
Lona tidak bisa diam. Dia terus berjalan hilir mudik di depan ruangan tempat Hanna menerima tindakan. Dia harap-harap cemas dengan keselamatan Hanna. Air mata Lona terus berderai, jantungnya tidak bisa bedetak normal dan yang bisa dia lakukan hanyalah menangis sesenggukan. Seluruh tubuh Hanna terasa kelu saat memikirkan Hanna, dan dia ketakutan setengah mati.
Dua orang petugas keamanan dari perusahaan Bobby masih ikut menemani dia di sana. Namun Lona tidak membutuhkan mereka. Yang Lona butuhkan saat ini untuk menenangkannya hanyalah..
“Bobby, kamu di mana?”
Jauh di bawah kesadarannya, jauh tersembunyi dalam hatinya, Lona memanggil nama Bobby untuk pertama kalinya. Dialah orang pertama yang terlintas di otak Lona ketika dia menghadapi hal mengerikan seperti ini. Dalam rasa kalut yang luar biasa seperti ini, dia akhirnya menyadari jika dia membutuhkan Bobby.
*
“Ini tempatnya?”
Liam, Bobby dan Noah berjalan-jalan di sekitar hutan kecil yang berjarak sekitar seratus meter dari rumah yang mereka curigai. Salah satu orang suruhan Liam mengangguk kecil. “Tapi selama kami berjaga, tidak ada satu orang pun yang muncul di sini.” Sahutnya.
“Bagaimana dengan rumahnya sendiri? Ada yang berjaga di sana juga?”
“Ada Pak. Kami ada dua tim, sebagian mengawasi di sini, sebagian di sekitar rumah. Namun sama saja, tidak ada tanda-tanda seseorang keluar masuk.”
Liam mengedarkan pandangannya ke sekeliling hutan yang ditumbuhi beberapa pohon jati. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan, hutan itu tenang dan tidak ada tanda-tanda yang aneh. Liam menjejakkan kakinya berkali-kali di sekitar tanah itu secara acak dan berharap kakinya akan terbentur sesuatu. Namun tidak ada tekstur tanah yang aneh, semuanya padat dan bagus, itu menandakan tidak pernah ada galian di sana.
Kembali Liam menatap bangunan kecil tak jauh darinya kini. Tanaman sulur terlihat memenuhi dinding belakangnya hingga menutupi pintu dan jendela belakang. Seharusnya memang pintu itu tidak bisa terbuka lagi. Tapi dari mana dia keluar masuk ke rumahnya?
Selain hutan kecil ini, ada sebuah sungai kecil yang mengalir di dekatnya. Tidak mungkin dia keluar hingga ke seberang sungai, itu terlalu jauh dan hutannya juga lebih lebat di sana. Apa mungkin mereka salah?
“Liam, ini sudah sore..” Noah mengingatkan. “Jika seseorang melihatmu di sini, mereka bisa curiga dan menuduhmu yang bukan-bukan.”
Hari memang sudah sore. Cahaya keemasan matahari terbenam masuk melewati ranting-ranting pohon jati. Liam mendesah, tidak menyangka kedatangannya ke sini sia-sia belaka. Dia pun setuju untuk kembali dulu sembari memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain tentang penghuni rumah itu.
Sedan Liam bergerak menembus jalanan yang mulai padat merayap. Satu hari yang panjang dengan cepat berganti dengan malam. Seperti biasa, setelah makan malam ketiganya berakhir di club malam. Bobby bahkan sudah terbiasa dengan jadwal pribadinya ke tempat itu walau sebelumnya dia tidak terlalu sering ke sana. Sementara Liam dan Bobby sedang minum, Noah sudah mendapat target untuk dibawa menginap selama satu malam ke hotel. Dia bicara dengan seorang gadis dengan kulit cokelat seksi di meja terpisah dari keduanya.
“Aku merindukan Hanna..” Liam menyesap whiski di gelasnya. “Sangat merindukannya.” Dia kembali bergumam.
“Gampang, temui saja dia.” Ujar Bobby pendek. Kali ini Bobby memilih untuk meminum minuman soda karena dia merasa jika akhir-akhir ini dia minum terlalu banyak alkohol. “Tapi resikonya rencana kita akan terbongkar dan nggak bisa terlihat natural lagi.”
“Aku yakin dia nggak mau menemuiku..” Liam tersenyum getir.
