan di depanku lalu meracau tentang wanita yang sangat di cintainya dan aku malah mengejeknya? Aku bahkan mengatakan padanya apa bagusnya wanita itu. Kenapa kamu menganggap hal ini nggak penting?”
Nada bicara Liam cenderung cepat, tinggi dan dia sudah tersulut emosi. Jantung Hanna berdebar sangat cepat, sekujur tubuhnya merinding dan tubuhnya mulai dialiri hawa panas yang membuatnya kesulitan untuk bernafas. Hanna menelan ludahnya dengan susah payah dan berusaha mengalihkan pandangannya dari tatapan Liam yang tajam.
“Maafkan aku..”
Kata maaf itu benar-benar tulus dari hati Hanna. Dia baru tahu Liam dan Bobby sangat dekat layaknya Kakak Adik sedarah. Keadaan ini pasti menimbulkan rasa canggung diantara mereka dan bukan tidak mungkin hal ini akan membuat jarak keduanya melebar jauh.
“Kamu bilang kamu nggak berniat berbohong, nyatanya kamu memang berbohong.” teriak Liam sambil memukul kemudi dengan tangannya.
Hanna berusaha menarik nafasnya, dan tiba-tiba saja kedua kelopak matanya mulai berkaca-kaca. Dia lelah, pikirannya pun carut marut. Bukan kesalahannya juga kenapa dua orang sepupu itu mencintainya, bukan kesalahannya Bobby menyukainya sangat dalam selama bertahun-tahun, bukan kesalahannya jika mereka berdua tidak tahu siapa Hanna. Satu-satunya kesalahannya adalah mengenal Liam dan melakukan hal terlarang dengannya hingga dia hamil.
Liam membentaknya hanya karena sepupunya mencintainya dan dia tidak tahu soal itu. Hanna benar-benar tidak berniat membohonginya, kenapa dia tidak mengerti juga? Kenapa dia tidak percaya padanya dan malah memicu perdebatan? Hati Hanna terasa sangat sakit mendapat perlakuan yang cukup kasar dari Liam dan suara bentakan itulah yang membuatnya sangat ingin menangis.
“...kesalahanku nggak sebesar dan separah itu hingga membuatmu marah besar seperti ini.”
Bongkahan air mata yang ditahannya akhirnya lolos juga menuruni wajahnya yang memerah. “Apa pikirmu aku sangat salah? Aku tahu kamu begini karena kamu nggak tahu bagaimana akan bersikap di hadapan Bobby, tapi apa kamu ber hak membentakku? Bahkan Ibu yang sudah mati-matian melahirkanku, Ayah yang mati-matian menafkahiku sangat menghargai perasaanku. Aku memang ibu dari anakmu, tapi bukan berarti kamu berhak bicara dengan nada seperti itu. Kalau kehadiranku membuat hubunganmu dan Bobby rusak, kenapa kamu nggak pergi saja dari hidupku? Toh aku nggak membutuhkanmu.” Karena sejak awal, aku memang berencana membesarkan bayiku tanpa campur tanganmu, dan kamu lah yang datang memohon padaku. Jika kamu tidak datang, saat ini hubungan kalian pasti baik-baik saja.
Hanna membuka pintu mobil, menghiraukan Liam yang berusaha mengejarnya. Dengan cepat –dan sekuat tenaga Hanna menutup pintu rumah dan menguncinya. Dia duduk dengan lemah dan menangis sesenggukan.
Han, jangan menangis, kasihan bayi dalam kandunganmu.
Hanna memberi sugesti pada dirinya sendiri untuk berhenti, namun air matanya tetap saja jatuh. Bongkahan bening itu semakin susah untuk dikontrol terutama saat hormon-hormon kehamilannya turut berkontribusi melawan niatnya. Hanna merasa sangat rendah saat Liam meninggikan suaranya.
Sementara itu Liam hilir mudik di depan pintu rumah Hanna, mengetuk –dan memohon. Setelah melihat air mata Hanna jatuh tepat di hadapannya, jantung Liam langsung berdetak tak karuan. Dia menyadari kesalahannya, namun semuanya sudah terlambat. Tidak seharusnya memang dia marah seperti itu pada Hanna, karena setelah dia menarik benang merah masalah ini ke belakang, dia juga berperan di dalamnya.
Malam itu dia berniat memberi tahu Bobby soal hubungannya dan Hanna, namun dia mengurungkannya karena merasa waktunya tidak tepat. Bukankah itu artinya dia melakukan hal yang sama dengan Hanna? Jika dia menganggap Hanna salah, bukahkah dia juga salah? Alih-alih marah pada Hanna, kenapa dia tidak marah pada dirinya sendiri? Alih-alih membentak Hanna, kenapa dia tidak membentak dirinya sendiri?
“Han..maafkan aku. Aku..aku salah..maafkan aku.”
Liam memohon layaknya meminta ampunan. Baru saja hubungan mereka sedikit membaik, Hanna memperlihatkan sisi nyamannya bersama Liam sepanjang satu hari ini. Dia mengizinkan Liam menyentuhnya, mengizinkan Liam dekat dengannya. Kenapa Liam malah menghancurkan usaha yang sudah diberikan Hanna untuk memperbaiki hubungan mereka?
Tidak ada sahutan dari dalam, lampu rumah Hanna juga masih padam. Kembali Liam mengetuk, memanggil nama Hanna hingga dia nyaris meringis karena merasa bersalah –dan juga takut kehilangan Hanna.
Hanna benar. Bukan kesalahannya jika dia dan Bobby jatuh pada wanita yang sama. Liam tidak bisa menyalahkan aura Hanna yang polos namun menggugah. Dia dan Bobby laki-laki yang normal, yang menyukai wanita baik dan murni seperti Hanna. Kenapa dia menyalahkan Hanna tadi? Di mana letak kesalahan Hanna?
“Han, ayo bicara. Aku nggak mau hal ini mempengaruhi hubungan kita. Please, aku nggak akan pulang kalau masalah ini nggak selesai malam ini juga.”
Masih belum ada sahutan dari dalam rumah Hanna. Liam mencoba mengintip lewat jendela kaca rumah, namun dia tidak bisa melihat apa pun. Liam merogoh kantung jaketnya saat handphone nya bergetar.
Pulanglah, jangan sampai aku melihatmu di depan rumahku malam ini dan besok. Jika kamu masih di sana, jangan salahkan aku jika kamu tidak bisa bertemu denganku lagi dan juga bayi dalam kandunganku.
Mata Liam memerah menahan emosi yang bercampur aduk. Dia cemas bukan main membaca pesan Hanna yang berisi nada mengancam dan Liam tahu Hanna tidak akan main-main dengan ucapannya. Tapi masalah ini jelas akan mempengaruhinya sebelum dia menuntaskannya bersama Hanna. Tapi lagi-lagi dia tidak bisa memaksa Hanna karena bisa berakibat sangat fatal. Dia pasti akan kehilangan Hanna jika dia bertindak serampangan.
Demi keselamatannya dan juga hubungannya, Liam pun memilih menggunakan logikanya dan mengalah. Dia bisa menunggu hingga emosi Hanna mereda, dan saat itu dia bisa kembali untuk membujuk Hanna –bahkan jika dia harus berlutut Liam akan melakukannya. Saat ini Hanna adalah dunianya, dan dia akan melakukan apa pun untuk mengembalikan senyuman Hanna dan menebus air matanya.