
“Kamu mau ke mana?”
Hanna melihat pagi-pagi sekali Liam memakai jaket dan mengikat sepatu di dekat pintu masuk. Wajah Liam masih murung, dugaan Hanna dia masih kesal dengan Leanor. Saat laki-laki itu menyambar kunci mobil, Hanna menghentikannya dengan tubuhnya sendiri.
“Kamu bilang nggak ada jadwal syuting hari ini. Kamu mau ke mana sebenarnya?” tanya Hanna dengan penuh kekhawatiran.
“Pergi sebentar.” Ujar Liam pendek.
“Iya, tapi ke mana?”
“Entahlah. Ke mana saja yang penting pikiranku bisa jernih.”
Hanna menatap Liam sendu. “Keberadaanku nggak bisa menjernihkan pikiranmu?”
“Bukan begitu Han..” Liam mendesah, terlihat frustasi. “Aku hanya ingin duduk sendiri. Maksudku..kamu mengerti kan?”
“Kapan kamu pulang? Jam berapa?”
Liam menggeleng. “Entah. Aku akan mengabarimu nanti. Mungkin aku nggak pulang malam ini.”
“Tapi keadaanmu seperti ini. Apa kamu akan baik-baik saja?” Kalimat Hanna merujuk pada emosi Liam yang masih memenuhi dirinya sendiri.
“Aku akan baik-baik saja.”
Hanna tidak bisa menahan Liam. Dia membiarkan laki-laki itu pergi dan menghilang bersama sedannya. Liam mungkin butuh waktu untuk meredakan emosinya, namun Hanna tidak mau menunggu. Hanna mengutak atik handphonenya sambil berjalan hilir mudik di ruang tamu.
“Hai Steve, ini Hanna..”
Tidak ada pilihan lain. Hanna hanya bisa menghubungi Steve, detektif yang disewa olah Liam untuk mencari tahu tentang Leanor.
“Ya Han, ada apa?”
“Apa kamu sibuk? Aku..ingin membicarakan sesuatu.”
“Biar ku tebak, ini pasti ada hubungannya dengan Liam dan wanita itu, bukan?”
“Mmm.” Hanna menggumam. “Kemarin dia mendatangi Liam dan entah apa yang mereka bicarakan, tapi Liam terlihat sangat kesal bahkan sampai mabuk berat. Dan pagi ini dia pergi dari rumah, entah ke mana. Aku khawatir padanya.”
“Lalu apa yang mau kamu bicarakan?”
“Apakah hasil tes DNA nya sudah keluar?”
“Belum. Dokter mengatakan hasilnya akan keluar besok. Ada apa?”
Hanna menarik nafas dalam-dalam. “Leanor menemui Liam saat aku nggak ada di rumah. Aku pikir..itu agak sedikit mencurigakan. Maksudku, Leanor sudah mengatakan padaku akan memberi waktu yang sangat banyak pada Liam dan dia juga mengatakan tidak akan menemui Liam tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Tapi kemarin dia datang, dan...aku sedikit curiga.”
“Curiga? Kenapa?”
“Entahlah...” Hanna mondar mandir. “Aku khawatir wanita ini hanya memanfaatkan situasi kalut yang dialami Liam. Dia tahu Liam adalah anak adopsi dan dia sengaja mengambil kesempatan ini untuk menunjukkan dirinya.”
“Jadi menurutmu semua ini hanya tentang uang?”
“Well..” Hanna mendesah. “Liam memang memiliki banyak uang, bukan?”
Hanna mendengar tarikan nafas panjang dari seberang. “Sebenarnya aku juga tidak terlalu yakin. Tapi seharusnya kita menunggu hasil tes paternal sebelum membuat kesimpulan ini.”
Hanna mengangguk setuju. “Baiklah. Hanya itu saja yang mau ku beritahu. Jika hasil tesnya keluar, tolong hubungi aku secepatnya.”
“Ok Han. Akan ku lakukan.”
Setelah memutus sambungan telepon, Hanna masih menekan beberapa nomor di layarnya. Kali ini dia menelepon Bobby karena khawatir pada Liam.
“Bobby, apa kamu sibuk?”
“Nggak juga..” suara Bobby masih terdengar berat, sepertinya dia masih tidur saat Hanna meneleponnya.
“Eehhmm..” dia mendengar suara Lona.
Hanna tersenyum karena dia mengerti kenapa Lona berdehem padanya. “Maaf sudah mengganggu kalian. Tapi aku butuh bantuanmu Bob.”
“Sebentar..” Bobby mengecup kening Lona yang masih terbaring dalam selimut. Dia beranjak ke luar kamar supaya Lona tidak terganggu. “Katakan Han, ada apa?”
“Serius dia pergi dari rumah?” ujar Bobby setelah Hanna menceritakan apa yang sudah terjadi.
Bobby menarik nafas, berpikir sejenak. “Entahlah Han. Tapi aku akan mencarinya. Dia benar-benar sangat marah?”
“Aku nggak pernah melihat dia seperti itu sebelumnya dan, ya, dia sangat marah dan kesal. Entah apa yang dikatakan Leanor padanya.”
