
“Kamu dari mana? Kenapa ditelepon nggak bisa?”
Hanna langsung memberondong Liam dan Bobby ketika mereka tiba di rumah sudah hampir sore. Dia khawatir, ketakutan dan marah, bahkan dia nyaris membanting handphonenya ketika dia tidak bisa menghubungi Liam ataupun Bobby. Lona juga tampak melipat kedua tangannya di dada, setuju pada kemarahan Hanna karena dia pun sebenarnya sama paniknya dengan Hanna ketika dia tidak bisa menghubungi Bobby.
“Paling tidak handphone kalian diangkat kalau ada yang nelpon.” Gerutu Lona.
Sudah tahu kejadiannya seperti ini, seharusnya keduanya mengangkat panggilan yang masuk ke handphone masing-masing. Atau kalau dalam situasi yang tidak memungkinkan, mereka bisa mengirim pesan atau apa pun itu, jadi dia dan Hanna tidak panik seperti ini.
“I’m sorry Han..”Liam segera memeluk Hanna untuk menenangkannya. “..aku salah. Aku seharusnya memberi kabar padamu.”
Hanna memejamkan mata, menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengangguk pelan. “Jangan lakukan ini sekali lagi.”
Aku khawatir, sangat khawatir hingga rasanya aku ingin mati. Ada banyak hal yang membuatku ketakutan berlebihan, dan kamu seharusnya paham. Tapi syukurlah kamu baik-baik saja dan kembali padaku. Itu jauh lebih baik.
“Liam, Hanna...Aku langsung pulang ya.”
Suara Bobby membuat Liam melepas pelukannya dari Hanna, lalu menatap Bobby. Dia mengangguk karena dia tahu Bobby pasti sangat lelah –sama seperti dia.
“Kalau begitu, aku izin pulang juga Han, Liam. Besok aku harus bekerja. Han, nggak apa-apa aku pulang kan?” Lona menggenggam tangan Hanna.
Hanna sebenarnya masih ingin bersama Lona, namun dia sadar tidak bisa egois. Lona juga punya kehidupannya sendiri, punya tanggung jawab sendiri. "Baiklah. Jangan lupa datang mengunjungiku.”
“Pasti.” Lona memeluk Hanna. “Kalau begitu, kami pamit.” Bobby melambaikan tangan pada Hanna dan Liam, diikuti oleh Lona. Setelah mengantar keduanya pulang, Hanna dan Liam segera masuk ke dalam rumah karena hari juga sudah sore.
Saat malam sudah semakin dalam, Hanna yang menonton ditemani oleh Liam di ruang tengah mulai mengantuk. Semakin dia memaksakan matanya, semakin kelopak matanya ditarik turun hingga nyaris tertutup. Kalau bukan karena dia mendengar suara batuk kecil Liam, mungkin dia sudah tergeletak sekarang.
“Han, kita istirahat saja, yuk.” Liam mematikan televisi. Akhirnya, seru Hanna dalam hati. Dia tidak enak untuk ke kamar lebih dulu karena awalnya dia yang meminta Liam menemaninya. Sepertinya tidak terlalu sopan meninggalkannya di sana sendirian.
“Aku akan ganti pakaian sebentar.” Ujar Liam lagi. “Tapi kamu akan menemaniku tidur malam ini kan?” Hanna menahan tangan Liam.
Ada rasa senang di hati Liam, namun dia juga sangat sedih melihat Hanna masih ketakutan seperti ini. Rasanya lebih baik Hanna menolak tidur bersamanya dari pada harus memaksa tidur berdua karena ketakutan. “Pasti Han.”
Hanna masuk kamar lebih dulu, mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, mencuci wajah dan menyikat gigi. Setelah itu dia duduk dengan gelisah menunggu Liam dan penuh rasa was-was. Sesekali dia melihat ke luar lewat jendela kaca. Suasana malam sedikit mambuatnya takut, apalagi karena rumah ini cukup jauh dari tetangganya. Sebenarnya jika bukan karena masalah yang menimpanya akhir-akhir ini, dia menyukai tempat ini. Jauh dari keramaian, dipenuhi tanaman dan padang rumput luas di belakang rumah. Seharusnya ini jadi rumah yang paling nyaman, sebelum semua ancaman itu datang.
“Kamu menunggu lama?”
Liam masuk lalu mengunci pintu kamar. Hanna menggeleng pelan. Liam seperti biasa tampak memukau dengan memakai pakaian apa pun, termasuk pakaian tidur berbahan sutera seperti ini. Pakaian itu nyaris menampakkan abs Liam yang terlihat menyembul, yang memancing hasrat Hanna untuk menyentuhnya.
Satu-satunya hal yang membuat Hanna bisa melupakan sejenak kegelisahannya adalah Liam –dan semua yang dimilikinya. Berada di dekat Liam membuat Hanna aman dan tenang, pesonanya mampu mengusir semua kegelisahan Hanna.
“Naikkan pakaianmu.” Perintah Liam ketika Hanna sudah berbaring di tempat tidurnya, bersiap untuk tidur.
Jantung Hanna langsung berdebar, wajahnya memerah. Kenapa Liam masih sempat-sempatnya menggodaku di saat seperti ini?
“Aku akan mengoleskan virgin oil ke perutmu. Katanya ini bagus untuk menjaga elastisitas kulitmu selama kehamilan dan setelah lahiran nanti.” Ujarnya lagi.
