
Jhon keterlaluan, Hanna mengumpat dalam dirinya. Setelah menelusuri asal sejumlah klip-klip video yang beredar, dia akhirnya mengetahui jika akun sosial media Jhon lah yang melakukan siaran langsung di sela-sela penyekapannya. Hanna tidak habis pikir, bagaimana bisa terlintas di pikiran Jhon, di tengah kekalutan semua orang untuk melakukan live? Kenapa dia seceroboh itu? Siapa yang sedang ingin dia jatuhkan sekarang, Gita atau Liam –atau dua-duanya?
Ngomong-ngomong soal Liam..
Hanna membuka pintu kamar, mengitari pandangannya dan menemukan Liam berada di dapur. Dia berdiri membelakangi Hanna dan sedang mengisi penuh air pada sebuah wadah. Namun sangat jelas jika pikiran Liam tidak ada di sana karena wadah itu sudah meluap bahkan sejak Hanna keluar dari kamar.
Tanpa perlu bertanya, Hanna tahu apa yang dipikirkan Liam. Dia pasti gusar dengan meledaknya kabar tentang hubungan mereka terlebih kehamilan Hanna. Dia juga pasti bingung dengan semua tuntutan dan konsekuensi dari kontrak yang telah dia tanda tangani. Hanna belum pernah melihat Liam seperti ini, tidak hingga saat ini.
“Airnya sudah meluap..” Hanna memutar keran.
Liam tersentak, namun sedetik kemudian dia memeluk Hanna dengan sangat erat, seolah-olah dia sudah lama tidak melihat Hanna. Kedua tangannya yang kekar mengunci Hanna dalam pelukannya hingga Hanna merasa sedikit sesak. “Kamu baik-baik saja?” bisik Hanna.
“Apa maksudmu?” Liam melepas pelukannya dari Hanna. “Seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu.”
“Aku baik-baik saja. “ Hanna melebarkan kedua tangan, mengangkat bahu seolah-olah meminta Liam melihatnya sendiri jika dia tidak apa-apa. “Maaf sudah membuatmu panik tadi malam. Aku memang agak sedikit shock dan bau anyir darah membuatku benar-benar mual. Aku minta maaf.”
Bisakah kamu berhenti minta maaf Hanna? Jika kamu terus seperti ini, aku akan semakin merasa bersalah padamu. Kata maaf dari mulutmu seperti sebilah pisau yang tertancap di dadaku, semakin sering kamu mengucapkannya maka semakin dalam pisau itu menancap dan menorehkan sebuah lubang di sana. Itu adalah bukti jika aku tidak bisa menjadi laki-laki yang pantas untukmu.
“Aku sudah tahu tentang siaran langsung yang dilakukan Jhon. Dia memang sedikit gila, tapi aku juga nggak yakin kenapa dia melakukannya.”
“Apa lagi..” Liam membolak-balik panekuk untuk sarapan mereka. “Dia masih mencintaimu, mungkin dia sengaja melakukannya karena dendam. Siapa yang tahu?”
“Lalu bagaimana?”
Hanna melingkarkan kedua tangannya di pinggang Liam. Dia menempelkan kepalanya dan membenamkannya di punggung gagah milik Liam. Liam menggenggam tangan Hanna karena dia mengetahui apa arti pertanyaan itu.
“Kamu nggak usah memikirkan masalahku. Aku akan menemukan cara untuk mengatasi semuanya.”
“Bagaimana dengan kompensasi..”
“Aku akan memenuhinya..” Liam membalik tubuhnya dan tersenyum sembari mengelus wajah Hanna. “Dan mungkin setelah itu aku akan bangkrut, jadi...bisakah kamu menampungku di rumahmu? Aku nggak terlalu sulit untuk di rawat. Cukup beri aku makan tiga kali sehari, maka aku akan menurut padamu.”
Hanna tertawa kecil saat Liam mengibaratkan dirinya seperti anak anjing. Dia menatap Liam, lalu mengangguk. “Baiklah, anjing kecilku. Aku akan merawatmu.”
Liam tertegun, menyadari jika ini moment kedekatan mereka pertama kali sejak bertengkar beberapa minggu yang lalu. Liam membawa Hanna ke dalam pelukannya, diam-diam mematikan kompor dan mengangkat Hanna ke atas meja makan.
“Apa yang kamu lakukan?” wajah Hanna memerah saat Liam mendongakkan wajahnya, menatap Hanna lekat-lekat.
“Apa kamu sudah benar-benar memaafkanku?”
Astaga, Hanna belum memberitahu Liam jika dia sudah memaafkannya. Selama ini dia pasti mengira Hanna belum memberi maafnya dan Liam pasti sangat tertekan.
“Apa kamu nggak bisa melihat jika aku sudah memaafkanmu?” ucap Hanna lembut. Dia meletakkan tangannya di leher Liam.
