Way Back To You

Way Back To You
Penyesalanmu Terlambat



Liam tiba-tiba terbangun saat mendengar suara gedoran pintu berulang-ulang. Dia sedang tidur siang karena tubuhnya lelah setelah syuting sepanjang malam. Hanna sedang pergi bersama Lona karena dia sedikit bosan berada di rumah pada akhir pekan seperti ini.


Musim panas akan segera berakhir. Hanna ingin membeli beberapa kebutuhannya untuk menyambut pergantian musim.


Dengan langkah gontai karena masih sedikit mengantuk, Liam memakai kaus putih yang dia ambil begitu saja dari lemari. Sambil memakai bajunya, dia melangkah menuju pintu. “Sebentar.” Seru Liam dari dalam.


Saat membuka pintu, Liam mematung, menatap seseorang yang tidak ingin ditemuinya dalam dunia nyata ini. “Leanor?”


Leanor tersenyum. Wanita itu menatap Liam dengan kelopak mata yang berkaca-kaca, memperhatikan setiap detail tubuh Liam dari kepala hingga kakinya. Otaknya meminta Liam untuk mundur, menutup pintu lalu kembali ke kamar –tidur dengan nyenyak. Namun kakinya kaku, dia tidak bisa mundur dan hanya berdiam di tempatnya berdiri.


“Apa yang ingin kamu katakan sebenarnya?” tanya Liam, sedikit ketus.


“Kamu mau kita bicara di sini?”


Liam menarik nafas. “Masuklah.”


Mereka duduk di dua sofa berbeda, berseberangan. Liam tidak ingin dekat dengan Leanor karena dia sama sekali tidak nyaman. Kalau tahu Leanor akan datang berkunjung, dia tidak akan mengizinkan Hanna pergi. Setidaknya jika ada Hanna, dia akan sedikit tenang.


“Maafkan aku, Nak.”


Suara Leanor yang bergetar menelusup ke telinga Liam, mengirim sinyal ke otaknya lalu menyentuh hatinya. Saat mendengar kata maaf itu keluar dari mulut Leanor, ada sebuah perasaan dalam hatinya yang tidak bisa digambarkan oleh Liam, perpaduan antara rasa marah, sedih, kecewa dan putus asa.


“Kenapa meminta maaf padaku?”


“Akulah yang meletakkanmu begitu saja di halaman panti asuhan saat kamu baru lahir.”


Tangan Liam mengepal, giginya beradu sehingga tarikan rahangnya terlihat sangat jelas. “Kenapa?”


“Aku sakit Nak..” Leanor menahan tangisnya, ekspresi terluka tergambar di sana. “..dan..dan Papa mu, laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab saat aku hamil.”


“Lalu apa membuangku adalah sebuah penyelesaian masalahmu? Kamu tahu kalau aku nyaris mati karena kedinginan dan kelaparan?” Liam berdiri, menunjuk Leanor dengan jarinya, dan berteriak hingga suaranya memenuhi seluruh ruang tamu.


“Aku tahu... Aku menyesal..” Leanor menangis sesenggukan.


“Tidak usah mengatakan menyesal sekarang, seolah-olah kamu sedang mencari simpati untuk membenarkan tindakanmu. Aku tidak akan tersentuh sedikit pun.” Pekik Liam.


“Maaf..” Leanor menunduk, air matanya mengalir menganak sungai.


Liam memutar tubuhnya, kedua tangannya berada di pinggangnya. Dia kesal dan marah. Seharusnya Leanor tidak pernah muncul kembali. Liam sudah hampir berdamai dengan masa lalunya berkat Hanna. Dia tidak seharusnya membuyarkan perasaannya kembali.


“Kamu tahu, selama tiga puluh tahun usiaku, aku selalu membentengi diriku sendiri. Aku melihat orang dengan tatapan curiga, aku was-was dengan semua orang yang berada di sekitarku. Aku selalu merasa jika aku lemah, mereka akan membuangku, sama seperti dirimu membuangku dulu. Aku memaksa diriku untuk bekerja lebih keras...lebih keras lagi walau aku sudah kelelahan...” Liam berhenti, nafasnya berat dan suaranya tersendat oleh emosinya sendiri. “..aku ingin istirahat, tapi aku selalu ingat dengan penolakan yang ku alami. Itu membuatku tersiksa, apa kamu tahu?” dia kembali berteriak menumpahkan kekesalannya.


“Jika bukan karena Hanna, aku tidak akan mengenal apa yang namanya dicintai, dipedulikan, diterima setulus hati. Dan kamu...kamu tidak berhak menerima kredit apa pun dari usaha Hanna untuk menyembuhkan lukaku.”


Leanor mulai gemetar, dia berdiri dengan gugup. “Aku tahu Nak, aku tahu. Itu sebabnya aku tidak punya keberanian untuk mendekatimu..”


“Itu bahkan lebih parah lagi..” potong Liam, menatap Leanor dengan tajam. “Aku mendekam di panti asuhan, disiksa oleh teman-temanku hingga usiaku delapan tahun. Jika saja..” Liam mendekati Leanor. “..jika saja kamu mencariku sebelum aku diadopsi, mungkin saja aku masih bisa mengubah prinsip ku karena mengingat usiaku masih sangat belia saat itu. Namun kamu membiarkanku berpindah ke tangan orang lain hingga tiga puluh tahun, dan kamu baru mendatangiku.”


