
Liam menuruni tangga perlahan-lahan. Di belakangnya ada Jhon, Bobby dan juga Lona. Mereka berjalan menyusuri lorong kecil dengan penerangan yang cukup baik karena disemua sisi nya terdapat lampu pijar. Udara di sana lembab dan dingin, dan mereka bisa mencium aroma khas tembok yang lembab dan ditumbuhi lumut.
“Bobby, kamu sudah memberitahu polisi?” tanya Liam.
“Sudah. Seharusnya sebentar lagi mereka tiba.”
Bagus, gumam Liam. Dia terus berjalan dengan siaga karena bahaya bisa muncul kapan saja. Setelah berjalan beberapa menit, mereka menemukan satu buah anak tangga yang terbuat dari kayu. Liam menaiki tangga lebih dulu, dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi apa pun, dia mencoba mendorong papan kayu yang menutupi lorong tersebut. Dia menyembulkan sedikit kepalanya, mencoba mengintip dan memastikan situasinya aman.
Setelah yakin sekitarnya aman, dia menganggukan kepalanya pada ketiga teman yang masih menunggu. Dia membuka papan kayu lebar-lebar agar dia bisa naik dan menunggu ketiganya naik dengan aman, baru dia menutupnya kembali. Liam mengendap-endap, namun mereka langsung bersembunyi di balik tembok saat mendengar sebuah langkah mendekat.
Liam menempel jarinya di bibir, memerintahkan teman-temannya untuk tidak bergerak dulu sebelum dia memantau situasinya. Liam mengintip setelah suara langkah kaki itu menjauh, dan tak lama kemudian mereka mendengar suara alunan musik yang memenuhi seluruh rumah.
I see trees of green
Red roses too
I see them bloom
For me and you
And i think to my self
What a wonderful world
Lona menggenggam tangan Bobby semakin erat. Rasa takutnya semakin menjadi setelah mendengar lagu Louis Amstrong bergema di dalam ruangan itu. Bobby menatapnya, mengangguk pelan dan mengelus tangan Lona dengan ibu jarinya. Semua akan baik-baik saja, tatapannya menyampaikan pesan itu pada Lona dalam diam, dan Lona membalasnya dengan anggukan.
Liam bergerak lebih dulu mencari sumber suara. Dia mengendap-endap dan tiba di sebuah ruang tamu dan dari tempatnya berada dia bisa melihat Hanna diikat ke sebuah tiang, dan kepalanya menunduk. Liam ingin berteriak memanggil nama Hanna, namun dia sadar itu bisa sangat membahayakan nyawanya. Tak jauh darinya, dia melihat Gita sedang berdansa seorang diri mengikuti alunan musik.
Sial, gadis itu benar-benar sakit.
Liam kembali menyembunyikan dirinya di balik tembok saat Gita menghentikan musik yang berputar. Dia menyesap teh di tangannya, tertawa terbahak-bahak dengan masih berdansa walau alunan musik sudah selesai.
“Hazer, baby. Aku tahu kamu sudah datang.” serunya dengan suara yang lantang.
Hanna mengangkat wajahnya, mencoba mencari keberadaan Liam dan dia memekik haru saat Liam menampakkan dirinya dari balik tembok. Gita tertawa mengejek dan mendekati Hanna –masih berdansa dengan musik yang dia senandungkan sendiri dari mulutnya.
“Jangan sakiti dia Gita..”
“Ssstt, aku bukan Gita..” dia kembali tertawa, sebuah tawa yang sangat mengerikan. “Oh aku sungguh sakit hati, my dear. Bagaimana bisa kamu tidak mengenaliku, Giselle, kekasih hatimu, tunanganmu sendiri?”
Kening Liam mengerut, dia tidak mengerti kenapa Gita meracau dengan hal-hal yang aneh tentang dirinya sendiri. Giselle? Menurutnya siapa yang sedang dia bohongi sekarang? Mustahil Liam percaya dengan gurauannya soal nama.
“Oh, kamu juga membawa tamu rupanya..” Gita tersenyum, menyeringai. “..Sesuai dugaanku, si tolol busuk itu berada di sisimu.” Dia menendang kaki Hanna, lalu menunjuk Jhon menggunakan dagunya.
“Kamu benar-benar sakit.” gumam Jhon.
“Ssstt, jangan mengguruiku.” Dia menyeret kursi, memindahkannya ke samping Hanna. Dia duduk dengan mengangkat kakinya dan menyesap kembali tehnya. “Aku nggak sakit, hanya saja aku sangat jatuh cinta padanya.” Gita mengangkat tehnya pada Liam seolah mengajaknya bersulang.
Liam terhenyak menyadari semua ruangan itu diisi oleh poster Hazer dan semua hal yang berkaitan dengan Hazer. Astaga, dia tidak menyangka jika Gita adalah salah satu fans fanatiknya. Dia memiliki obsesi yang sangat luar biasa pada dirinya dan itu bisa terlihat dari semua isi ruangan ini. Perilaku ini termasuk penyimpangan karena dia mengagung-anggungkan idolanya di luar nalar manusia normal dan betapa bodohnya Liam karena dia tidak menyadarinya selama ini.
“Gita..”
Hanna meringkuk, ketakutan karena tiba-tiba Gita mulai histeris. Dia menggelengkan kepalanya pada Liam. “Dia alter..” seru Hanna. Entah bagaimana caranya menjelaskan semua ini pada mereka agar mereka mengerti jika seseorang yang mereka ajak bicara ini bukanlah Gita. Sejak tadi, Giselle lah yang mengambil alih tubuh Gita dan Gita tidak kembali lagi.
“Alter? Maksudmu alter ego?” Lona terkejut.