Dengan lembut Liam mengoleskan minyak ke seluruh perut Hanna, sambil sesekali mengajak janinnya bicara. Hanna diam-diam menatap Liam, tidak menyangka jika laki-laki yang dulu menolaknya ini –bahkan menuduhnya tidur dengan laki-laki lain, sekarang malah memperlakukannya bak tuan puteri.
“Tidurlah.” Liam mencium kening Hanna. “Jangan memikirkan apa pun, aku akan membereskan semuanya.”
Hanna mengangguk kecil. Dia memejamkan matanya, lalu dia tidak terlalu ingat lagi setelah itu. Hanna terlelap, meninggalkan Liam yang masih duduk di sisi tempat tidur. Liam menunduk, lehernya tegang menghadapi kenyataan yang ternyata tidak semudah yang dipikirkannya.
Seharian mereka mengikuti Veronica. Saat dia masuk ke dalam rumah yang seperti tidak berpenghuni itu, mereka langsung menanyakan kepada orang-orang yang tinggal di dekat area itu siapa yang menempati rumah tersebut. Anehnya, semua orang menertawakan mereka. Semuanya mengatakan jika rumah itu sudah kosong puluhan tahun, tidak ada yang menempati. Tapi untuk apa Veronica ke sana kalau rumah itu kosong?
Pelan-pelan, Liam beranjak meninggalkan Hanna di kamar. Dia membutuhkan anggur untuk menjernihkan pikirannya. Liam memutuskan menikmati anggur nya di meja makan karena kamar Hanna berada persis di samping ruangan itu. Siapa tahu Hanna terbangun, Liam ingin Hanna segera menemukannya.
Benar saja, tidak berapa lama Hanna terbangun karena ingin ke kamar mandi. Namun saat dia menyadari Liam tidak ada, dia langsung mencarinya dan menemukan Liam tengah minum sendirian.
“Kamu kenapa?” Hanna mendekati Liam, duduk di sampingnya.
Hanna terlihat khawatir dengan kondisi Liam yang justru jauh lebih hancur dari dia. Hanna tahu, dialah akar dari semua kegelisahan Liam. Hanna memeluk Liam, berusaha menenangkan Liam sebisa yang dia mampu. “Maafkan aku..” ujar Hanna.
“Jangan minta maaf..” Liam melepas pelukannya. Dia berdiri, menggendong Hanna dan mendudukkannya ke atas meja makan. “Aku yang harus menjagamu. Jika terjadi sesuatu padamu, akulah yang harus di salahkan.” Gumam Liam penuh nada penyesalan.
Hanna tidak bisa menahan diri. Dia merangkul leher Liam lalu mencium bibir Liam yang terasa dingin. Dia ingin tahu kalau Liam seperti ini malah akan membuat Hanna semakin sakit hati.
“Hanna..”
“Ya..” Hanna menatap Liam dalam. Ibu jari Liam bergerak mengusap wajahnya, lalu dia menundukkan kepalanya, menyapu bibir Hanna dengan lembut hingga membuat Hanna tergelitik.
Liam terus mencium Hanna dengan sentuhan yang sama lembutnya, namun kali ini membuat tubuh Hanna bergetar. Ciuman Liam seakan membuat tubuh Hanna tidak bertulang, seluruh tubuhnya terasa ringan tanpa bobot. Hanna hanya diam, menikmati setiap sentuhan yang diberikan Liam, terdiam, dan menunggu lebih lagi.
Dan seakan bisa merasakan apa yang dirasakan Hanna, Liam melepas tangan Hanna yang masih merangkul lehernya. Dia menangkup kepala Hanna, ibu jarinya mengusap rahang Hanna, jemarinya menyusup ke dalam rambut Hanna saat menahan kepala Hanna yang terdongak. Ciuman Liam masih sama lembutnya, -mengundang dan bukan menuntut Hanna-, membawa Hanna terbang ke dimensi lain.
Lidah Liam merasakan bibir bawah Hanna dan giginya menarik pelan bibir itu. Liam memberikan semua kehangatan yang ada padanya dan mengizinkan Hanna menyerapnya, membuat Hanna sangat merindukan semua sentuhan dan belaian Liam.
Dan ini tidak akan cukup. Hanna menginginkan lebih dari sekedar ini semua. Dengan erangan pelan, bibirnya membuka dan sentuhan Liam yang selembut sutera mengirimkan kilatan cahaya ke seluruh persendian tubuhnya, menyentuh semua sisi batinnya.
“Aku mencintaimu, Han.”
Liam menggumam lembut ketika bibirnya mengusap telinga lalu beralih ke leher dan berakhir di rahang Hanna. “Sangat mencintaimu.”
Hanna mengangguk, percaya dan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Liam. Liam mengakhiri ciuman panjang mereka dengan gigitan-gigitan lembut di bibir bawah Hanna. Setelah itu dia menggendong Hanna kembali ke dalam kamar, menyelesaikan sesuatu yang harus mereka selesaikan.
Mereka tidak menyadari, jauh di tengah pepohonan yang berjejer, seseorang sedang mengawasi mereka dengan teropong. Sial, desisnya pelan. Tangannya mengepal dan nafasnya memburu. Dia tidak menyangka jika dia akan melihat adegan seperti itu di lakukan di atas meja makan dengan penerangan yang nyaris sempurna.
Wanita itu benar-benar sangat bernyali. Dia bukan lawan yang mudah, namun juga tidak terlalu sulit. Tunggu saja hingga kamu benar-benar tidak nyaman berada di dekat Liam dan memilih pergi dengan kemauanmu sendiri. Kamu itu seperti benalu, hanya tahu menumpang pada Liam saja dan tidak sadar kamu akan merusak masa depan Liam.