
Hari masih pagi, langit masih berwarna merah keemasan dan cuacanya sedikit dingin. Sepertinya musim kemarau akan berakhir dan digantikan oleh musim hujan. Hanna terbangun di ranjang besar miliknya, seorang diri. Dia duduk, mengitari sekeliling kamar dengan kedua bola mata yang langsung siaga. Bukankah tadi malam Liam tidur bersamanya? Kenapa dia tidak ada?
Dia langsung turun dari tempat tidurnya, setengah berlari mengelilingi setiap sudut rumah mencari Liam , atau Lona, atau siapa pun di dalam rumahnya, namun semuanya tidak ada. Hanna menoleh, saat Lona baru keluar dari kamar mandi yang terletak di sisi dapur. Akhirnya. Hanna bernafas lega. Tadinya dia berpikir tidak ada satu orang pun yang menemaninya di rumah sebesar ini.
“Han, kamu sudah bangun? Ada apa?”
Hanna menggeleng. Dia duduk di sofa, berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu. “Aku pikir kalian semua meninggalkanku.”
“Liam dan Bobby memang sudah pergi sejak pagi tadi. Mereka bilang mau mengurus sesuatu jadinya aku yang tinggal menemanimu.” Terang Lona.
“Kemana?”
“Mereka nggak memberitahuku Han.”
Lona tahu ke mana mereka pergi, karena sebelum berangkat mereka bertiga lebih dulu bicara. Namun Lona tidak ingin membuat Hanna khawatir jika Liam dan Bobby pergi ke rumah Veronica. Bagaimana pun juga Hanna pasti akan kepikiran terus dengan keselamatan keduanya, dan itu tidak bagus untuk janinnya.
*
“Kamu yakin?” Bobby bertanya sekali lagi pada Liam.
“Tenang saja, aku hanya ingin bertanya sedikit, setelah itu kembali pulang. Kamu tunggu di sini saja.”
Liam menatap pagar rumah setinggi dua meter yang membentengi kediaman Bradley dan Veronica. Hunian CEO agensinya itu memang terkenal super mewah, dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 9.000 meter persegi, persis hunian di area Beverly Hills. Pagar rumahnya dilengkapi mesin deteksi wajah, dan karena Liam sudah pernah ke sana sebelumnya, dia bisa langsung masuk setelah menempel wajahnya di depan mesin.
Dia langsung disambut dengan satu buah kolam renang di sisi kanan jalan menuju rumah. Di kiri kanannya terdapat kebun bunga yang tertata rapi, dia bahkan sempat menyapa beberapa tukang kebun yang dibayar khusus untuk merawat bunga-bunga anggrek dan mawar kesayangan Veronica. Di halaman depan rumah terdapat kolam air mancur melingkar dengan beberapa ikan koi yang berenang bebas di dalamnya.
“Aku cukup terkejut melihatmu datang melalui layar tadi. Akhirnya setelah sekian purnama, calon menantuku datang juga mengunjungiku.”
Veronica menggunakan gaun biru dengan belahan tinggi hingga ke pahanya. Rambutnya ditata rapi oleh hairstylist khusus yang direkrutnya dengan riasan smokey favoritnya dan lipstik merah menyala. Dia menggunakan strap heels dengan tinggi 12 senti –menurut perkiraan Liam.
Seperti biasa tangan Veronica langsung bergelayut di lengan Liam yang kekar, namun kali ini Liam yang sudah kehabisan kesabaran menepisnya dengan kasar. Veronica meradang, perlakuan Liam membuatnya seolah direndahkan.
“Kamu kasar padaku?” Veronica menatapnya tajam.
“Well, kalian yang meminta.” Seru Liam, santai. Dia mendekati Veronica hingga nyaris menempel padanya. “Ingat, sekali lagi Hanna terluka, aku akan mencarimu dan menunjukkan padamu apa yang bisa ku lakukan. Jangan kira aku ini pion mu, yang bisa kamu jalankan sesuka hati ke mana pun. Kamu bisa menyentuhku, tapi tidak dengan Hanna. Untuk kali ini aku akan melepaskanmu, tapi tidak ada lain kali.”
Suara Liam rendah, dingin dan tajam seolah mampu menusuk hingga ke tulang. Kesabarannya habis ditelan penderitaan Hanna belakangan ini. Semua hal yang membuatnya –dan bayinya hampir meregang nyawa membuatnya tidak lagi bisa mentolerir perbuatan Veronica.
“Tunggu saja, apa yang bisa ku lakukan untuk membalasmu dan agensi mu itu. Jangan kira ini hanya sekedar ancaman karena aku yakin kamu sudah sangat mengenalku selama ini, iya bukan? Kamu memegang Hanna sebagai kartu as mu untuk membuatku menyerah, namun jangan salah, aku juga memiliki kartu as yang bisa membuatmu hilang dari muka bumi ini.”
Veronica mencoba tetap tenang, berpura-pura tidak terpengaruh dengan apa yang diucapkan Liam padanya barusan. Setelah laki-laki itu meninggalkannya, Veronica langsung terjatuh sembari memegang dadanya. Apa lagi yang dia lakukan kali ini pada wanita Liam?