Hanna mengangguk cepat. Dia bersyukur Lona paham apa yang dia maksud. Liam tertegun, masih mencoba mempercayai apa yang dia lihat. Dia pernah mendengar sebutan alter ego, seseorang yang memiliki dua karakter atau lebih dalam satu tubuh. Lamat-lamat dia mengamati Gita, dan dia memang menemukan banyak perbedaan. Cara bicara, cara melangkah, cara tertawa, semuanya berbeda dengan Gita yang biasa ditemuinya di kantor Bobby. Jadi ini semua memang nyata? Dia benar-benar bukan Gita? Dia tidak sedang berakting?
“Omong kosong, kamu hanya pura-pura.” Jhon melangkah maju mendekati Gita.
Gita tertawa lagi, kali ini dia mengeluarkan sebuah pistol dari kantongnya dan menondongkannya pada Jhon. Hanna terperangah, tidak menyangka jika Gita memiliki senjata sedari tadi bersamanya.
“Giselle jangan. Jangan sakiti siapa pun.” Hanna memohon.
“Letakkan senjatamu, kita bisa bicara baik-baik.” Liam juga turut bicara, mencoba meredam amarah Gita. Dia memelototkan matanya pada Jhon yang tidak menjauh dari Gita. Dia tidak khawatir pada Jhon, dia khawatir pada Hanna yang sangat dekat dengan keduanya. Dia tidak ingin Gita melakukan kesalahan dan malah melukai Hanna.
Jhon tertawa. “Aku tahu ini hanya bohongan, sama seperti yang kamu tunjukkan di bawah jembatan beberapa hari yang lalu dan aku nggak akan terti...”
Dorr..
Hanna dan Lona berteriak nyaring ketika mendengar suara tembakan yang memenuhi ruangan itu. Hanna nyaris berhenti bernafas, saat wajah dan pakaiannya terciprat banyak darah. Di lantai Jhon mengerang kesakitan memegang lengannya yang tertembak.
“Seharusnya sejak kemarin benda ini bersarang di tubuhmu..” Gita mendekat, kembali menodongkan senjata, kali ini tepat di kepala Jhon. “Sudah ku bilang aku bisa mengakhiri hidupmu dengan mudah.”
Liam mencoba tenang saat sekujur tubuhnya lemah bagai tak bertulang. Dia menelan ludahnya, pandangannya berpindah antara Hanna dan Jhon yang terkapar di lantai. “Jangan sakiti dia..” Liam mendekat. Gita –atau siapa pun itu, menginginkan dirinya dan dia akan menyerahkannya demi Hanna, demi bayinya.
“Apa yang kamu inginkan?” tanya Liam lembut.
“Oh my honey Hazer, kamu baik sekali..” Gita tersenyum dan dengan manja bergelayut di lengan Liam, namun tangannya masih menodongkan senjata, kali ini ke arah Hanna.
Hanna menahan nafasnya, saat dia bisa melihat dengan jelas bentuk benda kecil yang mematikan itu. Keringatnya mengucur, tenggorokannya kering dan tubuhnya kelu dan tak berdaya untuk digerakkan. Saat Bobby bergerak, Liam memberi kode untuk menahan diri. Hanna di ambang maut sekarang, mereka tidak bisa bertindak gegabah.
“Cium aku.” Gita berseru manja.
Hanna menangis sesenggukan, dia menggeleng pelan –tidak rela. Namun Liam tidak punya pilihan lain. Hanya ciuman saja, itu tidak ada apa-apanya. Selama dia tidak meminta nyawa Hanna, dia akan menuruti semua permintaan Gita. Liam menunduk agar Gita bisa menjangkaunya dan saat bibir mereka menyatu, Liam merasakan mual yang amat sangat luar biasa. Dia ingin muntah, apalagi saat Gita menjejalkan lidahnya ke dalam mulutnya dengan paksa dan liar, menguasainya, mengontrolnya dengan sesuka hati.
Liam mengumpat dalam hati. Wanita ini sakit, benar-benar terganggu jiwanya. Liam tetap siaga, membuka matanya sepanjang Gita mencumbunya dan saat dia merasa Gita lengah, dengan cekatan Liam memelintir tangan Gita ke bawah dan mendengar beberapa kali tembakan lagi. Liam mencengkeram erat tangan Gita dan memaksanya menjatuhkan pistol, lalu Liam menendang pistol itu jauh-jauh setelah Gita menjatuhkannya.
Gita berteriak murka, meronta saat Liam melumpuhkannya dan memaksanya berbaring di atas lantai sementara Bobby juga ikut menindihnya. Lona langsung bergerak melepaskan semua ikatan yang melilit tubuh Hanna sembari terus menangis.
“Lepaskan aku sialan...” Teriak Gita.
Liam dan Bobby mengakui jika Gita sangat kuat. Mereka sedikit kewalahan menghadapi Gita seorang diri. Setelah ikatan Hanna terlepas, Lona memberikan tali bekas ikatan Hanna pada Liam dan Bobby. Keduanya mengikat tubuh Gita, dari kaki, tangan dan juga tubuhnya sementara gadis itu terus meronta.
“Hanna..” Lona memeluk Hanna dengan erat, menangis tersedu-sedu. “Aku pikir aku akan kehilanganmu..”
Hanna juga tidak bisa menahan tangisnya yang semakin menjadi. Ini adalah mimpi buruk, sangat buruk yang membuat dia tidak ingin mengingatnya. Lona mengeluarkan tissue, membersihkan bekas darah di wajah Hanna.
"Hanna.."
Liam memeluk Hanna erat, mencium bibirnya dengan hangat dan dalam, penuh kelegaan. Namun satu hal yang mereka tidak sadari, semua adegan dalam ruangan itu terhubung ke saluran langsung dan jutaan pasang mata sedang menonton semuanya.