
“Sudah lihat email dariku?”
Liam duduk seorang diri di basement, menghabiskan malam bersama alkohol dan kesendirian. Setelah Hanna tertidur, Liam segera turun. Pikirannya buruk, otaknya kacau. Kehadiran Leanor membuat kehidupannya yang perlahan membaik bersama Hanna menjadi kembali terusik. Mungkin Hanna akan baik-baik saja, namun dia tidak. Liam tidak punya rencana –sejak awal untuk mencaritahu siapa yang menelantarkannya. Namun wanita itu datang sendiri padanya, saat dia merasa hidupnya akan baik-baik saja.
“Kamu memintaku menyelidiki Leanor Marie?”
“Benar..” Liam meneguk alkoholnya. “Selidiki dia sampai ke akar-akarnya. Semua kehidupannya, masa lalunya, keluarganya, semuanya. Aku ingin mendapatkan data yang akurat tentangnya.”
“Baiklah. Aku akan mencaritahu identitas wanita itu dan segera memberitahumu secepatnya.”
Liam menutup sambungan teleponnya. Dia Steve Anderson, seorang detektif yang disewa oleh Liam secara khusus untuk memeriksa siapa Leanor dan latar belakangnya. Walau dia wanita pertama yang mengatakan jika dirinya adalah ibu kandung Liam, dia tidak boleh serta merta percaya begitu saja. Dia berbeda dengan Hanna. Hati wanitanya itu terlalu gampang tersentuh –mungkin karena pengaruh kehamilan Hanna, namun Liam tidak akan menerimanya dengan mudah.
Dia akan mencari identitas wanita itu hingga semua kebenarannya benar-benar terungkap.
Setelah menyudahi panggilannya, Liam naik ke kamar, dengan hati-hati dia membuka pintu dan menutupnya kembali tanpa menimbulkan bunyi sedikitpun. Hanna sedang tertidur pulas, dan senyum Liam mengembang melihat Hanna tidur seperti bayi kecil.
Liam membaringkan tubuhnya di samping Hanna, lalu mencari tempat ternyaman dalam pelukan Hanna, kepala Liam berakhir di dada Hanna. Ingatan tentang Leanor, kertas berisi surat kesehatan dari rumah sakit, kalimat ‘aku ibu kandungnya’ menggerayangi otaknya. Sial, Liam mengumpat. Dia memejamkan matanya, berusaha memblokir semua ingatan-ingatan tentang wanita itu.
Hatinya sakit, benar-benar sakit. Bertemu kembali dengan seseorang yang membuat luka dalam hatinya setelah berpuluh-puluh tahun berlalu benar-benar membuka kembali lembaran usang kehidupannya.
Bagian paling pahit, sisi kehidupannya yang paling ingin dilupakan Liam.
“Liam..” Hanna menggumam, mengelus rambut Liam dengan lembut.
Liam tidak menjawab. Dia mengerjapkan matanya agar air mata yang sudah menggenang di kedua bola matanya tidak jatuh. Dia semakin menenggelamkan kepalanya hingga menempel ke dada Hanna, berharap aroma tubuh Hanna bisa meredam air matanya. Namun dia salah, semakin ditahan semakin air matanya menyeruak keluar. Tetesan demi tetesan mengalir ke dada Hanna, hingga membuat Hanna mendorong kepala Liam pelan.
“Kamu kenapa? Kamu...menangis?” Hanna mengangkat setengah tubuhnya agar bisa melihat Liam dengan jelas.
Liam menggeleng lalu kembali berniat membenamkan kepalanya di dada Hanna, namun wanitanya itu malah menjauh darinya, lalu duduk.
“Kenapa?” Hanna mengelus wajah Liam. “Tentang Leanor?”
Suara Hanna terdengar sangat lembut dan nada bicaranya menyiratkan kepedulian yang besar pada Liam. Untuk sesaat Liam merasa sedikit terhibur, kesahnya sedikit terbang, menguap di awang-awang. Hanna tahu apa yang dia rasakan. Tanpa dia mengatakan apa pun, Liam yakin wanitanya itu mengerti perasaannya. Dan anehnya, bukannya berhenti, air mata Liam semakin mengalir dengan deras.
Hanna membawa Liam ke dalam pelukannya. Dia mengusap rambut Liam lembut, lalu mengusap punggungnya. Liam menumpahkan kesedihannya di dalam pelukan Hanna sampai air matanya berhenti, dan kemudian tertidur.
Walau semalaman Liam tidur dengan lelap, pagi ini entah kenapa dia enggan untuk bangun. Sebagian karena dia tidak ingin melalui hari-harinya setelah mengingat tentang Leanor dan sebagian karena matanya perih oleh tangisan hebatnya tadi malam.
Liam membalik tubuhnya, meraba-raba ranjang dengan tangannya, berharap dia menemukan Hanna. Namun Hanna sudah tidak ada, mungkin sudah bangun lebih dulu. Sekarang jam berapa? Pikir Liam. Dia melihat jam tangannya dan tersentak. Astaga, sudah jam sembilan pagi? Bagaimana bisa dia terlelap hingga menjelang siang seperti ini? Bagaimana dengan sarapan Hanna? Cepat-cepat Liam bergegas membersihkan dirinya ke kamar mandi dan berencana mencari Hanna.