Masih terekam dengan jelas bagaimana cara Hanna menatapnya. Juga caranya bicara, sangat dingin dan acuh. Kali ini wajah acuh Hanna tidak terlihat lucu dan menggemaskan karena dia benar-benar memasang wajah serius pada Liam.
“Kamu tahu hal apa yang lebih mengesankan dari rencana kita ini?” tanya Bobby.
Liam menggeleng. Bobby mengeluarkan handphone nya dan menunjukkan layarnya pada Liam. “Lona memblokirku. Bayangkan. Dia memblokirku dan aku sama sekali nggak bisa menghubunginya.” Dia mendengus kesal.
“Hanna sahabatnya. Menurutmu apa yang akan dia lakukan?” ujar Liam sambil kembali tertawa.
“Orang kantor..” Bobby menunjuk layar handphonenya pada Liam.
“Angkat saja, siapa tahu penting.”
Bobby mengangguk. Dia berjalan meuju toilet karena musik dalam ruangan itu bergema cukup kencang. Dia tidak akan bisa mendengar apa pun jika dia mengangkat panggilan itu di sana. Setelah merasa dengungan musik sedikit menjauh, Bobby menekan tombol angkat.
“Ada apa?”
“Pak Bobby, terjadi tindakan percobaan pembunuhan di rooftop kantor Pak.”
“Apa?” Bobby berteriak kaget.
“Benar. Dan korbannya kali ini masih sama, Hanna Amoereta dari Departemen Keuangan dan kami sudah mengirimnya ke Rumah Sakit.”
“Kirim alamat rumah sakitnya padaku, sekarang.”
Sial, pikik Bobby. Dia berlari dengan langkah berderap menemui Liam di antara orang-orang yang memadati club. Bahkan dia beberapa kali mendengar umpatan dari orang yang tidak sengaja ditabraknya.
“Liam, Hanna...” Bobby terengah-engah.
Bahkan sebelum Bobby mengucapkan apa pun, Liam sudah tahu ketika Bobby menyebut nama Hanna. Keduanya meninggalkan club tanpa mengajak Noah karena dia sudah tidak terlihat lagi di sana. “Ada apa kali ini?”
Liam masuk ke dalam mobil. Karena dia meminum alkohol, maka yang menyetir kali ini adalah Bobby. Tangan Bobby gemetar mencengkeram kemudi. Dia bahkan harus melonggarkan dasinya agar dia bisa bernafas dengan leluasa.
“Ada apa dengan Hanna Bob?” Liam semakin panik melihat reaksi Bobby.
“Seseorang mencoba membunuhnya..”
Liam terhenyak, tubuhnya mendadak kaku. Tidak, seharusnya Hanna tidak mengalami apa pun lagi sekarang. Dia sudah rela meninggalkan Hanna dan berpisah dengannya. Seharusnya dia tidak lagi menjadi target. Tapi kenapa? Kenapa orang itu masih menghantui Hanna? Kenapa pula dia malah berada di club malam sementara Hanna ada di luar sana sendirian? Bukankah tujuannya untuk menjaga Hanna secara diam-diam?
“Sial..” desis Liam.
Kedua tangannya mengepal karena kemarahan pada dirinya sendiri. Kali ini dia salah, sepenuhnya salah. Tidak seharusnya dia meninggalkan Hanna sendirian, tidak seharusnya dia lengah. Dia pergi ke klub malam dengan dalih menghilangkan kesah dan penderitaannya, padahal jelas-jelas yang sangat menderita di sini adalah Hanna. Laki-laki macam apa dia ini sekarang?
Keduanya tiba di rumah sakit tempat Hanna di rawat. Namun mereka berdua terkejut mendapati ada banyak wartawan di sana. Bobby menarik tubuh Liam yang masih mematung ke balik tembok. Dia mencoba mengintip, mencari jalan menuju ruang UGD tanpa diketahui oleh siapa pun. Namun hanya ada satu koridor yang menghubungkan pintu masuk dengan ruang UGD dan mereka tidak bisa lewat.
“Sial, kenapa ada banyak wartawan?” bisik Bobby.
“Apa kita ketahuan?"
Keduanya saling berpandangan. Situasi ini agak sedikit rumit dan sedikit beresiko. Jika Liam ketahuan berada di sana, maka desas desus tentang dirinya akan mencuat dan ini bisa sangat merugikan dia dan Hanna. "Liam, sebaiknya kita menahan diri dulu sampai situasinya aman."