“Mana mungkin aku mengizinkanmu tinggal di rumah jika aku belum memaafkanmu? Kamu harus tahu jika semua kata-kata yang keluar dari sini..” dia mengelus bibir Liam lembut “..sangat mempengaruhiku. Jika kamu membujukku dan mengucapkan kata maaf, maka aku akan memaafkanmu, begitu saja. Jika kamu menyakitiku, maka aku akan patah hati seketika, begitu saja. Jadi..” Hanna mengecup lembut bibir Liam “..mulai sekarang jangan pernah menyakiti dan mengecewakanku lagi. Kita menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bercanda soal perasaan dan juga meragukan satu dengan yang lain.”
Rahang Liam mengetat ketika dia mencecap secara penuh bibir Hanna yang merekah dan sangat lembut. Salah satu tangannya mencengkeram rambut Hanna sementara tangan yang lain menahan leher wanita itu. Liam merindukan momen ini. Kehangatan Hanna sanggup membuatnya melupakan sejenak apa yang menjadi pergumulannya.
Dengan lembut dan hati-hati, Liam mendorong tubuh Hanna dan merebahkannya di atas meja –setelah dia menyingkirkan benda-benda di atasnya. Dia melepaskan bibirnya, lalu menatap Hanna sekali lagi. “Kamu sangat cantik, Han. Dan aku mencintaimu.” Setelah mengucapkannya, Liam kembali menghujani bibir Hanna dengan ciuman panas hingga membuat tubuh mereka berdua tersengat sensasi memabukkan.
Namun tiba-tiba Hanna mendorong Liam dengan nafas yang masih tersengal. “Aku rasa ini bukan ide bagus jika kita melakukannya sekarang.”
“Kenapa?” Liam kembali menghujani wajah Hanna dengan ciuman-ciuman singkat.
“Aku lapar.” Hanna menyembunyikan wajahnya karena malu.
Namun dia tidak akan munafik di depan Liam. Dia memang lapar, walau batinnya juga merasakan lapar yang berbeda. Mendengar itu Liam tidak bisa menahan tawanya. Dia mendudukkan Hanna dan memeluk wanita itu dengan hangat.
“Aku sampai lupa dengan makanmu karena aku benar-benar merindukanmu.”
Liam kembali mendaratkan ciuman singkat di bibir Hanna sebelum menggendong Hanna turun dari meja makan. Dia menarik kursi dan mempersilahkan Hanna duduk, lalu menyajikan makanan yang dia buat.
“Sudah agak dingin..” dia tertawa. “Kamu mau aku memanaskannya sebentar?”
Hanna menggeleng. Dia sudah sangat lapar sehingga rasanya tidak mungkin lagi dia menunggu makanan itu dipanaskan di microwave. “Nggak usah Liam, aku mau langsung makan.”
*
“Kami perlu bertemu Liam.”
“Bagaimana dia bisa tidak muncul di tengah rapat seperti ini?”
“Masalah ini sangat penting, kenapa kamu tidak membawa artismu ke sini?”
“Apakah kami semua lelucon? Bawa dia ke sini sekarang!”
“Kita harus membahas masalah penalti ini.”
“Bagaimana kelanjutan kerja sama kita?”
“Dia masih menjadi trending topic, saham kita anjlok.”
Sakit kepala Noah benar-benar di ambang batasnya. Dia baru menyadari begitu bernafsunya orang-orang ini semua ketika seseorang yang mereka bayar melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan. Noah baru menyadari jika manusia-manusia yang ada di ruang rapat ini tidak memiliki simpati dan empati, mereka hanya mementingkan keuntungan mereka saja.
Jika dia bisa menghilang dari ruang rapat ini hanya dengan menjentikkan jarinya, dia akan melakukannya. Namun rasanya sekarang dia seperti sedang duduk di kursi pesakitan, dihadang oleh orang-orang berjas dengan semburan kata-kata menyakitkan dari mulut mereka.
Apa orang-orang ini tidak sadar jika Liam sudah menghasilkan lebih banyak uang bagi mereka dibanding dengan jumlah kerugian karena sahamnya yang anjlok ini? Ketika Liam bekerja bagaikan kuda untuk menghasilkan lebih banyak pundi-pundi untuk mereka, adakah mereka menawarkan sesuatu yang menyenangkan bagi Liam? Uang dari kontrak itu tidak sebanding dengan kerja keras dan pengorbanannya dan tim mereka selama ini. Sebesar inikah harga yang harus dibayar Liam karena mencintai wanita pilihannya sendiri? Tidakkah dia berhak bahagia?
“Saya tahu keadaan ini sedang genting-gentingnya..” Noah pada akhirnya berdiri, memilih melawan kata hatinya soal orang-orang sialan di ruang rapat ini. “..Saya juga sudah berusaha menghubungi Liam dan akan mengabari kalian secepatnya.”