“Kamu sudah bangun?” Hanna tersenyum manis pada Liam, saat laki-laki itu menyembulkan kepalanya dari pintu kamar.
Liam tersenyum masam, duduk di meja dan Hanna sudah menyiapkan sarapan seperti yang biasa dilakukannya. “Maaf aku bangun terlalu siang.”
“It’s okay..” Hanna meletakkan sepotong roti yang sudah dilapisi dengan selai kacang dan sebutir telur rebus. Dia juga menyajikan segelas susu segar di depan Liam. “Anggap saja aku sedang melakukan tugas yang seharusnya dilakukan seorang istri.”
“Apa katamu? Istri?” Liam menangkap lengan Hanna saat dia akan meninggalkan Liam untuk mengambilkan sarapannya sendiri. “Kamu bilang kamu adalah istriku?” wajah Liam berbinar.
“Belum..” Hanna tersenyum malu. “Tapi akan menjadi istrimu segera.”
“Itu artinya kamu setuju kita akan menikah?”
“No..” Liam melingkarkan tangannya di pinggang Hanna. “Aku nggak akan melepaskanmu.”
Hanna tersenyum, mengangguk penuh haru lalu mengecup bibir Liam dengan hangat. “Kamu bisa mencari tanggal pernikahan kita.”
“Benarkah?” Liam menganga, sedikit tidak percaya dan terlalu..bahagia. “Kamu sudah siap? Aku bisa menyiapkan waktu pernikahan kita?”
“Mmm..” Hanna mengangguk mantap. “Aku ingin segera menjadi Nyonya Andreas.” Ujarnya sembari tertawa.
Liam memeluk Hanna dengan erat. Untuk sebentar dia bisa melupakan sejenak apa yang membebani pikirannya. Semua kebenaran yang akan terungkap sebentar lagi. Siap atau tidak, dia akan mendengar apa yang selama ini tidak mau dia dengar. Liam masih ingin memeluk Hanna lebih lama, namun tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Apakah dia Leanor? Apa wanita itu kembali?
“Biar aku yang buka.”
Hanna mengelus wajah Liam lalu mencium bibirnya lembut. “Jika dia adalah Leanor, apakah kamu mau bertemu dia atau aku harus memintanya kembali?”
“Suruh saja dia kembali.”
Liam belum siap. Demi apa pun dia tidak akan siap bertemu wanita yang sudah meninggalkan dia sejak bayi merah. Tidak akan.
“Baiklah..” Hanna mengangguk. “Akan ku katakan.”
Ternyata bukan Leanor yang berdiri di ambang pintu, namun seorang laki-laki yang sama sekali tidak dikenal oleh Hanna. “Anda siapa?”
“Steve..” Laki-laki bertubuh tambun itu mengulurkan tangannya yang sedikit basah oleh keringat. “Steve Anderson, detektif yang disewa oleh tunangan anda.”
“Masuklah..”
Hanna tidak menyangka jika Liam akan menyewa seorang detektif. Buat apa? Apakah dia benar-benar tidak mempercayai Leanor?
Kedua bola mata Hanna mencermati sekaligus menilai detektif yang disewa Liam. Dia makan dengan lahap –sedikit berantakan, seolah-olah dia belum pernah sarapan sebelumnya. Padahal makanan yang disajikan Hanna hanyalah roti selai kacang dan telur rebus, itu bukanlah menu sarapan yang mewah. Satu-satunya alasan kenapa cara makannya seperti itu adalah dia seseorang yang rakus.
“Enak.” dia tersenyum mengerlingkan mata pada Hanna.
“Thanks.” Ujar Hanna singkat.
Dia mendelik pada Liam yang sedang mengumpulkan piring-piring kotor. Darimana dia mendapatkan detektif seperti dia? Tidak bisakah Liam menemukan detektif lain seperti yang dia lihat di drama-drama?
“Berapa bulan?” Tatapan Steve mengarah ke perut Hanna.
Hanna melirik Liam, namun Liam hanya tersenyum menanggapi gestur Hanna. Liam bahkan tidak memberitahu jika Steve akan datang berkunjung. Setidaknya dia bisa mengenakan pakaian yang sedikit longgar dibandingkan dengan tanktop ketat ini. “Empat bulan.” Sahut Hanna pendek.
“Aku juga punya anak perempuan, dua orang dan masing-masing usianya empat dan dua tahun. Kalian tahu, menjadi orang tua itu menyenangkan, dan memiliki anak jauh lebih menyenangkan. Sebentar lagi kalian akan mengalami pengalaman yang tak ternilai harganya saat bayi itu lahir.”
Steve mengambil alih pembicaraan selama beberapa saat lamanya. Dia menceritakan rumah tangganya, istrinya dan kedua anaknya. Dia bahkan menyempatkan diri untuk memberi nasehat pada Hanna dan Liam soal bagaimana membentuk rumah tangga yang baik.
“Baiklah..” Steve menegakkan punggungnya. “Sudah cukup sesi cerita kita kali ini. Aku datang untuk mengambil sampel DNA mu.” Dia menunjuk Liam menggunakan dagunya.
“Kamu menemukan sesuatu?” tanya Liam.
“Aku akan memberitahumu segera.” Steve tersenyum misterius. “Hanna, mungkin kamu bisa membantu jagoan kita ini untuk mengambil beberapa helai rambutnya.”