Dia berdiri dengan kaki yang gemetar dan mencoba berpegangan pada sofa ketika dia hendak duduk. Dengan tubuh yang masih bergetar, Veronica mengambil long coatnya, dan menghubungi supir.
Setelah tiba di tempat tujuannya, Veronica mengenakan masker dan kaca mata hitam. Dia memeriksa sekelilingnya, memastikan tidak ada orang disekitar komplek itu. “Tunggu aku di sini.” Pesannya pada supir pribadinya, lalu supir itu mengangguk.
Veronica berjalan cukup jauh masuk ke dalam perumahan penduduk yang padat. Setelah tiba di rumah paling ujung, dia kembali memeriksa keadaan sekitarnya. Halaman rumah yang didatanginya dipenuhi rumput liar yang tinggi, ada banyak daun-daun menguning dari pohon waru yang tumbuh di depan rumah yang berserak memenuhi halaman. Rumah itu dibiarkan terbengkalai seperti tidak berpenghuni.
Veronica mengetuk pintu, dan tak lama kemudian seseorang membukanya. Dia langsung disambut oleh poster Hazer dengan ukuran raksasa di dinding rumah, bahkan hampir menutup ventilasi rumah itu. Di dalam lemari kaca terdapat puluhan –atau bahkan ratusan action figure Hazer, di bagian lain lemari itu tersusun banyak majalah di mana Hazer yang menjadi cover nya. Ada banyak photo card asli bertanda tangan Hazer yang dilaminating dan sebagian di bingkai. Veronica membuka kaca mata dan maskernya, menatap sekeliling rumah yang dipenuhi semua hal berbau Hazer.
Dia menarik nafas dalam, berusaha berpikir tenang dan tidak diledakkan amarah.
“Untuk apa Mama ke sini?” terdengar suara wanita dari dalam ruang tamu, membelakangi Veronica yang sedang berdiri di ambang pintu.
“Apa kamu melakukan sesuatu lagi pada wanita Liam?” Veronica mendekat.
Brakkk...
Terdengar suara meja dipukul dengan sangat keras. “Sudah ku bilang jangan sebut dia wanitanya.” Dia berteriak kesetanan.
“Tapi kenyataannya begitu dan dia sedang mengandung anak Liam...”
“Tidak....”
Wanita itu kembali berteriak, histeris. Nafasnya memburu, matanya berubah memerah dipenuhi rasa marah dan benci.
“Aku akan membunuh wanita itu dan anak itu..”
“Nak, cukup. Obsesimu pada Hazer semakin menjadi-jadi dan kamu seperti bukan anak Mama yang dulu. Tolong Nak, jangan seperti ini..” Veronica menangis, memohon dengan jiwa keibuannya.
“Kamu bahkan keluar dari rumah hanya karena dia. Sebanyak apa pun usahamu, dia tetap tidak menyadari keberadaanmu. Dia bahkan nggak tahu kamu hidup...”
“Mama cukup...” dia kembali berteriak. “Aku nggak melibatkan kalian dalam hal ini, kenapa kalian mengurusinya? Jangan perdulikan aku, urus saja urusan kalian sendiri.”
“Nak, kamu masih bisa kembali ke jalan mu yang dulu, jadi anak polos kesayangan Mama dan Papa. Sudah terlalu banyak hal jahat yang kamu lakukan Nak demi Hazer, tapi tidak sekalipun dia menyadari perasaanmu padanya. Mama tahu, Angela meninggal karena kamu juga, iya kan? Kamu yang menyebar foto tanpa busana nya kan?”
“Itu kesalahannya..” ujar wanita itu dingin. “..kenapa dia menyukai Hazer? Sudah ku bilang hanya aku yang bisa mencintainya, hanya aku.” Dia menyentak kakinya sambil berteriak.
“Jika aku tidak bisa mendapatkan Hazer, maka siapa pun tidak bisa. Jika Hazer tidak bisa mencintaiku, maka dia juga tidak bisa mencintai wanita itu. Aku akan menyingkirkannya, jadi Hazer tidak akan menghabiskan waktunya bersama wanita sialan itu.”
Kedua sorot mata wanita itu memancarkan kelebat dendam dan kemarahan yang luar biasa. Kedua matanya memerah dan basah dipenuhi obsesi yang luar biasa pada Hazer. Kecintaannya pada model laki-laki itu sudah membubung tinggi, lebih tinggi dari setiap lapisan yang ada di angkasa ini. Wanita itu memuja Hazer, setiap malam membayangkan Hazer merengkuh dirinya dan membawanya tidur dalam pelukannya. Dia juga membayangkan dirinya berjalan menggunakan gaun pernikahan putih menyusuri karpet merah yang dipenuhi kelopak bunga mawar yang harum, dan Hazer lah yang menggenggam tangannya.
Semua hal konyol, semua kejahatan ini dia lakukan hanya untuk Hazer. Dan wanita sialan bernama Hanna –dan bayinya tidak seharusnya muncul dalam kehidupan obsesinya yang tenang bersama Hazer.
Aku akan menyingkirkan apa pun yang menghalangi jalanku menuju Hazer.