“Aku mengerti. Jangan khawatir. Aku akan mengantar Lona ke rumahmu sebelum pergi mencari Liam. Lona akan menemanimu. Tunggu sebentar ya.”
Hanna mengangguk. Dia duduk di sofa, bertopang dagu dengan rasa khawatir yang membuncah. Liam pergi meninggalkan rumah dengan emosi yang tidak terlalu stabil. Hanna khawatir dia akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak.
*
Liam menyetir pelan-pelan sambil sesekali menoleh ke luar lewat kaca mobil yang sengaja dibiarkan terbuka. Hari sudah mulai beranjak sore, saat dia berhenti di depan panti asuhan tempatnya ditinggalkan dulu. Dia menempuh jarak ratusan kilo meter untuk bisa sampai di tempat ini, dan dia sangat lelah –juga lapar.
Tidak pernah terbersit dalam hati Liam jika dia akan kembali ke sini, tempat yang sama sekali tidak ingin dikunjunginya. Namun entah kenapa, saat keluar dari rumah, tujuannya hanya ke panti asuhan, tidak ada yang lain.
Setelah menemukan lokasi parkir yang tepat, dia menepikan mobilnya lalu mematikan mesin. Dari seberang jalan, dia melihat beberapa aktivitas pengurus panti yang sedang melakukan banyak hal. Anak-anak sedang bermain di lapangan, tidak banyak, namun mereka terlihat ceria tanpa beban. Mereka masih terlalu polos untuk mengetahui betapa menyakitkannya alasan keberadaan mereka hingga mereka berakhir di bangunan itu.
Liam keluar dari mobil, setelah menunggu beberapa kendaraan yang melintas lewat dan jalanan kosong, dia pun menyeberang. Kakinya terasa berat ketika dia memasuki halaman panti asuhan, dan sekumpulan anak-anak yang sedang bermain berhenti saat melihatnya.
“Apa anda datang untuk mengadopsi? Pilih aku..” seorang anak laki-laki mendatanginya.
“Pilih aku saja.” Ujar seorang anak laki-laki lain.
“Tidak, aku saja..” teriak anak perempuan.
“Aku saja..”
“Aku saja..”
“Pilih aku..”
Liam terenyuh, membayangkan mereka adalah dirinya dulu. Namun saat dia berada di panti asuhan ini, kehidupannya tidak sebebas anak-anak ini. Dia ditindas, jadi ketika ada seseorang yang datang, dia akan bersembunyi di dalam kamarnya.
“Anak-anak...”
Seorang wanita yang sudah lanjut usia berteriak dari pintu kantor adminitrasi. Liam menoleh, mengenali wanita yang hampir semua rambutnya sudah ditumbuhi uban. Wanita itu mendekati Liam menggunakan tongkat di tangannya sebagai pembantu untuk melangkah, langkahnya pendek-pendek, kaca mata tergantung di hidungnya dan ada alat bantu dengar yang menempel di telinganya.
Dia Celine Amora, pengurus panti asuhan. Dulu saat Liam masih kanak-kanak, Celine masih terlihat sehat bugar dan kulitnya masih elastis. Sekarang semua itu terlalu kentara ditelan waktu dan usia.
“Kamu..”
“Liam..” dia tersenyum mengulurkan tangannya.
“Astaga, apa itu kamu Nak? Aku sudah melihat beritamu di televisi..”
Liam kembali tersenyum. Tangan Celine terasa hangat dan rapuh menggenggam tangannya. Celine mengusap tangan Liam menepuk-nepuknya seolah-olah dia sedang bersimpati dan mengasihani Liam.
“Maaf kalau dulu aku tidak begitu memperhatikanmu.”
Tangan renta itu meletakkan sepiring roti dan teh di hadapan Liam saat mereka berdua berada di ruang administrasi. Liam menatap roti di hadapannya. Roti itu masih sama seperti yang dia makan beberapa puluh tahun yang lalu. Tidak banyak yang berubah dari gedung-gedung di panti asuhan, dugaan Liam tidak banyak donatur yang menyumbang ke sana.
Dia kembali menatap roti di tangannya yang membangkitkan memori tentang masa lalunya yang pahit.
“Apakah kamu baik-baik saja?”
Liam mengangguk. “Sedikit kesal tapi aku baik-baik saja.”
“Ada yang mengganjal di hatimu?”
Liam diam. Dia menimbang-nimbang apakah harus memberitahu Celine soal Leanor. Itu adahal sesuatu yang menyangkut masalah pribadinya dan ada rasa enggan dalam hatinya.
“Ibu kandungku menemuiku kemarin dan aku agak kesal karenanya.”
Celine terkejut, alisnya mengerut. Dia memperbaiki posisi kacamatanya dan menatap Liam lamat-lamat. Setelah itu dia juga memperbaiki letak alat bantu dengarnya.
“Katakan sekali lagi.” Ujarnya.
“Ibu kandungku mendatangiku. Dia mengatakan banyak hal dan aku..aku tidak bisa menerimanya.”
Celine menggenggam tongkatnya erat. “Aku pikir tadinya aku salah dengar, ternyata bukan. Nak, bukankah Ibu kandung mu sudah meninggal?”