“Aku mencarimu Nak. Hanya saja kesulitan ekonomi yang ku alami tidak bisa membuatku mengambilmu kembali.”


“Omong kosong..” teriak Liam. “Aku hanya makan dua kali sehari, kadang kalau cukup beruntung bisa tiga kali jika panti asuhan kedatangan tamu atau donatur. Aku bisa makan dengan sepotong roti..” air mata Liam membuncah, dia mulai menangis sesenggukan. “..hanya sepotong roti. Tidak sulit membesarkanku..karena aku juga tidak akan menyulitkanmu. Kamu hanya mencari pembenaran untuk sikapmu, mengerti? Sebenarnya kamu tidak menginginkanku sama sekali.”


Sepi, yang terdengar hanya isakan tangis dari keduanya. Liam menyeka air matanya, merasa sayang jika air matanya jatuh untuk orang yang tidak begitu mempedulikannya.


Kembali sepi. Liam bersandar di sofa, membelakangi Leanor yang masih menangis. Air mata Liam sudah kering, emosinya sudah kembali stabil. Liam hanya menginginkan Hanna saat ini. Dia ingin memeluk Hanna dengan segera dan menyurukkan kepalanya dalam dada Hanna yang hangat.


“Aku tahu kamu sangat marah..” Leanor meraih tas tangannya. “Tapi aku bersyukur kamu selamat dan bisa hidup dengan nyaman Nak.”


“Well, thanks Ma.” Ucapnya dengan nada sarkas. “Sekarang pergilah. Aku tidak ingin melihatmu.”


Setelah Leanor pergi, Liam berteriak sendiri dan melempar beberapa buku yang tersusun di atas nakas. Wajahnya memerah, dengan mendengus kesal dia pergi ke basement.


*


Ketika Hanna pulang ke rumah, suasana rumah gelap gulita. Dia bahkan tersandung oleh sesuatu hingga membuatnya hampir terjatuh. Setelah menemukan saklar dan menyalakan lampu, dia melihat buku-buku yang berserak di lantai dan benda itulah yang membuat kakinya tersandung. Hanna tertegun, sedikit bingung sembari menyusun kembali buku-buku tersebut ke atas nakas.


“Liam..” dia mencoba memanggil Liam.


Senyap, tidak ada sahutan. Rumah benar-benar kosong seperti tidak berpenghuni. Apa dia ketiduran?


Hanna tidak menemukan Liam di kamar. Handphonenya terletak di tempat tidur, itu artinya Liam tidak pergi. Satu-satunya tempat di mana Liam berada adalah..basement.


“Wanita murahan..”


Hanna mendengar umpatan Liam dari anak tangga, terdengar bergetar dan bingung. Dia menuruni satu dua anak tangga, kemudian berhenti sejenak saat melihat Liam duduk di lantai dengan beberapa botol alkohol yang sudah kosong. Dia mabuk, dan sama sekali tidak menyadari Hanna ada di rumah.


“Seharusnya kamu tidak datang dalam hidupku...”


Tangan Liam menunjuk ke beberapa arah dengan tangan gemetar dan wajah yang memerah. Dia benar-benar mabuk berat. Tapi kenapa dia tiba-tiba mabuk? Ini masih.. Hanna melirik jam di dinding. Pukul tujuh malam. Apa yang terjadi dengan Liam? Aku hanya meninggalkannya beberapa jam dan dia sudah mabuk-mabukan?


Dari jumlah botol alkohol yang dihitungnya, Liam sudah minum sejak beberapa jam yang lalu.


“Apa yang terjadi denganmu?” Hanna merampas botol alkohol kesekian yang ditenggak oleh Liam.


“Hanna..” Liam berseru seolah-olah dia baru melihat Hanna. “Kamu dari mana saja? Aku membutuhkanmu..” Liam memeluk Hanna tiba-tiba.


Karena kaki Hanna tidak terlalu kuat saat dia jongkok, tubuhnya limbung ke lantai dan Liam menimpa tubuhnya. “Kenapa kamu seperti ini? Geser tubuhmu.”


Hanna berusaha menyingkirkan Liam, namun mendadak Liam tidur di atas tubuhnya. “Katakan pada wanita itu...jangan datang lagi...”


Wanita? Wanita yang mana? Apakah Leanor? Dia mendatangi Liam?


“Aku membencinya....benci sekali...”


Tangan Hanna perlahan berpindah, dari yang awalnya berada di dada Liam, sekarang bergeser ke punggung dan mengelusnya lembut. “Apa Leanor menemuimu tadi?”


“Mmm..” Liam menjawab dengan mata terpejam. “Dia mengatakan banyak hal...” Liam tiba-tiba duduk, dengan tubuh melayang-layang dan mata yang juga masih terpejam. “Dia...mengatakan banyak hal konyol...dia membenarkan sikapnya..dia wanita jahat...”


“Dia pikir dia bisa menebus kesalahannya?...Tidak akan...”


Hanna mendesah. Dia duduk di hadapan Liam yang sudah mabuk berat, lalu memeluknya. “It’s okay.” Hanna mengelus punggung Liam. “Aku akan bicara padanya atas namamu.”


Liam masih mengatakan beberapa kata, namun Hanna tidak mendengarnya dengan jelas. Dalam pelukannya, Liam tertidur, sambil sesekali masih meracau tentang Leanor.


“Kamu akan baik-baik saja, Liam. Kita akan baik-baik saja.”